Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 28 September 2026 |
KALBARONLINE.com – RSUD dr Soedarso Pontianak mencatat sejumlah kasus penyakit yang menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla dan kemarau panjang dalam beberapa pekan terakhir.
Direktur RSUD dr Soedarso, drg Hary Agung Tjahyadi, mengatakan berdasarkan pemantauan selama enam pekan, mulai minggu ke-32 pada 9 Agustus hingga minggu ke-37, belum terlihat lonjakan signifikan pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia maupun diare akut.
“Dari data kita lihat penyakit ISPA tidak begitu menunjukkan jumlah yang banyak ditangani di RS. Awalnya ada 19 kasus pada minggu ke-32, kemudian fluktuatif turun di minggu ke-37,” ujarnya.
Selama periode tersebut, RSUD dr Soedarso menangani sebanyak 66 kasus ISPA. Jumlah kasus per minggu berada pada kisaran dua hingga 19 kasus.
Menurut Hary, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa gangguan kesehatan akibat kualitas udara tidak terjadi. Sebab, terdapat kecenderungan pergeseran diagnosis dari ISPA ringan ke infeksi saluran pernapasan yang lebih berat, seperti pneumonia.
“Kalau kita lihat catatan epidemiologi, penurunan angka pencatatan ISPA mulai fase ISPU berbahaya sering dipengaruhi pergeseran diagnosis ke infeksi lebih berat, ke pneumonia,” jelasnya.
Sementara itu, kasus pneumonia yang ditangani RSUD dr Soedarso selama minggu ke-32 hingga minggu ke-37 mencapai sekitar 127 kasus. Jumlah tersebut berfluktuasi antara 17 hingga 25 kasus per minggu.
Hary menegaskan, tidak seluruh kasus pneumonia tersebut dapat dipastikan sebagai dampak langsung paparan polutan udara akibat karhutla. Namun, kondisi kualitas udara yang tidak sehat tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.
“Tidak semua pneumonia dipastikan itu dampak infeksi lanjut, misalnya karena polutan udara tidak sehat,” katanya.
Di sisi lain, RSUD dr Soedarso mulai mewaspadai peningkatan kasus diare akut yang dinilai berkaitan dengan terganggunya ketersediaan air bersih selama kemarau panjang.
Dalam periode yang sama, tercatat sekitar 138 kasus diare akut. Kasus tersebut menunjukkan kecenderungan meningkat pada minggu ke-36 hingga minggu ke-37.
“Ini harus menjadi kewaspadaan kasus diare akut. Karena asap dan kemarau panjang memicu kelangkaan pasokan air bersih pada masyarakat, dan air yang terkontaminasi bisa berujung pada lonjakan kasus diare akut,” ujarnya.
Hary mengatakan, persoalan kesehatan masyarakat saat ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara yang tidak sehat dan berbahaya, tetapi juga terganggunya akses terhadap air bersih.
Meski demikian, secara umum kondisi tiga penyakit tersebut masih dalam batas yang dapat ditangani RSUD dr Soedarso. Belum terdapat lonjakan kasus yang menyebabkan rumah sakit perlu menambah kapasitas tempat tidur khusus untuk menangani dampak karhutla maupun kemarau panjang.
“Kita belum melihat lonjakan kasus, sehingga belum ada tambahan bed dampak kasus karhutla dan kemarau. Dengan bed yang tersedia saat ini masih bisa memberikan pelayanan maksimal,” katanya.
Ia menambahkan, pasien dengan ISPA, pneumonia maupun diare yang membutuhkan rawat inap masih dapat ditangani dengan kapasitas yang tersedia. Sementara pasien pneumonia tertentu membutuhkan ruang isolasi karena termasuk penyakit infeksi.
Hary juga mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta dan sensitif terhadap kualitas udara, seperti asma dan penyakit jantung, diminta lebih waspada.
“Selama udara masih kategori tidak sehat dan berbahaya, saran untuk masyarakat terutama kelompok rentan untuk menjaga kesehatan,” ujarnya.
Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah serta menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat.
RSUD dr Soedarso, lanjut Hary, tetap meningkatkan kewaspadaan dan memastikan kesiapan pelayanan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien akibat kondisi udara maupun gangguan ketersediaan air bersih. (Lid)
KALBARONLINE.com – RSUD dr Soedarso Pontianak mencatat sejumlah kasus penyakit yang menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla dan kemarau panjang dalam beberapa pekan terakhir.
Direktur RSUD dr Soedarso, drg Hary Agung Tjahyadi, mengatakan berdasarkan pemantauan selama enam pekan, mulai minggu ke-32 pada 9 Agustus hingga minggu ke-37, belum terlihat lonjakan signifikan pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia maupun diare akut.
“Dari data kita lihat penyakit ISPA tidak begitu menunjukkan jumlah yang banyak ditangani di RS. Awalnya ada 19 kasus pada minggu ke-32, kemudian fluktuatif turun di minggu ke-37,” ujarnya.
Selama periode tersebut, RSUD dr Soedarso menangani sebanyak 66 kasus ISPA. Jumlah kasus per minggu berada pada kisaran dua hingga 19 kasus.
Menurut Hary, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa gangguan kesehatan akibat kualitas udara tidak terjadi. Sebab, terdapat kecenderungan pergeseran diagnosis dari ISPA ringan ke infeksi saluran pernapasan yang lebih berat, seperti pneumonia.
“Kalau kita lihat catatan epidemiologi, penurunan angka pencatatan ISPA mulai fase ISPU berbahaya sering dipengaruhi pergeseran diagnosis ke infeksi lebih berat, ke pneumonia,” jelasnya.
Sementara itu, kasus pneumonia yang ditangani RSUD dr Soedarso selama minggu ke-32 hingga minggu ke-37 mencapai sekitar 127 kasus. Jumlah tersebut berfluktuasi antara 17 hingga 25 kasus per minggu.
Hary menegaskan, tidak seluruh kasus pneumonia tersebut dapat dipastikan sebagai dampak langsung paparan polutan udara akibat karhutla. Namun, kondisi kualitas udara yang tidak sehat tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.
“Tidak semua pneumonia dipastikan itu dampak infeksi lanjut, misalnya karena polutan udara tidak sehat,” katanya.
Di sisi lain, RSUD dr Soedarso mulai mewaspadai peningkatan kasus diare akut yang dinilai berkaitan dengan terganggunya ketersediaan air bersih selama kemarau panjang.
Dalam periode yang sama, tercatat sekitar 138 kasus diare akut. Kasus tersebut menunjukkan kecenderungan meningkat pada minggu ke-36 hingga minggu ke-37.
“Ini harus menjadi kewaspadaan kasus diare akut. Karena asap dan kemarau panjang memicu kelangkaan pasokan air bersih pada masyarakat, dan air yang terkontaminasi bisa berujung pada lonjakan kasus diare akut,” ujarnya.
Hary mengatakan, persoalan kesehatan masyarakat saat ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara yang tidak sehat dan berbahaya, tetapi juga terganggunya akses terhadap air bersih.
Meski demikian, secara umum kondisi tiga penyakit tersebut masih dalam batas yang dapat ditangani RSUD dr Soedarso. Belum terdapat lonjakan kasus yang menyebabkan rumah sakit perlu menambah kapasitas tempat tidur khusus untuk menangani dampak karhutla maupun kemarau panjang.
“Kita belum melihat lonjakan kasus, sehingga belum ada tambahan bed dampak kasus karhutla dan kemarau. Dengan bed yang tersedia saat ini masih bisa memberikan pelayanan maksimal,” katanya.
Ia menambahkan, pasien dengan ISPA, pneumonia maupun diare yang membutuhkan rawat inap masih dapat ditangani dengan kapasitas yang tersedia. Sementara pasien pneumonia tertentu membutuhkan ruang isolasi karena termasuk penyakit infeksi.
Hary juga mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta dan sensitif terhadap kualitas udara, seperti asma dan penyakit jantung, diminta lebih waspada.
“Selama udara masih kategori tidak sehat dan berbahaya, saran untuk masyarakat terutama kelompok rentan untuk menjaga kesehatan,” ujarnya.
Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah serta menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat.
RSUD dr Soedarso, lanjut Hary, tetap meningkatkan kewaspadaan dan memastikan kesiapan pelayanan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien akibat kondisi udara maupun gangguan ketersediaan air bersih. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini