Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
polytron pontianak indonesia masters 2026 super 100
Pontianak Sukses Gelar Indonesia Masters 2026, Edi Kamtono Bidik Seri Lebih Tinggi
Pontianak Sukses Gelar Indonesia Masters 2026, Edi Kamtono Bidik Seri Lebih Tinggi
Monday, 07/09/2026

KALBARONLINE.com – Kejuaraan bulu tangkis internasional Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 Super 100 sukses digelar di GOR Terpadu A Yani Pontianak. Turnamen yang berlangsung pada 1–6 September 2026 itu ditutup dengan lima pertandingan final pada Minggu (6/9/2026).

Keberhasilan tersebut membuat Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono berharap Pontianak kembali dipercaya menjadi tuan rumah turnamen bulu tangkis berskala internasional, bahkan dengan level seri yang lebih tinggi.

“ tentunya kita berharap Pontianak bisa menjadi tuan rumah lagi, bahkan untuk seri yang lebih tinggi,” katanya usai menyaksikan laga final.

Edi mengatakan, penyelenggaraan kejuaraan tersebut menjadi kebanggaan bagi Kota Pontianak. Menurutnya, tidak setiap daerah memiliki kesempatan menjadi tuan rumah event olahraga internasional.

“Alhamdulillah, kejuaraan Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 berjalan sukses. Hari ini final, dan ini menjadi salah satu ajang internasional yang cukup membanggakan bagi Kota Pontianak,” ujarnya.

Kehadiran atlet-atlet internasional juga memberi pengalaman berharga bagi masyarakat, khususnya pecinta bulu tangkis di Pontianak. Warga dapat menyaksikan langsung pertandingan kelas dunia tanpa harus keluar daerah.

“Ini terutama menjadi motivasi bagi pemain-pemain muda kita. Mereka bisa menonton langsung, melihat kualitas permainan internasional, dan terdorong untuk berprestasi,” katanya.

Menurut Edi, event seperti ini juga berdampak positif bagi daerah. Selain menggerakkan dunia olahraga, penyelenggaraan turnamen internasional turut memberi manfaat bagi pelaku UMKM, sektor jasa, perhotelan, transportasi, dan ekonomi lokal.

Ia juga berharap ajang tersebut melahirkan semangat baru bagi pembinaan atlet bulu tangkis di Pontianak. Dengan semakin seringnya event besar digelar, atlet muda daerah diharapkan semakin termotivasi untuk berlatih dan mengejar prestasi.

“Kita harapkan ada pemain-pemain berbakat dari Pontianak yang suatu saat bisa tampil di event masters seperti ini,” jelasnya.

Edi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026, mulai dari panitia, sponsor, PBSI, BWF, pemerintah, hingga masyarakat yang hadir memberikan dukungan.

“Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung. Semoga Pontianak semakin dikenal sebagai kota yang siap menjadi tuan rumah kegiatan nasional maupun internasional,” pungkasnya. (*)

Gagal Juara, Yeremia/Patra Kalah Dramatis di Final Pontianak Indonesia Masters 2026
Gagal Juara, Yeremia/Patra Kalah Dramatis di Final Pontianak Indonesia Masters 2026
Sunday, 06/09/2026

KALBARONLINE.com – Ganda putra Indonesia Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan/Patra Rindorindo gagal meraih gelar juara Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 setelah kalah dramatis dari pasangan Chinese Taipei Chia Yen Lin/Lin Yong Sheng pada partai final di GOR A Yani Terpadu, Pontianak, Minggu (6/9/2026).

Sempat unggul pada gim pertama, Yeremia/Patra akhirnya takluk dalam pertarungan tiga gim dengan skor 21-11, 19-21, 20-22.

“Permainan kurang tenang. Kita kecolongan poin,” ujar Patra seusai pertandingan.

Yeremia/Patra mengawali laga final dengan permainan meyakinkan dan mampu mengendalikan pertandingan untuk merebut gim pertama dengan skor 21-11.

Namun, Chia/Lin perlahan bangkit pada gim kedua dan mampu mengambil momentum hingga memaksa Yeremia/Patra menyerah 19-21. Hasil tersebut membuat pertandingan harus ditentukan melalui gim ketiga.

Persaingan semakin sengit pada gim penentuan. Kedua pasangan saling berbalas serangan hingga memasuki poin-poin akhir.

Yeremia/Patra sebenarnya memiliki peluang untuk mengamankan pertandingan. Namun, Chia/Lin mampu menjaga permainan dan menutup gim ketiga dengan kemenangan 22-20 sekaligus memastikan gelar juara.

Patra mengakui kegagalan meraih gelar juara tersebut tidak terlepas dari permainan mereka yang kurang tenang ketika memasuki situasi krusial. Sejumlah poin penting justru terlepas ketika pertandingan berlangsung ketat.

“Di set ketiga next perbaikan sama mental. Mereka main nekan terus, kita juga main saling berbalas-balasan,” katanya.

Kekalahan tersebut sekaligus memperpanjang catatan Yeremia/Patra yang belum mampu meraih gelar juara setelah dalam dua turnamen secara beruntun berhasil mencapai partai final.

Pada pekan sebelumnya, mereka juga harus puas menjadi runner up pada Polytron Indonesia Challenge.

Meski gagal menjadi juara, Yeremia/Patra tetap mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat Pontianak yang memadati GOR A Yani Terpadu.

Yeremia mengaku bangga sekaligus terkesan dengan antusiasme suporter yang terus memberikan dukungan sepanjang pertandingan.

“Antusias masyarakat Pontianak sudah dukung kita full. Antusias, rame. Kita bangga bisa melihat suporter sebanyak ini di Pontianak,” ujar Yeremia.

Menurut Yeremia, dukungan tersebut memberikan tambahan semangat bagi mereka untuk berjuang hingga poin terakhir.

“Penonton dukung ke kita, satu stadion berisi. Kita senang, bangga dan semangat,” katanya.

Kini, kegagalan meraih gelar juara di Pontianak menjadi evaluasi bagi Yeremia/Patra, terutama dalam menjaga ketenangan dan kekuatan mental saat menghadapi poin-poin krusial agar kesempatan menembus final pada turnamen berikutnya dapat berujung pada gelar juara.

Wang Po-Wei Juara Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026, Taklukkan Sun Chao
Wang Po-Wei Juara Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026, Taklukkan Sun Chao
Sunday, 06/09/2026

KALBARONLINE.com – Pebulutangkis tunggal putra asal China Taipei, Wang Po-Wei, menjuarai turnamen Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 Super 100.

Wang Po-Wei mengalahkan wakil China, Sun Chao, dalam partai final yang berlangsung di GOR Ahmad Yani Pontianak, Minggu (6/9/2026). Unggulan kedua tersebut menang dua gim langsung dengan skor 21-13 dan 21-19.

Wang Po-Wei tampil dominan sejak awal pertandingan. Ia berhasil mengamankan gim pertama dengan skor 21-13.

Sun Chao mencoba memberikan perlawanan lebih sengit pada gim kedua. Namun, Wang Po-Wei mampu mempertahankan fokus hingga mengunci kemenangan dengan skor 21-19.

Usai pertandingan, Wang Po-Wei mengungkapkan rasa bahagianya. Ia mengaku tidak membebani dirinya dengan pikiran berlebihan menjelang laga final dan hanya berusaha menampilkan performa terbaik di lapangan.

Wang Po-Wei juga mengungkapkan bahwa kondisi kesehatannya sedang tidak prima saat bertanding. Meski demikian, ia tetap berhasil menyabet gelar juara.

“Tidak terlalu banyak yang saya pikirkan, saya hanya berusaha sebaik mungkin. Kondisi saya juga sedang tidak terlalu sehat tapi saya bisa juara, rasanya sangat senang,” ujar Wang Po-Wei.

Selain kondisi fisik, Wang Po-Wei juga menyoroti peran suporter yang hadir di GOR Ahmad Yani. Ia merasakan dukungan luar biasa dari penonton sejak pertandingan dimulai.

Menurutnya, atmosfer penonton tersebut semakin memicu semangatnya untuk bermain lebih agresif.

“Penonton juga sangat mendukung saya jadi semakin semangat bermainnya,” pungkasnya.

Comeback dari Cedera, Liao Li Xi/Shen Shi Yao Juara Ganda Putri Pontianak Indonesia Masters 2026
Comeback dari Cedera, Liao Li Xi/Shen Shi Yao Juara Ganda Putri Pontianak Indonesia Masters 2026
Sunday, 06/09/2026

KALBARONLINE.com – Gelar juara Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 terasa begitu spesial bagi ganda putri China, Liao Li Xi/Shen Shi Yao.

Bukan hanya karena berhasil mengalahkan Chou Yun An/Ruo Hsuan Ko dari Chinese Taipei di partai final, tetapi juga karena gelar tersebut diraih setelah Shen Shi Yao sempat mengalami cedera lutut yang cukup serius.

Liao Li Xi/Shen Shi Yao tampil solid pada final Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Minggu (6/9/2026). Mereka menang dua gim langsung dengan skor 21-14, 21-15.

Bagi Shen, hasil tersebut berada di luar perkiraannya. Sebelum turnamen, dia bahkan tidak pernah berpikir bisa berdiri sebagai juara karena masih dalam proses pemulihan dari cedera.

“Saya sangat bersyukur karena saya tidak pernah berpikir bisa juara di sini karena sebelum ini saya mengalami cedera lutut yang cukup serius. Terima kasih kepada pelatih dan partner saya yang selalu membantu saya untuk kembali pulih,” ujar Shen.

Pertandingan final sendiri tidak berjalan mudah. Chou Yun An/Ruo Hsuan Ko mampu memberikan perlawanan, tetapi Liao/Shen tetap mampu menjaga permainan hingga mengamankan kemenangan dalam dua gim.

Shen mengakui permainan lawan cukup baik. Namun, mereka berusaha menjalankan arahan pelatih sehingga mampu menjaga permainan dan menyelesaikan pertandingan dengan kemenangan.

“Permainan mereka hari ini sangat baik tapi kami coba mengikuti arahan-arahan dari pelatih sehingga kami bisa memainkan dengan baik di permainan tadi,” katanya.

Selain pelatih dan partner, Shen juga menyebut peran para pemain senior dalam perjalanan mereka. Sejumlah nama besar seperti Jia Yi Fan, Liu Sheng Shu dan Tan Ning disebut banyak membantu dalam sesi latihan.

Menurut Shen, para senior tersebut tidak hanya membantu dalam latihan, tetapi juga memberikan pengalaman dan pengajaran yang menjadi bekal penting bagi mereka.

“Kakak-kakak kami seperti Jia Yi Fan, Liu Sheng Shu atau Tan Ning sangat membantu di latihan, mereka terus mengajari kami. Kami selalu banyak belajar dari pengalaman dan pengajaran mereka,” tuturnya.

Sementara itu, Liao Li Xi memilih tidak terlalu larut dalam euforia setelah memastikan gelar juara. Dia menyadari persaingan pada turnamen berikutnya bakal lebih berat.

Karena itu, Liao menegaskan mereka akan kembali berusaha memberikan penampilan terbaik dan terus memperkuat mental menghadapi tantangan berikutnya.

“Di turnamen berikutnya pasti lebih sulit tapi kami mau memberikan kembali yang terbaik, coba terus memantapkan hati,” kata Liao.

Drama Tiga Gim, Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi Juara Ganda Campuran Pontianak Indonesia Masters 2026
Drama Tiga Gim, Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi Juara Ganda Campuran Pontianak Indonesia Masters 2026
Sunday, 06/09/2026

KALBARONLINE.com – Drama sengit mewarnai partai final ganda campuran Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Minggu (6/9/2026).

Pasangan China, Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi, harus berjibaku selama tiga gim untuk menundukkan rekan senegaranya, Liao Pin Yi/Zhang Jia Han.

Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi akhirnya memastikan gelar juara setelah menang dramatis dengan skor 21-9, 20-22, 22-20.

Pertandingan berlangsung ketat, terutama pada gim kedua dan gim penentuan. Kejar-mengejar poin terjadi hingga angka-angka kritis yang membuat suasana GOR Terpadu Ahmad Yani semakin panas.

Setelah menang mudah pada gim pertama dengan skor 21-9, Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi justru mendapat perlawanan sengit pada gim kedua.

Liao Pin Yi/Zhang Jia Han mampu bangkit dan memaksa pertandingan berlanjut ke gim ketiga setelah mengamankan gim kedua dengan skor tipis 22-20.

Gim penentuan kembali berjalan ketat. Kedua pasangan saling menekan dan tidak memberikan kesempatan untuk menjauh.

Pada poin-poin akhir, Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi mampu menjaga ketenangan hingga akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan 22-20.

Bagi Ma Xi Xiang, kemenangan tersebut terasa semakin spesial karena diraih di hadapan para pencinta bulu tangkis Pontianak.

Ia mengaku menikmati atmosfer pertandingan di GOR Terpadu Ahmad Yani yang dipenuhi dukungan suporter.

“Saya sangat senang bisa bertanding di Pontianak. Atmosfer suporternya luar biasa,” ujar Ma Xi Xiang.

Ma Xi Xiang mengakui penampilannya pada gim kedua tidak berjalan sesuai harapan.

Setelah tampil dominan pada gim pertama, permainan Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi sempat mengalami penurunan sehingga Liao Pin Yi/Zhang Jia Han mampu memanfaatkan momentum dan memaksakan gim ketiga.

Namun, pasangan China tersebut mampu melakukan perbaikan pada gim penentuan.

“Memang di set kedua saya bermain kurang lepas, namun bisa lebih baik di set ketiga sehingga bisa menang,” katanya.

Ketenangan pada poin-poin krusial akhirnya menjadi salah satu kunci Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi mengamankan kemenangan.

Selain kemenangan, Ma Xi Xiang juga mengaku senang bisa tampil di partai final menghadapi pasangan yang berasal dari negaranya sendiri.

Pertandingan sesama wakil China tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi kedua pasangan karena mereka saling memahami karakter permainan dan kemampuan masing-masing.

“Kami juga senang karena bisa bertanding dengan rekan senegara,” ujarnya.

Bagi Ma Xi Xiang, persaingan dengan rekan senegara tidak mengurangi keseruan pertandingan. Justru, laga tersebut menjadi kesempatan bagi masing-masing pasangan untuk menguji kemampuan hingga batas maksimal.

Lebih jauh, keikutsertaan di Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 juga memberikan pengalaman penting bagi Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi.

Salah satunya kesempatan menghadapi sejumlah pasangan Indonesia yang memiliki karakter permainan dan strategi berbeda.

“Di sini kami juga banyak belajar, terlebih melawan pasangan dari Indonesia. Kami bisa lebih belajar bagaimana teknik dan strategi mereka bermain,” tutur Ma Xi Xiang.

Kemenangan dramatis di Pontianak tersebut sekaligus menjadi bagian penting dari perjalanan Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi dalam meningkatkan kemampuan.

Bukan hanya membawa pulang gelar, pengalaman bertanding di tengah atmosfer suporter Pontianak serta menghadapi lawan-lawan dengan karakter permainan berbeda menjadi bekal berharga bagi pasangan China tersebut untuk menghadapi turnamen berikutnya.

Yeremia/Patra Jaga Asa Indonesia, Hantam Wakil Malaysia dan Tembus Final
Yeremia/Patra Jaga Asa Indonesia, Hantam Wakil Malaysia dan Tembus Final
Saturday, 05/09/2026

KALBARONLINE.com – Ganda putra Indonesia Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan/Patra Harapan Rindorindo menjaga asa Indonesia untuk meraih gelar di Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026. Mereka menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa di turnamen tersebut setelah memastikan tiket ke final dengan menghantam wakil Malaysia, Low Hang Yee/Ng Eng Cheong, pada babak semifinal, Sabtu (5/9/2026).

Tampil di hadapan publik GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Yeremia/Patra menang dominan dalam dua gim langsung dengan skor 21-7 dan 21-15.

Kemenangan tersebut sekaligus membawa Yeremia/Patra kembali ke partai final secara back to back. Yeremia mengaku bangga dengan pencapaian tersebut dan berharap bisa tampil maksimal pada laga puncak.

“Bangga sekali bisa back to back finals. Harapannya besok bisa juara dan mengeluarkan kemampuan yang maksimal,” ujar Yeremia.

Pada gim kedua, Yeremia/Patra sempat mendapat perlawanan lebih ketat ketika pertandingan memasuki interval. Namun, mereka mampu menjaga fokus dan tetap memilih bermain agresif.

“Di interval gim kedua poinnya ketat, tapi setelah itu kami tetap fokus menyerang karena kami tidak mau main defense. Permainan yang bagus itu ya menyerang,” katanya.

Menurut Yeremia, bermain bertahan justru dapat memberikan tekanan tersendiri bagi mereka. Karena itu, pasangan ini berusaha terus mengambil inisiatif serangan untuk membuat lawan berada dalam tekanan.

“Kalau main defense kami bisa saja mati, tapi kalau menyerang pasti lawan yang lebih tertekan,” lanjutnya.

Mengenai kunci keberhasilan mereka kembali menembus final, Yeremia menyebut kepercayaan satu sama lain menjadi salah satu faktor penting. Selain itu, ambisi untuk terus tampil maksimal juga masih tinggi.

“Mungkin percaya satu sama lain, yakin dan ambisinya masih tinggi untuk performa kami,” ucap Yeremia.

Sementara itu, Patra menilai kemenangan atas pasangan Malaysia tidak lepas dari persiapan pola permainan yang lebih matang. Sejak awal pertandingan, mereka berusaha memberikan tekanan kepada lawan.

“Hari ini kami lebih siap dari pola permainan, kami lebih menekan dari awal. Puji Tuhan tadi bisa menerapkan semua yang kami mau, jadinya bisa menang relatif cepat,” kata Patra.

Di partai final, Yeremia/Patra akan menghadapi pasangan asal Chinese Taipei. Patra mengatakan mereka akan mewaspadai pola serangan lawan yang dinilainya cukup rapi.

“Besok melawan pasangan Chinese Taipei, kami antisipasi dari pola-pola serangannya mereka karena mereka juga bermain rapi dari kemarin yang saya lihat,” ujarnya.

Untuk menghadapi laga puncak tersebut, Patra menyebut mereka akan menyiapkan pola bertahan yang dapat dilanjutkan dengan serangan balik.

“Jadi kami mau menyiapkan pola defense balik serangnya,” pungkas Patra.

Sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa, Yeremia/Patra kini mengemban asa untuk membawa gelar juara tetap berada di Indonesia. Mereka akan berusaha memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin pada partai final.

Dejan/Apriyani Tersingkir di Semifinal Pontianak Indonesia Masters, Wakil China Melaju ke Final
Dejan/Apriyani Tersingkir di Semifinal Pontianak Indonesia Masters, Wakil China Melaju ke Final
Saturday, 05/09/2026

KALBARONLINE.com – Langkah ganda campuran Indonesia Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu terhenti di babak semifinal Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.

Tampil di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Sabtu (5/9/2026), Dejan/Apriyani harus mengakui keunggulan pasangan China Ma Xi Xiang/Qin Hui Zi dalam dua gim langsung.

Dejan/Apriyani kalah dengan skor 16-21 dan 13-21. Hasil tersebut membuat mereka gagal melangkah ke partai final turnamen BWF World Tour Super 100 tersebut.

Pada gim pertama, Dejan/Apriyani sebenarnya mampu memberikan perlawanan sejak awal. Setelah tertinggal 0-2, mereka terus mengejar hingga beberapa kali menyamakan kedudukan.

Kedudukan sempat sama kuat 4-4, 5-5, 6-6 hingga 7-7. Namun, setelah itu pasangan China mulai mengambil kendali permainan.

Ma/Qin menjauh 9-7 dan kemudian 11-7. Keunggulan tersebut terus dipertahankan hingga mereka memimpin 13-7, 16-8, dan 19-11.

Dejan/Apriyani sempat menunjukkan perlawanan dengan mengejar hingga 14-19. Bahkan, mereka kembali memperkecil jarak menjadi 16-20.

Namun, upaya tersebut belum cukup untuk membalikkan keadaan. Pasangan China akhirnya menutup gim pertama dengan kemenangan 21-16.

Memasuki gim kedua, Dejan/Apriyani kembali tertinggal sejak awal. Ma/Qin mampu membuka keunggulan 4-0.

Dejan/Apriyani sempat mendapatkan tambahan poin dan memperkecil ketertinggalan menjadi 2-5. Namun, pasangan China kembali menjauh hingga 8-3, 10-4, dan 11-5.

Dejan/Apriyani berusaha mengejar. Mereka sempat mendekat hingga 11-7 dan 12-8, tetapi Ma/Qin mampu menjaga jarak.

Pasangan China kemudian terus menambah keunggulan hingga 16-8, 17-10, 19-11, dan akhirnya menutup pertandingan dengan skor 21-13.

Dejan mengakui hasil tersebut tidak sesuai dengan harapan mereka. Ia menilai permainan yang ditampilkan juga belum maksimal.

Menurutnya, kondisi fisik turut memengaruhi fokus di lapangan. Namun, Dejan tidak ingin menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan atas kekalahan.

“Hasilnya tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Tapi kita sudah mencoba berusaha sebisa kita, semaksimal mungkin,” ujar Dejan.

Ia mengatakan, secara permainan, kemampuan terbaik mereka tidak sepenuhnya keluar dalam pertandingan semifinal.

“Memang hasilnya belum dan tadi di permainan juga secara permainan tidak maksimal, permainannya tidak keluar. Mungkin kondisi juga memengaruhi. Bukan sebuah alasan, tapi akhirnya fokusnya hilang-hilangan,” katanya.

Apriyani juga mengakui kondisi fisik menjadi salah satu tantangan dalam menjaga konsentrasi selama pertandingan.

Ia mengatakan, pola permainan lawan sebenarnya sudah dipelajari sejak pagi melalui rekaman pertandingan. Namun, persiapan tersebut belum sepenuhnya mampu diterapkan secara maksimal ketika pertandingan berlangsung.

“Kalau untuk pola permainan sebenarnya sudah lihat tadi pagi. Memang balik lagi, bukan menjadi alasan, tapi cukup apa ya, fokusnya jadi naik turun karena kondisi juga,” ungkap Apriyani.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Dejan yang dinilainya telah berjuang maksimal di lapangan sejak babak sebelumnya.

“Saya juga terima kasih untuk Dejan karena dia mau mengupayakan yang terbaik di lapangan. Sudah mati-matian dari kemarin sampai hari ini,” ujarnya.

Meski gagal mencapai final, Dejan menilai perjalanan mereka di Pontianak memberikan banyak hal positif.

Bagi pasangan tersebut, penampilan di Indonesia Masters menjadi pengalaman penting untuk meningkatkan kualitas permainan mereka.

Dejan bahkan melihat adanya perkembangan dibandingkan penampilan mereka di turnamen sebelumnya di Taipei.

“Ini modal awal yang baik untuk kita. Karena kalau kita bandingkan dengan Taipei kemarin, pertama kali, di sini sangat improve,” jelasnya.

Menurut Dejan, perkembangan tersebut terlihat dari berbagai aspek, mulai dari persiapan, latihan, adaptasi di lapangan hingga pertandingan.

“Persiapan, latihan, nge-fight di lapangan, pertandingan juga. Kita dapat modal yang bagus untuk evaluasi nanti di belakang, setelah latihan,” katanya.

Karena itu, Dejan mengaku tetap bersyukur dengan pengalaman yang mereka dapatkan selama tampil di Pontianak.

“Saya sangat senang di sini dengan hasil-hasil yang kita dapat. Karena banyak banget pelajaran dan evaluasi juga yang bisa kita perbaiki di luar dan di lapangan,” tuturnya.

Apriyani pun menilai perjalanan mereka di Pontianak harus dijadikan bagian dari proses untuk terus berkembang sebagai pasangan.

Ia dan Dejan akan membawa berbagai catatan dari pertandingan ini untuk diperbaiki dalam latihan maupun pertandingan berikutnya.

“Sekiranya ini bisa menjadi modal juga. Saya dan Dejan juga harus terus belajar supaya bisa lebih baik lagi di pertandingan selanjutnya,” ujar Apriyani.

Dejan memastikan mereka tidak akan berhenti melakukan evaluasi. Kekalahan di semifinal menjadi bahan untuk memperbaiki kekurangan sekaligus mempertahankan hal-hal positif yang sudah terlihat selama turnamen.

“Semoga ke depannya kita pasti berusaha terus untuk improve, dan semoga ke depannya kita bisa mendapatkan hasil yang lebih-lebih lagi,” pungkasnya.

Kagum dengan Antusiasme Warga, Butet Sebut GOR Terpadu Pontianak Calon The Next Istora
Kagum dengan Antusiasme Warga, Butet Sebut GOR Terpadu Pontianak Calon The Next Istora
Saturday, 05/09/2026

KALBARONLINE.com – Antusiasme masyarakat Kalimantan Barat terhadap bulu tangkis membuat Liliyana Natsir kagum. Legenda bulu tangkis Indonesia yang akrab disapa Butet itu bahkan menyebut GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak berpeluang menjadi the next Istora Senayan.

Hal tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026. Tak hanya memenuhi tribun untuk menyaksikan pertandingan, ratusan penggemar juga menyerbu agenda meet and greet bersama Liliyana Natsir dan Debby Susanto di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Sabtu (5/9/2026).

Kehadiran dua legenda nasional tersebut langsung disambut antusias. Para penggemar memanfaatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung melalui sesi tanya jawab sekaligus mendekat dengan sosok yang pernah mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia.

Suasana semakin meriah ketika Liliyana Natsir dan Debby Susanto melayani para penggemar yang meminta tanda tangan. Berbagai merchandise dibawa untuk mendapatkan tanda tangan kedua legenda tersebut.

Antusiasme serupa juga terlihat saat pertandingan semifinal berlangsung. Tribun GOR Terpadu Ahmad Yani dipenuhi penonton yang datang memberikan dukungan kepada para atlet.

GOR Terpadu Ahmad Yani sendiri memiliki kapasitas sekitar 4.000 hingga 5.000 penonton. Penuhnya tribun menjadi gambaran besarnya minat masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat terhadap olahraga tepok bulu.

Melihat antusiasme tersebut, Butet berharap dukungan masyarakat semakin besar saat pertandingan final Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 berlangsung pada Minggu (6/9/2026).

“Kita berharap besok pada final penonton semakin ramai hingga GOR Terpadu Ahmad Yani bisa menjadi the next Istora Senayan,” ujar Liliyana.

Menurutnya, kehadiran suporter dalam jumlah besar bukan sekadar membuat suasana pertandingan menjadi meriah. Dukungan dari tribun juga dapat memberikan energi tambahan bagi atlet yang sedang berjuang di lapangan.

“Semangat suporter sangat luar biasa. Itu penting. Kita ingin memberikan yang terbaik dan kita mendapatkan tambahan energi,” katanya.

Harapan menjadikan GOR Terpadu Ahmad Yani sebagai the next Istora Senayan pun bukan hanya soal jumlah kursi penonton.

Istora Senayan di Jakarta selama ini dikenal sebagai salah satu arena bulu tangkis legendaris Indonesia dan menjadi saksi berbagai pertandingan bergengsi. Arena tersebut memiliki kapasitas sekitar 7.100 penonton.

Sementara itu, atmosfer yang tercipta selama Indonesia Masters menunjukkan bahwa Pontianak memiliki modal penting untuk membangun identitas sebagai salah satu kota dengan basis penggemar bulu tangkis yang kuat.

Antusiasme penonton, dukungan terhadap atlet, serta konsistensi penyelenggaraan turnamen menjadi faktor yang dapat memperkuat posisi Pontianak sebagai salah satu tujuan penyelenggaraan pertandingan bulu tangkis nasional maupun internasional.

Antusiasme tersebut juga dirasakan langsung oleh para penonton.

Susanti, salah seorang penonton Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026, mengaku senang dapat menyaksikan pertandingan secara langsung sekaligus mengikuti agenda meet and greet bersama Liliyana Natsir dan Debby Susanto.

Menurutnya, kehadiran dua legenda tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Ramainya penonton juga menunjukkan bahwa olahraga bulu tangkis memiliki basis penggemar yang besar di Pontianak dan Kalimantan Barat.

“Kita berharap turnamen internasional seperti Indonesia Masters dapat kembali digelar di Pontianak sehingga masyarakat memiliki kesempatan lebih banyak menyaksikan atlet-atlet terbaik secara langsung,” harap Susanti.

Ia menilai, jika turnamen berlevel Super 100 terus digelar dan mendapatkan dukungan penonton seperti saat ini, Pontianak memiliki peluang untuk semakin dikenal sebagai salah satu kota dengan atmosfer bulu tangkis terbaik di Indonesia.

Kemeriahan Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 akhirnya tidak hanya menjadi panggung bagi para atlet untuk memperebutkan gelar juara.

Turnamen tersebut juga memperlihatkan besarnya gairah masyarakat Kalimantan Barat terhadap bulu tangkis. Dari tribun yang penuh hingga antusiasme saat bertemu para legenda, kecintaan terhadap olahraga ini terlihat begitu nyata.

Jika dukungan tersebut terus terjaga dan turnamen internasional kembali digelar secara konsisten, GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak berpeluang menjadi salah satu venue yang diperhitungkan dalam kalender bulu tangkis nasional maupun internasional.

Dan dari tribun yang penuh serta suara suporter yang terus menggema, mimpi menjadikan Pontianak sebagai “the next Istora Senayan” perlahan mulai menemukan pijakannya.

Dendi Triansyah Tersingkir di Semifinal Pontianak Indonesia Masters, Kalah dari Wakil China
Dendi Triansyah Tersingkir di Semifinal Pontianak Indonesia Masters, Kalah dari Wakil China
Saturday, 05/09/2026

KALBARONLINE.com – Langkah tunggal putra Indonesia Dendi Triansyah terhenti di babak semifinal Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 setelah kalah dari wakil China, Sun Chao, di Pontianak, Sabtu (5/9/2026).

Dendi harus mengakui keunggulan Sun Chao dalam pertarungan tiga gim dengan skor 22-20, 10-21, 15-21. Sempat mengamankan gim pertama, Dendi kesulitan mengembangkan permainan setelah lawannya mengubah pola strategi pada gim kedua.

“Gim pertama lawan masih lebih banyak menurunkan bola jadi pola strategi saya masuk. Tapi di gim kedua dia mengubah dengan banyak mengangkat bola dan itu membuat saya kesulitan karena bola belakangnya tidak dapat menghasilkan poin,” ujar Dendi.

Memasuki gim penentuan, Dendi berusaha kembali mengimbangi permainan Sun Chao. Namun, kondisi fisiknya yang mulai menurun membuat upayanya tidak berjalan maksimal hingga akhirnya harus menyerahkan tiket final kepada wakil China tersebut.

“Di gim ketiga, saya sudah berusaha mengimbangi permainan tapi tidak maksimal karena kondisinya sudah menurun,” katanya.

Dendi menilai Sun Chao memiliki kematangan permainan yang lebih baik. Kekalahan tersebut pun menjadi bahan evaluasi bagi dirinya untuk meningkatkan kemampuan, terutama dalam menghadapi pertandingan dengan perolehan poin yang ketat.

“Lawannya lebih cukup matang daripada saya, ini evaluasi untuk ke depannya saya bisa lebih maksimal lagi. Kalau poinnya ketat harus kuat jaga pikirannya,” tutur Dendi.

Meski gagal mencapai partai puncak, Dendi tetap mensyukuri pencapaiannya di turnamen berlevel Super 100 tersebut. Sebelumnya, ia bersama tim menargetkan gelar juara pada Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.

“Dari target diri dan pelatih pengennya juara. Hanya ya mungkin hasilnya sampai sini, saya masih tetap bersyukur bisa masuk semifinal di Indonesia Super 100,” pungkasnya.

Rehan/Melati Tersingkir di Semifinal, Wakil China Melaju ke Final Pontianak Indonesia Masters
Rehan/Melati Tersingkir di Semifinal, Wakil China Melaju ke Final Pontianak Indonesia Masters
Saturday, 05/09/2026

KALBARONLINE.com – Langkah ganda campuran Indonesia Rehan Naufal Kusharjanto/Melati Daeva Oktavianti terhenti di babak semifinal Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.

Tampil di hadapan publik GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Sabtu (5/9/2026), Rehan/Melati harus mengakui keunggulan pasangan China Liao Pin Yi/Zhang Jia Han dalam pertandingan dua gim.

Rehan/Melati kalah dengan skor 18-21 dan 18-21.

Pada gim pertama, Rehan/Melati mengawali pertandingan dengan cukup baik. Mereka mampu membuka keunggulan 4-1 dan kemudian menjauh hingga 8-5.

Namun, pasangan China perlahan mampu mengejar. Setelah kedudukan 9-9, Liao/Zhang berbalik memimpin 10-11 dan terus menjaga momentum hingga unggul 10-14.

Rehan/Melati sempat berusaha memperkecil ketertinggalan. Namun, pasangan China mampu mempertahankan permainan hingga kedudukan 14-18 sebelum akhirnya menutup gim pertama 18-21.

Memasuki gim kedua, pertandingan berlangsung lebih ketat. Kedua pasangan saling mengejar sejak awal hingga kedudukan 4-4.

Rehan/Melati kemudian mampu menemukan momentum dan berbalik unggul 9-6, sebelum memperlebar jarak menjadi 11-7.

Namun, keunggulan tersebut kembali terkejar. Pasangan China menyamakan kedudukan 13-13 dan pertandingan berlangsung semakin sengit.

Rehan/Melati sempat kembali memimpin 16-14. Akan tetapi, Liao/Zhang terus memberikan tekanan hingga menyamakan kedudukan 17-17.

Pertandingan semakin menegangkan ketika kedua pasangan kembali imbang 18-18. Setelah itu, pasangan China mampu mengambil dua poin berikutnya untuk unggul 18-20.

Rehan/Melati berusaha mengejar, tetapi momentum sudah berada di tangan lawan. Liao/Zhang akhirnya menutup gim kedua 18-21 sekaligus memastikan tiket ke final.

Melati mengatakan, kualitas pasangan China menjadi salah satu pelajaran penting bagi dirinya dan Rehan, terlebih keduanya masih berstatus pasangan baru.

Menurutnya, pemain China memiliki kualitas tinggi, baik yang berstatus junior maupun senior.

“Yang pasti kita tahu pemain China, mau junior maupun senior, semuanya punya kualitas yang sangat bagus. Ini jadi satu pelajaran buat kita sebagai partner baru,” ujar Melati.

Ia mengakui pertandingan tersebut memperlihatkan sejumlah kekurangan yang masih dimiliki keduanya.

Menurut Melati, salah satu persoalan muncul ketika pasangan China mengubah pola permainan setelah Rehan/Melati sempat memimpin.

“Kalau menurut saya, mereka mengubah pola permainan. Pas kita leading, mereka mengubah pola permainan dan kita lambat untuk mengatasi itu. Jadinya, kita banyak melakukan kesalahan sendiri,” jelasnya.

Situasi tersebut membuat keunggulan yang sempat diraih Rehan/Melati tidak mampu dipertahankan.

Selain perubahan pola permainan lawan, komunikasi di antara keduanya juga menjadi pekerjaan rumah setelah pertandingan semifinal.

Rehan mengakui apa yang disampaikan Melati. Menurutnya, pertandingan semifinal justru memberikan gambaran lebih jelas mengenai bagian permainan yang masih perlu diperbaiki.

“Benar seperti yang dikatakan Meli tadi, jadi kita tahu yang lemah kita di mana. Nanti ke depannya kita bakal perbaiki itu. Kita bakal tutup itu semua,” kata Rehan.

Bagi Rehan/Melati, perjalanan hingga semifinal juga menjadi pengalaman penting karena ini merupakan debut mereka sebagai pasangan di pertandingan.

Keduanya mengaku sudah terbiasa berlatih bersama. Namun, situasi pertandingan memberikan tekanan dan tantangan yang berbeda sehingga sejumlah kekurangan baru terlihat ketika berada di lapangan.

“Kalau latihan kita memang sudah biasa, tapi kalau di pertandingan lebih kelihatan. Jadi, tahu di pertandingan apa yang harus kita benahi lagi, apa yang kurang dari kita,” ungkap Rehan.

Ia mengatakan belum ada rencana khusus mengenai agenda berikutnya. Rehan/Melati masih akan melihat perkembangan ke depan setelah menjalani debut bersama.

Meski gagal melangkah ke final, hasil semifinal menjadi modal penting bagi pasangan tersebut untuk mengevaluasi permainan.

Mereka bertekad menutup kekurangan yang terlihat selama pertandingan sekaligus meningkatkan kelebihan yang sudah dimiliki.

“Kalau bisa, kekurangan itu ditutup dan kelebihan kita ditambah lagi,” pungkas Rehan.

Perjalanan Rehan/Melati di Pontianak pun berakhir di empat besar. Namun, bagi pasangan baru tersebut, semifinal Indonesia Masters Super 100 menjadi pengalaman penting untuk membangun chemistry, memperbaiki komunikasi, dan mematangkan pola permainan menghadapi persaingan di level internasional.