Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 14 September 2026 |
KALBARONLINE.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, tak hanya membakar lahan. Kebakaran juga membuat satwa liar kehilangan habitat dan sumber makanan.
Salah satu korbannya ialah Mama Penja, orang utan betina yang ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya kurus, mengalami dehidrasi berat, anemia berat, hingga luka bakar di kedua kakinya.
Mama Penja diselamatkan tim gabungan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan, LPHD Padu Banjar, dan masyarakat, Sabtu (12/9/2026).
Mama Penja ditemukan bersama anaknya di salah satu kebun sawit milik warga transmigrasi di Desa Penjalaan. Lokasi tersebut berada di sekitar kawasan hutan yang terdampak kebakaran hebat.
Dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, Dr Karmele Llano Sanchez, mengatakan kondisi Mama Penja saat ditemukan sangat memprihatinkan.
Tubuhnya kurus dan lemas. Bahkan, Mama Penja nyaris tidak bergerak dari sarangnya meski banyak orang berada di sekitar lokasi.
“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orang utan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya,” kata Karmele, Senin (14/9/2026).
Tim kemudian membius Mama Penja dan anaknya menggunakan blow dart agar proses evakuasi dapat dilakukan dengan aman. Setelah dievakuasi, tim medis langsung memberikan pertolongan berupa cairan infus dan oksigen.
Keduanya kemudian dibawa ke Pusat Rehabilitasi YIARI untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi Mama Penja jauh lebih buruk dari yang terlihat saat pertama kali ditemukan.
Mama Penja mengalami dehidrasi berat dan tampak pucat. Tim juga menemukan luka bakar pada kedua kakinya hingga menyebabkan kulit terkelupas.
“Luka tersebut kemungkinan terjadi karena orang utan berjalan di atas tanah gambut yang terbakar,” ujar Karmele.
Tak hanya luka di kaki, kondisi gigi Mama Penja juga memprihatinkan. Banyak bagian giginya mengalami pengikisan. Karmele menduga kondisi tersebut berkaitan dengan terbatasnya sumber makanan akibat kebakaran.
Mama Penja kemungkinan terpaksa mengonsumsi kulit pohon atau jenis makanan lain yang tidak sesuai secara terus-menerus karena kesulitan mendapatkan pakan. Kondisi kelaparan itu bahkan terlihat ketika Mama Penja mulai sadar setelah dibius.
“Yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika orang utan mulai terbangun dari pembiusan. Ia tidak menunjukkan perilaku agresif atau berusaha melawan. Ia hanya mencari makanan,” tuturnya.
“Bahkan seolah-olah yang ada dalam pikirannya hanya satu: mencari sesuatu untuk dimakan. Itu menunjukkan betapa laparnya ia,” sambung Karmele.
Pemeriksaan dokter hewan dan hasil laboratorium setelah Mama Penja tiba di klinik juga menunjukkan dia mengalami anemia berat. Karmele mengaku tim hampir tidak percaya Mama Penja masih mampu bertahan hidup dengan kondisi tubuh seperti itu.
“Kami menduga kondisi kekurangan makanan yang berkepanjangan, kemungkinan selama berminggu-minggu sejak kebakaran mulai di areanya pada dua bulan lalu, telah menyebabkan kondisi tubuhnya semakin memburuk hingga mengalami anemia berat,” jelasnya.
Menurut Karmele, kebakaran yang berlangsung di habitat Mama Penja membuat akses terhadap makanan semakin terbatas. Kondisi itu diduga berlangsung dalam waktu cukup lama hingga akhirnya berdampak serius terhadap kesehatan orang utan tersebut.
Kini, Mama Penja masih menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi YIARI. Tim medis berfokus menstabilkan kondisinya, memberikan nutrisi, serta merawat luka-luka yang dialaminya.
“Kami masih berharap ia dapat bertahan hidup. Semoga keduanya masih memiliki kesempatan untuk pulih dan suatu hari nanti kembali hidup di alam,” pungkas Karmele.
KALBARONLINE.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, tak hanya membakar lahan. Kebakaran juga membuat satwa liar kehilangan habitat dan sumber makanan.
Salah satu korbannya ialah Mama Penja, orang utan betina yang ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya kurus, mengalami dehidrasi berat, anemia berat, hingga luka bakar di kedua kakinya.
Mama Penja diselamatkan tim gabungan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan, LPHD Padu Banjar, dan masyarakat, Sabtu (12/9/2026).
Mama Penja ditemukan bersama anaknya di salah satu kebun sawit milik warga transmigrasi di Desa Penjalaan. Lokasi tersebut berada di sekitar kawasan hutan yang terdampak kebakaran hebat.
Dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, Dr Karmele Llano Sanchez, mengatakan kondisi Mama Penja saat ditemukan sangat memprihatinkan.
Tubuhnya kurus dan lemas. Bahkan, Mama Penja nyaris tidak bergerak dari sarangnya meski banyak orang berada di sekitar lokasi.
“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orang utan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya,” kata Karmele, Senin (14/9/2026).
Tim kemudian membius Mama Penja dan anaknya menggunakan blow dart agar proses evakuasi dapat dilakukan dengan aman. Setelah dievakuasi, tim medis langsung memberikan pertolongan berupa cairan infus dan oksigen.
Keduanya kemudian dibawa ke Pusat Rehabilitasi YIARI untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi Mama Penja jauh lebih buruk dari yang terlihat saat pertama kali ditemukan.
Mama Penja mengalami dehidrasi berat dan tampak pucat. Tim juga menemukan luka bakar pada kedua kakinya hingga menyebabkan kulit terkelupas.
“Luka tersebut kemungkinan terjadi karena orang utan berjalan di atas tanah gambut yang terbakar,” ujar Karmele.
Tak hanya luka di kaki, kondisi gigi Mama Penja juga memprihatinkan. Banyak bagian giginya mengalami pengikisan. Karmele menduga kondisi tersebut berkaitan dengan terbatasnya sumber makanan akibat kebakaran.
Mama Penja kemungkinan terpaksa mengonsumsi kulit pohon atau jenis makanan lain yang tidak sesuai secara terus-menerus karena kesulitan mendapatkan pakan. Kondisi kelaparan itu bahkan terlihat ketika Mama Penja mulai sadar setelah dibius.
“Yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika orang utan mulai terbangun dari pembiusan. Ia tidak menunjukkan perilaku agresif atau berusaha melawan. Ia hanya mencari makanan,” tuturnya.
“Bahkan seolah-olah yang ada dalam pikirannya hanya satu: mencari sesuatu untuk dimakan. Itu menunjukkan betapa laparnya ia,” sambung Karmele.
Pemeriksaan dokter hewan dan hasil laboratorium setelah Mama Penja tiba di klinik juga menunjukkan dia mengalami anemia berat. Karmele mengaku tim hampir tidak percaya Mama Penja masih mampu bertahan hidup dengan kondisi tubuh seperti itu.
“Kami menduga kondisi kekurangan makanan yang berkepanjangan, kemungkinan selama berminggu-minggu sejak kebakaran mulai di areanya pada dua bulan lalu, telah menyebabkan kondisi tubuhnya semakin memburuk hingga mengalami anemia berat,” jelasnya.
Menurut Karmele, kebakaran yang berlangsung di habitat Mama Penja membuat akses terhadap makanan semakin terbatas. Kondisi itu diduga berlangsung dalam waktu cukup lama hingga akhirnya berdampak serius terhadap kesehatan orang utan tersebut.
Kini, Mama Penja masih menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi YIARI. Tim medis berfokus menstabilkan kondisinya, memberikan nutrisi, serta merawat luka-luka yang dialaminya.
“Kami masih berharap ia dapat bertahan hidup. Semoga keduanya masih memiliki kesempatan untuk pulih dan suatu hari nanti kembali hidup di alam,” pungkas Karmele.
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini