Pontianak    

Fenomena Air Sungai Kapuas Tampak Terbelah Dua Warna, Akademisi Untan Jelaskan Penyebabnya

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Monday, 19 October 2026
Fenomena Air Sungai Kapuas Tampak Terbelah Dua Warna, Akademisi Untan Jelaskan Penyebabnya
Akademisi Untan menjelaskan fenomena air Sungai Kapuas yang tampak terbelah dua warna akibat dinamika perairan dan perbedaan karakteristik air (ilustrasi: AI/KALBARONLINE.com)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Fenomena air Sungai Kapuas yang tampak terbelah menjadi dua warna, cokelat dan hijau jernih, menarik perhatian masyarakat. Fenomena tersebut terekam dalam video yang diunggah pemilik akun Instagram @iam_fardy pada 12 Oktober 2026.

Wakil Rektor IV Universitas Tanjungpura (Untan), R. M. Rustamaji, menjelaskan bahwa pertemuan air sungai dan air laut merupakan fenomena alamiah yang lazim terjadi di kawasan muara.

Menurutnya, air sungai dan air laut tetap dapat bercampur. Namun, proses pencampuran berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk perbedaan massa jenis serta dinamika aliran air.

“Pada dasarnya, bukan berarti air sungai dan air laut tidak bisa bercampur. Keduanya bisa bercampur, tetapi membutuhkan waktu dan berlangsung secara bertahap,” jelasnya, Senin (19/10/2026).

Rustamaji menerangkan, air laut memiliki massa jenis lebih tinggi dibandingkan air tawar karena kandungan garam dan mineral terlarut. Perbedaan tersebut dapat menyebabkan air tawar cenderung berada di lapisan atas, sedangkan air laut berada di lapisan bawah ketika keduanya bertemu.

Kondisi itu memungkinkan terbentuknya batas antarlapisan air yang terlihat jelas dari permukaan. Akibatnya, kedua jenis air seolah-olah tidak bercampur, meskipun proses pencampuran tetap berlangsung.

Selain perbedaan massa jenis, kekuatan aliran sungai turut memengaruhi sejauh mana air laut dapat masuk ke badan sungai.

Aliran air dari hulu dapat mendorong air laut kembali ke arah muara. Sebaliknya, ketika debit sungai melemah, pengaruh pasang air laut berpotensi menjangkau wilayah yang lebih jauh ke arah hulu.

Rustamaji menilai kondisi tersebut perlu dilihat bersama faktor lain, termasuk curah hujan dan ketersediaan air dari hulu. Ketika curah hujan rendah dan debit sungai berkurang, dorongan aliran air tawar terhadap air laut juga dapat melemah.

Ia turut menyoroti pentingnya memperhatikan perubahan tata guna lahan di wilayah hulu karena kondisi lingkungan di kawasan tersebut dapat memengaruhi ketersediaan dan aliran air menuju hilir.

“Persoalan air di Kota Pontianak tidak bisa diselesaikan sendiri karena Pontianak berada di wilayah hilir, di bagian akhir perjalanan air. Apa yang terjadi di hulu, termasuk perubahan tata guna lahan, sedikit banyak akan memberikan pengaruh ke hilir,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kerja sama antardaerah dalam pengelolaan sumber daya air, khususnya untuk menjaga ketersediaan air baku di wilayah hilir Sungai Kapuas.

Rustamaji juga menjelaskan bahwa pasang surut laut yang dipengaruhi gaya gravitasi bulan dan matahari dapat mendorong air laut masuk ke sungai. Ketika pasang terjadi dan debit sungai tidak cukup kuat untuk mengimbanginya, air laut berpotensi bergerak lebih jauh ke arah daratan.

Dinamika pasang surut tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi perairan di kawasan pesisir dan muara, termasuk potensi banjir rob.

Sementara itu, perbedaan warna air dapat dipengaruhi material yang terkandung di dalamnya. Air sungai yang membawa sedimen dari hulu cenderung terlihat kecokelatan. Adapun air yang tampak kehijauan atau lebih jernih dapat dipengaruhi kondisi perairan, kedalaman, serta interaksi cahaya dengan material di dalam air.

Dengan demikian, batas warna yang terlihat di permukaan Sungai Kapuas tidak serta-merta menunjukkan bahwa air tawar dan air laut sama sekali tidak bercampur. Fenomena tersebut merupakan bagian dari dinamika perairan yang dipengaruhi berbagai faktor fisik.

Diketahui, Rustamaji memiliki latar belakang keilmuan di bidang teknik sipil. Pada pendidikan magister, ia mengambil pengutamaan Rekayasa Geoteknik. Sementara itu, pendidikan doktoralnya berfokus pada perbaikan tanah menggunakan metode Electro Chemical Injection di Jerman. (Lid)

Artikel Selanjutnya
Penumpang DAMRI di Kalbar Turun hingga 40 Persen akibat Kabut Asap Karhutla
Monday, 19 October 2026
Artikel Sebelumnya
Pasar Murah Hari Jadi Pontianak, 1.069 Paket Sembako Dijual Rp85 Ribu
Monday, 19 October 2026

Berita terkait