Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
rsud ssma pontianak
HUT ke-14, RSUD SSMA Pontianak Edukasi ASN tentang Pencegahan Diabetes
HUT ke-14, RSUD SSMA Pontianak Edukasi ASN tentang Pencegahan Diabetes
Thursday, 22/10/2026

KALBARONLINE.com – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak menggelar program Goes to OPD di Kantor Dinas Perhubungan Kota Pontianak, Rabu (21/10/2026).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran aparatur sipil negara (ASN) terhadap pentingnya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus.

Sebanyak 20 pegawai Dinas Perhubungan mengikuti kegiatan yang meliputi pemeriksaan gula darah, survei tingkat pengetahuan, edukasi kesehatan, hingga diskusi interaktif.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes RSUD SSMA, Amanda Trixie Hardigaloeh, menjelaskan bahwa diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah melebihi batas normal akibat kekurangan insulin atau terganggunya fungsi hormon tersebut.

"Diabetes memang belum dapat disembuhkan secara tuntas, tetapi bisa dikendalikan melalui pengelolaan yang tepat dan konsisten," ujar Amanda dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan, gejala umum diabetes meliputi sering buang air kecil, cepat merasa haus, dan mudah lapar. Gejala lainnya antara lain penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, kesemutan, penglihatan kabur, kelelahan berlebihan, luka yang lambat sembuh, hingga gangguan fungsi seksual pada pria.

Amanda menekankan lima pilar utama pengelolaan diabetes, yakni edukasi, pengaturan pola makan, latihan fisik, terapi obat sesuai resep dokter, serta pemantauan kadar gula darah secara mandiri.

Dalam hal pola makan, ia menyarankan penerapan prinsip 3J, yaitu tepat jenis, tepat jumlah, dan tepat jadwal. Ia juga meluruskan anggapan bahwa diabetes semata-mata disebabkan oleh pola makan. Menurutnya, faktor genetik, jenis diabetes, dan kondisi metabolisme turut berperan.

Terkait aktivitas fisik, Amanda menjelaskan bahwa keberhasilan olahraga tidak diukur dari banyaknya keringat yang keluar, melainkan dari intensitas, durasi, dan kesesuaiannya dengan kondisi tubuh.

Selain olahraga kardio, seperti berjalan kaki, bersepeda, dan berenang, penderita diabetes juga disarankan melakukan latihan kekuatan otot atau latihan beban secara terukur.

Amanda turut menepis anggapan bahwa konsumsi obat diabetes dalam jangka panjang dengan sendirinya akan merusak ginjal.

"Kerusakan ginjal justru terjadi akibat komplikasi diabetes yang tidak terkontrol. Karena itu, dosis obat atau terapi insulin tidak boleh diubah maupun dihentikan tanpa saran dokter," tegasnya.

Dalam pemantauan gula darah, pemeriksaan dapat dilakukan sebelum makan dan 1–2 jam setelah makan. Bagi pasien dewasa, target umum yang disampaikan dalam edukasi tersebut adalah 80–130 mg/dL sebelum makan dan kurang dari 180 mg/dL setelah makan. Namun, target tersebut perlu disesuaikan dengan rekomendasi dokter yang menangani pasien.

Melalui program edukasi ke instansi pemerintah ini, RSUD SSMA berharap dapat memperluas jangkauan layanan promotif dan preventif sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan pengendalian diabetes. (*)

Cegah Gigi Berlubang, Dokter RSUD SSMA Pontianak Ingatkan Pentingnya PHBS
Cegah Gigi Berlubang, Dokter RSUD SSMA Pontianak Ingatkan Pentingnya PHBS
Monday, 12/10/2026

KALBARONLINE.com – Menjaga kesehatan gigi dan mulut perlu dilakukan sejak dini melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Salah satu masalah yang kerap dialami masyarakat adalah gigi berlubang, yang dapat dicegah melalui kebiasaan perawatan gigi secara teratur.

Dokter gigi, drg. Verent Novianti Liunardy, menjelaskan bahwa salah satu langkah sederhana untuk mencegah gigi berlubang adalah menyikat gigi dua kali sehari, yakni setelah sarapan dan sebelum tidur malam, menggunakan pasta gigi berfluorida.

Menyikat gigi secara teratur dengan teknik yang benar dapat membantu membersihkan plak dan mengurangi risiko kerusakan gigi.

Selain itu, masyarakat dianjurkan membatasi konsumsi makanan dan minuman manis. Kandungan gula dapat dimanfaatkan bakteri di dalam mulut untuk menghasilkan asam yang merusak lapisan gigi.

“Oleh karena itu, membiasakan pola makan bergizi seimbang, memperbanyak minum air putih, dan mengurangi konsumsi makanan tinggi gula merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan gigi,” jelas Verent saat memberikan edukasi di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Senin (12/10/2026).

Ia menambahkan, penerapan PHBS untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut perlu disertai pemeriksaan gigi secara berkala ke dokter gigi. Pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi masalah sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan dengan tepat.

Menurutnya, kebiasaan merawat gigi perlu ditanamkan sejak usia dini dengan dukungan orang tua, keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan.

Melalui edukasi yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kesehatan gigi bukan hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga memengaruhi kenyamanan saat makan, berbicara, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Penerapan PHBS secara konsisten diharapkan dapat mengurangi risiko gigi berlubang dan membantu menjaga kesehatan gigi serta mulut dalam jangka panjang.

“Mari terapkan PHBS mulai dari sekarang. Biasakan menyikat gigi dengan benar, batasi konsumsi gula, dan periksakan gigi secara rutin. Gigi sehat, senyum hebat dan hidup yang lebih sehat,” pungkasnya. (*)

Kebersihan Mulut Pasien Stroke Tak Boleh Diabaikan, Keluarga Diminta Lebih Peduli
Kebersihan Mulut Pasien Stroke Tak Boleh Diabaikan, Keluarga Diminta Lebih Peduli
Thursday, 08/10/2026

KALBARONLINE.com – Kebersihan mulut atau oral hygiene merupakan bagian penting dalam perawatan pasien stroke. Kondisi stroke dapat menyebabkan gangguan menelan dan kelumpuhan pada wajah sehingga pasien lebih berisiko mengalami penumpukan sisa makanan dan bakteri di rongga mulut.

Hal tersebut disampaikan Ns. Fadli Huda, S.Kep., dalam kegiatan penyuluhan kesehatan kepada keluarga pasien rawat inap di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak, Kamis (8/10/2026).

Menurut Fadli, rongga mulut menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut. Pada pasien stroke, gangguan menelan serta keterbatasan gerak wajah dapat membuat sisa makanan lebih mudah tertinggal sehingga meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri.

“Jika kebersihan mulut tidak dijaga, berbagai masalah dapat muncul, mulai dari bau mulut hingga penyakit gigi dan gusi,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan risiko ketika air liur yang mengandung kuman masuk ke saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi paru, terutama pada pasien yang mengalami gangguan menelan.

Beberapa masalah yang dapat muncul akibat kebersihan mulut yang kurang terjaga antara lain halitosis atau bau tidak sedap dari rongga mulut, karies berupa kerusakan jaringan keras gigi yang dapat menyebabkan gigi berlubang, serta gingivitis atau peradangan pada gusi.

Fadli menekankan bahwa keluarga perlu memperhatikan kebersihan mulut pasien stroke secara rutin, termasuk setelah makan. Perawatan juga perlu disesuaikan dengan kondisi kesadaran, kemampuan menelan, dan kebutuhan bantuan masing-masing pasien.

“Pada pasien stroke yang menggunakan NGT atau selang makan, kebersihan mulut perlu lebih diperhatikan dan dilakukan sesuai jadwal pemberian makan serta kondisi pasien,” ujarnya.

Sementara itu, pasien stroke yang tidak menggunakan selang makan tetap perlu menjaga kebersihan mulut secara rutin, terutama setelah makan.

Menurut Fadli, pembersihan mulut dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain menggunakan sikat gigi dan pasta gigi apabila kondisi pasien memungkinkan, atau menggunakan cairan pembersih mulut sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Pasien yang sadar penuh dan mampu menyikat gigi dapat melakukannya secara mandiri. Namun, bagi pasien yang mengalami keterbatasan gerak atau membutuhkan bantuan, keluarga dapat membantu membersihkan gigi dan gusi dengan memperhatikan kondisi kesadaran serta kemampuan menelan pasien.

Keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam perawatan pasien stroke, khususnya bagi mereka yang kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Melalui penyuluhan tersebut, keluarga diharapkan memahami pentingnya menjaga kebersihan mulut sekaligus mampu membantu pasien melakukan perawatan secara aman dan teratur.

“Menjaga kebersihan mulut bukan sekadar mencegah bau mulut atau gigi berlubang. Pada pasien stroke, perawatan mulut yang baik merupakan salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan dan membantu mencegah komplikasi selama masa perawatan,” pungkasnya. (*)

RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Perkuat Komunikasi Efektif untuk Tingkatkan Pelayanan
RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Perkuat Komunikasi Efektif untuk Tingkatkan Pelayanan
Monday, 05/10/2026

KALBARONLINE.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie menggelar In House Training (IHT) Komunikasi Efektif sebagai upaya memperkuat mutu pelayanan kesehatan sekaligus meminimalkan komplain pasien.

Kegiatan tersebut diikuti seluruh elemen staf dan tenaga kesehatan dengan tujuan membangun pola komunikasi yang lebih humanis, jelas, dan empatik dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Direktur RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Eva Nurfarihah, menegaskan komunikasi efektif bukan sekadar keterampilan berbicara, melainkan menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga kualitas pelayanan publik di rumah sakit.

“Informasi yang benar, tetapi disampaikan dengan cara yang tidak tepat, dapat menimbulkan kesalahpahaman. Sebaliknya, komunikasi yang jelas, empatik, dan mudah dipahami dapat membangun rasa percaya dan membuat pasien serta keluarga merasa dihargai,” ujar Eva saat membuka kegiatan.

RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Perkuat Komunikasi Efektif untuk Tingkatkan Pelayanann
null​

Ia mengatakan, gangguan komunikasi, baik antarprofesi maupun saat memberikan edukasi kepada pasien, juga berpotensi memengaruhi proses perawatan. Karena itu, IHT tersebut menjadi momentum untuk membangun pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan pasien atau patient-centered care.

Eva menegaskan, tanggung jawab dalam membangun komunikasi yang baik tidak hanya menjadi tugas dokter dan perawat, tetapi seluruh petugas di setiap titik pelayanan rumah sakit.

“Pasien berinteraksi dengan petugas pendaftaran, rekam medis, perawat, dokter, farmasi, laboratorium, radiologi, gizi, petugas informasi, satuan pengamanan, pramusaji, cleaning service, hingga manajemen,” katanya.

Menurutnya, interaksi sederhana seperti memberikan senyuman, menyapa dengan hangat, bersedia mendengarkan, hingga merespons keluhan secara profesional menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman pelayanan yang baik.

“Artinya, sikap sederhana seperti senyuman, sapaan hangat, kesediaan mendengarkan, hingga cara merespons keluhan secara profesional dinilai menjadi cermin kualitas pelayanan rumah sakit secara keseluruhan,” pungkasnya.

Nutrisionis Ingatkan Jaga Jantung Dimulai dari Pola Makan Sehari-hari
Nutrisionis Ingatkan Jaga Jantung Dimulai dari Pola Makan Sehari-hari
Thursday, 24/09/2026

KALBARONLINE.com – Menjaga kesehatan jantung dapat dimulai dari hal sederhana, salah satunya melalui pilihan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Pesan tersebut disampaikan Nutrisionis Erny Wulanda Pratiwi, A.Md.Gz dalam kegiatan penyuluhan kesehatan bertema “Sayangi Jantung Mulai dari Piring Kita, Atur Pola Makan Setiap Hari”, Kamis (24/9/2026).

Dalam kegiatan edukasi tersebut, Pratiwi mengajak pasien dan pengunjung untuk lebih peduli terhadap kesehatan jantung dengan memperhatikan pola makan sehari-hari.

Menurutnya, makanan yang dikonsumsi memiliki peran penting dalam membantu menjaga berat badan, tekanan darah dan kadar kolesterol yang merupakan beberapa faktor yang berkaitan dengan kesehatan jantung.

Pratiwi menjelaskan, penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah yang memasok darah ke jantung mengalami penyempitan sehingga aliran darah ke jantung berkurang.

Beberapa faktor risiko yang perlu diperhatikan antara lain kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan, gaya hidup tidak sehat dan kebiasaan merokok.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menerapkan diet jantung, yaitu pola makan yang dirancang untuk membantu menjaga kesehatan jantung sekaligus mengendalikan berbagai faktor risiko penyakit jantung.

“Diet jantung bertujuan memberikan makanan yang cukup tanpa memberatkan kerja jantung,” jelas Pratiwi dalam edukasinya.

Selain itu, diet jantung dapat membantu menurunkan berat badan pada orang yang mengalami kelebihan berat badan, mencegah atau mengurangi penimbunan garam dan cairan, mengurangi risiko penyumbatan pembuluh darah serta meningkatkan konsumsi serat larut air.

Dalam penyuluhan, Pratiwi menyampaikan bahwa penerapan diet jantung perlu memperhatikan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi.

Masyarakat dianjurkan memilih sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah, gandum dan kentang sebagai bagian dari menu sehari-hari.

Sementara itu, sumber protein dapat berasal dari ikan, telur, daging sapi, daging ayam tanpa kulit, susu rendah lemak serta sumber protein nabati seperti kacang-kacangan dan hasil olahannya.

Penggunaan lemak juga perlu dibatasi. Minyak jagung, minyak kedelai, margarin dan mentega dapat digunakan dalam jumlah terbatas. Begitu pula dengan santan yang sebaiknya digunakan secara bijak, misalnya dalam bentuk santan yang lebih encer.

Masyarakat juga perlu menghindari penggunaan minyak yang telah dipakai berulang-ulang.

Dalam pemilihan sayuran, masyarakat dapat memilih berbagai jenis sayuran seperti bayam, kangkung, buncis, kacang panjang, wortel dan tomat sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.

“Hindari sayuran dan buah yang mengandung gas seperti kol, kembang kol, lobak, sawi, dan nangka muda, durian, dan nangka matang,” ujarnya.

Melalui kegiatan edukasi tersebut, diharapkan pasien dan pengunjung semakin memahami bahwa menjaga kesehatan jantung tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Piring makan sehari-hari dapat menjadi langkah awal untuk menyayangi jantung. (*)

Perawat Ingatkan Etika Batuk dan Bersin di Tengah Kabut Asap Karhutla
Perawat Ingatkan Etika Batuk dan Bersin di Tengah Kabut Asap Karhutla
Thursday, 24/09/2026

KALBARONLINE.com – Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat berdampak pada kesehatan saluran pernapasan masyarakat. Di tengah kualitas udara yang kurang baik, masyarakat tidak hanya perlu melindungi diri dari paparan asap, tetapi juga tetap memperhatikan etika batuk dan bersin untuk mencegah penyebaran kuman dan penyakit saluran pernapasan.

Perawat Riska mengingatkan masyarakat agar menerapkan etika batuk dan bersin dengan benar, terutama ketika berada di tempat umum.

“Ketika batuk atau bersin, sebaiknya tutup mulut dan hidung menggunakan tisu, kemudian segera buang tisu ke tempat sampah. Jika tidak memiliki tisu, gunakan bagian dalam siku, bukan telapak tangan,” jelas Riska ketika memberikan edukasi di RSUD SSMA Kota Pontianak, Kamis (24/9/2026).

Kebiasaan menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin merupakan langkah sederhana yang penting untuk mengurangi penyebaran droplet yang dapat membawa kuman kepada orang lain.

Menurutnya, selain menerapkan etika batuk dan bersin, masyarakat juga dianjurkan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah batuk atau bersin.

Penggunaan masker juga dapat menjadi salah satu upaya perlindungan, terutama saat harus beraktivitas di luar rumah ketika kondisi udara sedang tidak sehat.

Riska mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi kabut asap semakin pekat. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil serta orang dengan gangguan atau penyakit pernapasan perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Jangan anggap sepele batuk dan bersin. Lindungi diri sendiri sekaligus orang di sekitar dengan menerapkan etika batuk dan bersin yang benar.

“Dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat diperlukan, serta membatasi paparan asap, masyarakat diharapkan dapat menjaga kesehatan saluran pernapasan selama musim kabut asap,” tutupnya. (*)

AIMI Kalbar Dampingi Ibu Menyusui di Tengah Karhutla lewat Hospital Visit
AIMI Kalbar Dampingi Ibu Menyusui di Tengah Karhutla lewat Hospital Visit
Thursday, 24/09/2026

KALBARONLINE.com – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Kalimantan Barat menggelar hospital visit ke RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Lindungi Anak dari Asap untuk mendampingi ibu dan bayi di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

Kepala Divisi SDM dan Konseling AIMI Kalbar Nadia Mutmaina mengatakan, kunjungan difokuskan pada ibu yang baru melahirkan dan memiliki bayi usia dini. Mereka mendapat edukasi dan konseling mengenai menyusui.

“Hari ini kami bertemu dengan empat ibu yang baru melahirkan dan memberikan edukasi tentang menyusui,” kata Nadia.

Salah satu ibu yang ditemui baru dua hari melahirkan. Karena bayinya belum menjalani rawat gabung, tim juga memberikan edukasi mengenai cara memerah ASI.

Menurut Nadia, edukasi menyusui idealnya sudah diberikan sejak masa kehamilan. Karena itu, AIMI Kalbar berharap dapat memperkuat kerja sama dengan rumah sakit, termasuk melalui penyelenggaraan kelas ibu hamil.

“Edukasi seperti ini disampaikan saat ibu hamil akan lebih efektif daripada ketika baru melahirkan. Semoga ke depan bisa terealisasi kelas ibu hamil di rumah sakit ini,” tuturnya.

Kepala Seksi Keperawatan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak, Trisna Safriana, mengatakan edukasi tentang menyusui sangat penting bagi ibu pascamelahirkan.

Menurutnya, nutrisi yang didapatkan bayi melalui ASI dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi sehingga bayi tidak mudah sakit serta dapat membantu mencegah stunting.

“Dengan pemberian edukasi akan meningkatkan motivasi ibu dalam memberikan ASI pada bayi sehingga bayi mendapatkan asupan gizi yang cukup,” ujar Trisna.

Ia berharap kehadiran AIMI Kalbar dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada ibu menyusui dapat membantu memaksimalkan pelayanan edukasi tentang pentingnya ASI bagi ibu pascamelahirkan di UPT RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak. (*)

Apoteker Ingatkan Cara Tepat Konsumsi Tablet Tambah Darah untuk Cegah Anemia
Apoteker Ingatkan Cara Tepat Konsumsi Tablet Tambah Darah untuk Cegah Anemia
Wednesday, 23/09/2026

KALBARONLINE.com – Anemia merupakan kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Salah satu penyebab yang cukup sering adalah kekurangan zat besi.

Untuk membantu mencegah anemia akibat kekurangan zat besi, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran tenaga kesehatan menjadi salah satu langkah yang penting.

Apoteker Friskauli Marbun menjelaskan, TTD merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan zat besi tubuh, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko mengalami kekurangan zat besi. Konsumsi TTD perlu dilakukan secara rutin dan sesuai aturan agar manfaatnya dapat diperoleh secara optimal.

“Tablet tambah darah sebaiknya dikonsumsi sesuai anjuran dan tidak hanya diminum ketika tubuh sudah merasa lemas atau mengalami keluhan. Pencegahan anemia perlu dilakukan sejak dini,” jelas Friskauli ketika memberikan edukasi di RSUD SSMA Kota Pontianak, Rabu (23/9/2026).

Dalam mengonsumsi TTD, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, salah satunya waktu dan cara konsumsi. TTD umumnya lebih baik diserap tubuh ketika dikonsumsi dalam kondisi perut kosong. Namun, pada sebagian orang, konsumsi dalam kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa mual atau tidak nyaman pada lambung.

Jika terjadi keluhan, TTD dapat dikonsumsi setelah makan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Friskauli juga mengingatkan agar TTD tidak dikonsumsi bersamaan dengan teh, kopi atau susu karena kandungan tertentu dalam minuman tersebut dapat menghambat penyerapan zat besi.

Sebaliknya, konsumsi TTD dapat dibantu dengan sumber vitamin C, seperti buah-buahan, karena vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi.

Selain itu, masyarakat perlu memperhatikan aturan penggunaan dan dosis TTD. Jangan menggandakan dosis hanya karena lupa mengonsumsi tablet pada waktu sebelumnya.

Jika lupa, konsumsi sesuai petunjuk tenaga kesehatan dan hindari penggunaan secara berlebihan.

“Yang tidak kalah penting adalah konsisten dalam mengonsumsi TTD sesuai jadwal. Jangan menghentikan konsumsi hanya karena merasa sudah sehat, terutama jika TTD diberikan sebagai bagian dari program pencegahan atau berdasarkan anjuran tenaga kesehatan,” tambahnya.

Pencegahan anemia tentunya tidak hanya bergantung pada konsumsi TTD. Pola makan bergizi seimbang juga diperlukan dengan mengonsumsi makanan yang menjadi sumber zat besi, seperti daging, hati, ikan, telur serta sumber pangan lainnya.

Menjaga pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan apabila mengalami keluhan yang mengarah pada anemia juga penting dilakukan.

“Dengan memahami cara konsumsi TTD yang tepat dan memperhatikan hal-hal yang dapat memengaruhi penyerapan zat besi, masyarakat diharapkan dapat lebih optimal dalam mencegah anemia,” tutupnya. (*)

Dua Pekan, 40 Anak di Pontianak Tercatat Diare, Orang Tua Diminta Waspada Dehidrasi
Dua Pekan, 40 Anak di Pontianak Tercatat Diare, Orang Tua Diminta Waspada Dehidrasi
Thursday, 17/09/2026

KALBARONLINE.com – Kasus diare pada kelompok anak di Kota Pontianak mengalami peningkatan. Berdasarkan data RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak, sebanyak 40 kasus diare pada anak tercatat sepanjang 1-14 September 2026.

Kondisi tersebut mendorong rumah sakit meningkatkan edukasi kepada masyarakat, khususnya orang tua, agar mengenali penyebab, gejala serta langkah penanganan diare pada anak sejak dini.

Perawat RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Afrilia, menjelaskan diare atau mencret merupakan kondisi ketika seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja, dengan frekuensi lebih sering, biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari.

“Diare dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa penyebab yang umum antara lain virus, kuman atau bakteri, parasit, serta ketidakcocokan terhadap susu yang biasanya terjadi pada bayi,” ujarnya saat memberikan edukasi, Kamis (17/9/2026).

Selain faktor penyebab, sejumlah kebiasaan dan kondisi lingkungan juga dapat meningkatkan risiko diare. Di antaranya makan tanpa mencuci tangan dengan bersih, mengonsumsi air mentah, mengonsumsi makanan yang dihinggapi lalat, serta kondisi lingkungan rumah yang kumuh dan kotor.

Pemberian makanan tambahan selain ASI yang terlalu dini pada bayi juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan.

Beberapa gejala yang dapat menyertai diare antara lain perut terasa mulas, tinja encer dan terkadang disertai darah, tubuh kekurangan cairan, pusing, lemas, kulit kering serta peningkatan suhu tubuh.

Afrilia mengingatkan, diare yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan kehilangan cairan cukup berat. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi dehidrasi dan, pada keadaan berat, menyebabkan penurunan kesadaran serta berisiko mengancam nyawa.

Karena itu, orang tua perlu mengenali tanda-tanda dehidrasi dan tidak menunda mendapatkan pertolongan medis apabila kondisi anak memburuk.

Menurut Afrilia, prinsip utama dalam mengatasi diare adalah mengganti cairan yang keluar dari tubuh. Anak dapat diberikan larutan oralit atau larutan gula garam sesuai anjuran, serta cairan lain seperti sup dan air putih yang sudah dimasak.

Bagi bayi berusia kurang dari enam bulan yang masih mendapatkan ASI, pemberian ASI harus tetap dilanjutkan. ASI dapat diberikan lebih sering, dengan tambahan oralit atau air putih matang sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.

Selain memenuhi kebutuhan cairan, kebutuhan nutrisi anak selama mengalami diare juga perlu diperhatikan. Anak tetap dianjurkan mendapatkan makanan dan minuman sesuai usianya.

Setelah diare berhenti, anak dianjurkan mendapatkan makanan dalam jumlah lebih banyak setiap hari selama kurang lebih dua minggu untuk membantu memenuhi kembali kebutuhan nutrisinya.

Afrilia juga mengingatkan agar orang tua tidak memberikan obat-obatan kepada anak selama diare, kecuali atas anjuran atau pemberian dari petugas kesehatan.

Orang tua dianjurkan segera membawa anak ke dokter atau puskesmas apabila diare tidak membaik dalam tiga hari atau ditemukan tanda bahaya lainnya.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain tinja keluar sangat sering, muntah berulang, anak sangat haus, tidak mau makan atau minum seperti biasanya, demam, terdapat darah dalam tinja, anak terlihat sangat lemah, atau ditemukan satu atau lebih tanda dehidrasi.

Melalui kegiatan penyuluhan tersebut, diharapkan orang tua dan keluarga semakin memahami pentingnya pencegahan, pengenalan gejala serta penanganan diare yang tepat pada anak.

“Dengan penanganan yang cepat dan tepat, risiko dehidrasi serta komplikasi akibat diare dapat diminimalkan,” pungkasnya. (*)

Kabut Asap Tak Hanya Picu Gangguan Pernapasan, Warga Diminta Waspadai Diare
Kabut Asap Tak Hanya Picu Gangguan Pernapasan, Warga Diminta Waspadai Diare
Wednesday, 16/09/2026

KALBARONLINE.com – Kabut asap tak hanya meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat juga perlu tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan untuk mencegah penyakit lain, termasuk diare.

Apoteker RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Fikri Destari, mengatakan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah diare.

“Di tengah kondisi kabut asap, masyarakat tetap perlu memperhatikan PHBS. Pastikan tangan selalu dicuci dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah buang air besar. Selain itu, pastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi bersih serta air yang digunakan aman,” kata Fikri saat memberikan edukasi di RSUD SSMA Kota Pontianak, Rabu (16/9/2026).

Diare ditandai dengan buang air besar lebih sering dari biasanya dengan konsistensi tinja yang lebih cair. Kondisi ini dapat disebabkan berbagai faktor, termasuk infeksi yang berkaitan dengan kebersihan makanan, minuman, tangan, dan lingkungan.

Karena itu, pencegahan diare dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Masyarakat perlu menjaga kebersihan lingkungan, menghindari makanan yang diragukan kebersihannya, serta memastikan makanan dimasak hingga matang.

Selain menjaga kebersihan, Fikri mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi obat ketika mengalami diare. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah mencegah kekurangan cairan akibat kehilangan cairan dan elektrolit.

“Ketika mengalami diare, yang paling penting adalah menjaga kecukupan cairan. Oralit dapat digunakan untuk membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Penggunaan obat diare lainnya perlu disesuaikan dengan kondisi dan penyebabnya,” ujarnya.

Fikri juga mengingatkan agar antibiotik tidak digunakan secara sembarangan. Tidak semua kasus diare membutuhkan antibiotik karena penggunaannya harus berdasarkan indikasi medis.

Masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau apoteker sebelum menggunakan obat tertentu, terutama jika memiliki penyakit lain atau sedang mengonsumsi obat rutin.

Pertolongan medis juga tidak sebaiknya ditunda apabila diare disertai tanda bahaya, seperti lemas berat, sulit minum, muntah terus-menerus, terdapat darah dalam tinja, demam tinggi, atau tanda-tanda dehidrasi.

Risiko dehidrasi perlu mendapat perhatian lebih pada bayi, anak-anak, lanjut usia, dan kelompok rentan lainnya.

“Jangan hanya fokus pada kondisi kabut asap, tetapi tetap perhatikan kesehatan secara menyeluruh. Terapkan PHBS, jaga asupan cairan, dan gunakan obat secara tepat agar diare dapat ditangani dengan baik,” kata Fikri. (*)