Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 27 July 2026 |
KALBARONLINE.com – Sulitnya mendapatkan solar subsidi menjadi keluhan utama para sopir angkutan barang di Kalimantan Barat. Kondisi tersebut bahkan memaksa sebagian sopir membeli solar eceran dengan harga jauh lebih mahal demi tetap bisa menjalankan aktivitas distribusi barang.
Persoalan itu menjadi salah satu alasan sejumlah sopir truk ekspedisi yang tergabung dalam Persatuan Sopir Kalimantan Barat menggelar aksi damai di Kantor Gubernur Kalbar, Senin (27/7/2026). Mereka meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret agar distribusi BBM bersubsidi lebih tepat sasaran.
Salah seorang sopir truk ekspedisi asal Ketapang, Pardi, mengaku selama ini lebih sering membeli solar eceran di kios karena sulit memperoleh solar subsidi di SPBU.
"Kami isi minyak di kios, jujur ya di kios. Harganya Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per liter di Ketapang. Sementara di SPBU kami sangat sulit mendapatkan solar. Makanya kami jauh-jauh datang ke kantor gubernur untuk mengadu," kata Pardi.
Menurutnya, persoalan tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan semakin membebani biaya operasional para sopir. Padahal, kendaraan yang mereka operasikan mengangkut berbagai kebutuhan pokok masyarakat, mulai dari beras, telur, hingga sembako.
"Uang jalan tidak mencukupi untuk beli solar eceran. Barang yang kami bawa ini kan kebutuhan masyarakat, jadi kenapa kami harus membeli solar non-subsidi," ujarnya.
Tak hanya harga yang lebih mahal, para sopir juga harus menghadapi antrean panjang di SPBU tanpa kepastian bisa mendapatkan solar subsidi.
Pardi mengungkapkan, antrean di sejumlah SPBU bahkan bisa berlangsung hingga dua hari dua malam.
"Bisa dua hari dua malam antre, contohnya di Kelam Permai. Bukan cuma di situ, hampir di mana-mana kami kesulitan mendapatkan solar," katanya.
Ia menjelaskan, satu kali perjalanan truk dapat menghabiskan sekitar 200 liter solar, tergantung jarak tempuh dan tujuan pengiriman. Jika seluruh kebutuhan BBM dipenuhi dari kios eceran, biaya operasional meningkat hampir dua kali lipat dibanding membeli solar subsidi di SPBU.
"Kalau beli eceran kerugian kami dua kali lipat. Belum lagi takarannya kadang tidak penuh seperti di SPBU," ungkapnya.
Melalui aksi damai tersebut, Pardi berharap pemerintah segera menindaklanjuti aspirasi para sopir agar distribusi solar subsidi benar-benar dapat dinikmati oleh kendaraan angkutan barang yang berhak menerima, sehingga biaya operasional tidak semakin membebani para pelaku transportasi. (Lid)
KALBARONLINE.com – Sulitnya mendapatkan solar subsidi menjadi keluhan utama para sopir angkutan barang di Kalimantan Barat. Kondisi tersebut bahkan memaksa sebagian sopir membeli solar eceran dengan harga jauh lebih mahal demi tetap bisa menjalankan aktivitas distribusi barang.
Persoalan itu menjadi salah satu alasan sejumlah sopir truk ekspedisi yang tergabung dalam Persatuan Sopir Kalimantan Barat menggelar aksi damai di Kantor Gubernur Kalbar, Senin (27/7/2026). Mereka meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret agar distribusi BBM bersubsidi lebih tepat sasaran.
Salah seorang sopir truk ekspedisi asal Ketapang, Pardi, mengaku selama ini lebih sering membeli solar eceran di kios karena sulit memperoleh solar subsidi di SPBU.
"Kami isi minyak di kios, jujur ya di kios. Harganya Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per liter di Ketapang. Sementara di SPBU kami sangat sulit mendapatkan solar. Makanya kami jauh-jauh datang ke kantor gubernur untuk mengadu," kata Pardi.
Menurutnya, persoalan tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan semakin membebani biaya operasional para sopir. Padahal, kendaraan yang mereka operasikan mengangkut berbagai kebutuhan pokok masyarakat, mulai dari beras, telur, hingga sembako.
"Uang jalan tidak mencukupi untuk beli solar eceran. Barang yang kami bawa ini kan kebutuhan masyarakat, jadi kenapa kami harus membeli solar non-subsidi," ujarnya.
Tak hanya harga yang lebih mahal, para sopir juga harus menghadapi antrean panjang di SPBU tanpa kepastian bisa mendapatkan solar subsidi.
Pardi mengungkapkan, antrean di sejumlah SPBU bahkan bisa berlangsung hingga dua hari dua malam.
"Bisa dua hari dua malam antre, contohnya di Kelam Permai. Bukan cuma di situ, hampir di mana-mana kami kesulitan mendapatkan solar," katanya.
Ia menjelaskan, satu kali perjalanan truk dapat menghabiskan sekitar 200 liter solar, tergantung jarak tempuh dan tujuan pengiriman. Jika seluruh kebutuhan BBM dipenuhi dari kios eceran, biaya operasional meningkat hampir dua kali lipat dibanding membeli solar subsidi di SPBU.
"Kalau beli eceran kerugian kami dua kali lipat. Belum lagi takarannya kadang tidak penuh seperti di SPBU," ungkapnya.
Melalui aksi damai tersebut, Pardi berharap pemerintah segera menindaklanjuti aspirasi para sopir agar distribusi solar subsidi benar-benar dapat dinikmati oleh kendaraan angkutan barang yang berhak menerima, sehingga biaya operasional tidak semakin membebani para pelaku transportasi. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini