Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 28 September 2026 |
KALBARONLINE.com – Penulis sekaligus social influencer Maman Suherman atau Kang Maman mengapresiasi cara Sekolah Alam Cerlang menanamkan keberagaman, toleransi dan kemerdekaan belajar kepada anak sejak usia dini.
Dalam kunjungan keduanya ke Sekolah Alam Cerlang, Senin (28/9/2026), Kang Maman melihat nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi konsep, tetapi hadir dalam aktivitas sehari-hari anak.
“Saya orang yang sangat rindu kembali ke akar Bhinneka Tunggal Ika kita. Saya selalu ingat pernyataan bahwa tidak Bhinneka bukan Indonesia. Justru keberagaman itu kekayaan negeri ini,” ujarnya.
Menurutnya, keberagaman sering kali berhenti sebagai jargon. Namun di Cerlang, anak-anak dibiasakan mengenal perbedaan tanpa rasa asing maupun takut.
“Anak-anak diajak mencintai dan tidak aneh dengan keberagaman. Toleransi ditanamkan sejak kecil dalam bahasa anak-anak, dalam ruang bermain. Itu luar biasa,” katanya.
Ia menilai pendekatan tersebut penting karena cara pandang terhadap perbedaan akan lebih kuat apabila ditanamkan sejak dini melalui pengalaman nyata.
Kang Maman juga melihat konsep kemerdekaan belajar tercermin dari kebebasan anak menentukan aktivitas sesuai minatnya.
“Melihat anak menulis, berdialog, berdiskusi, bermain catur, memilih mainan sendiri sesuai kesenangan mereka. Tidak ada paksaan. Buat saya, itu sebenarnya merdeka belajar,” ujarnya.
Ia mengutip gagasan Ki Hadjar Dewantara bahwa sekolah semestinya menjadi taman, yakni ruang yang aman, menyenangkan dan memberi kebebasan bagi anak untuk tumbuh.
“Taman itu tempat orang bebas. Mau membaca buku sambil berlari, makan, bermain, pokoknya bahagia. Bahagia dengan buku, lingkungannya, teman-temannya, dan gurunya,” katanya.
Menurut Kang Maman, rasa aman dan bahagia menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Anak akan lebih mudah belajar ketika memiliki ruang untuk mengeksplorasi dirinya tanpa tekanan berlebihan.
Ia juga mengapresiasi budaya kesetaraan yang menurutnya terasa kuat di Cerlang.
“Semua sama tanpa kasta dan saling menghargai. Itu yang saya rasakan kalau main ke Cerlang,” ujarnya.
Kesetaraan tersebut, katanya, tidak hanya berlaku di antara siswa, tetapi juga antara guru, orang tua, pembicara maupun pihak lain yang terlibat dalam kegiatan sekolah.
Kang Maman berharap nilai-nilai tersebut tetap dipertahankan meski Sekolah Alam Cerlang terus berkembang.
Menurutnya, pendidikan tidak harus berlangsung dengan satu cara yang seragam. Yang terpenting adalah bagaimana sekolah mampu membantu anak memahami dirinya, lingkungannya dan masyarakat di sekitarnya.
Kang Maman menilai praktik inklusivitas, toleransi dan kemerdekaan belajar tersebut menjadi kekuatan yang perlu terus dijaga.
“Keberagaman itu bukan untuk sekadar dibicarakan, tetapi untuk dialami. Anak-anak perlu tumbuh dengan rasa bahwa berbeda itu biasa dan setiap orang tetap bisa saling menghargai,” pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Penulis sekaligus social influencer Maman Suherman atau Kang Maman mengapresiasi cara Sekolah Alam Cerlang menanamkan keberagaman, toleransi dan kemerdekaan belajar kepada anak sejak usia dini.
Dalam kunjungan keduanya ke Sekolah Alam Cerlang, Senin (28/9/2026), Kang Maman melihat nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi konsep, tetapi hadir dalam aktivitas sehari-hari anak.
“Saya orang yang sangat rindu kembali ke akar Bhinneka Tunggal Ika kita. Saya selalu ingat pernyataan bahwa tidak Bhinneka bukan Indonesia. Justru keberagaman itu kekayaan negeri ini,” ujarnya.
Menurutnya, keberagaman sering kali berhenti sebagai jargon. Namun di Cerlang, anak-anak dibiasakan mengenal perbedaan tanpa rasa asing maupun takut.
“Anak-anak diajak mencintai dan tidak aneh dengan keberagaman. Toleransi ditanamkan sejak kecil dalam bahasa anak-anak, dalam ruang bermain. Itu luar biasa,” katanya.
Ia menilai pendekatan tersebut penting karena cara pandang terhadap perbedaan akan lebih kuat apabila ditanamkan sejak dini melalui pengalaman nyata.
Kang Maman juga melihat konsep kemerdekaan belajar tercermin dari kebebasan anak menentukan aktivitas sesuai minatnya.
“Melihat anak menulis, berdialog, berdiskusi, bermain catur, memilih mainan sendiri sesuai kesenangan mereka. Tidak ada paksaan. Buat saya, itu sebenarnya merdeka belajar,” ujarnya.
Ia mengutip gagasan Ki Hadjar Dewantara bahwa sekolah semestinya menjadi taman, yakni ruang yang aman, menyenangkan dan memberi kebebasan bagi anak untuk tumbuh.
“Taman itu tempat orang bebas. Mau membaca buku sambil berlari, makan, bermain, pokoknya bahagia. Bahagia dengan buku, lingkungannya, teman-temannya, dan gurunya,” katanya.
Menurut Kang Maman, rasa aman dan bahagia menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Anak akan lebih mudah belajar ketika memiliki ruang untuk mengeksplorasi dirinya tanpa tekanan berlebihan.
Ia juga mengapresiasi budaya kesetaraan yang menurutnya terasa kuat di Cerlang.
“Semua sama tanpa kasta dan saling menghargai. Itu yang saya rasakan kalau main ke Cerlang,” ujarnya.
Kesetaraan tersebut, katanya, tidak hanya berlaku di antara siswa, tetapi juga antara guru, orang tua, pembicara maupun pihak lain yang terlibat dalam kegiatan sekolah.
Kang Maman berharap nilai-nilai tersebut tetap dipertahankan meski Sekolah Alam Cerlang terus berkembang.
Menurutnya, pendidikan tidak harus berlangsung dengan satu cara yang seragam. Yang terpenting adalah bagaimana sekolah mampu membantu anak memahami dirinya, lingkungannya dan masyarakat di sekitarnya.
Kang Maman menilai praktik inklusivitas, toleransi dan kemerdekaan belajar tersebut menjadi kekuatan yang perlu terus dijaga.
“Keberagaman itu bukan untuk sekadar dibicarakan, tetapi untuk dialami. Anak-anak perlu tumbuh dengan rasa bahwa berbeda itu biasa dan setiap orang tetap bisa saling menghargai,” pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini