Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Thursday, 09 July 2026 |
KALBARONLINE.com – Musibah kembali menghampiri Ani (57), warga Jalan Yuka Gang Alpokat Indah Jalur V, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat. Setelah rumahnya pernah diterjang angin puting beliung enam tahun lalu, kini tempat tinggal yang menjadi saksi perjalanan hidupnya itu ambruk ke tepi sungai.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (6/7/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu Ani baru selesai memasak dan beristirahat di dalam rumah kayu yang telah puluhan tahun ditempatinya.
“Saya habis masak sekitar jam dua siang. Selesai masak saya duduk karena capek. Tiba-tiba ada bunyi ‘gresek-gresek’, saya kira anak-anak lagi main layangan. Rupanya rumah saya mau roboh. Langsung bruk… ambruk ke bawah,” kenang Ani saat ditemui di tempat tinggal sementaranya, Rabu (9/7/2026).
Ani mengaku sempat heran ketika suasana di dalam rumah mendadak terasa lebih gelap. Saat melihat ke bawah, ternyata bagian pondasi rumah sudah ambruk, sementara dirinya masih berada di dalam.
“Saya merasa kenapa rumah saya redup. Pas saya lihat, ternyata bawah rumah sudah ambruk, padahal saya masih duduk di dalam,” ujarnya.
Beruntung saat kejadian air Sungai Kapuas belum pasang sehingga warga sekitar dapat segera memberikan pertolongan dan membantu menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diambil.
“Hari itu warga bantu ambil barang sedikit-sedikit. Air sudah mulai pasang, jadi besoknya baru lanjut lagi ambil barang yang masih bisa diselamatkan,” tuturnya.
Bagi Ani, rumah tersebut bukan sekadar tempat berteduh. Di sanalah ia membangun keluarga, membesarkan anak, hingga akhirnya harus menjalani hidup seorang diri.
“Saya tinggal di sini dari masih hutan, belum ada jembatan seperti sekarang. Dari masih sama suami sampai sekarang sendiri,” katanya.
Dengan mata berkaca-kaca, Ani bercerita suaminya telah berpisah dengannya sekitar 21 tahun lalu. Anak semata wayangnya pun telah meninggal dunia.
“Kalau anak saya masih ada mungkin sekarang saya sudah punya menantu, sudah punya cucu. Tapi Allah punya kehendak,” ucapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Ani mengaku bekerja serabutan dengan membantu teman-temannya jika ada pekerjaan.
“Kalau ada teman minta bantuan ya saya bantu. Yang penting bisa makan. Rumah sendiri, enggak ngontrak, ada listrik, itu saja sudah cukup buat saya,” katanya.
Musibah kali ini menjadi cobaan kedua yang dialami Ani. Enam tahun lalu, rumah yang sama pernah dihantam angin puting beliung hingga air masuk setinggi leher. Kini, rumah tersebut kembali hancur karena pondasi dan tiang penyangga sudah tidak lagi mampu menopang bangunan.
“Tidak ada angin, tidak ada hujan. Yang ambruk itu bagian bawah rumah. Kayunya sudah kecil-kecil, tiangnya juga jarang, jadi mungkin sudah tidak kuat,” ujarnya.
Meski kehilangan tempat tinggal, Ani bersyukur masih diberi keselamatan.
“Alhamdulillah badan saya selamat, tidak kurang satu apa pun,” katanya.
Saat ini, Ani tinggal sementara di rumah kosong milik seorang pengusaha ikan yang mengizinkannya menumpang.
“Beliau bilang saya boleh tinggal di sini dulu. Karena saya sudah enggak punya rumah, saya disuruh tinggal di sini.”
Ani juga telah menerima bantuan dari Pemerintah Kota Pontianak berupa kasur, kompor, pakaian, dan kebutuhan pokok. Namun, ia memilih tidak pindah ke rumah susun karena ingin tetap tinggal di lingkungan yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
“Saya enggak mau ke rumah susun. Bukan apa-apa, saya sudah terbiasa tinggal di sini. Saya maunya tetap di sini,” ujarnya.
Harapan Ani pun sederhana. Ia berharap pemerintah dapat membantunya membangun kembali rumah sederhana di lokasi yang sama.
“Saya cuma minta sehat, panjang umur. Mudah-mudahan pemerintah bisa bantu rumah bedah, walaupun kecil yang penting kuat. Saya maunya tetap di sini. Dari zaman hutan sampai sekarang jadi kota, hidup saya ya di sini,” tuturnya.
Di tengah cobaan yang datang bertubi-tubi, Ani mengaku masih memiliki harapan karena mendapat dukungan dari warga sekitar.
“Insya Allah selalu ada yang menolong. Namanya juga bertetangga, suka duka ya kita jalani bersama,” pungkasnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Musibah kembali menghampiri Ani (57), warga Jalan Yuka Gang Alpokat Indah Jalur V, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat. Setelah rumahnya pernah diterjang angin puting beliung enam tahun lalu, kini tempat tinggal yang menjadi saksi perjalanan hidupnya itu ambruk ke tepi sungai.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (6/7/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu Ani baru selesai memasak dan beristirahat di dalam rumah kayu yang telah puluhan tahun ditempatinya.
“Saya habis masak sekitar jam dua siang. Selesai masak saya duduk karena capek. Tiba-tiba ada bunyi ‘gresek-gresek’, saya kira anak-anak lagi main layangan. Rupanya rumah saya mau roboh. Langsung bruk… ambruk ke bawah,” kenang Ani saat ditemui di tempat tinggal sementaranya, Rabu (9/7/2026).
Ani mengaku sempat heran ketika suasana di dalam rumah mendadak terasa lebih gelap. Saat melihat ke bawah, ternyata bagian pondasi rumah sudah ambruk, sementara dirinya masih berada di dalam.
“Saya merasa kenapa rumah saya redup. Pas saya lihat, ternyata bawah rumah sudah ambruk, padahal saya masih duduk di dalam,” ujarnya.
Beruntung saat kejadian air Sungai Kapuas belum pasang sehingga warga sekitar dapat segera memberikan pertolongan dan membantu menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diambil.
“Hari itu warga bantu ambil barang sedikit-sedikit. Air sudah mulai pasang, jadi besoknya baru lanjut lagi ambil barang yang masih bisa diselamatkan,” tuturnya.
Bagi Ani, rumah tersebut bukan sekadar tempat berteduh. Di sanalah ia membangun keluarga, membesarkan anak, hingga akhirnya harus menjalani hidup seorang diri.
“Saya tinggal di sini dari masih hutan, belum ada jembatan seperti sekarang. Dari masih sama suami sampai sekarang sendiri,” katanya.
Dengan mata berkaca-kaca, Ani bercerita suaminya telah berpisah dengannya sekitar 21 tahun lalu. Anak semata wayangnya pun telah meninggal dunia.
“Kalau anak saya masih ada mungkin sekarang saya sudah punya menantu, sudah punya cucu. Tapi Allah punya kehendak,” ucapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Ani mengaku bekerja serabutan dengan membantu teman-temannya jika ada pekerjaan.
“Kalau ada teman minta bantuan ya saya bantu. Yang penting bisa makan. Rumah sendiri, enggak ngontrak, ada listrik, itu saja sudah cukup buat saya,” katanya.
Musibah kali ini menjadi cobaan kedua yang dialami Ani. Enam tahun lalu, rumah yang sama pernah dihantam angin puting beliung hingga air masuk setinggi leher. Kini, rumah tersebut kembali hancur karena pondasi dan tiang penyangga sudah tidak lagi mampu menopang bangunan.
“Tidak ada angin, tidak ada hujan. Yang ambruk itu bagian bawah rumah. Kayunya sudah kecil-kecil, tiangnya juga jarang, jadi mungkin sudah tidak kuat,” ujarnya.
Meski kehilangan tempat tinggal, Ani bersyukur masih diberi keselamatan.
“Alhamdulillah badan saya selamat, tidak kurang satu apa pun,” katanya.
Saat ini, Ani tinggal sementara di rumah kosong milik seorang pengusaha ikan yang mengizinkannya menumpang.
“Beliau bilang saya boleh tinggal di sini dulu. Karena saya sudah enggak punya rumah, saya disuruh tinggal di sini.”
Ani juga telah menerima bantuan dari Pemerintah Kota Pontianak berupa kasur, kompor, pakaian, dan kebutuhan pokok. Namun, ia memilih tidak pindah ke rumah susun karena ingin tetap tinggal di lingkungan yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
“Saya enggak mau ke rumah susun. Bukan apa-apa, saya sudah terbiasa tinggal di sini. Saya maunya tetap di sini,” ujarnya.
Harapan Ani pun sederhana. Ia berharap pemerintah dapat membantunya membangun kembali rumah sederhana di lokasi yang sama.
“Saya cuma minta sehat, panjang umur. Mudah-mudahan pemerintah bisa bantu rumah bedah, walaupun kecil yang penting kuat. Saya maunya tetap di sini. Dari zaman hutan sampai sekarang jadi kota, hidup saya ya di sini,” tuturnya.
Di tengah cobaan yang datang bertubi-tubi, Ani mengaku masih memiliki harapan karena mendapat dukungan dari warga sekitar.
“Insya Allah selalu ada yang menolong. Namanya juga bertetangga, suka duka ya kita jalani bersama,” pungkasnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini