Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Minggu, 15 Maret 2026 |
Oleh: Syarif Usmulyadi
Abstraksi
Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kalimantan Barat yang baru saja
berlangsung tampak seperti contoh ideal pergantian kepemimpinan partai yang rapi. Tidak ada duel kandidat. Tidak ada tarik-menarik dukungan. Tidak ada drama politik yang biasanya mewarnai forum perebutan kursi ketua partai.
Semua berjalan mulus. Di akhir forum, satu nama disepakati secara aklamasi: Ichfany.
Bagi sebagian kader, ini adalah bukti soliditas organisasi. Partai dianggap mampu menjaga persatuan dan menghindari konflik internal. Namun dalam politik, aklamasi hampir selalu memiliki dua wajah. Di satu sisi ia bisa mencerminkan konsensus yang kuat, tetapi di sisi lain ia sering menjadi tanda bahwa kontestasi telah selesai bahkan sebelum forum dimulai.
Musda Golkar Kalbar tampaknya lebih dekat pada kategori kedua. Jika membaca dinamika yang terjadi menjelang forum tersebut, sulit mengabaikan satu faktor penting: pengaruh kuat Maman Abdurrahman. Mantan Ketua DPD Golkar Kalbar yang kini menjabat sebagai Menteri UMKM itu tampak memainkan peran sentral dalam mengarahkan suksesi kepemimpinan partai di provinsi tersebut. Ia mungkin tidak lagi memimpin organisasi secara formal, tetapi pengaruh politiknya jelas belum surut.
Dalam istilah ilmu politik, figur seperti ini sering disebut sebagai kingmaker—aktor yang menentukan siapa yang berkuasa meskipun tidak lagi duduk di kursi kekuasaan organisasi.
Pidato yang Mengunci Arena
Salah satu momen paling menarik dalam Musda Golkar Kalbar adalah pidato politik Maman saat membuka forum tersebut. Dalam pidatonya, ia menyampaikan pesan yang terdengar normatif namun sarat makna: ia tidak menginginkan praktik politik dinasti
menguasai partai.
Sekilas pernyataan itu tampak seperti seruan etis yang umum dalam demokrasi. Politik dinasti memang sering dikritik karena dianggap membatasi kompetisi dan mempersempit ruang regenerasi.
Namun dalam konteks Musda Golkar Kalbar, pesan itu memiliki dimensi yang lebih konkret. Pernyataan tersebut muncul di tengah spekulasi mengenai kemungkinan munculnya figur yang memiliki hubungan kuat dengan jaringan kekuasaan keluarga dalam politik lokal. Ketika pesan “anti-dinasti” disampaikan oleh figur dengan pengaruh besar seperti Maman, maka ia bukan sekadar opini pribadi. Ia menjadi sinyal politik.
Dalam tradisi politik partai di Indonesia, sinyal semacam ini sering berfungsi sebagai kode elite—pesan yang secara implisit memberi tahu struktur organisasi mengenai arah yang diinginkan oleh pusat kekuatan. Akibatnya, ruang kontestasi langsung menyempit.
Ketika Musda berlangsung, pilihan yang tersisa tinggal satu: Ichfany. Aklamasi yang terjadi kemudian lebih terlihat sebagai formalitas dari konsensus yang telah dibangun sebelumnya.
Politik Konsolidasi Sebelum Forum
Dalam banyak partai politik di Indonesia, pertarungan kepemimpinan jarang benar-benar ditentukan di ruang sidang. Proses yang sesungguhnya terjadi jauh sebelum forum resmi digelar. Elite partai biasanya melakukan konsolidasi intensif dengan para pemegang suara—DPD kabupaten/kota, organisasi sayap, maupun kelompok kader strategis. Dukungan dihitung, koalisi dibangun, dan kandidat yang dianggap paling mungkin menang dipastikan memiliki basis suara yang solid.
Ketika konsolidasi ini berhasil, kontestasi sering berubah menjadi aklamasi. Musda Golkar Kalbar memperlihatkan pola tersebut dengan sangat jelas. Ichfany bukan figur yang muncul secara tiba-tiba. Ia adalah kader internal yang telah lama berada dalam struktur partai dan terakhir menjabat sebagai bendahara DPD Golkar Kalbar. Posisi ini membuatnya memiliki hubungan langsung dengan mesin organisasi.
Namun dukungan organisasi saja tidak selalu cukup untuk memastikan kemenangan tanpa kompetisi. Di sinilah peran figur seperti Maman menjadi sangat menentukan. Sebagai mantan ketua yang memiliki jaringan kuat di seluruh kabupaten/kota, ia memiliki kapasitas untuk mengonsolidasikan dukungan secara cepat.
Lebih dari itu, posisinya sebagai menteri di kabinet nasional memberi bobot politik tambahan yang tidak dimiliki kader daerah lain. Dalam partai yang sangat terstruktur seperti Golkar, hubungan dengan elite pusat sering menjadi faktor penting dalam menentukan arah suksesi daerah. Dengan kombinasi jaringan lokal dan akses nasional tersebut, pengaruh Maman dalam proses suksesi hampir tak terelakkan.
Regenerasi yang Terkelola
Narasi resmi yang muncul dari Musda adalah tentang regenerasi kepemimpinan. Golkar Kalbar disebut ingin memberi ruang kepada kader yang lebih muda agar partai mampu
beradaptasi dengan dinamika politik masa depan. Narasi ini tentu tidak sepenuhnya keliru. Demografi pemilih Indonesia memang sedang berubah. Generasi milenial dan Gen Z kini menjadi kelompok pemilih terbesar dalam pemilu.
Partai yang gagal melakukan regenerasi berisiko kehilangan relevansi politik. Namun dalam praktiknya, regenerasi dalam partai besar jarang terjadi secara spontan. Ia hampir selalu merupakan regenerasi yang dikelola oleh elite lama.
Dalam ilmu politik organisasi, fenomena ini dikenal sebagai controlled succession—pergantian kepemimpinan yang tetap berada dalam kendali generasi sebelumnya.
Model ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, menjaga stabilitas organisasi agar tidak terjadi konflik internal yang merusak mesin partai. Kedua, memastikan bahwa arah politik partai tetap berada dalam garis yang sama dengan kepemimpinan sebelumnya.
Terpilihnya Ichfany secara aklamasi tampaknya mencerminkan pola tersebut. Ia bukan figur outsider yang membawa perubahan radikal, melainkan bagian dari struktur lama yang mendapatkan legitimasi baru. Dengan kata lain, yang terjadi bukan sekadar regenerasi, melainkan regenerasi yang terkontrol.
Stabilitas atau Sentralisasi?
Bagi Golkar Kalbar, model suksesi seperti ini tentu memiliki keuntungan. Partai terhindar dari konflik internal yang sering kali memecah organisasi. Konsolidasi menuju Pemilu 2029 bisa dilakukan lebih cepat tanpa harus melewati fase rekonsiliasi pasca pertarungan. Namun di sisi lain, aklamasi juga menyisakan pertanyaan tentang kualitas demokrasi internal partai.
Demokrasi partai idealnya membuka ruang kompetisi yang sehat di antara kader. Kontestasi tidak selalu buruk; justru dari proses itulah muncul ide, energi, dan inovasi politik. Ketika kontestasi terlalu cepat ditutup oleh konsolidasi elite, partai berisiko kehilangan dinamika internal yang penting bagi perkembangan organisasi. Musda Golkar Kalbar memperlihatkan dilema tersebut.
Di satu sisi, ia menunjukkan soliditas organisasi yang tinggi. Di sisi lain, ia juga mengindikasikan kuatnya sentralisasi pengaruh dalam proses pengambilan keputusan. Dalam konteks ini, peran Maman menjadi sangat menarik untuk diamati. Ia tidak lagi memimpin partai secara formal di daerah, tetapi jejak pengaruhnya tetap terasa kuat dalam menentukan arah suksesi.
Politik Bayang-bayang
Fenomena seperti ini bukan hal baru dalam politik Indonesia. Banyak tokoh politik yang tetap memiliki pengaruh besar meskipun telah meninggalkan jabatan formal di organisasi. Mereka bekerja melalui jaringan loyalitas, hubungan personal dengan kader, serta legitimasi politik yang dibangun selama bertahun-tahun.
Dalam literatur politik, fenomena ini sering disebut sebagai power without office—kekuasaan yang tetap bekerja meskipun jabatan formal telah dilepas. Musda Golkar Kalbar memberikan contoh yang cukup jelas tentang bagaimana kekuasaan semacam itu beroperasi.
Di atas panggung, Ichfany adalah ketua baru yang sah secara organisasi. Ia memiliki mandat untuk memimpin partai lima tahun ke depan dan membawa Golkar menghadapi Pemilu 2029. Namun di balik panggung, jejak pengaruh Maman masih terasa dalam membentuk konfigurasi kekuasaan di internal partai.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah kepemimpinan Ichfany akan berkembang menjadi otoritas politik yang independen, atau tetap berada dalam orbit pengaruh sang kingmaker? Jawaban atas pertanyaan ini baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.
Jika Ichfany mampu membangun basis kepemimpinan sendiri dan membawa Golkar Kalbar mencapai prestasi elektoral yang lebih baik, maka aklamasi Musda akan dikenang sebagai keputusan strategis yang tepat. Namun jika kepemimpinannya hanya menjadi perpanjangan dari konsolidasi elite lama, maka Musda tersebut akan lebih tepat dibaca sebagai contoh klasik politik bayang-bayang dalam partai.
Dalam politik, kekuasaan sering kali tidak hilang ketika jabatan dilepas. Ia hanya berubah bentuk—dari kekuasaan yang terlihat menjadi kekuasaan yang bekerja dari balik layar. Dan Musda Golkar Kalbar tampaknya menunjukkan bahwa dalam politik daerah, bayang-bayang kekuasaan itu kadang justru lebih menentukan daripada panggung resminya. (**)
**Penulis merupakan pengamat sosial politik dan dosen senior Ilmu Politik di Universitas Tanjungpura, Kalimantan Barat.
Oleh: Syarif Usmulyadi
Abstraksi
Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kalimantan Barat yang baru saja
berlangsung tampak seperti contoh ideal pergantian kepemimpinan partai yang rapi. Tidak ada duel kandidat. Tidak ada tarik-menarik dukungan. Tidak ada drama politik yang biasanya mewarnai forum perebutan kursi ketua partai.
Semua berjalan mulus. Di akhir forum, satu nama disepakati secara aklamasi: Ichfany.
Bagi sebagian kader, ini adalah bukti soliditas organisasi. Partai dianggap mampu menjaga persatuan dan menghindari konflik internal. Namun dalam politik, aklamasi hampir selalu memiliki dua wajah. Di satu sisi ia bisa mencerminkan konsensus yang kuat, tetapi di sisi lain ia sering menjadi tanda bahwa kontestasi telah selesai bahkan sebelum forum dimulai.
Musda Golkar Kalbar tampaknya lebih dekat pada kategori kedua. Jika membaca dinamika yang terjadi menjelang forum tersebut, sulit mengabaikan satu faktor penting: pengaruh kuat Maman Abdurrahman. Mantan Ketua DPD Golkar Kalbar yang kini menjabat sebagai Menteri UMKM itu tampak memainkan peran sentral dalam mengarahkan suksesi kepemimpinan partai di provinsi tersebut. Ia mungkin tidak lagi memimpin organisasi secara formal, tetapi pengaruh politiknya jelas belum surut.
Dalam istilah ilmu politik, figur seperti ini sering disebut sebagai kingmaker—aktor yang menentukan siapa yang berkuasa meskipun tidak lagi duduk di kursi kekuasaan organisasi.
Pidato yang Mengunci Arena
Salah satu momen paling menarik dalam Musda Golkar Kalbar adalah pidato politik Maman saat membuka forum tersebut. Dalam pidatonya, ia menyampaikan pesan yang terdengar normatif namun sarat makna: ia tidak menginginkan praktik politik dinasti
menguasai partai.
Sekilas pernyataan itu tampak seperti seruan etis yang umum dalam demokrasi. Politik dinasti memang sering dikritik karena dianggap membatasi kompetisi dan mempersempit ruang regenerasi.
Namun dalam konteks Musda Golkar Kalbar, pesan itu memiliki dimensi yang lebih konkret. Pernyataan tersebut muncul di tengah spekulasi mengenai kemungkinan munculnya figur yang memiliki hubungan kuat dengan jaringan kekuasaan keluarga dalam politik lokal. Ketika pesan “anti-dinasti” disampaikan oleh figur dengan pengaruh besar seperti Maman, maka ia bukan sekadar opini pribadi. Ia menjadi sinyal politik.
Dalam tradisi politik partai di Indonesia, sinyal semacam ini sering berfungsi sebagai kode elite—pesan yang secara implisit memberi tahu struktur organisasi mengenai arah yang diinginkan oleh pusat kekuatan. Akibatnya, ruang kontestasi langsung menyempit.
Ketika Musda berlangsung, pilihan yang tersisa tinggal satu: Ichfany. Aklamasi yang terjadi kemudian lebih terlihat sebagai formalitas dari konsensus yang telah dibangun sebelumnya.
Politik Konsolidasi Sebelum Forum
Dalam banyak partai politik di Indonesia, pertarungan kepemimpinan jarang benar-benar ditentukan di ruang sidang. Proses yang sesungguhnya terjadi jauh sebelum forum resmi digelar. Elite partai biasanya melakukan konsolidasi intensif dengan para pemegang suara—DPD kabupaten/kota, organisasi sayap, maupun kelompok kader strategis. Dukungan dihitung, koalisi dibangun, dan kandidat yang dianggap paling mungkin menang dipastikan memiliki basis suara yang solid.
Ketika konsolidasi ini berhasil, kontestasi sering berubah menjadi aklamasi. Musda Golkar Kalbar memperlihatkan pola tersebut dengan sangat jelas. Ichfany bukan figur yang muncul secara tiba-tiba. Ia adalah kader internal yang telah lama berada dalam struktur partai dan terakhir menjabat sebagai bendahara DPD Golkar Kalbar. Posisi ini membuatnya memiliki hubungan langsung dengan mesin organisasi.
Namun dukungan organisasi saja tidak selalu cukup untuk memastikan kemenangan tanpa kompetisi. Di sinilah peran figur seperti Maman menjadi sangat menentukan. Sebagai mantan ketua yang memiliki jaringan kuat di seluruh kabupaten/kota, ia memiliki kapasitas untuk mengonsolidasikan dukungan secara cepat.
Lebih dari itu, posisinya sebagai menteri di kabinet nasional memberi bobot politik tambahan yang tidak dimiliki kader daerah lain. Dalam partai yang sangat terstruktur seperti Golkar, hubungan dengan elite pusat sering menjadi faktor penting dalam menentukan arah suksesi daerah. Dengan kombinasi jaringan lokal dan akses nasional tersebut, pengaruh Maman dalam proses suksesi hampir tak terelakkan.
Regenerasi yang Terkelola
Narasi resmi yang muncul dari Musda adalah tentang regenerasi kepemimpinan. Golkar Kalbar disebut ingin memberi ruang kepada kader yang lebih muda agar partai mampu
beradaptasi dengan dinamika politik masa depan. Narasi ini tentu tidak sepenuhnya keliru. Demografi pemilih Indonesia memang sedang berubah. Generasi milenial dan Gen Z kini menjadi kelompok pemilih terbesar dalam pemilu.
Partai yang gagal melakukan regenerasi berisiko kehilangan relevansi politik. Namun dalam praktiknya, regenerasi dalam partai besar jarang terjadi secara spontan. Ia hampir selalu merupakan regenerasi yang dikelola oleh elite lama.
Dalam ilmu politik organisasi, fenomena ini dikenal sebagai controlled succession—pergantian kepemimpinan yang tetap berada dalam kendali generasi sebelumnya.
Model ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, menjaga stabilitas organisasi agar tidak terjadi konflik internal yang merusak mesin partai. Kedua, memastikan bahwa arah politik partai tetap berada dalam garis yang sama dengan kepemimpinan sebelumnya.
Terpilihnya Ichfany secara aklamasi tampaknya mencerminkan pola tersebut. Ia bukan figur outsider yang membawa perubahan radikal, melainkan bagian dari struktur lama yang mendapatkan legitimasi baru. Dengan kata lain, yang terjadi bukan sekadar regenerasi, melainkan regenerasi yang terkontrol.
Stabilitas atau Sentralisasi?
Bagi Golkar Kalbar, model suksesi seperti ini tentu memiliki keuntungan. Partai terhindar dari konflik internal yang sering kali memecah organisasi. Konsolidasi menuju Pemilu 2029 bisa dilakukan lebih cepat tanpa harus melewati fase rekonsiliasi pasca pertarungan. Namun di sisi lain, aklamasi juga menyisakan pertanyaan tentang kualitas demokrasi internal partai.
Demokrasi partai idealnya membuka ruang kompetisi yang sehat di antara kader. Kontestasi tidak selalu buruk; justru dari proses itulah muncul ide, energi, dan inovasi politik. Ketika kontestasi terlalu cepat ditutup oleh konsolidasi elite, partai berisiko kehilangan dinamika internal yang penting bagi perkembangan organisasi. Musda Golkar Kalbar memperlihatkan dilema tersebut.
Di satu sisi, ia menunjukkan soliditas organisasi yang tinggi. Di sisi lain, ia juga mengindikasikan kuatnya sentralisasi pengaruh dalam proses pengambilan keputusan. Dalam konteks ini, peran Maman menjadi sangat menarik untuk diamati. Ia tidak lagi memimpin partai secara formal di daerah, tetapi jejak pengaruhnya tetap terasa kuat dalam menentukan arah suksesi.
Politik Bayang-bayang
Fenomena seperti ini bukan hal baru dalam politik Indonesia. Banyak tokoh politik yang tetap memiliki pengaruh besar meskipun telah meninggalkan jabatan formal di organisasi. Mereka bekerja melalui jaringan loyalitas, hubungan personal dengan kader, serta legitimasi politik yang dibangun selama bertahun-tahun.
Dalam literatur politik, fenomena ini sering disebut sebagai power without office—kekuasaan yang tetap bekerja meskipun jabatan formal telah dilepas. Musda Golkar Kalbar memberikan contoh yang cukup jelas tentang bagaimana kekuasaan semacam itu beroperasi.
Di atas panggung, Ichfany adalah ketua baru yang sah secara organisasi. Ia memiliki mandat untuk memimpin partai lima tahun ke depan dan membawa Golkar menghadapi Pemilu 2029. Namun di balik panggung, jejak pengaruh Maman masih terasa dalam membentuk konfigurasi kekuasaan di internal partai.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah kepemimpinan Ichfany akan berkembang menjadi otoritas politik yang independen, atau tetap berada dalam orbit pengaruh sang kingmaker? Jawaban atas pertanyaan ini baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.
Jika Ichfany mampu membangun basis kepemimpinan sendiri dan membawa Golkar Kalbar mencapai prestasi elektoral yang lebih baik, maka aklamasi Musda akan dikenang sebagai keputusan strategis yang tepat. Namun jika kepemimpinannya hanya menjadi perpanjangan dari konsolidasi elite lama, maka Musda tersebut akan lebih tepat dibaca sebagai contoh klasik politik bayang-bayang dalam partai.
Dalam politik, kekuasaan sering kali tidak hilang ketika jabatan dilepas. Ia hanya berubah bentuk—dari kekuasaan yang terlihat menjadi kekuasaan yang bekerja dari balik layar. Dan Musda Golkar Kalbar tampaknya menunjukkan bahwa dalam politik daerah, bayang-bayang kekuasaan itu kadang justru lebih menentukan daripada panggung resminya. (**)
**Penulis merupakan pengamat sosial politik dan dosen senior Ilmu Politik di Universitas Tanjungpura, Kalimantan Barat.
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini