Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Tuesday, 16 June 2026 |
KALBARONLINE.com – Memilih program studi menjadi salah satu keputusan penting bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, tak sedikit calon mahasiswa yang masih bingung menentukan jurusan karena belum memahami minat, bakat, maupun prospek karier yang ingin diraih di masa depan.
Bagi lulusan SMA/sederajat yang tertarik pada bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang, Politeknik Agraria Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) bisa menjadi salah satu pilihan. Perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) ini menawarkan empat program studi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia di bidang pertanahan, pengukuran dan pemetaan, tata ruang, hingga pengelolaan administrasi pertanahan.
Salah satu program studi yang tersedia adalah Sarjana Terapan Survei dan Pemetaan Informasi Pertanahan (SPIP). Prodi ini cocok bagi calon taruna yang memiliki minat pada bidang pengukuran, pemetaan, teknologi geospasial, serta kemampuan analitis yang kuat. Selama perkuliahan, mahasiswa akan mempelajari teknik pengukuran tanah, pengolahan data spasial, pemetaan digital, Sistem Informasi Geografis (SIG), fotogrametri, hingga penyajian informasi pertanahan berbasis teknologi.
Taruna SPIP, Dandi Resando, mengaku tertarik memilih program studi tersebut karena memadukan aktivitas lapangan dengan pemanfaatan teknologi modern.
“Kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga terjun langsung melakukan pengukuran dan pemetaan di lapangan. Saya tertarik dengan penggunaan teknologi geospasial yang terus berkembang dan memiliki peran penting dalam pembangunan serta pengelolaan pertanahan,” katanya.
Selain SPIP, Politeknik Agraria STPN juga memiliki Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan (MPRP). Program studi ini cocok bagi calon mahasiswa yang tertarik pada perencanaan wilayah, tata ruang, kebijakan publik, pelayanan pertanahan, serta pengelolaan data dan administrasi.
Mahasiswa MPRP akan mempelajari berbagai aspek penataan ruang, pengelolaan pertanahan, pelayanan pertanahan berbasis elektronik, hingga analisis kebijakan di bidang agraria dan tata ruang.
Ayu Hanan Mutia memilih prodi ini karena ketertarikannya terhadap proses perencanaan dan pengembangan wilayah.
“Saya melihat masih banyak persoalan tata ruang di daerah, misalnya kawasan industri yang berdekatan dengan permukiman atau pemanfaatan ruang yang belum sesuai. Karena itulah saya tertarik mempelajari bagaimana perencanaan tata ruang bisa mendukung pembangunan yang lebih baik,” ungkapnya.
Program studi berikutnya adalah Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah (KMPT). Prodi ini lebih berfokus pada pelayanan publik, administrasi pertanahan, pengelolaan data, serta pemanfaatan teknologi dalam layanan pemerintahan.
Mahasiswa KMPT akan mendalami sistem pendaftaran tanah, manajemen data pertanahan, pelayanan pertanahan berbasis elektronik, kebijakan pertanahan, hingga tata kelola administrasi modern.
Rizaldi Secondia Putra mengaku memilih program studi ini karena tertarik pada aspek hukum dan regulasi pertanahan.
“Saya lebih tertarik pada aspek hukum dan kebijakan pertanahan dibandingkan perhitungan teknis. Di prodi KMPT saya belajar memahami proses pendaftaran tanah, dan bagaimana kebijakan pertanahan dapat memberikan kepastian hukum dan perlindungan hak bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Program Studi Sarjana Terapan Pertanahan menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang memiliki minat pada hukum agraria, penyelesaian sengketa tanah, pengadaan tanah untuk pembangunan, pengendalian pemanfaatan ruang, serta kebijakan pertanahan.
Program studi ini menawarkan cakupan pembelajaran yang lebih luas sehingga mahasiswa memperoleh pemahaman komprehensif mengenai berbagai aspek penyelenggaraan pertanahan.
Taruni asal Kabupaten Karangasem, Bali, Ni Putu Arista Pradnyaswari, mengaku tertarik memilih prodi Pertanahan karena sesuai dengan karakternya yang menyukai aktivitas lapangan dan tantangan baru.
“Saya suka mencoba hal baru dan senang kegiatan di alam. Ketika mencari informasi tentang Politeknik Agraria STPN, saya melihat banyak kegiatan praktik lapangan dan kesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat,” tuturnya.
Pada Seleksi Penerimaan Taruna Baru Tahun Ajaran 2026/2027, Politeknik Agraria STPN menyediakan kuota sebanyak 350 calon taruna yang terbagi dalam tiga jalur seleksi. Jalur umum tersedia untuk 260 peserta, jalur tugas belajar atau PNS sebanyak 60 peserta, serta jalur kerja sama pemerintah daerah sebanyak 30 peserta.
Dengan pilihan program studi yang semakin beragam dan spesifik, calon taruna memiliki kesempatan untuk memilih bidang pendidikan yang sesuai dengan minat, bakat, dan tujuan karier mereka di masa depan. (*)
KALBARONLINE.com – Memilih program studi menjadi salah satu keputusan penting bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, tak sedikit calon mahasiswa yang masih bingung menentukan jurusan karena belum memahami minat, bakat, maupun prospek karier yang ingin diraih di masa depan.
Bagi lulusan SMA/sederajat yang tertarik pada bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang, Politeknik Agraria Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) bisa menjadi salah satu pilihan. Perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) ini menawarkan empat program studi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia di bidang pertanahan, pengukuran dan pemetaan, tata ruang, hingga pengelolaan administrasi pertanahan.
Salah satu program studi yang tersedia adalah Sarjana Terapan Survei dan Pemetaan Informasi Pertanahan (SPIP). Prodi ini cocok bagi calon taruna yang memiliki minat pada bidang pengukuran, pemetaan, teknologi geospasial, serta kemampuan analitis yang kuat. Selama perkuliahan, mahasiswa akan mempelajari teknik pengukuran tanah, pengolahan data spasial, pemetaan digital, Sistem Informasi Geografis (SIG), fotogrametri, hingga penyajian informasi pertanahan berbasis teknologi.
Taruna SPIP, Dandi Resando, mengaku tertarik memilih program studi tersebut karena memadukan aktivitas lapangan dengan pemanfaatan teknologi modern.
“Kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga terjun langsung melakukan pengukuran dan pemetaan di lapangan. Saya tertarik dengan penggunaan teknologi geospasial yang terus berkembang dan memiliki peran penting dalam pembangunan serta pengelolaan pertanahan,” katanya.
Selain SPIP, Politeknik Agraria STPN juga memiliki Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan (MPRP). Program studi ini cocok bagi calon mahasiswa yang tertarik pada perencanaan wilayah, tata ruang, kebijakan publik, pelayanan pertanahan, serta pengelolaan data dan administrasi.
Mahasiswa MPRP akan mempelajari berbagai aspek penataan ruang, pengelolaan pertanahan, pelayanan pertanahan berbasis elektronik, hingga analisis kebijakan di bidang agraria dan tata ruang.
Ayu Hanan Mutia memilih prodi ini karena ketertarikannya terhadap proses perencanaan dan pengembangan wilayah.
“Saya melihat masih banyak persoalan tata ruang di daerah, misalnya kawasan industri yang berdekatan dengan permukiman atau pemanfaatan ruang yang belum sesuai. Karena itulah saya tertarik mempelajari bagaimana perencanaan tata ruang bisa mendukung pembangunan yang lebih baik,” ungkapnya.
Program studi berikutnya adalah Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah (KMPT). Prodi ini lebih berfokus pada pelayanan publik, administrasi pertanahan, pengelolaan data, serta pemanfaatan teknologi dalam layanan pemerintahan.
Mahasiswa KMPT akan mendalami sistem pendaftaran tanah, manajemen data pertanahan, pelayanan pertanahan berbasis elektronik, kebijakan pertanahan, hingga tata kelola administrasi modern.
Rizaldi Secondia Putra mengaku memilih program studi ini karena tertarik pada aspek hukum dan regulasi pertanahan.
“Saya lebih tertarik pada aspek hukum dan kebijakan pertanahan dibandingkan perhitungan teknis. Di prodi KMPT saya belajar memahami proses pendaftaran tanah, dan bagaimana kebijakan pertanahan dapat memberikan kepastian hukum dan perlindungan hak bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Program Studi Sarjana Terapan Pertanahan menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang memiliki minat pada hukum agraria, penyelesaian sengketa tanah, pengadaan tanah untuk pembangunan, pengendalian pemanfaatan ruang, serta kebijakan pertanahan.
Program studi ini menawarkan cakupan pembelajaran yang lebih luas sehingga mahasiswa memperoleh pemahaman komprehensif mengenai berbagai aspek penyelenggaraan pertanahan.
Taruni asal Kabupaten Karangasem, Bali, Ni Putu Arista Pradnyaswari, mengaku tertarik memilih prodi Pertanahan karena sesuai dengan karakternya yang menyukai aktivitas lapangan dan tantangan baru.
“Saya suka mencoba hal baru dan senang kegiatan di alam. Ketika mencari informasi tentang Politeknik Agraria STPN, saya melihat banyak kegiatan praktik lapangan dan kesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat,” tuturnya.
Pada Seleksi Penerimaan Taruna Baru Tahun Ajaran 2026/2027, Politeknik Agraria STPN menyediakan kuota sebanyak 350 calon taruna yang terbagi dalam tiga jalur seleksi. Jalur umum tersedia untuk 260 peserta, jalur tugas belajar atau PNS sebanyak 60 peserta, serta jalur kerja sama pemerintah daerah sebanyak 30 peserta.
Dengan pilihan program studi yang semakin beragam dan spesifik, calon taruna memiliki kesempatan untuk memilih bidang pendidikan yang sesuai dengan minat, bakat, dan tujuan karier mereka di masa depan. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini