Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Selasa, 10 Februari 2026 |
KALBARONLINE.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, semakin mengkhawatirkan. Api dilaporkan telah berkobar selama sekitar empat hari dan hingga kini belum berhasil dipadamkan.
Asap tebal masih menyelimuti permukiman warga dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat harus menghadapi kabar duka. Seorang warga dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami gangguan pernapasan yang diduga berkaitan dengan asap karhutla. Peristiwa ini menambah kekhawatiran warga, terutama karena kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia yang mudah terpapar.
Upaya penanganan di lapangan dilakukan oleh BPBD, BNPB serta para relawan, untuk memadamkan api serta membantu untuk mengevakuasi masyarakat ke rumah kerabat terdekatnya.
Namun demikian, hingga berita ini ditulis, api di sejumlah titik masih belum padam dan masyarakat menilai belum ada langkah yang benar-benar mampu menghentikan kebakaran secara menyeluruh.
Ketua IKAMI SulSel Cabang Mempawah, Muslim, menyampaikan kritik keras terhadap situasi tersebut. Ia menilai, bahwa bencana yang sudah berlangsung berhari-hari dan telah menimbulkan korban jiwa seharusnya mendapat perhatian langsung dari pimpinan daerah.
“Karhutla ini sudah sangat parah, sudah berhari-hari api belum padam, masyarakat menghirup asap setiap hari, bahkan sudah ada korban meninggal. Kami mempertanyakan di mana sikap dan langkah tegas dari Bupati Mempawah. Dalam situasi darurat seperti ini, masyarakat membutuhkan kehadiran dan keputusan cepat dari kepala daerah,” tegas Muslim.
Menurutnya, diamnya pimpinan daerah di tengah bencana besar justru menimbulkan keresahan di masyarakat. Ia menegaskan bahwa persoalan karhutla bukan hanya soal kebakaran lahan, tetapi sudah menyangkut keselamatan dan nyawa warga.
“Kalau situasi seperti ini dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi yang jelas, maka yang menjadi korban adalah masyarakat. Pemerintah daerah harus segera menunjukkan kepemimpinan yang nyata, bukan hanya menunggu keadaan memburuk,” tambahnya.
Karhutla di Desa Galang menjadi peringatan serius bahwa bencana asap tidak bisa dianggap sebagai kejadian biasa. Selama api masih menyala dan asap masih menyelimuti permukiman, masyarakat akan terus berada dalam ancaman.
Hingga berita ini diterbitkan, api di Desa Galang dilaporkan masih belum padam. (FikA/*)
KALBARONLINE.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, semakin mengkhawatirkan. Api dilaporkan telah berkobar selama sekitar empat hari dan hingga kini belum berhasil dipadamkan.
Asap tebal masih menyelimuti permukiman warga dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat harus menghadapi kabar duka. Seorang warga dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami gangguan pernapasan yang diduga berkaitan dengan asap karhutla. Peristiwa ini menambah kekhawatiran warga, terutama karena kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia yang mudah terpapar.
Upaya penanganan di lapangan dilakukan oleh BPBD, BNPB serta para relawan, untuk memadamkan api serta membantu untuk mengevakuasi masyarakat ke rumah kerabat terdekatnya.
Namun demikian, hingga berita ini ditulis, api di sejumlah titik masih belum padam dan masyarakat menilai belum ada langkah yang benar-benar mampu menghentikan kebakaran secara menyeluruh.
Ketua IKAMI SulSel Cabang Mempawah, Muslim, menyampaikan kritik keras terhadap situasi tersebut. Ia menilai, bahwa bencana yang sudah berlangsung berhari-hari dan telah menimbulkan korban jiwa seharusnya mendapat perhatian langsung dari pimpinan daerah.
“Karhutla ini sudah sangat parah, sudah berhari-hari api belum padam, masyarakat menghirup asap setiap hari, bahkan sudah ada korban meninggal. Kami mempertanyakan di mana sikap dan langkah tegas dari Bupati Mempawah. Dalam situasi darurat seperti ini, masyarakat membutuhkan kehadiran dan keputusan cepat dari kepala daerah,” tegas Muslim.
Menurutnya, diamnya pimpinan daerah di tengah bencana besar justru menimbulkan keresahan di masyarakat. Ia menegaskan bahwa persoalan karhutla bukan hanya soal kebakaran lahan, tetapi sudah menyangkut keselamatan dan nyawa warga.
“Kalau situasi seperti ini dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi yang jelas, maka yang menjadi korban adalah masyarakat. Pemerintah daerah harus segera menunjukkan kepemimpinan yang nyata, bukan hanya menunggu keadaan memburuk,” tambahnya.
Karhutla di Desa Galang menjadi peringatan serius bahwa bencana asap tidak bisa dianggap sebagai kejadian biasa. Selama api masih menyala dan asap masih menyelimuti permukiman, masyarakat akan terus berada dalam ancaman.
Hingga berita ini diterbitkan, api di Desa Galang dilaporkan masih belum padam. (FikA/*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini