Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Wednesday, 19 August 2026 |
KALBARONLINE.com - Ada kisah berbeda di balik kehidupan 34 anak yang kini tinggal di Panti Asuhan Bunda Pengharapan, Jalan Adi Sucipto No. 9B, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Lima di antaranya harus menjalani kehidupan di panti setelah orang tua mereka bekerja ke luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) Non-Prosedural.
Kelima anak tersebut bukan berasal dari keluarga yang kehilangan orang tua. Mereka masih memiliki orang tua yang bekerja di luar negeri. Namun, persoalan muncul karena orang tua mereka memilih bekerja sebagai PMI tanpa melalui jalur prosedural resmi.
Sebelum akhirnya dititipkan ke Panti Asuhan Bunda Pengharapan, anak-anak tersebut sempat diasuh oleh nenek maupun bibi mereka. Namun, keterbatasan kemampuan keluarga dalam memberikan pengasuhan membuat mereka akhirnya dititipkan ke panti.
Panti Asuhan Bunda Pengharapan saat ini menampung 34 anak dengan jenjang pendidikan yang beragam, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Kondisi lima anak tersebut menjadi perhatian Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak yang kemudian melakukan kunjungan sosial ke panti asuhan tersebut.
Dalam kunjungan itu, Imigrasi memberikan bantuan berupa bahan kebutuhan pokok bagi anak-anak panti. Petugas juga melaksanakan kegiatan Imigrasi Mengajar dengan memberikan edukasi dan pengetahuan kepada anak-anak terkait wawasan keimigrasian.
Edukasi tersebut juga menekankan pentingnya bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi dan prosedural. Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda agar tidak mengalami persoalan serupa akibat praktik migrasi nonprosedural.
Kehadiran Imigrasi tidak hanya sebatas memberikan bantuan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari peran Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA) dalam menjangkau kelompok masyarakat yang terdampak persoalan migrasi nonprosedural.
Peran PIMPASA selama ini tidak hanya menyasar aparatur desa dan pelaku UMKM, tetapi juga kelompok rentan seperti anak-anak yang terdampak keputusan orang tua bekerja ke luar negeri tanpa prosedur resmi.
Melalui edukasi tersebut, anak-anak diharapkan memahami pentingnya prosedur keimigrasian dan ketenagakerjaan ketika seseorang hendak bekerja ke luar negeri.
Pengurus Panti Asuhan Bunda Pengharapan menyambut baik kunjungan dan bantuan dari Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak. Kehadiran Imigrasi dinilai memberikan semangat bagi anak-anak sekaligus membantu meringankan beban operasional panti.
Kisah lima anak tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan bekerja ke luar negeri tanpa melalui prosedur resmi tidak hanya berdampak kepada pekerja, tetapi juga dapat berimbas kepada keluarga yang ditinggalkan.
Karena itu, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak terus mendorong masyarakat agar memahami pentingnya bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi. Dengan prosedur yang benar, perlindungan terhadap pekerja dan keluarga yang ditinggalkan diharapkan dapat lebih terjamin.
Melalui kunjungan sosial dan kegiatan edukasi tersebut, Imigrasi Pontianak menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, termasuk memberikan perhatian kepada anak-anak yang terdampak persoalan migrasi nonprosedural. (*)
KALBARONLINE.com - Ada kisah berbeda di balik kehidupan 34 anak yang kini tinggal di Panti Asuhan Bunda Pengharapan, Jalan Adi Sucipto No. 9B, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Lima di antaranya harus menjalani kehidupan di panti setelah orang tua mereka bekerja ke luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) Non-Prosedural.
Kelima anak tersebut bukan berasal dari keluarga yang kehilangan orang tua. Mereka masih memiliki orang tua yang bekerja di luar negeri. Namun, persoalan muncul karena orang tua mereka memilih bekerja sebagai PMI tanpa melalui jalur prosedural resmi.
Sebelum akhirnya dititipkan ke Panti Asuhan Bunda Pengharapan, anak-anak tersebut sempat diasuh oleh nenek maupun bibi mereka. Namun, keterbatasan kemampuan keluarga dalam memberikan pengasuhan membuat mereka akhirnya dititipkan ke panti.
Panti Asuhan Bunda Pengharapan saat ini menampung 34 anak dengan jenjang pendidikan yang beragam, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Kondisi lima anak tersebut menjadi perhatian Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak yang kemudian melakukan kunjungan sosial ke panti asuhan tersebut.
Dalam kunjungan itu, Imigrasi memberikan bantuan berupa bahan kebutuhan pokok bagi anak-anak panti. Petugas juga melaksanakan kegiatan Imigrasi Mengajar dengan memberikan edukasi dan pengetahuan kepada anak-anak terkait wawasan keimigrasian.
Edukasi tersebut juga menekankan pentingnya bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi dan prosedural. Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda agar tidak mengalami persoalan serupa akibat praktik migrasi nonprosedural.
Kehadiran Imigrasi tidak hanya sebatas memberikan bantuan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari peran Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA) dalam menjangkau kelompok masyarakat yang terdampak persoalan migrasi nonprosedural.
Peran PIMPASA selama ini tidak hanya menyasar aparatur desa dan pelaku UMKM, tetapi juga kelompok rentan seperti anak-anak yang terdampak keputusan orang tua bekerja ke luar negeri tanpa prosedur resmi.
Melalui edukasi tersebut, anak-anak diharapkan memahami pentingnya prosedur keimigrasian dan ketenagakerjaan ketika seseorang hendak bekerja ke luar negeri.
Pengurus Panti Asuhan Bunda Pengharapan menyambut baik kunjungan dan bantuan dari Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak. Kehadiran Imigrasi dinilai memberikan semangat bagi anak-anak sekaligus membantu meringankan beban operasional panti.
Kisah lima anak tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan bekerja ke luar negeri tanpa melalui prosedur resmi tidak hanya berdampak kepada pekerja, tetapi juga dapat berimbas kepada keluarga yang ditinggalkan.
Karena itu, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak terus mendorong masyarakat agar memahami pentingnya bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi. Dengan prosedur yang benar, perlindungan terhadap pekerja dan keluarga yang ditinggalkan diharapkan dapat lebih terjamin.
Melalui kunjungan sosial dan kegiatan edukasi tersebut, Imigrasi Pontianak menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, termasuk memberikan perhatian kepada anak-anak yang terdampak persoalan migrasi nonprosedural. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini