Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 29 June 2026 |
KALBARONLINE.com – Pemerintah Kota Pontianak mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi dampak fenomena El Nino dan musim kemarau, terutama untuk mencegah kekeringan, gagal panen, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan, perubahan cuaca yang tidak menentu harus direspons dengan langkah mitigasi sejak dini.
Edi mengatakan, informasi cuaca dan iklim yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi antisipasi.
"Ini khusus untuk mengantisipasi El Nino, kemarau, dan kondisi cuaca," ujarnya usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah serta Sosialisasi Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak Fenomena El Nino bersama Menteri Dalam Negeri, Senin (29/6/2026).
Berdasarkan informasi BMKG, puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026. Musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal, seiring adanya potensi fenomena El Nino.
BMKG juga memprediksi El Nino akan bertahan hingga awal 2027, dengan peluang mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Dampaknya di Indonesia diperkirakan akan mulai terasa saat memasuki puncak musim kemarau hingga pertengahan Oktober.
Menurut Edi, dampak El Nino tidak hanya memicu cuaca panas, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pertanian dan meningkatkan risiko terjadinya gagal panen.
"Perubahan cuaca yang tidak menentu ini bisa menyebabkan gagal panen, kemudian bencana alam. Kalau musim kemarau, pasti panas, dan panas bisa memicu kebakaran lahan," katanya.
Karena itu, Pemkot Pontianak mulai memperketat langkah pencegahan, khususnya di wilayah yang masih memiliki kawasan lahan gambut. Memasuki Juli, sosialisasi larangan membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar akan semakin ditingkatkan.
Edi juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim di lapangan menyiapkan posko siaga serta meningkatkan patroli di sejumlah wilayah yang rawan kebakaran lahan, seperti Kecamatan Pontianak Tenggara, Pontianak Selatan, dan Pontianak Utara.
"Saya minta posko tim BPBD melakukan patroli, terutama di Kecamatan Tenggara, Selatan, dan Utara yang masih ada lahan gambut," jelasnya.
Ia menilai kesiapsiagaan sejak dini menjadi langkah penting agar potensi kebakaran lahan dapat dicegah sebelum meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
Selain itu, Edi mengimbau masyarakat ikut berperan aktif menjaga lingkungan dengan tidak membuka lahan menggunakan api, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas pembakaran.
"Tim BPBD sudah siap. Yang penting mitigasi dilakukan dari sekarang," pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Pemerintah Kota Pontianak mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi dampak fenomena El Nino dan musim kemarau, terutama untuk mencegah kekeringan, gagal panen, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan, perubahan cuaca yang tidak menentu harus direspons dengan langkah mitigasi sejak dini.
Edi mengatakan, informasi cuaca dan iklim yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi antisipasi.
"Ini khusus untuk mengantisipasi El Nino, kemarau, dan kondisi cuaca," ujarnya usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah serta Sosialisasi Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak Fenomena El Nino bersama Menteri Dalam Negeri, Senin (29/6/2026).
Berdasarkan informasi BMKG, puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026. Musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal, seiring adanya potensi fenomena El Nino.
BMKG juga memprediksi El Nino akan bertahan hingga awal 2027, dengan peluang mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Dampaknya di Indonesia diperkirakan akan mulai terasa saat memasuki puncak musim kemarau hingga pertengahan Oktober.
Menurut Edi, dampak El Nino tidak hanya memicu cuaca panas, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pertanian dan meningkatkan risiko terjadinya gagal panen.
"Perubahan cuaca yang tidak menentu ini bisa menyebabkan gagal panen, kemudian bencana alam. Kalau musim kemarau, pasti panas, dan panas bisa memicu kebakaran lahan," katanya.
Karena itu, Pemkot Pontianak mulai memperketat langkah pencegahan, khususnya di wilayah yang masih memiliki kawasan lahan gambut. Memasuki Juli, sosialisasi larangan membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar akan semakin ditingkatkan.
Edi juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim di lapangan menyiapkan posko siaga serta meningkatkan patroli di sejumlah wilayah yang rawan kebakaran lahan, seperti Kecamatan Pontianak Tenggara, Pontianak Selatan, dan Pontianak Utara.
"Saya minta posko tim BPBD melakukan patroli, terutama di Kecamatan Tenggara, Selatan, dan Utara yang masih ada lahan gambut," jelasnya.
Ia menilai kesiapsiagaan sejak dini menjadi langkah penting agar potensi kebakaran lahan dapat dicegah sebelum meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
Selain itu, Edi mengimbau masyarakat ikut berperan aktif menjaga lingkungan dengan tidak membuka lahan menggunakan api, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas pembakaran.
"Tim BPBD sudah siap. Yang penting mitigasi dilakukan dari sekarang," pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini