KALBARONLINE.com – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak menggelar program Goes to OPD di Kantor Dinas Perhubungan Kota Pontianak, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran aparatur sipil negara (ASN) terhadap pentingnya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus.
Sebanyak 20 pegawai Dinas Perhubungan mengikuti kegiatan yang meliputi pemeriksaan gula darah, survei tingkat pengetahuan, edukasi kesehatan, hingga diskusi interaktif.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes RSUD SSMA, Amanda Trixie Hardigaloeh, menjelaskan bahwa diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah melebihi batas normal akibat kekurangan insulin atau terganggunya fungsi hormon tersebut.
"Diabetes memang belum dapat disembuhkan secara tuntas, tetapi bisa dikendalikan melalui pengelolaan yang tepat dan konsisten," ujar Amanda dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, gejala umum diabetes meliputi sering buang air kecil, cepat merasa haus, dan mudah lapar. Gejala lainnya antara lain penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, kesemutan, penglihatan kabur, kelelahan berlebihan, luka yang lambat sembuh, hingga gangguan fungsi seksual pada pria.
Amanda menekankan lima pilar utama pengelolaan diabetes, yakni edukasi, pengaturan pola makan, latihan fisik, terapi obat sesuai resep dokter, serta pemantauan kadar gula darah secara mandiri.
Dalam hal pola makan, ia menyarankan penerapan prinsip 3J, yaitu tepat jenis, tepat jumlah, dan tepat jadwal. Ia juga meluruskan anggapan bahwa diabetes semata-mata disebabkan oleh pola makan. Menurutnya, faktor genetik, jenis diabetes, dan kondisi metabolisme turut berperan.
Terkait aktivitas fisik, Amanda menjelaskan bahwa keberhasilan olahraga tidak diukur dari banyaknya keringat yang keluar, melainkan dari intensitas, durasi, dan kesesuaiannya dengan kondisi tubuh.
Selain olahraga kardio, seperti berjalan kaki, bersepeda, dan berenang, penderita diabetes juga disarankan melakukan latihan kekuatan otot atau latihan beban secara terukur.
Amanda turut menepis anggapan bahwa konsumsi obat diabetes dalam jangka panjang dengan sendirinya akan merusak ginjal.
"Kerusakan ginjal justru terjadi akibat komplikasi diabetes yang tidak terkontrol. Karena itu, dosis obat atau terapi insulin tidak boleh diubah maupun dihentikan tanpa saran dokter," tegasnya.
Dalam pemantauan gula darah, pemeriksaan dapat dilakukan sebelum makan dan 1–2 jam setelah makan. Bagi pasien dewasa, target umum yang disampaikan dalam edukasi tersebut adalah 80–130 mg/dL sebelum makan dan kurang dari 180 mg/dL setelah makan. Namun, target tersebut perlu disesuaikan dengan rekomendasi dokter yang menangani pasien.
Melalui program edukasi ke instansi pemerintah ini, RSUD SSMA berharap dapat memperluas jangkauan layanan promotif dan preventif sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan pengendalian diabetes. (*)