Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Jumat, 02 Januari 2026 |
KALBARONLINE.com – Puasa Ramadhan maupun puasa sunah memang sangat dianjurkan dan memiliki banyak manfaat. Namun bagi penderita diabetes, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ada kesiapan fisik, pengelolaan gula darah, serta pemahaman kondisi tubuh yang harus benar-benar diperhatikan.
Menyikapi hal itu, RSUD Sultan Syarif Muhammad Abdurrahman (SSMA) Kota Pontianak memberikan edukasi penting mengenai stratifikasi risiko puasa bagi penderita diabetes sebelum memutuskan untuk berpuasa, Jumat (2/1/2026).
Edukator Ns. Siti Rahima Harahap, S.Kep menjelaskan, stratifikasi risiko puasa adalah proses pengelompokan pasien diabetes berdasarkan tingkat risiko yang mungkin muncul selama menjalankan puasa.
“Secara umum, pasien diabetes dibagi ke dalam beberapa kategori risiko, yaitu risiko tinggi, risiko sedang, dan risiko rendah,” ungkapnya.
Menurutnya, kelompok risiko tinggi adalah pasien dengan skor lebih dari 6. Biasanya mereka memiliki gula darah yang belum terkontrol, sering mengalami hipoglikemia berat, memiliki komplikasi berat, atau menggunakan insulin campuran multipel harian. Pada kategori ini, sebaiknya pasien tidak menjalankan puasa.
Sementara untuk skor 3,5 – 6 masuk kategori risiko sedang. Kelompok ini biasanya memiliki gula darah yang kurang stabil, menderita komplikasi tertentu, rentan mengalami hipoglikemia, serta menggunakan obat yang dapat menurunkan gula darah secara drastis. Pada kondisi ini, puasa masih berisiko dan disarankan untuk tidak dilakukan.
“Namun, apabila diabetesi dengan kategori risiko tinggi dan sedang tetap memutuskan untuk berpuasa, maka perlu pengawasan ketat serta penyesuaian terapi oleh tenaga kesehatan,” tegasnya.
Adapun pasien dengan risiko rendah atau skor 0–3, umumnya memiliki kontrol gula darah yang baik, memahami cara pemantauan gula darah mandiri, patuh pada pengobatan, serta menjaga pola makan. Pada kelompok ini, pasien dinilai masih dapat berpuasa.
“Dengan mengetahui stratifikasi risiko puasa, membantu pasien diabetes untuk mengambil keputusan yang bijak dengan mempertimbangkan keselamatan diri,” pungkasnya. (Red)
KALBARONLINE.com – Puasa Ramadhan maupun puasa sunah memang sangat dianjurkan dan memiliki banyak manfaat. Namun bagi penderita diabetes, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ada kesiapan fisik, pengelolaan gula darah, serta pemahaman kondisi tubuh yang harus benar-benar diperhatikan.
Menyikapi hal itu, RSUD Sultan Syarif Muhammad Abdurrahman (SSMA) Kota Pontianak memberikan edukasi penting mengenai stratifikasi risiko puasa bagi penderita diabetes sebelum memutuskan untuk berpuasa, Jumat (2/1/2026).
Edukator Ns. Siti Rahima Harahap, S.Kep menjelaskan, stratifikasi risiko puasa adalah proses pengelompokan pasien diabetes berdasarkan tingkat risiko yang mungkin muncul selama menjalankan puasa.
“Secara umum, pasien diabetes dibagi ke dalam beberapa kategori risiko, yaitu risiko tinggi, risiko sedang, dan risiko rendah,” ungkapnya.
Menurutnya, kelompok risiko tinggi adalah pasien dengan skor lebih dari 6. Biasanya mereka memiliki gula darah yang belum terkontrol, sering mengalami hipoglikemia berat, memiliki komplikasi berat, atau menggunakan insulin campuran multipel harian. Pada kategori ini, sebaiknya pasien tidak menjalankan puasa.
Sementara untuk skor 3,5 – 6 masuk kategori risiko sedang. Kelompok ini biasanya memiliki gula darah yang kurang stabil, menderita komplikasi tertentu, rentan mengalami hipoglikemia, serta menggunakan obat yang dapat menurunkan gula darah secara drastis. Pada kondisi ini, puasa masih berisiko dan disarankan untuk tidak dilakukan.
“Namun, apabila diabetesi dengan kategori risiko tinggi dan sedang tetap memutuskan untuk berpuasa, maka perlu pengawasan ketat serta penyesuaian terapi oleh tenaga kesehatan,” tegasnya.
Adapun pasien dengan risiko rendah atau skor 0–3, umumnya memiliki kontrol gula darah yang baik, memahami cara pemantauan gula darah mandiri, patuh pada pengobatan, serta menjaga pola makan. Pada kelompok ini, pasien dinilai masih dapat berpuasa.
“Dengan mengetahui stratifikasi risiko puasa, membantu pasien diabetes untuk mengambil keputusan yang bijak dengan mempertimbangkan keselamatan diri,” pungkasnya. (Red)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini