Bau Amis di Seputar Pelantikan

KALBARONLINE.com – Alkisah, seorang gubernur di sebuah provinsi di negeri antah berantah baru saja memenangkan pemilu. Sosoknya dipuja bak pahlawan.

Wajahnya selalu tersenyum di spanduk-spanduk, pidatonya menggugah asa, dan tutur katanya lembut menyejukkan hati.

Dalam urusan agama, ia dikenal sebagai pribadi santun dan taat. Tak jarang, ia duduk di saf terdepan dalam acara peribadatan, menundukkan kepala seakan penuh ketakwaan.

Kampanye-kampanyenya sukses membius simpati rakyat. Mimpi-mimpi yang ia sodorkan begitu indah, seakan semua masalah akan terselesaikan hanya dengan semangat dan niat baik.

Baca Juga :  Hadiri Isra’ Mi’raj di Sungai Kakap, Sutarmidji: Jangan Tinggalkan dan Lalaikan Sholat Lima Waktu

Rakyat larut dalam euforia, meskipun ada segelintir yang mulai bertanya-tanya: mungkinkah semua janji itu terwujud? Namun, suara-suara skeptis tenggelam dalam gegap gempita kemenangan.


Hingga mendekati hari pelantikan, langit yang tadinya cerah mulai mendung. Perlahan, topeng yang selama ini dikenakannya mulai retak. Bisik-bisik di balik dinding kantor pemerintahan makin nyaring.

Begitu ditetapkan sebagai pemenang oleh komisi berwenang, gubernur tak menunggu lama. Ia segera mengeluarkan maklumat: pelantikannya harus berlangsung megah.

Ia ingin panggung besar, iring-iringan meriah, dan ribuan relawan yang datang untuk menyaksikan momen bersejarah itu.

Baca Juga :  Hanya Kepala Daerah yang Tak Terikat Utang Budi Bisa Selesaikan Polemik Perusahaan Sawit

Para bawahannya segera bergerak. Anggaran disusun, proposal diajukan. Namun, ada satu masalah: kas pemerintah tak cukup menanggung kemewahan yang diinginkannya. Maka, jalan pintas pun ditempuh.


Sejumlah pengusaha, pemilik bank, dan manajer perusahaan besar dipanggil diam-diam. Mereka diancam, ditekan, dan dipaksa menyetor “sumbangan sukarela”.

Uang mengalir, tapi tak semuanya dipakai untuk acara pelantikan. Sebagian besar justru dialokasikan untuk hal lain—menutupi utang kampanye, membiayai perjalanan ke luar negeri, hingga berpesta bersama lingkaran terdekatnya.

Comment