Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 02 November 2026 |
KALBARONLINE.com – Sebanyak 49.351 rekening tabungan pelajar tercatat di Kota Pontianak melalui program Simpanan Pelajar (SimPel). Pemerintah Kota Pontianak terus mendorong perluasan program tersebut dengan mengintegrasikannya bersama bank sampah mini di sekolah.
Melalui langkah ini, pelajar tidak hanya dibiasakan menabung sejak dini, tetapi juga diajarkan mengelola sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, program SimPel telah berjalan selama beberapa tahun dan terus disosialisasikan kepada sekolah-sekolah. Kali ini, sosialisasi kembali digelar di SMP Negeri 22 dan SD Negeri 15 Pontianak dengan melibatkan pihak sekolah, guru, serta Bank Kalbar.
"Kita juga mengajak sekolah dan para guru untuk meningkatkan akses keuangan bagi pelajar," ujarnya usai Sosialisasi Simpanan Pelajar dan Bank Sampah Mini di SD Negeri 15 Pontianak Selatan, Senin (2/11/2026).
Menurut Edi, membiasakan anak menabung merupakan bagian dari pendidikan karakter yang perlu ditanamkan sejak usia sekolah. Kebiasaan tersebut mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan menentukan prioritas dalam menggunakan uang.
Ia berharap semakin banyak siswa yang memiliki tabungan.
"Jumlahnya akan terus kita tingkatkan. Kalau bisa semuanya ikut, tidak hanya sekolah negeri, tetapi juga swasta, madrasah, dan pondok pesantren," katanya.
Upaya memperluas akses keuangan tersebut turut menjadi bagian dari capaian Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kota Pontianak yang berhasil meraih TPAKD Award 2026 kategori TPAKD Terbaik Tingkat Kota Wilayah Kalimantan.
Untuk mendukung program tersebut, Pemkot Pontianak terus berkolaborasi dengan Bank Kalbar serta organisasi perangkat daerah terkait. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah menghubungkan program tabungan pelajar dengan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
Melalui konsep tersebut, siswa didorong membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah. Sampah kemudian ditimbang dan dinilai berdasarkan jenisnya, sebelum hasil penjualannya dimasukkan ke rekening tabungan masing-masing.
"Kita juga menggalakkan bank sampah mini di sekolah-sekolah. Anak-anak bisa membawa sampah dari rumah, kemudian ditimbang, dinilai, dan hasilnya dimasukkan ke dalam tabungan," jelas Edi.
Ia menilai pendekatan tersebut memberikan manfaat ganda. Selain membangun kebiasaan menabung, siswa juga belajar bahwa sampah yang dikelola dengan baik memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan kembali.
"Disiplin menabung itu sangat penting. Anak-anak juga harus cerdas menggunakan uang untuk keperluan yang memang dibutuhkan dan untuk masa depan mereka," pesannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono menjelaskan, dari 141 sekolah yang mengikuti program Adiwiyata, sebanyak 35 sekolah telah memiliki bank sampah mini.
Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan seiring dengan pembinaan pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan.
"Ini akan terus kita kembangkan. Anak-anak kita bina terlebih dahulu bagaimana cara memilah sampah, kemudian hasil pilahannya bisa dibawa ke sekolah dan menjadi tabungan mereka," terangnya.
Usmulyono menjelaskan, sebelum menerapkan sistem tabungan berbasis sampah, siswa terlebih dahulu diberikan pemahaman tentang jenis sampah dan cara memilahnya dengan benar.
Setelah mekanisme pemilahan berjalan, pihak sekolah akan bekerja sama dengan Bank Sampah Rosella untuk membeli sampah yang dikumpulkan para siswa. Hasil penjualannya kemudian dikonversi menjadi saldo tabungan SimPel.
Ia mencontohkan, sampah plastik tertentu memiliki nilai jual sekitar Rp4.000 per kilogram. Meski jumlahnya tidak besar, kegiatan tersebut diharapkan dapat membangun pemahaman bahwa barang yang dianggap tidak berguna masih memiliki nilai apabila dikelola dengan tepat.
Lebih jauh, sampah plastik yang terkumpul juga berpotensi diolah menjadi berbagai produk bermanfaat, seperti meja hingga batako.
Menurut Usmulyono, pembiasaan memilah sampah sejak usia dini menjadi langkah penting dalam mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat penampungan sementara.
"Kita berharap sejak usia dini anak-anak sudah sadar terhadap sampahnya sendiri," tuturnya.
Ia menambahkan, pengembangan bank sampah mini menjadi bagian dari penguatan program Adiwiyata di Kota Pontianak. DLH Kota Pontianak akan terus melakukan sosialisasi dan pendampingan agar pelaksanaannya tidak berhenti pada penyediaan fasilitas semata.
"Yang ingin kita bangun adalah kesadaran sejak dini. Anak-anak terbiasa memilah sampah, memahami manfaatnya, sekaligus mendapatkan nilai ekonomi. Harapannya, kebiasaan ini terus terbawa sampai mereka dewasa," pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Sebanyak 49.351 rekening tabungan pelajar tercatat di Kota Pontianak melalui program Simpanan Pelajar (SimPel). Pemerintah Kota Pontianak terus mendorong perluasan program tersebut dengan mengintegrasikannya bersama bank sampah mini di sekolah.
Melalui langkah ini, pelajar tidak hanya dibiasakan menabung sejak dini, tetapi juga diajarkan mengelola sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, program SimPel telah berjalan selama beberapa tahun dan terus disosialisasikan kepada sekolah-sekolah. Kali ini, sosialisasi kembali digelar di SMP Negeri 22 dan SD Negeri 15 Pontianak dengan melibatkan pihak sekolah, guru, serta Bank Kalbar.
"Kita juga mengajak sekolah dan para guru untuk meningkatkan akses keuangan bagi pelajar," ujarnya usai Sosialisasi Simpanan Pelajar dan Bank Sampah Mini di SD Negeri 15 Pontianak Selatan, Senin (2/11/2026).
Menurut Edi, membiasakan anak menabung merupakan bagian dari pendidikan karakter yang perlu ditanamkan sejak usia sekolah. Kebiasaan tersebut mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan menentukan prioritas dalam menggunakan uang.
Ia berharap semakin banyak siswa yang memiliki tabungan.
"Jumlahnya akan terus kita tingkatkan. Kalau bisa semuanya ikut, tidak hanya sekolah negeri, tetapi juga swasta, madrasah, dan pondok pesantren," katanya.
Upaya memperluas akses keuangan tersebut turut menjadi bagian dari capaian Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kota Pontianak yang berhasil meraih TPAKD Award 2026 kategori TPAKD Terbaik Tingkat Kota Wilayah Kalimantan.
Untuk mendukung program tersebut, Pemkot Pontianak terus berkolaborasi dengan Bank Kalbar serta organisasi perangkat daerah terkait. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah menghubungkan program tabungan pelajar dengan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
Melalui konsep tersebut, siswa didorong membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah. Sampah kemudian ditimbang dan dinilai berdasarkan jenisnya, sebelum hasil penjualannya dimasukkan ke rekening tabungan masing-masing.
"Kita juga menggalakkan bank sampah mini di sekolah-sekolah. Anak-anak bisa membawa sampah dari rumah, kemudian ditimbang, dinilai, dan hasilnya dimasukkan ke dalam tabungan," jelas Edi.
Ia menilai pendekatan tersebut memberikan manfaat ganda. Selain membangun kebiasaan menabung, siswa juga belajar bahwa sampah yang dikelola dengan baik memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan kembali.
"Disiplin menabung itu sangat penting. Anak-anak juga harus cerdas menggunakan uang untuk keperluan yang memang dibutuhkan dan untuk masa depan mereka," pesannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono menjelaskan, dari 141 sekolah yang mengikuti program Adiwiyata, sebanyak 35 sekolah telah memiliki bank sampah mini.
Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan seiring dengan pembinaan pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan.
"Ini akan terus kita kembangkan. Anak-anak kita bina terlebih dahulu bagaimana cara memilah sampah, kemudian hasil pilahannya bisa dibawa ke sekolah dan menjadi tabungan mereka," terangnya.
Usmulyono menjelaskan, sebelum menerapkan sistem tabungan berbasis sampah, siswa terlebih dahulu diberikan pemahaman tentang jenis sampah dan cara memilahnya dengan benar.
Setelah mekanisme pemilahan berjalan, pihak sekolah akan bekerja sama dengan Bank Sampah Rosella untuk membeli sampah yang dikumpulkan para siswa. Hasil penjualannya kemudian dikonversi menjadi saldo tabungan SimPel.
Ia mencontohkan, sampah plastik tertentu memiliki nilai jual sekitar Rp4.000 per kilogram. Meski jumlahnya tidak besar, kegiatan tersebut diharapkan dapat membangun pemahaman bahwa barang yang dianggap tidak berguna masih memiliki nilai apabila dikelola dengan tepat.
Lebih jauh, sampah plastik yang terkumpul juga berpotensi diolah menjadi berbagai produk bermanfaat, seperti meja hingga batako.
Menurut Usmulyono, pembiasaan memilah sampah sejak usia dini menjadi langkah penting dalam mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat penampungan sementara.
"Kita berharap sejak usia dini anak-anak sudah sadar terhadap sampahnya sendiri," tuturnya.
Ia menambahkan, pengembangan bank sampah mini menjadi bagian dari penguatan program Adiwiyata di Kota Pontianak. DLH Kota Pontianak akan terus melakukan sosialisasi dan pendampingan agar pelaksanaannya tidak berhenti pada penyediaan fasilitas semata.
"Yang ingin kita bangun adalah kesadaran sejak dini. Anak-anak terbiasa memilah sampah, memahami manfaatnya, sekaligus mendapatkan nilai ekonomi. Harapannya, kebiasaan ini terus terbawa sampai mereka dewasa," pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini