Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Kamis, 12 Februari 2026 |
KALBARONLINE.com - Di tengah kunjungan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana ke Kalimantan Barat, temuan ulat pada salah satu omprengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, menjadi sorotan.
Peristiwa ini dinilai sebagai tamparan keras terhadap pengelolaan dapur penyedia makanan MBG yang seharusnya menjamin mutu dan keamanan konsumsi siswa.
Temuan tersebut terjadi pada Rabu (11/02/2026), dan pertama kali diketahui dari laporan internal pihak sekolah setelah ditemukan kejanggalan pada makanan yang dibagikan kepada siswa. Salah seorang guru membenarkan adanya temuan ulat pada lauk ayam yang menjadi menu utama hari itu.
“Iya benar, itu dari ayam. Ada ditemukan ulat,” ujarnya saat dikonfirmasi, seraya meminta identitasnya tidak dipublikasikan demi menjaga kenyamanan pihak sekolah.
Menindaklanjuti laporan tersebut, para tenaga pengajar langsung melakukan pengecekan terhadap makanan yang telah disiapkan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan konsumsi bagi para siswa serta mencegah risiko yang lebih luas terhadap kesehatan peserta didik.
Kejadian ini pun memicu kekhawatiran di kalangan orang tua siswa. Mereka mendesak agar pengawasan terhadap kualitas bahan baku, proses pengolahan, hingga pendistribusian menu Program Makan Bergizi Gratis diperketat agar kasus serupa tidak terulang.
Sementara itu, Kepala Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Ahmad Muhdor dari dapur Kyra Catering membenarkan adanya laporan tersebut. Namun ia menegaskan, bahwa temuan ayam berulat hanya terjadi pada satu omprengan dari ribuan porsi yang disiapkan.
“Semua relawan makan ayam goreng. Tiba-tiba sekitar jam 10 ada laporan masuk. Padahal sekitar 90 siswa itu suka dan tidak ada keluhan. Saya datang ke sekolah, guru-guru bilang tidak ada masalah, aman. Kami cuma diinformasikan saja. Waktu saya datang, barang itu tidak ada. Memang laporannya ada. Tiba-tiba tengah malam sekolah kirim video ayam berulat ke grup, nah itu otomatis videonya tersebar,” tuturnya.
Dirinya mengklaim, setelah dilakukan pengecekan, ayam yang ada dalam video tersebut berbeda dengan ayam yang disediakan oleh pihaknya.
“Pas saya cek ke sana, ayamnya beda dengan ayam kami. Entah ada yang iseng atau bagaimana. Benda (omprengan yang ada ulat) itu cuma satu saja dari sekitar 2.500 omprengan. Kalau lebih dari dua omprengan mungkin masih bisa disebut kejadian, itupun kurang dari lima jam, karena kami masak jam 3 dan temuan itu jam 10,” tambahnya. (Sans)
KALBARONLINE.com - Di tengah kunjungan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana ke Kalimantan Barat, temuan ulat pada salah satu omprengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, menjadi sorotan.
Peristiwa ini dinilai sebagai tamparan keras terhadap pengelolaan dapur penyedia makanan MBG yang seharusnya menjamin mutu dan keamanan konsumsi siswa.
Temuan tersebut terjadi pada Rabu (11/02/2026), dan pertama kali diketahui dari laporan internal pihak sekolah setelah ditemukan kejanggalan pada makanan yang dibagikan kepada siswa. Salah seorang guru membenarkan adanya temuan ulat pada lauk ayam yang menjadi menu utama hari itu.
“Iya benar, itu dari ayam. Ada ditemukan ulat,” ujarnya saat dikonfirmasi, seraya meminta identitasnya tidak dipublikasikan demi menjaga kenyamanan pihak sekolah.
Menindaklanjuti laporan tersebut, para tenaga pengajar langsung melakukan pengecekan terhadap makanan yang telah disiapkan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan konsumsi bagi para siswa serta mencegah risiko yang lebih luas terhadap kesehatan peserta didik.
Kejadian ini pun memicu kekhawatiran di kalangan orang tua siswa. Mereka mendesak agar pengawasan terhadap kualitas bahan baku, proses pengolahan, hingga pendistribusian menu Program Makan Bergizi Gratis diperketat agar kasus serupa tidak terulang.
Sementara itu, Kepala Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Ahmad Muhdor dari dapur Kyra Catering membenarkan adanya laporan tersebut. Namun ia menegaskan, bahwa temuan ayam berulat hanya terjadi pada satu omprengan dari ribuan porsi yang disiapkan.
“Semua relawan makan ayam goreng. Tiba-tiba sekitar jam 10 ada laporan masuk. Padahal sekitar 90 siswa itu suka dan tidak ada keluhan. Saya datang ke sekolah, guru-guru bilang tidak ada masalah, aman. Kami cuma diinformasikan saja. Waktu saya datang, barang itu tidak ada. Memang laporannya ada. Tiba-tiba tengah malam sekolah kirim video ayam berulat ke grup, nah itu otomatis videonya tersebar,” tuturnya.
Dirinya mengklaim, setelah dilakukan pengecekan, ayam yang ada dalam video tersebut berbeda dengan ayam yang disediakan oleh pihaknya.
“Pas saya cek ke sana, ayamnya beda dengan ayam kami. Entah ada yang iseng atau bagaimana. Benda (omprengan yang ada ulat) itu cuma satu saja dari sekitar 2.500 omprengan. Kalau lebih dari dua omprengan mungkin masih bisa disebut kejadian, itupun kurang dari lima jam, karena kami masak jam 3 dan temuan itu jam 10,” tambahnya. (Sans)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini