Pontianak    

Dari Sampah Dapur Jadi Sumber Pangan, Warga Siantan Hilir Bangun Ekonomi Sirkular

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Thursday, 30 July 2026
Dari Sampah Dapur Jadi Sumber Pangan, Warga Siantan Hilir Bangun Ekonomi Sirkular
Warga Siantan Hilir Pontianak mengolah sampah dapur menjadi pangan dan ekonomi melalui budidaya maggot serta aquaponik (Dok. KSP)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Di tengah permukiman sederhana Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, sebuah gerakan kemandirian pangan tumbuh dari halaman rumah warga.

Bukan melalui teknologi besar atau lahan luas, melainkan dari pengelolaan sederhana yang mengubah sampah organik menjadi sumber manfaat ekonomi dan lingkungan.

Ketua Kreasi Sungai Putat (KSP) Syamhudi menjadi salah satu penggerak program tersebut. Di antara rak budidaya maggot, ia bersama kelompoknya mengolah sisa sayuran dan kulit buah menjadi bagian dari sistem pertanian terpadu.

"Mari bersama mewujudkan pekarangan produktif, keluarga sejahtera, masyarakat sehat, lingkungan lestari," ujar Syamhudi.

Melalui konsep ekonomi sirkular, Kreasi Sungai Putat mengembangkan sistem yang menghubungkan lima komponen utama, yakni budidaya maggot, puyuh, ayam kampung, lobster air tawar, dan aquaponik.

Kelima komponen tersebut berjalan dalam satu siklus tanpa limbah.

Sampah dapur dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Larva Black Soldier Fly (BSF) yang berkembang kemudian menjadi sumber protein untuk pakan ayam, puyuh, dan lobster air tawar.

Sementara itu, kotoran ternak dan sisa pakan kembali diolah menjadi kasgot serta kompos untuk menyuburkan tanaman pekarangan.

Sayuran yang dipanen kemudian kembali menghasilkan sisa organik yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot.

Ketua RW 004 Siantan Hilir, Ponijan, melihat langsung perubahan yang terjadi di lingkungannya.

Menurutnya, halaman rumah warga yang sebelumnya hanya digunakan untuk aktivitas biasa, kini mulai dimanfaatkan sebagai ruang produktif.

"Ini dimanfaatkan untuk masyarakat supaya lebih mengerti tentang kegiatan usaha. Mudah-mudahan dari pihak Pertamina nanti bisa membantu pengembangan kelompok usaha," tuturnya.

Menurut Ponijan, konsep tersebut memiliki peluang besar karena tidak membutuhkan lahan luas maupun modal besar.

Masyarakat hanya perlu memiliki kemauan untuk memilah sampah organik serta konsisten menjalankan proses budidaya.

Potensi tersebut turut mendapat perhatian dari Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Integrated Terminal Manager Pontianak, Adi Wahyu Christianto, mengatakan pihaknya mendukung pengembangan program Kreasi Sungai Putat karena memiliki manfaat terhadap lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat.

"Kegiatan ini dapat terus berjalan. Ada potensi menciptakan bahan makanan sekaligus tambahan penghasilan," kata Adi.

Ia menilai model tersebut dapat dikembangkan di berbagai lokasi lain.

"Pengembangan tidak hanya di budidaya maupun satu lokasi. Pengembangan seperti ini dapat dilakukan di beberapa titik," imbuhnya.

Lurah Siantan Hilir, Erin Febrianty, juga mengapresiasi program tersebut karena sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, inovasi tersebut menjawab sejumlah tantangan perkotaan, mulai dari persoalan sampah organik, ketahanan pangan, hingga keterbatasan lahan produktif.

Budidaya maggot menjadi salah satu kunci utama dalam sistem tersebut.

Larva Black Soldier Fly mampu mengolah limbah organik menjadi biomassa kaya protein dalam waktu relatif singkat. Sisa hasil budidaya atau kasgot kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Sementara sistem aquaponik memungkinkan tanaman tumbuh dengan memanfaatkan nutrisi dari kolam ikan tanpa membutuhkan tanah dalam jumlah besar.

Dengan sistem tersebut, warga dapat menghasilkan berbagai kebutuhan pangan seperti sayuran, telur puyuh, ayam kampung, hingga lobster air tawar yang memiliki nilai ekonomi.

Lebih dari sekadar menghasilkan produk pangan, program ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, termasuk anak-anak, untuk memahami konsep lingkungan, ekonomi, dan keberlanjutan.

Kreasi Sungai Putat menunjukkan bahwa halaman rumah dapat menjadi bagian dari solusi menghadapi tantangan pangan dan lingkungan.

Dari pengelolaan sampah sederhana, warga Siantan Hilir membuktikan bahwa kemandirian pangan dapat dimulai dari rumah sendiri. (*)

Artikel Selanjutnya
Sekda Pontianak Tekankan Etika dan Integritas Jadi Fondasi ASN
Wednesday, 29 July 2026
Artikel Sebelumnya
Bupati Melawi Lantik 105 Pejabat, Dua Kepala OPD Baru Diberi Amanah
Wednesday, 29 July 2026

Berita terkait