Pengamat: Kalau Mau Langgeng dengan PDIP, Norsan Harus Perbaiki Komunikasi Politiknya

KALBARONLINE.com – Selang satu hari resmi menjabat sebagai Gubernur Kalbar, Ria Norsan dinilai telah melakukan blunder pertamanya, di mana ketika dirinya mengangkangi instruksi Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri soal retret—dengan dalih kalau ia maju sebagai calon gubernur tidak melalui PDIP melainkan lewat jalur non partai.

“Saya maju (pilgub) sebagai dari non partai sehingga tidak terkait, kan bukan kader,” kata Norsan, sebagaimana dikutip dari salah satu media massa nasional.

PelantikanKepalaDaerah2025

Pengamat politik sekaligus akademisi dari Universitas Tanjungpura, Herri Junius Nge menilai, bahwa statement yang dilontarkan Norsan tersebut kurang tepat. Karena jelas-jelas ia bersama wakilnya Krisantus diusung oleh tiga partai pada Pilgub Kalbar 2024 kemarin, yang salah satunya adalah PDIP.

“Saya kira diksinya kurang tepat, kan sudah jelas waktu dia maju dia didukung oleh PDIP, PPP, Hanura. Karena di undang-undang itu kan sudah jelas, ‘…didukung oleh partai politik atau gabungan partai politik’. Terlepas ada putusan MK, tapi kan dia maju pakai jalur partai (waktu Pilgub Kalbar 2024),” kata Herri, Selasa (25/02/2025).

Herri menduga, statement Norsan tersebut lebih kepada antisipasi agar dirinya tidak terikat pada partai tertentu, namun “terbaca” salah di ruang publik.

“Mungkin dia tidak mau terlalu ‘tersandera’ dengan adanya instruksi ketum PDIP, yang itu terutama ditujukan untuk kader. Kalau dia mengatakan dia ikut retret, karena memang dia bukan kader partai, belum punya KTA, jadi tidak terikat dengan petugas partai, saya rasa mungkin tidak masalah, tapi kalau dia statement maju diusung bukan lewat partai, kurang tepat,” terangnya.

Baca Juga :  Menteri Tjahjo Kumolo Minta Maaf dan Bakal Surati Joko Anwar

Lebih lanjut, Herri menyatakan, kalau Norsan sepatutnya dapat memperbaiki komunikasinya ke depan. Terutama kepada Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, yang memang kader dari PDIP. Menurut dia, keretakan bisa saja timbul dari model komunikasi yang buruk atau pesan komunikasi yang disalahartikan.

“Komunikasi bisa dilakukan dengan tidak hanya formal-formal saja, karena bagaimanapun harapan publik besar, bahwa ada harapan perubahan dari sebelumnya. Komunikasinya lebih baik lagi, karena beliau kan bukan orang baru, dan bukan dari orang non partai, sebelumnya juga kan mantan Ketua DPD Golkar. Jangan sampai gara-gara hal kecil, terjadi letupan-letupan yang bisa membuat kurang harmonik,” katanya.

Masih soal komunikasi politik, terdapat salah satu statement Ria Norsan yang saat ini juga tengah ditunggu oleh publik, khususnya publik PDIP, yakni terkait dengan janjinya yang akan bergabung dan menjadi kader PDIP.

Hal itu terekam jelas di publik saat Norsan diwawancarai awak media di sela-sela menghadiri Rapat Kerja Daerah Khusus (Rakerdasus) PDIP Kalbar di salah satu hotel Pontianak, Kamis 12 September 2024.

Baca Juga :  Gembiranya Warga Ngabang Saat Jumpa Ria Norsan di Pasar Pagi

“Tunggu menang (Pilgub Kalbar). Kalau kalah malu gak saya masuk PDIP, tapi kalau menang Insya Allah, Golkar kan saya sudah dipecat,” kata Norsan kala itu.

Pada tahap ini, Herri kembali menekankan, kalau Norsan dapat menjawab harapan publik tersebut dengan hati-hati. Karena jika tidak pas dalam memberikan tanggapan, dikhawatirkan akan menyinggung pihak-pihak tertentu.

“Kalau memang hal itu disimpulkan serius, kan memang seharusnya ada tindak lanjutnya. Statementnya kan sudah jelas itu, tapi di dalam politik hal-hal bisa berubah-ubah itu,” katanya.

Kendati sebagian kalangan menganggap kalau statement Ria Norsan kala itu dalam konteks bergurau, namun tetap saja, Norsan harus meluruskan pernyataannya itu, terlebih saat ini ia sudah menang pilgub.

“Bisa dibaca dari berbagai sudut pandang (bergurau atau serius). Mungkin pas saat itu sedang dalam tanda kutip perlu perahu, kalau sekarang kan momentumnya sudah beda,” katanya.

“Kalau dari track record-nya, sosoknya (Ria Norsan) potensial (dijadikan kader PDIP), apalagi sudah mampu membuktikan dia mengalahkan petahana. Cuman tergantung dianya lagi kan, karena di PDIP itu kan memang AD ART-nya menurut saya sangat kuat juga, perlu kader-kader yang loyal,” tambah Herri. (**)

Comment