Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
kabut asap
Peduli Kabut Asap, Jemaah Berkah Sudut Salurkan 4.000 Masker untuk Warga Ketapang
Peduli Kabut Asap, Jemaah Berkah Sudut Salurkan 4.000 Masker untuk Warga Ketapang
Thursday, 22/10/2026

KALBARONLINE.com – Di tengah kabut asap yang kembali menyelimuti Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jemaah Berkah Sudut membagikan ribuan masker gratis kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap dampak buruk kualitas udara.

Sebanyak 2.000 masker dibagikan kepada pengguna jalan di perempatan Bundaran Kauman, Jalan Wolter Monginsidi, Kecamatan Benua Kayong, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini bertujuan membantu warga melindungi diri saat beraktivitas di tengah kabut asap.

Koordinator aksi, Pendi, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kepedulian sosial dan kebersamaan para jemaah masjid di Kabupaten Ketapang.

Menurutnya, Jemaah Berkah Sudut bermula dari kebiasaan para jemaah berkumpul di warung kopi setelah menunaikan salat Subuh. Dari kebersamaan itu, mereka kemudian menggagas berbagai kegiatan sosial untuk membantu masyarakat.

“Ini kegiatan kemanusiaan. Kami hanya komunitas di warung kopi, berkumpul bersama para jemaah masjid setiap selesai salat Subuh. Dari situ, kami membuat program untuk berbuat kebaikan kepada masyarakat,” ujar Pendi seusai kegiatan.

Ia menjelaskan, pembagian masker dilakukan karena kondisi kabut asap di Ketapang dinilai semakin memprihatinkan dan telah berlangsung cukup lama.

“Kita melihat Kabupaten Ketapang ini semakin hari semakin gelap. Sudah berjalan kurang lebih empat bulan kalau tidak salah. Di mana-mana kita dikelilingi asap kabut,” katanya.

Dalam aksi tersebut, Jemaah Berkah Sudut mendapat dukungan dari Wana Aksara, lembaga yang bergerak di bidang lingkungan. Dukungan tersebut membantu kelancaran penyaluran masker kepada masyarakat.

Sebelumnya, komunitas ini juga telah membagikan sekitar 2.000 masker di Bundaran Tugu Ale-Ale. Dengan tambahan pembagian di Bundaran Kauman, total masker yang telah disalurkan mencapai sekitar 4.000 lembar.

Pendi menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang mendukung kegiatan kemanusiaan tersebut. Ia berharap semakin banyak elemen masyarakat yang tergerak untuk membantu warga menghadapi dampak kabut asap.

“Kami akan mengupayakan dan sedang berkoordinasi dengan pihak-pihak yang bisa berkontribusi membantu mengatasi persoalan kesehatan masyarakat akibat kabut asap yang sangat luar biasa ini,” tuturnya.

Saat ini, Jemaah Berkah Sudut memiliki sekitar 50 anggota aktif. Mereka berupaya menjadikan kebersamaan para jemaah dari berbagai masjid sebagai wadah untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Di tengah persoalan kabut asap yang masih membayangi Ketapang, pembagian masker ini menjadi salah satu bentuk solidaritas warga. Meski sederhana, kegiatan tersebut diharapkan membantu masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan sekaligus mendorong kepedulian bersama terhadap dampak kabut asap. (Adi LC)

Kabut Asap Ketapang Ganggu Pembelajaran, Siswa Akui Sulit Memahami Materi Saat BDR
Kabut Asap Ketapang Ganggu Pembelajaran, Siswa Akui Sulit Memahami Materi Saat BDR
Tuesday, 20/10/2026

KALBARONLINE.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Siswa terpaksa mengikuti pembelajaran dari rumah atau belajar dari rumah (BDR), meski metode tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif.

Alzena LaKeisha (15), siswi kelas X SMA Negeri 2 Ketapang, mengaku sedih karena tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara langsung di sekolah. Menurutnya, pembelajaran dari rumah membuat materi yang disampaikan guru lebih sulit dipahami dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka.

“Sedih sih, karena kalau BDR pembelajaran itu kan tidak secara langsung. Jadi kurang masuk ke otak, apalagi asap kayak gini,” ujar Alzena, Selasa (20/10/2026).

Selain menghadapi kendala dalam memahami pelajaran, Alzena juga mengeluhkan kondisi udara yang membuatnya merasa sesak ketika hendak beraktivitas di luar rumah.

“Untuk keluar rumah pun sesak rasanya, apalagi kalau sekolah,” keluhnya.

Ia mengatakan, pelaksanaan pembelajaran daring belum berjalan maksimal. Pertemuan melalui aplikasi Zoom hanya dilakukan untuk mata pelajaran tertentu dan tidak berlangsung secara rutin.

“Ada Zoom, tapi tidak semua mata pelajaran. Kadang-kadang cuma ada Zoom, kadang tidak,” katanya.

Menurut Alzena, kegiatan BDR terkadang lebih banyak diisi dengan pemberian tugas dan absensi. Kondisi tersebut membuat siswa merasa kurang mendapatkan penjelasan materi secara langsung seperti ketika belajar di ruang kelas.

Informasi mengenai pelaksanaan BDR, lanjutnya, biasanya disampaikan sehari sebelum pembelajaran berlangsung. Pemberitahuan tersebut terkadang diterima pada Sabtu atau Minggu.

Alzena berharap kabut asap di Ketapang segera menghilang agar para siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran secara normal di sekolah.

“Harapannya semoga kabut asapnya tidak ada lagi, kabutnya sudah hilang, biar bisa belajar seperti biasa,” harapnya.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang memperpanjang kebijakan BDR atau pembelajaran daring bagi peserta didik jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah pertama (SMP) sejak 12 Oktober 2026.

Kebijakan tersebut diambil berdasarkan hasil evaluasi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang masih menunjukkan kategori sangat tidak sehat.

Dalam pengumumannya, Dinas Pendidikan menyatakan perpanjangan BDR berlaku hingga ada pemberitahuan lebih lanjut dengan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara di Kabupaten Ketapang.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, Darma, membenarkan bahwa kebijakan tersebut masih diberlakukan hingga kondisi kabut asap membaik.

“Iya benar, sampai kondisinya membaik,” ungkap Darma.

Selama pelaksanaan BDR, peserta didik juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker, serta memperbanyak minum air putih untuk menjaga kesehatan di tengah kondisi udara yang kurang sehat.

Dampak kabut asap terhadap kegiatan belajar ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan hanya menyangkut persoalan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan keberlangsungan pendidikan anak-anak. (Adi LC)

Kabut Asap Ketapang Makin Mengkhawatirkan, PWI dan KAWAN Bagikan 10.000 Masker
Kabut Asap Ketapang Makin Mengkhawatirkan, PWI dan KAWAN Bagikan 10.000 Masker
Tuesday, 20/10/2026

KALBARONLINE.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Ketapang bersama Koalisi Wartawan (KAWAN) Ketapang, PT BGA, dan KNPI Ketapang menyalurkan 10.000 lembar masker kepada masyarakat di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti Kabupaten Ketapang, Selasa (20/10/2026).

Aksi sosial ini menjadi bentuk kepedulian insan pers bersama elemen masyarakat dan dunia usaha terhadap dampak kabut asap yang mengancam kesehatan warga. Pembagian masker dipusatkan di perempatan RSUD dr. Agoesdjam Ketapang dan Bundaran Kedondong. Masker juga dibagikan di lorong rumah sakit untuk membantu pasien serta keluarga yang mendampingi.

Ketua PWI Kabupaten Ketapang, Supriadi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian insan pers terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.

Menurut Supriadi, berdasarkan catatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, kualitas udara di Ketapang dalam sepekan terakhir berada pada kategori berbahaya berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

“Dengan kondisi kualitas udara yang masuk kategori berbahaya, masyarakat perlu lebih memperhatikan kesehatan dan perlindungan diri. Pembagian masker ini merupakan salah satu bentuk kepedulian agar masyarakat tetap terlindungi saat harus beraktivitas di luar rumah,” kata Supriadi.

Ia menegaskan, kolaborasi lintas organisasi dan dunia usaha dibutuhkan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak karhutla. PWI Ketapang berharap kabut asap segera mereda sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal tanpa terus dibayangi ancaman pencemaran udara.

Ketua KAWAN Ketapang, Agustiandi, mengatakan pembagian masker dilakukan karena masih ditemukan pengendara yang beraktivitas di jalan tanpa menggunakan pelindung pernapasan, meskipun kabut asap masih pekat.

“Kami mengajak masyarakat untuk mengutamakan kesehatan dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama di tengah kondisi kabut asap yang masih pekat. Kami melihat masih ada pengendara yang melintas tanpa menggunakan masker,” ujarnya.

Kabut Asap Ketapang Makin Mengkhawatirkann

Agustiandi menjelaskan, pembagian masker juga menyasar lorong RSUD dr. Agoesdjam karena terdapat pasien yang sedang menjalani pengobatan serta keluarga yang menunggu dan mendampingi mereka.

Ia berharap bantuan tersebut bermanfaat sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan selama kualitas udara belum membaik.

“Kolaborasi ini merupakan wujud kepedulian bersama. Kami ingin kehadiran organisasi dan pihak perusahaan benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang sedang menghadapi dampak kabut asap,” tambahnya.

Sementara itu, CA Specialist BGA Ketapang, Agus Suryadi, mengatakan keterlibatan PT BGA dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepedulian perusahaan terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap.

Agus menyebutkan, sebelumnya BGA bersama KAWAN dan PWI Ketapang juga telah berkolaborasi menyalurkan air bersih siap minum di Jalan Restu Ibu, Kelurahan Sampit, Kabupaten Ketapang.

“Kami berharap kolaborasi seperti ini bisa terus berjalan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Baik pembagian air bersih siap minum maupun masker, semuanya merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap kebutuhan masyarakat,” kata Agus.

Dukungan terhadap kegiatan sosial tersebut juga disampaikan Wakil Ketua I KNPI Kabupaten Ketapang, Fachrur Rizal. Ia mengaku senang karena KNPI dapat terlibat langsung dalam aksi kemanusiaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Kami senang dan bangga turut dilibatkan dalam pembagian masker ini. Kami berharap kegiatan ini bisa membantu masyarakat menjaga kesehatan di tengah kondisi kabut asap yang masih terjadi di Ketapang,” ujarnya.

Fachrur Rizal berharap sinergi antara organisasi kepemudaan, insan pers, dan dunia usaha dapat terus diperkuat melalui berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, PWI Ketapang bersama KAWAN, PT BGA, dan KNPI Ketapang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak kabut asap, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta mengurangi kegiatan di luar rumah apabila tidak mendesak, terutama ketika kualitas udara memburuk.

PWI Ketapang juga berharap penanganan karhutla dan pemulihan kualitas udara menjadi perhatian serius seluruh pihak agar masyarakat tidak terus-menerus menanggung dampak pencemaran udara. (Adi LC)

51 Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang dan Kayong Utara, 30 Ditemukan di Area PT KALE
51 Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang dan Kayong Utara, 30 Ditemukan di Area PT KALE
Monday, 19/10/2026

KALBARONLINE.com – Sebanyak 51 orangutan diselamatkan dari kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat, sejak 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, 30 individu ditemukan di dalam atau sekitar perkebunan kelapa sawit PT KALE.

Upaya penyelamatan masih berlanjut seiring kerusakan habitat akibat kebakaran. Dalam laporan terbaru, tim gabungan mengevakuasi empat orangutan, yakni dua individu remaja betina bernama Lusi dan Riri, serta induk dan anak bernama Mama Rian dan Rian.

Berdasarkan keterangan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Riri, Mama Rian, dan Rian diselamatkan pada 10 Oktober 2026. Sementara itu, Lusi dievakuasi pada 16 Oktober 2026 dari kawasan High Conservation Value (HCV) perkebunan PT KALE di Desa Laman Satong.

Kondisi orangutan yang ditemukan menunjukkan dampak kerusakan habitat akibat karhutla. Lusi, misalnya, ditemukan bertahan di sebuah pohon yang masih berdiri di tengah kawasan hutan yang hangus terbakar.

CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, mengatakan Lusi ditemukan dalam kondisi sangat kurus dan mengalami stres.

“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,” ujar Karmele, Minggu (18/10/2026).

Setelah dievakuasi menggunakan obat bius, Lusi menjalani pemeriksaan medis di lapangan. Tim menemukan luka gores dan luka terbuka cukup dalam pada bagian punggung, bibir, dan anus. Luka tersebut diduga akibat gigitan satwa lain, kemungkinan anjing.

Selain mengalami luka, Lusi juga mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Sementara itu, Riri ditemukan di pohon sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan.

“Orangutan betina berusia sekitar 4–6 tahun itu ditemukan tanpa tanda-tanda keberadaan induknya,” kata Karmele.

Tim juga menyelamatkan Mama Rian dan anaknya, Rian, dari kebun warga di Desa Riam Berasap. Lokasi tersebut berjarak sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan PT KALE dan berada di kawasan terdampak kebakaran. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan tubuh Mama Rian dan Rian juga sangat kurus.

Dari rangkaian penyelamatan sebelumnya, YIARI mencatat sebanyak 27 orangutan yang dievakuasi dari area PT KALE dan sekitarnya mendapatkan perawatan lanjutan di pusat rehabilitasi karena kondisi kesehatan yang kurang baik.

Tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI masih memantau orangutan yang diduga bertahan di kawasan HCV. Berdasarkan laporan masyarakat, beberapa individu bahkan telah memasuki permukiman dan merusak tanaman serta kebun warga.

Kondisi tersebut berpotensi memicu konflik antara manusia dan orangutan, terutama ketika satwa kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung akibat kebakaran.

“Penyelamatan lanjutan masih diperlukan karena sejumlah orangutan diduga masih berada di kawasan HCV yang terbakar. Di beberapa titik, asap masih tebal dan tanah masih mengeluarkan asap,” kata Karmele.

Berdasarkan analisis citra satelit pada 1 Agustus hingga 25 September 2026, lebih dari 90 persen kawasan HCV PT KALE dilaporkan telah hangus terbakar. Padahal, berdasarkan publikasi ilmiah pada 2016, kawasan tersebut diperkirakan menjadi habitat sekitar 150 individu orangutan Kalimantan. Penelitian itu mencatat kepadatan rata-rata sekitar 5,49 individu per kilometer persegi.

Kekhawatiran terhadap keselamatan orangutan meningkat setelah tim gabungan mengevakuasi temuan yang diduga merupakan tengkorak orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari kawasan HCV PT KALE pada 8 Oktober 2026. Temuan tersebut masih menjalani pemeriksaan forensik untuk memastikan identitas spesies, penyebab, dan perkiraan waktu kematian.

“Kami berharap perusahaan berkomitmen melakukan restorasi kawasan yang terbakar,” harap Karmele.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, juga menegaskan pentingnya menjaga kawasan HCV sebagai habitat dan perlindungan keanekaragaman hayati.

“Area HCV yang terdampak karhutla sepatutnya segera direstorasi untuk mengembalikan fungsi ekologis dan melindungi habitat satwa liar,” ujar Murlan.

Empat Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang, Dua Ditemukan Sendirian
Empat Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang, Dua Ditemukan Sendirian
Monday, 19/10/2026

KALBARONLINE.com – Empat orangutan berhasil diselamatkan dari kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dua orangutan remaja ditemukan sendirian di area perkebunan kelapa sawit, sedangkan seekor induk dan anaknya dievakuasi dari kebun warga.

Penyelamatan dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Keempat orangutan tersebut terdiri atas dua individu remaja betina bernama Lusi dan Riri, serta induk dan anak bernama Mama Rian dan Rian.

Lusi ditemukan pada 16 Oktober 2026 di kawasan High Conservation Value (HCV) milik PT KALE, perusahaan perkebunan kelapa sawit di Desa Laman Satong. Sementara itu, Riri diselamatkan pada 10 Oktober 2026 dari lokasi yang sama.

Kedua orangutan remaja berusia sekitar 4–6 tahun itu ditemukan tanpa tanda-tanda keberadaan induknya. Kondisi Lusi bahkan memprihatinkan karena hanya bertahan di satu pohon yang masih berdiri di tengah kawasan hutan yang telah terbakar.

CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, yang turun langsung ke lokasi mengatakan, Lusi terlihat sangat stres dan kurus.

“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,” ujar Karmele, Minggu (18/10/2026).

Sementara itu, Riri ditemukan di pohon sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan. Tim penyelamat khawatir induknya tidak lagi berada di sekitar lokasi, bahkan diduga telah mati.

“Kami merasa kasihan melihat anak orangutan sendirian tanpa induknya. Kami pun bertanya-tanya, ke mana induknya, sebab, induk orangutan biasanya tidak meninggalkan anaknya,” tuturnya.

Setelah dievakuasi menggunakan obat bius, Lusi diperiksa oleh tim dokter hewan di lapangan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya luka gores di sekujur tubuhnya, termasuk luka terbuka cukup dalam di bagian punggung, bibir, dan anus.

Karmele menduga luka-luka tersebut disebabkan gigitan satwa lain, kemungkinan anjing. Selain mengalami luka, Lusi juga ditemukan dalam kondisi sangat kurus dan dehidrasi.

“Kami menduga luka-luka ini didapat dari gigitan hewan, kemungkinan anjing. Kondisi Lusi juga sangat kurus dan mengalami dehidrasi. Kami sungguh sedih melihat kondisi orangutan ini, mungkin sudah lama tidak dapat makanan apa pun,” jelasnya.

Selain Lusi dan Riri, tim gabungan juga menyelamatkan Mama Rian dan anaknya, Rian, pada 10 Oktober 2026. Keduanya ditemukan di kebun warga di Desa Riam Berasap, sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan kelapa sawit PT KALE.

Lokasi penyelamatan induk dan anak orangutan tersebut juga berada di kawasan terdampak kebakaran. Berdasarkan pemeriksaan medis, tubuh Mama Rian dan Rian sama-sama ditemukan dalam kondisi sangat kurus.

Saat ini, keempat orangutan tersebut menjalani perawatan lebih lanjut di pusat rehabilitasi YIARI karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.

Meski empat orangutan telah dievakuasi, upaya penyelamatan masih berlanjut. Tim gabungan terus memantau sejumlah orangutan yang diduga masih berada di kawasan HCV PT KALE dan area sekitarnya.

Berdasarkan laporan masyarakat, beberapa orangutan bahkan telah memasuki kawasan permukiman dan merusak tanaman serta kebun warga. Kondisi tersebut berpotensi memicu konflik antara manusia dan orangutan.

Karmele menegaskan, penyelamatan lanjutan diperlukan karena masih ada orangutan yang terjebak di kawasan hutan yang terbakar.

“Kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan. Di beberapa bagian, asap masih tebal, bahkan masih ditemukan titik-titik dengan tanah yang mengeluarkan asap,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kebakaran menyebabkan orangutan kehilangan tempat berlindung dan sumber pakan. Mereka juga masih harus bergerak di kawasan berisiko akibat panas dan sisa bara api.

“Artinya, proses penyelamatan masih harus dilanjutkan. Di kawasan HCV PT KALE, masih terdapat sejumlah orangutan yang terdampak dan membutuhkan evakuasi dan penanganan medis segera,” tutupnya.

Penumpang DAMRI di Kalbar Turun hingga 40 Persen akibat Kabut Asap Karhutla
Penumpang DAMRI di Kalbar Turun hingga 40 Persen akibat Kabut Asap Karhutla
Monday, 19/10/2026

KALBARONLINE.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) berdampak pada sektor transportasi darat. DAMRI Cabang Pontianak mencatat penurunan permintaan perjalanan hingga 30–40 persen, terutama pada layanan Angkutan Antarkota Dalam Provinsi (AKDP).

General Manager DAMRI Cabang Pontianak, Ahmad Bukhari, mengatakan penurunan permintaan paling terasa pada Agustus hingga September 2026. Menurutnya, karhutla tahun ini cukup besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sehingga turut memengaruhi mobilitas masyarakat.

“Kalau kami melihat, momen karhutla tahun 2026 ini cukup besar dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sehingga kami melihat penurunan permintaan pelanggan itu terjadi, khususnya pada Agustus-September, yang cukup tinggi,” ujarnya.

Sejumlah rute AKDP yang terdampak antara lain perjalanan menuju Sintang, Nanga Pinoh, Putussibau, dan Sambas. Permintaan perjalanan pada rute-rute tersebut menurun seiring berkurangnya aktivitas masyarakat selama kabut asap melanda.

Bukhari menyebutkan, salah satu faktor yang diduga memengaruhi penurunan tersebut adalah pembatasan aktivitas akibat memburuknya kualitas udara. Sejumlah sekolah dan kampus diliburkan, sementara kegiatan di luar ruangan juga dibatasi.

“Sekolah-sekolah banyak diliburkan, kampus juga libur, kegiatan-kegiatan outdoor juga dibatasi. Jadi, barangkali itu juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mobilisasi masyarakat berkurang,” katanya.

Meski permintaan perjalanan menurun, Bukhari memastikan operasional DAMRI pada rute yang dilayani secara umum tidak mengalami gangguan berarti akibat kabut asap.

“Kalau untuk kegiatan operasional, kaitan dengan rute lintasan secara keseluruhan memang tidak ada gangguan,” jelasnya.

Untuk menjaga minat pelanggan, DAMRI berupaya memberikan promosi agar masyarakat tetap menggunakan layanan angkutan darat. Perusahaan juga membagikan masker kepada penumpang sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi udara yang terdampak kabut asap.

“Kami juga berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan promosi kepada masyarakat agar pelanggan tetap dapat bepergian,” ujar Bukhari.

Penurunan permintaan perjalanan hingga 40 persen tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan pada sektor kesehatan dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga transportasi. Berkurangnya mobilitas masyarakat turut memengaruhi kebutuhan perjalanan antarkota di Kalbar. (Lid)

Lewat Monolog Merah Jam Dua, Bayyaya’ Art Connection Suarakan Duka Korban Karhutla Kalbar
Lewat Monolog Merah Jam Dua, Bayyaya’ Art Connection Suarakan Duka Korban Karhutla Kalbar
Monday, 19/10/2026

KALBARONLINE.com – Bayyaya’ Art Connection menggelar pemutaran monolog dan diskusi publik bertajuk Merah Jam Dua di Cafe Triple SSS, Minggu (18/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Bebakaran: Dari Sudut Pandang yang mengangkat persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui karya seni.

Monolog tersebut mengisahkan seorang ibu tunggal yang kehilangan anaknya akibat karhutla. Sang anak meninggal dunia saat bekerja mengantarkan barang pesanan di tengah kebakaran dan kepungan kabut asap.

Karya yang ditulis sekaligus disutradarai Yuda Adhari itu terinspirasi dari kisah nyata korban meninggal akibat karhutla di Kabupaten Ketapang.

Yuda mengatakan, Merah Jam Dua lahir dari kegelisahannya selama beberapa bulan terakhir ketika masyarakat harus menjalani aktivitas di tengah kepungan asap.

“Karya ini memang lahir dari kegelisahan saya selama beberapa bulan terakhir, ketika kita terperangkap oleh asap. Hal itu mendorong saya untuk berbicara melalui karya,” ujar Yuda.

Dari kegelisahan tersebut, ia mengembangkan program Bebakaran: Dari Sudut Pandang yang menghasilkan empat karya. Monolog Merah Jam Dua menjadi salah satunya, sedangkan karya lain direncanakan hadir dalam beberapa bulan mendatang.

Yuda berharap karya-karya tersebut dapat membuka ruang pembicaraan mengenai karhutla dari berbagai sudut pandang sekaligus mendorong upaya pencegahan agar bencana serupa tidak terus berulang setiap tahun.

“Harapannya, persoalan ini tidak terulang lagi pada tahun-tahun berikutnya. Kita tidak ingin kebakaran hutan ini terus terjadi setiap tahun,” katanya.

Menurut Yuda, diskusi publik setelah pemutaran monolog juga memberinya perspektif baru. Pembahasan tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga politik, kebudayaan, dan agama.

Ia berharap pertemuan yang melibatkan pegiat seni, anggota legislatif, serta organisasi nonpemerintah tersebut dapat memperluas ruang diskusi mengenai penanganan karhutla.

“Kami berharap obrolan dan karya ini bisa sampai ke ruang-ruang yang selama ini belum bisa kami jangkau. Tujuannya sejak awal adalah kita tidak ingin persoalan kebakaran hutan ini menjadi agenda tahunan yang terus berulang,” ungkapnya.

Anggota DPRD Kota Pontianak, Samsudin, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi para pegiat seni yang mengangkat persoalan karhutla melalui monolog dan diskusi publik.

Ia menilai dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga memengaruhi kesehatan serta aktivitas sehari-hari masyarakat.

Menurutnya, kabut asap dapat menghambat pekerjaan dan aktivitas sosial, meningkatkan risiko gangguan pernapasan, serta memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit seperti asma.

“Ini yang menjadi tolok ukur kita bahwa persoalan karhutla harus segera ditangani. Bagaimana caranya agar masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran? Dampaknya sangat negatif terhadap kesehatan dan aktivitas sosial masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Link-AR Borneo, Ahmad Syukri, turut mengapresiasi penggunaan seni teater sebagai medium untuk menyampaikan persoalan karhutla kepada masyarakat.

Menurutnya, karya seni berpotensi menjangkau kelompok masyarakat yang tidak menyaksikan langsung kondisi kebakaran di lapangan, termasuk anak muda, perempuan, dan masyarakat perkotaan.

“Seni teater, secara khusus, mungkin lebih mudah diterima oleh masyarakat luas, baik kalangan anak muda, perempuan, maupun masyarakat perkotaan yang tidak melihat langsung kondisi kebakaran di lapangan,” katanya.

Ia berharap pendekatan melalui seni dapat membantu menyampaikan pesan mengenai dampak karhutla secara lebih luas dan mudah dipahami berbagai kalangan.

Meski demikian, Syukri menekankan pentingnya riset, data, dan fakta dalam proses penciptaan karya seni agar pesan yang disampaikan memiliki dasar yang kuat.

“Setiap karya seni seharusnya didasarkan pada riset, data, dan fakta. Dengan begitu, karya tersebut akan lebih kuat dan mampu menyampaikan persoalan secara lebih jelas kepada masyarakat,” tutupnya. (Lid)

Soroti LPJ Anggaran Karhutla Pemprov Kalbar, Ferry Irwandy: Kayak Grafik ChatGPT
Soroti LPJ Anggaran Karhutla Pemprov Kalbar, Ferry Irwandy: Kayak Grafik ChatGPT
Sunday, 18/10/2026

KALBARONLINE.com – Pegiat media sosial Ferry Irwandy menyoroti laporan pertanggungjawaban (LPJ) anggaran penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar). Ia mempertanyakan kejelasan perincian penggunaan anggaran tersebut dan menyebut laporannya kayak grafik ChatGPT.

Kritik itu disampaikan Ferry saat berbincang dalam podcast bersama Denny Sumargo di kanal YouTube Curhat Bang Denny Sumargo yang diunggah pada Sabtu (17/10/2026).

Dalam perbincangan tersebut, Ferry menyinggung besarnya anggaran dari pemerintah pusat untuk penanganan karhutla di daerah. Ia mencontohkan Kalbar yang, menurut keterangannya, menerima pencairan anggaran hingga Rp200an miliar, dengan alokasi untuk setiap daerah berkisar Rp30 miliar hingga Rp40 miliar.

Namun, ia mempertanyakan transparansi laporan pertanggungjawaban penggunaan dana tersebut, terutama terkait rincian pengeluaran dan kejelasan penyalurannya.

“Saya ambil contoh Kalimantan Barat. Total pencairan untuk setiap daerah bisa mencapai Rp200an miliar. Lalu, saya melihat laporan pertanggungjawabannya seperti apa? Itu benar-benar kayak grafik ChatGPT,” ujarnya.

