Pontianak    

Ahmad Sofian: Meriam Karbit Tak Terpisahkan dari Sejarah dan Identitas Kota Pontianak

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Minggu, 01 Maret 2026
Ahmad Sofian: Meriam Karbit Tak Terpisahkan dari Sejarah dan Identitas Kota Pontianak
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com - Pegiat sejarah Ahmad Sofian menegaskan bahwa tradisi Meriam Karbit tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Kota Pontianak, khususnya masyarakat yang bermukim di tepian Sungai Kapuas.

Hal itu ia sampaikan dalam Talk Show Budaya Dua Tradisi Satu Kota “Harmoni Cap Go Meh dan Meriam Karbit di Bulan Ramadan di Kota Pontianak” yang diinisiasi Borneo Journalist Hub di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Sabtu (28/02/2026).

Menurut Ahmad Sofian, Meriam Karbit merupakan tradisi yang melalui proses panjang dan tidak bisa hanya dilihat dari bentuknya saat ini yang besar dan menggelegar.

“Sejarah Meriam Karbit tidak akan terpisah dari sejarah panjang keberadaan Kota Pontianak, khususnya masyarakat tepian Sungai Kapuas. Sebagai tradisi, prosesnya panjang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada masa awal, masyarakat menggunakan batang kelapa sebagai bahan dasar meriam. Seiring waktu dan ketersediaan kayu yang melimpah pada era logging, bahan pembuatan meriam pun berkembang.

Selain sebagai hiburan, Meriam Karbit juga memiliki fungsi sosial, mulai dari sarana komunikasi hingga penanda waktu berbuka puasa dan Hari Raya.

Ahmad Sofian menilai, tradisi ini sarat kearifan lokal, terutama dalam cara masyarakat menjaga keberlanjutan bahan bakunya.

Salah satu contoh konkret adalah cara penyimpanan batang meriam yang direndam di parit atau tepian Sungai Kapuas agar lebih tahan lama. Menurutnya, satu batang meriam bisa bertahan antara tiga hingga enam tahun, bahkan lebih.

“Perlu kajian lebih lanjut, apa yang terkandung di parit atau tepian sungai itu sehingga batang meriam bisa lebih tahan dibandingkan jika tidak direndam,” katanya.

Ia menambahkan, dalam buku yang pernah ditulisnya tentang Meriam Karbit, terdapat pesan tentang keberlanjutan dan transfer pengetahuan dari generasi tua kepada generasi berikutnya, mulai dari cara membuat, merawat, hingga memainkan meriam.

“Ini ada nilai generositas dan keberlanjutan. Cara memelihara, cara membuat, cara memainkan, semuanya diwariskan,” jelasnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa masyarakat tepian sungai dan pemerintah kota memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga tradisi tersebut sebagai identitas penting Kota Pontianak.

Terkait momentum Meriam Karbit yang berdekatan dengan perayaan Cap Go Meh, Ahmad Sofian menilai hal tersebut justru menjadi kekuatan sosial dan kultural bagi Pontianak.

“Ini menjadi modal sosial dan modal kultural Kota Pontianak. Kota ini beragam dengan tradisi yang berkembang dan harus dijaga bersama, saling melengkapi, saling menghormati,” katanya.

Menurutnya, harmonisasi dua tradisi besar ini memperlihatkan wajah Pontianak sebagai kota multikultural yang matang dalam menjaga keberagaman.

Dari sisi teknis, ia menyebut proses pembuatan Meriam Karbit pada dasarnya masih sama seperti dahulu. Perubahan hanya terjadi pada penggunaan alat yang lebih modern.

“Kalau dulu membelah batang menggunakan gergaji manual, sekarang sudah ada senso (chainsaw) sehingga lebih cepat. Selebihnya sama, mulai dari menukil batang, mengangkat dari parit, menyatukan dua bagian, menguras, hingga menyulutnya,” ujarnya.

Kesamaan proses tersebut, menurutnya, penting untuk terus diajarkan kepada generasi muda sebagai bagian dari transfer pengetahuan lokal.

Ahmad Sofian juga memberikan masukan kepada Pemerintah Kota Pontianak agar penilaian dalam festival Meriam Karbit tidak hanya berfokus pada dentuman terbaik.

Ia mengusulkan adanya kategori tambahan untuk menjaga keberlanjutan tradisi, seperti tim terbaik dalam proses pengangkatan batang meriam dari sungai, batang meriam tertua yang masih digunakan, proses perawatan terbaik, hingga indikator keterlibatan anak-anak dalam pembuatan dan permainan meriam.

"Ini bisa menjadi trigger untuk meningkatkan semangat masyarakat menjaga dan melestarikan Meriam Karbit,” ujarnya.

Ia memastikan bahwa hingga kini regenerasi masih berjalan. Anak-anak dan generasi muda masih terlibat dalam proses pembuatan dan permainan meriam, meski tetap perlu dorongan agar tradisi tersebut terus hidup.

Bagi Ahmad Sofian, Meriam Karbit bukan sekadar dentuman, melainkan simbol identitas, kearifan lokal, dan harmoni sosial yang harus dijaga lintas generasi. (Lid)

Artikel Selanjutnya
Zulfydar Dorong Harmonisasi Cap Go Meh dan Meriam Karbit Jadi Ikon Baru Pontianak
Minggu, 01 Maret 2026
Artikel Sebelumnya
Zulfydar Dorong Harmonisasi Cap Go Meh dan Meriam Karbit Jadi Ikon Baru Pontianak
Minggu, 01 Maret 2026

Berita terkait