Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 29 June 2026 |
KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak untuk meneladani semangat perjuangan para pendahulu dalam momentum Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat Tahun 2026.
Ajakan tersebut disampaikan Edi usai memimpin Upacara Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat yang diperingati setiap 28 Juni. Peringatan ini menjadi momen mengenang kekejaman penjajahan Jepang terhadap masyarakat Kalimantan Barat, termasuk tragedi Mandor yang menewaskan banyak tokoh, cendekiawan, pemimpin daerah, hingga masyarakat sipil.
Menurut Edi, masih banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang belum memahami secara utuh sejarah Hari Berkabung Daerah. Karena itu, peringatan tersebut tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenang pengorbanan para pejuang dan korban kekejaman penjajah.
"Tentunya masih banyak yang saya yakin belum paham dan belum mengetahui yang sebenar-benarnya peristiwa tersebut. Kita tahunya ada pembantaian di Mandor, bahkan ribuan orang," ujarnya di halaman Kantor Wali Kota Pontianak, Senin (29/6/2026).
Edi menjelaskan, pada masa pendudukan Jepang tahun 1941 hingga 1945, banyak tokoh Kalimantan Barat ditangkap, dibawa ke Mandor, dan dieksekusi. Peristiwa itu menjadi bagian kelam sejarah daerah yang harus terus dikenalkan kepada generasi penerus.
"Banyak tokoh Kalbar, cendekiawan, pemimpin daerah ditangkap dan dibawa ke Mandor. Ada yang dipancung, ditembak, intinya dibunuh," katanya.
Ia mengaku pernah mengunjungi kawasan Mandor dan melihat langsung sejumlah makam massal yang menjadi saksi bisu tragedi tersebut. Pengalaman itu, menurutnya, semakin menguatkan keyakinan bahwa sejarah itu harus terus dijaga agar tidak terlupakan.
"Saya tahun kemarin hadir di sana, melihat beberapa makam massal di Mandor," ungkapnya.
Edi menilai perlu adanya upaya bersama untuk menggali, mendokumentasikan, serta merawat sejarah para korban. Terlebih, hingga kini masih banyak keluarga dan keturunan para tokoh yang menjadi korban tragedi tersebut.
"Tentu ini perlu juga kita lakukan upaya-upaya, khususnya para tokoh di Kota Pontianak. Karena anak keturunannya masih ada," jelasnya.
Ia juga mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk berperan aktif dalam penelusuran sejarah, pendataan, dokumentasi, hingga meningkatkan literasi publik mengenai Hari Berkabung Daerah agar nilai-nilai sejarah tetap hidup di tengah masyarakat.
Edi menggambarkan kondisi Pontianak pada masa pendudukan Jepang yang masih memiliki jumlah penduduk relatif sedikit dengan infrastruktur yang terbatas. Situasi itu membuat para tokoh masyarakat lebih mudah dikenali dan menjadi sasaran penjajah.
"Kita bayangkan tahun 1941 Kota Pontianak seperti apa. Penduduknya mungkin belum sampai 100 ribu, jalan juga masih banyak jalan tanah. Jadi mencari orang waktu itu lebih mudah," tuturnya.
Menurutnya, memperingati Hari Berkabung Daerah bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga mengambil nilai perjuangan, keberanian, persatuan, dan pengorbanan yang diwariskan para pendahulu untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini.
Edi menegaskan, perjuangan masa kini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui kerja nyata dalam mengisi kemerdekaan. ASN, perangkat daerah, dan seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat berkontribusi mengatasi berbagai persoalan, mulai dari kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, hingga masalah sosial lainnya.
"Semangat para pahlawan harus menggugah hati kita untuk berpartisipasi menghadapi berbagai persoalan masyarakat," katanya.
Ia pun mengajak seluruh jajaran Pemerintah Kota Pontianak untuk terus menjaga persatuan, memperkuat semangat gotong royong, serta tidak mudah terprovokasi demi mendukung pembangunan daerah.
"Mari kita rapatkan barisan untuk membangun daerah, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mendukung program pemerintah melalui sinergitas yang kuat," pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak untuk meneladani semangat perjuangan para pendahulu dalam momentum Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat Tahun 2026.
Ajakan tersebut disampaikan Edi usai memimpin Upacara Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat yang diperingati setiap 28 Juni. Peringatan ini menjadi momen mengenang kekejaman penjajahan Jepang terhadap masyarakat Kalimantan Barat, termasuk tragedi Mandor yang menewaskan banyak tokoh, cendekiawan, pemimpin daerah, hingga masyarakat sipil.
Menurut Edi, masih banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang belum memahami secara utuh sejarah Hari Berkabung Daerah. Karena itu, peringatan tersebut tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenang pengorbanan para pejuang dan korban kekejaman penjajah.
"Tentunya masih banyak yang saya yakin belum paham dan belum mengetahui yang sebenar-benarnya peristiwa tersebut. Kita tahunya ada pembantaian di Mandor, bahkan ribuan orang," ujarnya di halaman Kantor Wali Kota Pontianak, Senin (29/6/2026).
Edi menjelaskan, pada masa pendudukan Jepang tahun 1941 hingga 1945, banyak tokoh Kalimantan Barat ditangkap, dibawa ke Mandor, dan dieksekusi. Peristiwa itu menjadi bagian kelam sejarah daerah yang harus terus dikenalkan kepada generasi penerus.
"Banyak tokoh Kalbar, cendekiawan, pemimpin daerah ditangkap dan dibawa ke Mandor. Ada yang dipancung, ditembak, intinya dibunuh," katanya.
Ia mengaku pernah mengunjungi kawasan Mandor dan melihat langsung sejumlah makam massal yang menjadi saksi bisu tragedi tersebut. Pengalaman itu, menurutnya, semakin menguatkan keyakinan bahwa sejarah itu harus terus dijaga agar tidak terlupakan.
"Saya tahun kemarin hadir di sana, melihat beberapa makam massal di Mandor," ungkapnya.
Edi menilai perlu adanya upaya bersama untuk menggali, mendokumentasikan, serta merawat sejarah para korban. Terlebih, hingga kini masih banyak keluarga dan keturunan para tokoh yang menjadi korban tragedi tersebut.
"Tentu ini perlu juga kita lakukan upaya-upaya, khususnya para tokoh di Kota Pontianak. Karena anak keturunannya masih ada," jelasnya.
Ia juga mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk berperan aktif dalam penelusuran sejarah, pendataan, dokumentasi, hingga meningkatkan literasi publik mengenai Hari Berkabung Daerah agar nilai-nilai sejarah tetap hidup di tengah masyarakat.
Edi menggambarkan kondisi Pontianak pada masa pendudukan Jepang yang masih memiliki jumlah penduduk relatif sedikit dengan infrastruktur yang terbatas. Situasi itu membuat para tokoh masyarakat lebih mudah dikenali dan menjadi sasaran penjajah.
"Kita bayangkan tahun 1941 Kota Pontianak seperti apa. Penduduknya mungkin belum sampai 100 ribu, jalan juga masih banyak jalan tanah. Jadi mencari orang waktu itu lebih mudah," tuturnya.
Menurutnya, memperingati Hari Berkabung Daerah bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga mengambil nilai perjuangan, keberanian, persatuan, dan pengorbanan yang diwariskan para pendahulu untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini.
Edi menegaskan, perjuangan masa kini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui kerja nyata dalam mengisi kemerdekaan. ASN, perangkat daerah, dan seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat berkontribusi mengatasi berbagai persoalan, mulai dari kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, hingga masalah sosial lainnya.
"Semangat para pahlawan harus menggugah hati kita untuk berpartisipasi menghadapi berbagai persoalan masyarakat," katanya.
Ia pun mengajak seluruh jajaran Pemerintah Kota Pontianak untuk terus menjaga persatuan, memperkuat semangat gotong royong, serta tidak mudah terprovokasi demi mendukung pembangunan daerah.
"Mari kita rapatkan barisan untuk membangun daerah, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mendukung program pemerintah melalui sinergitas yang kuat," pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini