Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
orangutan
51 Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang dan Kayong Utara, 30 Ditemukan di Area PT KALE
51 Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang dan Kayong Utara, 30 Ditemukan di Area PT KALE
Monday, 19/10/2026

KALBARONLINE.com – Sebanyak 51 orangutan diselamatkan dari kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat, sejak 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, 30 individu ditemukan di dalam atau sekitar perkebunan kelapa sawit PT KALE.

Upaya penyelamatan masih berlanjut seiring kerusakan habitat akibat kebakaran. Dalam laporan terbaru, tim gabungan mengevakuasi empat orangutan, yakni dua individu remaja betina bernama Lusi dan Riri, serta induk dan anak bernama Mama Rian dan Rian.

Berdasarkan keterangan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Riri, Mama Rian, dan Rian diselamatkan pada 10 Oktober 2026. Sementara itu, Lusi dievakuasi pada 16 Oktober 2026 dari kawasan High Conservation Value (HCV) perkebunan PT KALE di Desa Laman Satong.

Kondisi orangutan yang ditemukan menunjukkan dampak kerusakan habitat akibat karhutla. Lusi, misalnya, ditemukan bertahan di sebuah pohon yang masih berdiri di tengah kawasan hutan yang hangus terbakar.

CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, mengatakan Lusi ditemukan dalam kondisi sangat kurus dan mengalami stres.

“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,” ujar Karmele, Minggu (18/10/2026).

Setelah dievakuasi menggunakan obat bius, Lusi menjalani pemeriksaan medis di lapangan. Tim menemukan luka gores dan luka terbuka cukup dalam pada bagian punggung, bibir, dan anus. Luka tersebut diduga akibat gigitan satwa lain, kemungkinan anjing.

Selain mengalami luka, Lusi juga mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Sementara itu, Riri ditemukan di pohon sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan.

“Orangutan betina berusia sekitar 4–6 tahun itu ditemukan tanpa tanda-tanda keberadaan induknya,” kata Karmele.

Tim juga menyelamatkan Mama Rian dan anaknya, Rian, dari kebun warga di Desa Riam Berasap. Lokasi tersebut berjarak sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan PT KALE dan berada di kawasan terdampak kebakaran. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan tubuh Mama Rian dan Rian juga sangat kurus.

Dari rangkaian penyelamatan sebelumnya, YIARI mencatat sebanyak 27 orangutan yang dievakuasi dari area PT KALE dan sekitarnya mendapatkan perawatan lanjutan di pusat rehabilitasi karena kondisi kesehatan yang kurang baik.

Tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI masih memantau orangutan yang diduga bertahan di kawasan HCV. Berdasarkan laporan masyarakat, beberapa individu bahkan telah memasuki permukiman dan merusak tanaman serta kebun warga.

Kondisi tersebut berpotensi memicu konflik antara manusia dan orangutan, terutama ketika satwa kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung akibat kebakaran.

“Penyelamatan lanjutan masih diperlukan karena sejumlah orangutan diduga masih berada di kawasan HCV yang terbakar. Di beberapa titik, asap masih tebal dan tanah masih mengeluarkan asap,” kata Karmele.

Berdasarkan analisis citra satelit pada 1 Agustus hingga 25 September 2026, lebih dari 90 persen kawasan HCV PT KALE dilaporkan telah hangus terbakar. Padahal, berdasarkan publikasi ilmiah pada 2016, kawasan tersebut diperkirakan menjadi habitat sekitar 150 individu orangutan Kalimantan. Penelitian itu mencatat kepadatan rata-rata sekitar 5,49 individu per kilometer persegi.

Kekhawatiran terhadap keselamatan orangutan meningkat setelah tim gabungan mengevakuasi temuan yang diduga merupakan tengkorak orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari kawasan HCV PT KALE pada 8 Oktober 2026. Temuan tersebut masih menjalani pemeriksaan forensik untuk memastikan identitas spesies, penyebab, dan perkiraan waktu kematian.

“Kami berharap perusahaan berkomitmen melakukan restorasi kawasan yang terbakar,” harap Karmele.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, juga menegaskan pentingnya menjaga kawasan HCV sebagai habitat dan perlindungan keanekaragaman hayati.

“Area HCV yang terdampak karhutla sepatutnya segera direstorasi untuk mengembalikan fungsi ekologis dan melindungi habitat satwa liar,” ujar Murlan.

Empat Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang, Dua Ditemukan Sendirian
Empat Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang, Dua Ditemukan Sendirian
Monday, 19/10/2026

KALBARONLINE.com – Empat orangutan berhasil diselamatkan dari kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dua orangutan remaja ditemukan sendirian di area perkebunan kelapa sawit, sedangkan seekor induk dan anaknya dievakuasi dari kebun warga.

Penyelamatan dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Keempat orangutan tersebut terdiri atas dua individu remaja betina bernama Lusi dan Riri, serta induk dan anak bernama Mama Rian dan Rian.

Lusi ditemukan pada 16 Oktober 2026 di kawasan High Conservation Value (HCV) milik PT KALE, perusahaan perkebunan kelapa sawit di Desa Laman Satong. Sementara itu, Riri diselamatkan pada 10 Oktober 2026 dari lokasi yang sama.

Kedua orangutan remaja berusia sekitar 4–6 tahun itu ditemukan tanpa tanda-tanda keberadaan induknya. Kondisi Lusi bahkan memprihatinkan karena hanya bertahan di satu pohon yang masih berdiri di tengah kawasan hutan yang telah terbakar.

CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, yang turun langsung ke lokasi mengatakan, Lusi terlihat sangat stres dan kurus.

“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,” ujar Karmele, Minggu (18/10/2026).

Sementara itu, Riri ditemukan di pohon sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan. Tim penyelamat khawatir induknya tidak lagi berada di sekitar lokasi, bahkan diduga telah mati.

“Kami merasa kasihan melihat anak orangutan sendirian tanpa induknya. Kami pun bertanya-tanya, ke mana induknya, sebab, induk orangutan biasanya tidak meninggalkan anaknya,” tuturnya.

Setelah dievakuasi menggunakan obat bius, Lusi diperiksa oleh tim dokter hewan di lapangan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya luka gores di sekujur tubuhnya, termasuk luka terbuka cukup dalam di bagian punggung, bibir, dan anus.

Karmele menduga luka-luka tersebut disebabkan gigitan satwa lain, kemungkinan anjing. Selain mengalami luka, Lusi juga ditemukan dalam kondisi sangat kurus dan dehidrasi.

“Kami menduga luka-luka ini didapat dari gigitan hewan, kemungkinan anjing. Kondisi Lusi juga sangat kurus dan mengalami dehidrasi. Kami sungguh sedih melihat kondisi orangutan ini, mungkin sudah lama tidak dapat makanan apa pun,” jelasnya.

Selain Lusi dan Riri, tim gabungan juga menyelamatkan Mama Rian dan anaknya, Rian, pada 10 Oktober 2026. Keduanya ditemukan di kebun warga di Desa Riam Berasap, sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan kelapa sawit PT KALE.

Lokasi penyelamatan induk dan anak orangutan tersebut juga berada di kawasan terdampak kebakaran. Berdasarkan pemeriksaan medis, tubuh Mama Rian dan Rian sama-sama ditemukan dalam kondisi sangat kurus.

Saat ini, keempat orangutan tersebut menjalani perawatan lebih lanjut di pusat rehabilitasi YIARI karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.

Meski empat orangutan telah dievakuasi, upaya penyelamatan masih berlanjut. Tim gabungan terus memantau sejumlah orangutan yang diduga masih berada di kawasan HCV PT KALE dan area sekitarnya.

Berdasarkan laporan masyarakat, beberapa orangutan bahkan telah memasuki kawasan permukiman dan merusak tanaman serta kebun warga. Kondisi tersebut berpotensi memicu konflik antara manusia dan orangutan.

Karmele menegaskan, penyelamatan lanjutan diperlukan karena masih ada orangutan yang terjebak di kawasan hutan yang terbakar.

“Kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan. Di beberapa bagian, asap masih tebal, bahkan masih ditemukan titik-titik dengan tanah yang mengeluarkan asap,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kebakaran menyebabkan orangutan kehilangan tempat berlindung dan sumber pakan. Mereka juga masih harus bergerak di kawasan berisiko akibat panas dan sisa bara api.

“Artinya, proses penyelamatan masih harus dilanjutkan. Di kawasan HCV PT KALE, masih terdapat sejumlah orangutan yang terdampak dan membutuhkan evakuasi dan penanganan medis segera,” tutupnya.

Tempuh 9 Jam Perjalanan, 8 Orangutan Korban Karhutla di Kalbar Dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu
Tempuh 9 Jam Perjalanan, 8 Orangutan Korban Karhutla di Kalbar Dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu
Monday, 12/10/2026

KALBARONLINE.com – Delapan orangutan Kalimantan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat akhirnya dipindahkan ke habitat alami di Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, pada 9 Oktober 2026. Sebelum dilepasliarkan, seluruh orangutan menjalani pemeriksaan kesehatan dan perawatan di fasilitas rehabilitasi.

Translokasi ini dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kalbar, KPH Ketapang Utara, serta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Delapan orangutan tersebut terdiri dari tiga induk beserta anaknya dan dua orangutan jantan remaja. Mereka sebelumnya diselamatkan dari sejumlah lokasi terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara sepanjang Agustus hingga September 2026.

Kebakaran menyebabkan habitat mereka rusak, tutupan hutan berkurang, dan jalur penghubung antarkawasan terputus. Kondisi tersebut membuat sejumlah orangutan terjebak di area perkebunan dengan sumber makanan dan ruang hidup yang semakin terbatas.

Salah satu orangutan yang ditranslokasikan adalah Mama Man bersama anaknya, Man. Keduanya ditemukan di perkebunan milik warga Desa Tempurukan, Kabupaten Ketapang, yang berbatasan dengan kawasan hutan.

Mama Man dan Man telah terpantau sejak pertengahan Juni 2026. Namun, kebakaran yang meluas hingga mendekati lokasi membuat habitat mereka semakin sempit. Keduanya akhirnya dievakuasi pada 3 September 2026 karena terancam api dan paparan asap.

Empat orangutan lainnya, yakni Mama Nopi dan anaknya, Nopi, serta dua jantan remaja bernama Naufal dan Nopan, diselamatkan dari Desa Pemangkat, Kabupaten Kayong Utara. Mereka sebelumnya bertahan di perkebunan kelapa dan karet milik warga setelah hutan di sekitarnya terbakar.

Sementara itu, Mama Lifa dan anaknya, Lifa, ditemukan terisolasi di antara pohon-pohon akasia pada area seluas sekitar 400 meter persegi yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Keduanya diselamatkan pada 18 September 2026 karena kawasan tersebut tidak lagi menyediakan sumber makanan yang memadai.

Sebelum dipindahkan, kedelapan orangutan menjalani pemeriksaan kesehatan, perawatan medis sesuai kebutuhan, serta observasi di fasilitas YIARI. Mereka dinyatakan sehat dan masih menunjukkan perilaku alami sebagai satwa liar.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran dimulai sejak dini hari dari Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan, Kabupaten Ketapang. Tim menempuh perjalanan darat sekitar enam jam, dilanjutkan satu jam menggunakan perahu dan berjalan kaki sekitar dua jam menuju titik pelepasan di dalam Hutan Lindung Batu Nyambu.

Selama perjalanan, dokter hewan secara berkala memeriksa kondisi orangutan serta memastikan kebutuhan makanan dan air minum tetap terpenuhi. Kandang transportasi juga dilengkapi pelampung saat dibawa menggunakan perahu.

Proses pelepasan dimulai sekitar pukul 12.00 WIB di beberapa titik yang berjarak sekitar 80 meter satu sama lain. Setelah orangutan dilepas, tim melakukan pemantauan singkat dari jarak aman agar satwa tidak stres dan dapat kembali beraktivitas secara alami.

Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis. Kawasan seluas sekitar 23.000 hektare tersebut memiliki tutupan hutan primer dan sekunder, sumber air alami, tumbuhan pakan, serta pohon yang dapat digunakan orangutan untuk membangun sarang.

Berdasarkan survei pada 2023, kawasan itu juga diketahui merupakan habitat alami orangutan dengan daya dukung ekologis yang dinilai memadai.

Selain itu, Batu Nyambu terhubung dengan sejumlah kawasan hutan lindung lain dalam lanskap Arabella–Schwaner. Keterhubungan tersebut penting agar orangutan dapat menjelajahi wilayah yang lebih luas untuk mencari makanan, terutama ketika ketersediaan buah berubah mengikuti musim.

Direktur Operasional YIARI, Argitoeranting, mengatakan pemilihan lokasi translokasi harus mempertimbangkan ketersediaan makanan, sumber air, ruang jelajah, serta keamanan habitat.

“Di tengah kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung, kita dihadapkan pada situasi sulit. Banyak orangutan kehilangan habitatnya, sementara kawasan hutan yang aman untuk menampung mereka semakin terbatas,” ujarnya.

Ia mengatakan Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih karena dinilai memiliki kondisi yang mendukung kehidupan orangutan dan sejauh ini relatif aman dari kebakaran.

Namun, menurutnya, translokasi bukan solusi akhir selama kebakaran dan kerusakan habitat masih mengancam kehidupan orangutan. Argitoeranting menyebut masih ada orangutan terdampak karhutla yang menjalani perawatan intensif di pusat rehabilitasi YIARI.

Sebagian di antaranya mengalami luka bakar, malnutrisi, anemia berat, dan gangguan kesehatan lainnya sehingga belum memungkinkan untuk dipindahkan ke habitat alami.

CEO YIARI, Karmele Llano Sánchez, mengatakan translokasi tersebut menjadi momen membahagiakan karena orangutan yang telah diselamatkan akhirnya mendapat kesempatan kembali hidup bebas.

Meski demikian, ia menegaskan perlindungan habitat tetap menjadi prioritas agar orangutan tidak terus kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.

Kepala Balai KSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, mengatakan sejak 1 Agustus hingga 9 Oktober 2026, pihaknya bersama YIARI telah menyelamatkan 46 orangutan yang terdampak karhutla.

Ia menyebut pemindahan delapan orangutan ke Hutan Lindung Batu Nyambu menjadi langkah awal untuk menempatkan satwa terdampak karhutla di habitat yang dinilai sesuai dan relatif aman setelah kondisi kesehatannya dinyatakan baik.

Menurut Murlan, upaya penyelamatan tidak berhenti pada evakuasi dan translokasi. Perlindungan kawasan hutan yang tersisa juga diperlukan agar orangutan memiliki habitat yang layak untuk bertahan hidup.

Sementara itu, Kepala KPH Ketapang Utara, Ya’ Suharnoto, menilai translokasi ini penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem hutan. Orangutan merupakan spesies kunci yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.

Ia berharap pengamanan kawasan melalui patroli rutin dan sosialisasi kepada masyarakat terus dilakukan setelah translokasi. Penanaman pohon yang menghasilkan bunga dan buah sebagai sumber makanan orangutan juga perlu diperbanyak.

Kolaborasi pemerintah, pengelola kawasan, masyarakat, dan lembaga konservasi diharapkan dapat memastikan Hutan Lindung Batu Nyambu tetap menjadi habitat yang aman bagi orangutan, terutama di tengah ancaman karhutla yang masih terjadi di Kalimantan Barat. (Lid)

Terjebak Karhutla, Mama Man dan Anaknya Diselamatkan di Ketapang
Terjebak Karhutla, Mama Man dan Anaknya Diselamatkan di Ketapang
Monday, 07/09/2026

KALBARONLINE.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mengancam habitat satwa liar. Seekor orangutan betina dewasa bersama anaknya dievakuasi dari Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kamis (3/9/2026).

Penyelamatan dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Kedua orangutan tersebut kemudian diberi nama Mama Man dan Man. Induknya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun, sedangkan anaknya yang berjenis kelamin jantan diperkirakan masih berusia kurang dari satu tahun.

Keduanya sebenarnya telah terpantau sejak pertengahan Juni 2026 di area perkebunan warga yang berbatasan dengan sepetak hutan.

Saat itu, keduanya masih memiliki ruang untuk bergerak di sekitar habitat yang tersisa. Namun, kondisi berubah ketika karhutla meluas dan api mulai mendekati lokasi tempat keduanya berada.

Habitat di sekitar keduanya semakin terbatas dan tidak tersedia jalur aman untuk berpindah. Ancaman kebakaran serta paparan asap membuat tim memutuskan melakukan evakuasi.

Tim tiba di lokasi sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah memastikan posisi dan kondisi keduanya, proses penyelamatan dilakukan dengan melibatkan dokter hewan YIARI.

Induk orangutan kemudian dibius untuk memudahkan proses evakuasi. Sekitar 10 menit kemudian, Mama Man berhasil dievakuasi menggunakan jaring dengan anaknya tetap berada bersamanya.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ditemukan luka fisik maupun luka bakar pada tubuh induk. Setelah proses pembiusan, induk mendapatkan dukungan oksigen sebelum dibawa bersama anaknya ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri.

Sementara itu, Man yang masih berusia kurang dari satu tahun terlihat aktif selama pemeriksaan. Tim menemukan ingus dan cairan kering di sekitar hidungnya yang diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla.

Dokter hewan YIARI, drh Komara, mengatakan secara umum tidak ditemukan luka akibat kebakaran pada induk maupun anak orangutan.

“Namun, paparan asap dalam jangka waktu tertentu tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi sistem pernapasan orangutan, terutama ketika konsentrasi asap di habitat sangat tinggi. Kondisi kesehatan keduanya akan terus dipantau selama berada di pusat penyelamatan dan rehabilitasi,” jelasnya.

Untuk sementara, Mama Man dan Man menjalani pemantauan kesehatan di pusat penyelamatan dan rehabilitasi YIARI. Tim juga terus memantau perkembangan karhutla di sekitar lokasi asal keduanya.

Apabila kondisi kebakaran telah lebih aman, tim akan melakukan penilaian terhadap lokasi yang sesuai untuk kemungkinan pelepasliaran kembali keduanya ke habitat yang aman.

Penyelamatan ini menambah panjang daftar orangutan yang terdampak karhutla di Ketapang. Dalam waktu kurang dari satu bulan, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI telah menyelamatkan sedikitnya sembilan orangutan dari ancaman kebakaran di sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang.

Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan kondisi karhutla saat ini sangat mengkhawatirkan karena api terus meluas dan mendekati habitat maupun lokasi orangutan mencari makan.

Banyak orangutan akhirnya keluar dari habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman, tetapi justru menghadapi risiko ketika memasuki perkebunan atau area yang berdekatan dengan aktivitas manusia.

“Kondisinya sangat parah. Dalam waktu kurang dari satu bulan, sudah sembilan orangutan yang harus kami selamatkan akibat ancaman karhutla. Ini menunjukkan bahwa kebakaran tidak hanya menghancurkan hutan, tetapi juga membuat satwa kehilangan tempat untuk berlindung dan mencari makan. Ketika habitatnya terbakar atau dikelilingi api, mereka tidak punya banyak pilihan untuk berpindah,” ujar Argitoe.

Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menekankan pentingnya komitmen semua pihak untuk menjaga kawasan hutan dan wilayah bernilai konservasi tinggi dari ancaman kebakaran.

“Penyelamatan satwa liar tidak bisa dilakukan sendiri. Laporan dan kepedulian masyarakat penting dalam menjaga upaya keselamatan satwa liar terdampak Karhutla,” ujarnya.

Masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak karhutla di sekitar permukiman, kebun, atau membutuhkan pertolongan diminta segera melapor kepada Balai KSDA Kalimantan Barat melalui call center 0811-5776-767 atau 0811-5670-041 agar dapat ditangani dengan aman dan tepat. (Lid)

Orangutan Sempurna yang Sempat Pingsan karena Asap Karhutla di Ketapang Dinyatakan Mati
Orangutan Sempurna yang Sempat Pingsan karena Asap Karhutla di Ketapang Dinyatakan Mati
Thursday, 03/09/2026

KALBARONLINE.com – Kabar duka datang dari Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) jantan dewasa bernama Sempurna dinyatakan mati setelah sebelumnya ditemukan dalam kondisi lemah dan mengalami gangguan pernapasan yang diduga berkaitan dengan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Sempurna ditemukan warga pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 07.00 WIB di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang.

Saat ditemukan, kondisi Sempurna sangat lemah dan kesulitan bernapas. BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) kemudian bergerak melakukan evakuasi dan memberikan pertolongan medis.

Sempurna terlebih dahulu mendapatkan terapi oksigen dan cairan intravena. Sekitar pukul 11.30 WIB, satwa tersebut kemudian dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Namun, kondisi Sempurna terus memburuk. Sekitar pukul 14.00 WIB, napasnya semakin dangkal dan saturasi oksigen tidak lagi terdeteksi.

Tim medis kemudian melakukan upaya resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR). Sayangnya, Sempurna akhirnya dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB.

Untuk mengetahui kondisi kesehatan dan dugaan penyebab kematian, nekropsi dilakukan pada 1 September 2026. Pemeriksaan menunjukkan adanya perubahan patologis pada sejumlah organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal.

Pada paru-paru ditemukan perubahan yang berdasarkan riwayat kondisi klinis dan hasil pemeriksaan diduga berkaitan dengan paparan asap. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu fungsi paru-paru dan menyebabkan hipoksia akut atau kondisi kekurangan oksigen dalam tubuh.

Gangguan tersebut kemudian diduga berkontribusi terhadap terganggunya fungsi kardiovaskular hingga menyebabkan kematian Sempurna.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan duka atas kematian Sempurna.

“Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa,” ujar Murlan, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan Sempurna serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya.

Murlan juga mengapresiasi masyarakat yang telah melaporkan keberadaan Sempurna sehingga upaya penyelamatan dapat segera dilakukan.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menangani sendiri satwa liar yang ditemukan dalam kondisi sakit, terluka, maupun terdampak Karhutla.

Masyarakat diminta segera melaporkan temuan satwa liar yang membutuhkan pertolongan kepada petugas BKSDA Kalimantan Barat agar dapat ditindaklanjuti dengan penanganan yang tepat.

Orangutan Jantan Dievakuasi dari Kebun Warga Ketapang, Terancam Karhutla
Orangutan Jantan Dievakuasi dari Kebun Warga Ketapang, Terancam Karhutla
Monday, 10/08/2026

KALBARONLINE.com - Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI), PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha), dengan dukungan masyarakat, berhasil mengevakuasi seekor orangutan jantan dari area perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Evakuasi dilakukan untuk menyelamatkan orangutan tersebut dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan tersebut sekaligus mencegah potensi konflik dengan masyarakat.

Orangutan yang kemudian diberi nama Wak itu pertama kali ditemukan warga di perkebunan buah Desa Kuala Tolak pada Juli 2026. Kehadirannya menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi merusak tanaman milik warga.

Di sisi lain, karhutla yang meluas di sekitar desa semakin meningkatkan risiko terhadap keselamatan Wak maupun masyarakat. Kondisi tersebut mendorong tim gabungan segera melakukan evakuasi.

Dalam catatan YIARI, kawasan Desa Kuala Tolak dan sekitarnya juga pernah menjadi lokasi penyelamatan orangutan pada 2015 dan 2019 saat kebakaran besar melanda wilayah tersebut. Saat itu, BKSDA Kalbar bersama YIARI melakukan penyelamatan terhadap beberapa orangutan di kawasan yang sama.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran dan pembukaan lahan telah menjadi persoalan berulang yang menimbulkan dampak ekologis, sosial, dan ekonomi.

Salah satu warga Desa Kuala Tolak, Morsali, mengatakan konflik antara satwa dan masyarakat serta kebakaran telah terjadi berulang sejak pembukaan lahan dilakukan di sekitar wilayah tersebut.

“Orangutan keluar ini juga masalahnya habitatnya ini terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia ini cari tempat yang aman untuk cari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi,” tuturnya.

Melihat potensi ancaman terhadap orangutan tersebut, BKSDA bersama YIARI memutuskan melakukan evakuasi.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, mengatakan kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menghancurkan habitat orangutan, tetapi juga menciptakan siklus konflik yang membebani masyarakat dan pemerintah.

“Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga. Di sisi lain, masyarakat mengalami kerugian ekonomi karena tanaman rusak dan rasa takut meningkat,” ujar Silverius.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik pembukaan lahan yang tidak terkendali.

“Situasi ini juga menimbulkan beban besar bagi negara, baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat,” katanya.

Silverius menambahkan, kondisi karhutla di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa.

“Yang lebih memprihatinkan, kebakaran di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga krisis keselamatan manusia, satwa liar, dan masa depan bentang alam kita,” tambahnya.

Setelah dievakuasi, Wak dipulangkan ke areal konsesi PT Mopakha yang merupakan habitat asalnya. Kawasan tersebut masih memiliki populasi orangutan liar serta habitat yang dinilai aman untuk mendukung keberlangsungan hidup satwa tersebut.

General Manager PT Mopakha, Wendi Tamariska, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung upaya konservasi dan penanganan konflik satwa liar di wilayah operasionalnya.

“Di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan, PT Mohairson Pawan Khatulistiwa turut merespons cepat informasi mengenai satu individu orangutan jantan yang terjebak di area perkebunan masyarakat di Tanjung Jorong, Desa Kuala Tolak. Bersama BKSDA, YIARI, dan tim biodiversity perusahaan, proses penyelamatan dilakukan sejak pagi hingga orangutan berhasil dilepasliarkan kembali pada sore hari di area utara konsesi perusahaan,” kata Wendi.

Menurutnya, lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian teknis yang menunjukkan kondisi habitat masih baik, memiliki tutupan tajuk yang memadai, serta ketersediaan pakan yang cukup.

“Perusahaan berkomitmen mendukung pemantauan lanjutan agar orangutan tersebut dapat beradaptasi dengan baik di habitat alaminya,” ujarnya.

Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi seluruh pihak dalam penanganan satwa liar tersebut.

“Penanganan ini menunjukkan pentingnya kerja bersama antara pemerintah, lembaga konservasi, perusahaan, dan masyarakat. Translokasi dilakukan bukan semata-mata untuk memindahkan satwa, tetapi sebagai langkah mitigasi konflik agar keselamatan orangutan dan warga sama-sama terjaga,” ujar Murlan.

Ia mengatakan habitat satwa liar, khususnya orangutan, semakin terdesak akibat fragmentasi habitat yang diperparah dengan kebakaran hutan dan lahan.

“Untuk itu diperlukan komitmen semua pihak dalam menjaga kekayaan alam kita untuk mendukung kualitas kehidupan semua makhluk,” katanya.

Tim gabungan menegaskan bahwa pencegahan konflik satwa liar tidak dapat dilepaskan dari upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan, perlindungan habitat, serta penegakan aturan terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar.

Tanpa langkah-langkah tersebut, konflik satwa liar berpotensi terus terjadi, merugikan masyarakat, membebani pemerintah, sekaligus mengancam kelestarian orangutan di Kabupaten Ketapang.

5 Orangutan Hasil Rehabilitasi Dilepasliarkan ke Taman Nasional Betung Kerihun
5 Orangutan Hasil Rehabilitasi Dilepasliarkan ke Taman Nasional Betung Kerihun
Monday, 06/07/2026

KALBARONLINE.com – Sebanyak lima orangutan hasil rehabilitasi kembali dilepasliarkan ke habitat alaminya di kawasan Sub-DAS Mendalam, Taman Nasional Betung Kerihun, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, pada 30 Juni 2026.

Pelepasliaran ini merupakan hasil kolaborasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS), serta Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS/SOC) sebagai bagian dari upaya konservasi orangutan Kalimantan.

Lima orangutan yang dilepasliarkan terdiri atas satu jantan dan empat betina, yakni Benazir (14 tahun), Jamilah (25) bersama anaknya Ulin (1), serta Sinta (13) bersama anaknya Sabine (2).

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan seluruh orangutan tersebut telah dinyatakan siap kembali ke habitat alami setelah menjalani rehabilitasi selama bertahun-tahun di Sekolah Hutan Jerora. Sebelum dilepasliarkan, kelimanya juga menjalani pemeriksaan kesehatan dan masa karantina pra-pelepasliaran selama satu bulan.

"Pelepasliaran ini menjadi tahap ke-18 sejak program tersebut dimulai pada 2017. Hingga akhir 2025, sebanyak 39 individu orangutan, terdiri atas 37 hasil rehabilitasi dan dua hasil translokasi, telah dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).

Murlan menjelaskan, perjalanan menuju lokasi pelepasliaran tidaklah singkat. Kelima orangutan harus menempuh jalur darat dan sungai dari Sintang menuju Putussibau hingga kawasan Sub-DAS Mendalam dengan waktu tempuh sekitar 10 hingga 12 jam.

"Setibanya di lokasi, satwa terlebih dahulu ditempatkan di kandang habituasi untuk memulihkan kondisi fisik dan mengurangi stres akibat perjalanan," ungkapnya.

Menurut Murlan, Sub-DAS Mendalam dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena memiliki daya dukung habitat yang sangat baik. Berdasarkan hasil kajian ekologi, kawasan tersebut memiliki ketersediaan vegetasi pakan yang melimpah, mencapai sekitar 52 persen dari total jenis flora yang ditemukan.

Usai dilepasliarkan, kelima orangutan akan dipantau secara intensif oleh tim monitoring yang beranggotakan delapan hingga 12 personel menggunakan metode nest-to-nest selama maksimal tiga bulan.

"Pemantauan dilakukan untuk memastikan orangutan mampu beradaptasi, mencari pakan sendiri, serta bertahan hidup secara mandiri di alam," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, Titik Wurdiningsih, berharap pelepasliaran tersebut dapat memperkuat populasi orangutan di habitat aslinya sekaligus menjaga kelestarian satwa dilindungi tersebut.

Ia juga menilai kawasan Camp Mentibat di Resort PTN Nanga Hovat memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pusat riset dan edukasi orangutan.

"Selain itu, jalur menuju lokasi pelepasliaran juga dinilai memiliki potensi wisata alam, termasuk arung jeram," pungkasnya.

Upaya konservasi ini diharapkan tidak berhenti pada pelepasliaran semata, tetapi juga diiringi dengan perlindungan habitat serta edukasi kepada masyarakat agar populasi orangutan Kalimantan tetap terjaga dan berkembang di alam liar. (Lid)