Ferry mengaku heran karena laporan yang dilihatnya dinilai tidak menyajikan perincian penggunaan anggaran secara jelas.

“Jangan bilang berantakan. Untuk disebut berantakan saja, barangnya harus ada. Ini bahkan belum bisa dibilang berantakan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti laporan yang, menurutnya, hanya mencantumkan keterangan pengeluaran secara umum tanpa penjelasan terperinci.

“Laporannya hanya mencantumkan keterangan seperti biaya transportasi sekian,” tambahnya.

Menurut Ferry, anggaran penanganan karhutla merupakan uang masyarakat yang harus dikelola secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Terlebih, dana tersebut digunakan untuk penanganan bencana yang berdampak langsung terhadap masyarakat.

Ia membandingkan hal itu dengan pengalamannya menggalang dana, yang menurutnya menuntut tanggung jawab dan akuntabilitas dalam setiap penggunaan uang yang terkumpul.

“Saya sendiri galang dana sampai setiap hari tidak bisa tidur memikirkan tanggung jawab, akuntabilitas, dan tujuan penggunaan dana ini. Semua harus dipikirkan. Saya orang keuangan, jadi saya memahami pentingnya detail,” katanya.

Ferry menilai besarnya dana yang disalurkan pemerintah pusat semestinya diikuti dengan kejelasan penggunaan anggaran dan alur penyalurannya hingga ke daerah.

Ia mengingatkan agar persoalan tersebut tidak langsung dimaknai sebagai bukti bahwa pemerintah pusat tidak peduli terhadap penanganan karhutla. Menurutnya, perlu ditelusuri lebih jauh letak persoalan dalam birokrasi dan mekanisme penyaluran anggaran.

“Masalah ini sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Birokrasi kita punya persoalan dalam alur penyaluran yang tidak jelas. Jadi, jangan kemudian langsung menyimpulkan pemerintah pusat tidak peduli. Kita harus melihat di mana persoalannya dan bagaimana alur dana itu sampai ke daerah,” pungkasnya. (Lid)

27 Wisatawan Senior Singapura Berusia hingga 98 Tahun Jelajahi Kalbar di Tengah Kabut Asap
27 Wisatawan Senior Singapura Berusia hingga 98 Tahun Jelajahi Kalbar di Tengah Kabut Asap
Thursday, 15/10/2026

KALBARONLINE.com – Sebanyak 27 wisatawan senior asal Singapura berhasil menyelesaikan perjalanan wisata selama lima hari di Kalimantan Barat pada 3–7 Oktober 2026. Meski menghadapi tantangan kabut asap, rombongan tersebut tetap menikmati berbagai destinasi budaya dan kuliner di Pontianak serta Singkawang.

Rombongan ini berasal dari Silver Horizon Travel Cooperative, koperasi perjalanan di Singapura yang secara khusus melayani wisatawan senior. Salah satu peserta bahkan berusia 98 tahun.

Perjalanan tersebut menjadi contoh bahwa wisata bagi kelompok lanjut usia dapat tetap berlangsung dengan memperhatikan keselamatan dan kesehatan, termasuk ketika kondisi lingkungan kurang bersahabat.

Managing Director ISE Travel Singapore, Jimmy Ooi, mengatakan keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan, terutama bagi wisatawan senior. Karena itu, sejumlah langkah pencegahan diterapkan selama tur berlangsung, termasuk penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

“Keselamatan selalu menjadi perhatian utama kami bagi para pelanggan, terutama wisatawan senior,” ujar Jimmy Ooi.

Ia menjelaskan, para peserta sangat ingin mengunjungi Pontianak dan Singkawang. Pihaknya pun berkoordinasi erat dengan Julia Goh untuk memastikan perjalanan berlangsung aman tanpa mengabaikan kondisi kesehatan peserta.

Sementara itu, penanganan operasional dan logistik di Kalimantan Barat dipercayakan kepada PT Berjaya Tour & Travel yang dipimpin Julia Goh selaku direktur.

Selama perjalanan, kedua tim memantau indeks kualitas udara secara berkala dan menyesuaikan jadwal kegiatan luar ruang apabila diperlukan. Langkah tersebut dilakukan agar wisatawan tetap dapat menikmati perjalanan dengan nyaman di tengah kondisi kabut asap.

Dukungan juga diberikan pemerintah daerah melalui jajaran pejabat pariwisata Provinsi Kalimantan Barat. Pertemuan digelar untuk meninjau pelaksanaan tur wisatawan internasional tersebut di tengah penurunan kualitas udara.

Pertemuan itu dihadiri Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Bader Sasmara dan Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Sarana, dan Prasarana Provinsi Kalimantan Barat Mery Corunia Lamintang. Keduanya bertemu dengan Jimmy Ooi dan Julia Goh untuk membahas pelaksanaan perjalanan.

John Tan, anggota komite sekaligus ketua rombongan Silver Horizon Travel Cooperative, turut hadir dan memberikan masukan terkait kegiatan wisata tersebut.

Bader dan Mery mengapresiasi keterbukaan informasi serta koordinasi cepat yang dilakukan selama tur berlangsung. Menurut mereka, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku pariwisata lokal penting untuk memastikan seluruh pihak memperoleh informasi terbaru dan dapat menjaga keselamatan wisatawan.

Koordinasi tersebut juga membantu penyelenggara menyesuaikan kegiatan dengan kondisi kualitas udara yang menurun.

Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat turut menyampaikan apresiasi kepada agen perjalanan yang membawa wisatawan Singapura berkunjung ke Kalbar meskipun kondisi udara kurang bersahabat.

Kehadiran wisatawan dari luar daerah maupun luar negeri diharapkan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat. Aktivitas pariwisata dapat mendorong perputaran ekonomi lokal sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah daerah juga berharap agen perjalanan terus mempromosikan berbagai destinasi wisata di Kalimantan Barat agar semakin dikenal wisatawan. Masyarakat pun diharapkan ikut membangun citra positif daerah dan menjaga lingkungan demi keberlanjutan destinasi wisata.

Dengan menerapkan langkah pencegahan kesehatan, menyesuaikan rute perjalanan, dan menjaga komunikasi antarpihak, seluruh rangkaian tur berjalan lancar. Sebanyak 27 wisatawan tersebut dapat menikmati kekayaan budaya Singkawang hingga mengunjungi Tugu Khatulistiwa di Pontianak tanpa mengalami insiden medis.

Setelah menyelesaikan perjalanan pada 3–7 Oktober 2026, seluruh rombongan kembali ke Singapura dengan selamat dan sesuai jadwal menggunakan penerbangan Scoot.

Pemerintah daerah berharap kunjungan ini dapat menjadi contoh bahwa pariwisata lintas negara tetap dapat berlangsung dengan aman melalui kerja sama agen perjalanan, pelaku pariwisata lokal, dan pemerintah, termasuk saat menghadapi tantangan lingkungan seperti kabut asap. (*)

Jelang TKA 2026 di Tengah Kabut Asap, SMKN 5 Pontianak Ingatkan Siswa Jaga Kesehatan
Jelang TKA 2026 di Tengah Kabut Asap, SMKN 5 Pontianak Ingatkan Siswa Jaga Kesehatan
Thursday, 15/10/2026

KALBARONLINE.com – Sebanyak 370 siswa kelas XII SMKN 5 Pontianak bersiap menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 yang dijadwalkan mulai 26 Oktober mendatang. Di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti Pontianak, sekolah mengingatkan siswa untuk menjaga kesehatan.

Kepala SMKN 5 Pontianak, Millu Hatriwati, mengatakan persiapan siswa telah dilakukan melalui kegiatan gladi TKA sejak 5 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dibagi menjadi dua gelombang dan berlangsung selama dua minggu.

Selain memperkuat kesiapan akademik, pihak sekolah juga menaruh perhatian pada kondisi kesehatan siswa agar mereka dapat mengikuti seluruh rangkaian persiapan hingga pelaksanaan TKA dengan baik.

“Anak-anak harus tetap menjaga kesehatan dan menggunakan masker selama perjalanan dari rumah ke sekolah. Di sekolah pun mereka harus tetap semangat belajar di tengah kondisi kabut asap. Mudah-mudahan kabut asap segera berakhir,” ujar Millu, Kamis (15/10/2026).

Ia mengatakan, sekolah terus mempersiapkan siswa agar dapat mengikuti TKA dengan baik. Kesiapan mental, kesehatan, dan kehadiran menjadi perhatian selain pembelajaran yang selama ini berlangsung.

Dari sisi fasilitas, SMKN 5 Pontianak menyiapkan tiga laboratorium komputer dengan masing-masing 25 unit komputer. Sekolah juga memastikan jaringan internet tersedia untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tes.

Sebelum gladi berlangsung, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan PLN dan Telkomsel untuk mengantisipasi gangguan listrik maupun jaringan. Koordinasi serupa akan kembali dilakukan menjelang pelaksanaan TKA.

Menurut Millu, TKA menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengetahui pencapaian akademik mereka selama belajar. Karena itu, meskipun secara umum tes tersebut tidak wajib, SMKN 5 Pontianak tetap mewajibkan seluruh siswa kelas XII mengikutinya.

Pihak sekolah berharap para siswa dapat memperoleh hasil yang baik dan memiliki peluang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, baik di Kalimantan Barat maupun di luar daerah.

Pelaksanaan TKA 2026 dijadwalkan berlangsung pada pekan keempat Oktober hingga pekan pertama November. (Lid)