Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
ispa
Anak 6 Tahun di Kayong Utara Meninggal, Keluarga Duga Terkait ISPA di Tengah Kabut Asap
Anak 6 Tahun di Kayong Utara Meninggal, Keluarga Duga Terkait ISPA di Tengah Kabut Asap
Thursday, 15/10/2026

KALBARONLINE.com – Seorang anak berusia 6 tahun di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Peristiwa ini menjadi sorotan di tengah kondisi kabut asap yang dilaporkan semakin pekat di wilayah tersebut.

Kabar duka itu disampaikan paman korban, Miftahus, pada Rabu (14/10/2026). Ia mengungkapkan kesedihan sekaligus kekecewaannya terhadap kondisi kabut asap dan meminta pemerintah mengambil langkah nyata untuk melindungi masyarakat.

“Nunggu korban berapa orang lagi, baru kau bilang ini bencana nasional. Asap kabutnya makin parah. Ini ponakan aku meninggal hari ini gara-gara infeksi paru-paru. Kabut asap makin parah. Ayolah pemerintah, ayolah, gimana nih cara ngatasin ini. Minimal ada vitamin lah untuk masyarakat,” ujar Miftahus.

Ia berharap tidak ada lagi korban jiwa akibat gangguan pernapasan di tengah kondisi kabut asap yang semakin memburuk.

“Dan jangan sampai ada korban lagi, ini ponakan aku sendiri kena korban meninggal gara-gara infeksi paru-paru. Oke, buat orang yang di atas tolonglah, jangan anggap remeh,” tambahnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai peristiwa tersebut pada Kamis (15/10/2026), pihak Humas RS Jamaludin I Sukadana belum memberikan keterangan terperinci. Pihak rumah sakit menyatakan masih melakukan koordinasi internal.

“Siap bang, nanti akan kami kabari setelah konfirmasi ke pelayanan ya,” ujar Humas RS Jamaludin I Sukadana saat dihubungi.

Kondisi kabut asap di Kabupaten Kayong Utara dan sekitarnya belakangan ini dilaporkan semakin pekat. Situasi tersebut memicu kekhawatiran warga terhadap dampak paparan asap, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Warga berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret untuk menangani kabut asap dan melindungi kesehatan masyarakat.

Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan medis yang memastikan hubungan langsung antara paparan kabut asap dan penyebab kematian anak tersebut. (Sans)

Asap Masih Kepung Ketapang, ISPU Bertahan di Level Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya
Asap Masih Kepung Ketapang, ISPU Bertahan di Level Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya
Sunday, 11/10/2026

KALBARONLINE.com – Penurunan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, belum diikuti perbaikan kualitas udara. Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah, sementara Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dalam sepekan terakhir berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ketapang, Eko Harfiyanto, mengatakan kabut asap pekat masih terjadi pada waktu-waktu tertentu, terutama pada pagi hingga menjelang siang.

“Dari hasil pemantauan dalam satu pekan terakhir, kabut asap pekat dan tebal, terutama sekitar pukul 06.00 hingga 12.00 atau menjelang sore hari,” kata Eko, Minggu (11/10/2026).

Menurut Eko, kondisi kualitas udara tersebut perlu diwaspadai karena konsentrasi partikel halus PM2,5 berada pada tingkat yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

Ia menjelaskan, partikel PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.

“Ini sangat mengganggu kesehatan karena partikel yang kecil, 2,5 mikron itu bisa langsung masuk ke paru-paru dan mengendap yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan, salah satunya ISPA,” ujarnya.

Eko menegaskan, kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya tidak mendukung aktivitas di luar ruangan. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan meskipun aktivitas kebakaran dilaporkan mulai menurun.

Terkait penanganan kabut asap, DLH Ketapang terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Hasil pemantauan kualitas udara akan menjadi bahan pembahasan dan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.

Eko menyebutkan, penanganan karhutla berada di bawah komando Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Evaluasi lanjutan, termasuk kemungkinan penyesuaian status kedaruratan, akan mengikuti hasil pembahasan bersama pihak terkait.

“Karena komando penanganan karhutla itu ada di BPBD, mungkin nanti ada pembahasan secara khusus. Apakah ada evaluasi di minggu ini, kita tunggu saja. Biasanya kalau sudah meningkat eskalasinya akan ada rapat pembahasan, nanti akan berpengaruh pada status kedaruratannya seperti apa,” jelasnya.

Di tengah kondisi udara yang belum membaik, Eko mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama saat kabut asap sedang pekat. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan masker sebagai langkah perlindungan.

Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap dampak paparan asap, khususnya partikel halus yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan. (Adi LC)

RSUD Soedarso Catat 66 Kasus ISPA dan 127 Pneumonia Selama Enam Pekan, Diare Akut Mulai Meningkat
RSUD Soedarso Catat 66 Kasus ISPA dan 127 Pneumonia Selama Enam Pekan, Diare Akut Mulai Meningkat
Monday, 28/09/2026

KALBARONLINE.com – RSUD dr Soedarso Pontianak mencatat sejumlah kasus penyakit yang menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla dan kemarau panjang dalam beberapa pekan terakhir.

Direktur RSUD dr Soedarso, drg Hary Agung Tjahyadi, mengatakan berdasarkan pemantauan selama enam pekan, mulai minggu ke-32 pada 9 Agustus hingga minggu ke-37, belum terlihat lonjakan signifikan pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia maupun diare akut.

“Dari data kita lihat penyakit ISPA tidak begitu menunjukkan jumlah yang banyak ditangani di RS. Awalnya ada 19 kasus pada minggu ke-32, kemudian fluktuatif turun di minggu ke-37,” ujarnya.

Selama periode tersebut, RSUD dr Soedarso menangani sebanyak 66 kasus ISPA. Jumlah kasus per minggu berada pada kisaran dua hingga 19 kasus.

Menurut Hary, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa gangguan kesehatan akibat kualitas udara tidak terjadi. Sebab, terdapat kecenderungan pergeseran diagnosis dari ISPA ringan ke infeksi saluran pernapasan yang lebih berat, seperti pneumonia.

“Kalau kita lihat catatan epidemiologi, penurunan angka pencatatan ISPA mulai fase ISPU berbahaya sering dipengaruhi pergeseran diagnosis ke infeksi lebih berat, ke pneumonia,” jelasnya.

Sementara itu, kasus pneumonia yang ditangani RSUD dr Soedarso selama minggu ke-32 hingga minggu ke-37 mencapai sekitar 127 kasus. Jumlah tersebut berfluktuasi antara 17 hingga 25 kasus per minggu.

Hary menegaskan, tidak seluruh kasus pneumonia tersebut dapat dipastikan sebagai dampak langsung paparan polutan udara akibat karhutla. Namun, kondisi kualitas udara yang tidak sehat tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.

“Tidak semua pneumonia dipastikan itu dampak infeksi lanjut, misalnya karena polutan udara tidak sehat,” katanya.

Di sisi lain, RSUD dr Soedarso mulai mewaspadai peningkatan kasus diare akut yang dinilai berkaitan dengan terganggunya ketersediaan air bersih selama kemarau panjang.

Dalam periode yang sama, tercatat sekitar 138 kasus diare akut. Kasus tersebut menunjukkan kecenderungan meningkat pada minggu ke-36 hingga minggu ke-37.

“Ini harus menjadi kewaspadaan kasus diare akut. Karena asap dan kemarau panjang memicu kelangkaan pasokan air bersih pada masyarakat, dan air yang terkontaminasi bisa berujung pada lonjakan kasus diare akut,” ujarnya.

Hary mengatakan, persoalan kesehatan masyarakat saat ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara yang tidak sehat dan berbahaya, tetapi juga terganggunya akses terhadap air bersih.

Meski demikian, secara umum kondisi tiga penyakit tersebut masih dalam batas yang dapat ditangani RSUD dr Soedarso. Belum terdapat lonjakan kasus yang menyebabkan rumah sakit perlu menambah kapasitas tempat tidur khusus untuk menangani dampak karhutla maupun kemarau panjang.

“Kita belum melihat lonjakan kasus, sehingga belum ada tambahan bed dampak kasus karhutla dan kemarau. Dengan bed yang tersedia saat ini masih bisa memberikan pelayanan maksimal,” katanya.

Ia menambahkan, pasien dengan ISPA, pneumonia maupun diare yang membutuhkan rawat inap masih dapat ditangani dengan kapasitas yang tersedia. Sementara pasien pneumonia tertentu membutuhkan ruang isolasi karena termasuk penyakit infeksi.

Hary juga mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta dan sensitif terhadap kualitas udara, seperti asma dan penyakit jantung, diminta lebih waspada.

“Selama udara masih kategori tidak sehat dan berbahaya, saran untuk masyarakat terutama kelompok rentan untuk menjaga kesehatan,” ujarnya.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah serta menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat.

RSUD dr Soedarso, lanjut Hary, tetap meningkatkan kewaspadaan dan memastikan kesiapan pelayanan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien akibat kondisi udara maupun gangguan ketersediaan air bersih. (Lid)

Kualitas Udara Kayong Utara Masuk Kategori Berbahaya, Kasus ISPA Capai 1.146
Kualitas Udara Kayong Utara Masuk Kategori Berbahaya, Kasus ISPA Capai 1.146
Saturday, 19/09/2026

KALBARONLINE.com – Kualitas udara di Kabupaten Kayong Utara memburuk hingga masuk kategori berbahaya. Berdasarkan data Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Kayong Utara per Sabtu (19/9/2026), indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di dalam maupun luar ruangan pada seluruh wilayah kerja Puskesmas telah mencapai angka 300.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara yang memburuk dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak.

Data rekapitulasi Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Kayong Utara mencatat 287 balita berusia 0 hingga kurang dari 5 tahun dan 217 anak usia 5 hingga 9 tahun mengalami ISPA sepanjang Agustus 2026. Angka tersebut merupakan bagian dari total 1.312 kasus ISPA pada seluruh kelompok usia.

Sementara pada September 2026 hingga Sabtu (19/9), tercatat 205 balita dan 116 anak usia 5 hingga 9 tahun mengalami ISPA dari total 1.146 kasus pada seluruh kelompok usia.

Tiga Puskesmas dengan jumlah kasus ISPA tertinggi yakni Puskesmas Teluk Batang sebanyak 230 kasus, Puskesmas Teluk Melano 209 kasus, dan Puskesmas Sukadana 159 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Kayong Utara dr. Maria Fransisca mengatakan pemantauan perkembangan kasus kesehatan dan kualitas udara akan terus dilakukan secara berkala.

“Ini tiap hari akan kami update,” kata Maria Fransisca, Sabtu (19/9/2026).

Selain kasus ISPA, Dinas Kesehatan dan KB Kayong Utara juga mencatat 123 kasus diare sepanjang 1 hingga 19 September 2026. Kasus terbanyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Teluk Melano sebanyak 41 kasus, Puskesmas Sukadana 21 kasus, dan Puskesmas Telaga Arum 19 kasus.

Di tengah kondisi udara yang memburuk, masyarakat diimbau menjaga kesehatan dengan menggunakan masker saat beraktivitas, mengurangi kegiatan di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gangguan kesehatan. (Sans)

ISPA Naik di 9 Daerah, Kalbar Siapkan 35 Rumah Oksigen Hadapi Dampak Kabut Asap
ISPA Naik di 9 Daerah, Kalbar Siapkan 35 Rumah Oksigen Hadapi Dampak Kabut Asap
Saturday, 19/09/2026

KALBARONLINE.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyiapkan layanan oksigen untuk mengantisipasi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyusul peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sembilan kabupaten/kota.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar dr. Erna Yulianti mengatakan, dari sembilan daerah yang mengalami peningkatan kasus ISPA, tiga wilayah menjadi perhatian utama, yakni Kota Pontianak, Kabupaten Ketapang, dan Kabupaten Kubu Raya.

“Sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi dampak karhutla, kita sudah koordinasi dengan Dinas Kabupaten/Kota untuk memberikan layanan oksigen di fasyankes, terutama Puskesmas yang mudah diakses masyarakat,” kata Erna, Rabu (16/9/2026).

Saat ini terdapat 35 rumah oksigen yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Kalbar. Rinciannya, 10 rumah oksigen di Pontianak, 8 di Kapuas Hulu, 7 di Kubu Raya, 3 di Mempawah, 2 di Kayong Utara, 2 di Ketapang, serta masing-masing 1 di Landak, Sanggau, dan Sintang.

Erna mengatakan rumah oksigen tersebut merupakan fasilitas milik pemerintah maupun swasta, termasuk DPW Muhammadiyah Wilayah Kalbar dan AFA Foundation.

“Hal ini sebagai komitmen kita bersama pihak terkait dalam upaya membantu masyarakat yang membutuhkan layanan oksigen, khususnya mereka yang mengalami gangguan pernapasan akibat dampak kabut asap,” ujarnya.

Untuk fasilitas milik Pemprov Kalbar, dua rumah oksigen telah disiapkan di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar dan UPT Klinik Pratama Kantor Gubernur Kalbar.

Kedua fasilitas tersebut memiliki total 12 tempat tidur, terdiri dari 8 tempat tidur di Rumah Oksigen Dinkes Kalbar dan 4 tempat tidur di UPT Klinik Pratama.

Layanan di dua fasilitas tersebut mulai berjalan sejak 13 September 2026. Hingga 16 September, tercatat tiga pasien datang untuk mendapatkan penanganan karena mengalami sesak napas dan saturasi oksigen di bawah batas normal.

Selain menyiapkan rumah oksigen, Dinkes Kalbar juga berkoordinasi dengan seluruh Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk menyediakan layanan oksigen di Puskesmas yang mudah dijangkau masyarakat.

Erna mengimbau warga yang mengalami gangguan pernapasan segera mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

“Kepada masyarakat kita imbau untuk segera datang ke fasyankes jika mengalami gejala gangguan pernapasan, agar segera mendapat pemeriksaan dan penanganan medis,” katanya.

Di tengah kondisi udara yang masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya, masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak dan menggunakan masker saat keluar rumah.

Erna mengingatkan masyarakat tetap menjaga kondisi tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi, serta memperbanyak minum air putih selama kabut asap masih berlangsung. (Lid)

Asap Pekat Tingkatkan ISPU dan Kasus ISPA, Bupati Ketapang Imbau Warga Tak Lewat Jalan Pelang
Asap Pekat Tingkatkan ISPU dan Kasus ISPA, Bupati Ketapang Imbau Warga Tak Lewat Jalan Pelang
Wednesday, 02/09/2026

KALBARONLINE.com – Kondisi udara di Kabupaten Ketapang semakin memburuk akibat kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Pemerintah Kabupaten Ketapang mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, termasuk menghindari perjalanan melalui Jalan Pelang jika tidak memiliki keperluan mendesak.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ketapang mencatat nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 300 pada Rabu (2/9/2026) pukul 09.00 WIB.

Parameter kritis dalam pengukuran tersebut adalah PM2,5 dengan nilai 300, sedangkan PM10 tercatat 218. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.

Kondisi itu membuat pemerintah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. DLH mengimbau warga mengurangi paparan udara luar, membatasi aktivitas fisik dalam waktu lama di luar ruangan, serta memperbanyak aktivitas di dalam rumah selama kualitas udara masih buruk.

Dampak kabut asap juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena berpotensi meningkatkan gangguan kesehatan. Dalam rapat penanganan Karhutla, Dinas Kesehatan Ketapang mencatat sebanyak 803 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Pemerintah juga mewaspadai potensi peningkatan penyakit lain, termasuk diare, di tengah kondisi kekeringan dan keterbatasan air bersih.

Bupati Ketapang Alexander Wilyo meminta masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah. Ia juga mengimbau warga mengurangi perjalanan ke wilayah yang terdampak asap tebal, khususnya kawasan Pelang.

“Kalau tidak perlu, jangan lewat Pelang dulu,” kata Alexander.

Menurutnya, kondisi asap yang pekat dapat mengganggu jarak pandang dan meningkatkan risiko bagi pengguna jalan. Karena itu, masyarakat diminta tidak memaksakan perjalanan apabila tidak memiliki kepentingan mendesak.

Pemkab Ketapang juga mempertimbangkan penutupan sementara akses Jalan Pelang apabila kondisi semakin membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Langkah tersebut dinilai perlu diambil sebagai upaya mencegah terjadinya korban akibat kondisi kabut asap.

“Kalau memang tidak memungkinkan lagi, tutup saja Jalan Pelang agar tidak ada korban dengan kondisi yang ada,” tegas Alexander.

Alexander menegaskan, keselamatan masyarakat menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam mengambil langkah penanganan di tengah memburuknya kualitas udara. Warga juga diminta tetap mengikuti imbauan pemerintah dan membatasi aktivitas di luar rumah.

“Masyarakat harus mengurangi aktivitas di luar rumah dan gunakan masker kalau memang harus keluar,” ujarnya. (Adi LC)

Lari Terbirit-birit, Kadinkes Kalbar Hindari Wartawan Soal ISPA Usai Tinjau Karhutla
Lari Terbirit-birit, Kadinkes Kalbar Hindari Wartawan Soal ISPA Usai Tinjau Karhutla
Wednesday, 02/09/2026

KALBARONLINE.com – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti, terlihat lari terbirit-birit meninggalkan lokasi usai mendampingi Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Parit Haji Muhsin, Kabupaten Kubu Raya, Rabu, 2 September 2026.

Sejumlah wartawan yang berada di lokasi sebelumnya mencoba meminta keterangan dr. Erna terkait dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat, terutama perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dampak paparan asap, hingga imbauan kesehatan di tengah kondisi kemarau.

Namun, sebelum wawancara dilakukan, dr. Erna terlihat bergegas meninggalkan lokasi.

Saat itu, beberapa wartawan masih memilih menunggu karena dr. Erna sempat mengatakan akan membagikan masker terlebih dahulu kepada petugas dan awak media.

Setelah pembagian masker dan agenda foto bersama tim selesai, wartawan kembali mencoba meminta waktu untuk wawancara.

“Bu, wawancara terkait update ISPA, dampak asap dan kemarau. Lalu bagaimana di tengah kemarau ini warga harus tetap menjaga kualitas air yang diminum untuk kesehatan?” tanya wartawan.

Dr. Erna kemudian menjawab singkat.

“Kalau air bukan wewenang kami.”

Wartawan kembali mencoba meminta keterangan terkait persoalan kesehatan masyarakat akibat karhutla dan asap. Namun, dr. Erna tetap melanjutkan langkah menuju mobil dinas.

Sejumlah wartawan bahkan sempat mengejar untuk meminta waktu wawancara.

Dr. Erna kemudian menjelaskan dirinya harus segera kembali karena memiliki agenda rapat di Kantor Gubernur Kalimantan Barat.

“Saya buru-buru karena mau pergi rapat di kantor gubernur, menghadiri purnatugas Sekda,” ujarnya.

Dr. Erna sebelumnya turut mendampingi Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan meninjau lokasi lahan yang terbakar sekaligus menyerahkan bantuan kepada petugas dan relawan yang berada di lokasi.

Keterangan terkait dampak kesehatan akibat karhutla menjadi penting di tengah kondisi Kalimantan Barat yang masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan serta paparan asap di sejumlah wilayah.

Selain petugas pemadam dan relawan yang bekerja di lokasi kebakaran, masyarakat sekitar juga menghadapi dampak kondisi udara dan kemarau yang berlangsung.

Dalam situasi tersebut, informasi dari instansi kesehatan dibutuhkan masyarakat, terutama mengenai langkah pencegahan gangguan kesehatan akibat asap serta upaya menjaga kesehatan selama kondisi lingkungan terdampak karhutla.

Meski demikian, dr. Erna tetap sempat berkomunikasi dengan wartawan melalui pembagian masker kepada petugas dan awak media yang berada di lokasi.

Sementara itu, penanganan karhutla di Parit Haji Muhsin masih dilakukan petugas gabungan bersama relawan untuk mencegah api meluas ke area lainnya.

Kondisi di lapangan juga menunjukkan tantangan penanganan karhutla di tengah cuaca panas dan kering yang membuat lahan mudah terbakar. (Lid)

Kasus ISPA di Pontianak Tembus 300 per Hari saat Kabut Asap Karhutla
Kasus ISPA di Pontianak Tembus 300 per Hari saat Kabut Asap Karhutla
Saturday, 29/08/2026

KALBARONLINE.com - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Pontianak meningkat di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat, kasus ISPA kini mencapai lebih dari 300 kasus per hari. Angka tersebut meningkat dibanding kondisi normal yang berada di kisaran 100 hingga 200 kasus per hari.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, mengatakan lonjakan kasus ISPA mencapai sekitar 10 persen.

“Kalau untuk lonjakan ISPA sekitar 10 persen. Biasanya dalam kondisi normal sekitar 100 hingga 200 kasus, tetapi sekarang sudah mencapai lebih dari 300 kasus per hari,” kata Saptiko, Sabtu (29/8/2026).

Menurutnya, peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak Agustus 2026, ketika paparan asap di Kota Pontianak semakin tinggi.

Sementara secara keseluruhan, Dinkes mencatat sekitar 36 ribu kasus ISPA sejak Januari 2026.

“Kalau total kasus sejak Januari sekitar 36 ribu kasus. Namun, perlu dilihat bahwa asap mulai meningkat pada Agustus,” ujarnya.

Saptiko menjelaskan, sebelum Agustus, kasus ISPA lebih banyak disebabkan infeksi saluran pernapasan pada umumnya. Sedangkan peningkatan yang kemungkinan berkaitan dengan paparan asap mulai terlihat sejak Agustus.

Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Pontianak mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, warga diminta menggunakan masker.

“Kalau harus keluar rumah, masyarakat wajib menggunakan masker. Tidak harus masker khusus, masker kain pun bisa digunakan,” katanya.

Selain melakukan sosialisasi, Dinkes juga menyiapkan logistik untuk penanganan ISPA dan diare. Langkah tersebut dilakukan karena kondisi air mulai berkurang.

Dinkes juga telah menyiapkan ruang oksigen di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Warga yang mengalami sesak napas dapat memperoleh oksigen secara gratis di puskesmas, rumah sakit, maupun kantor Dinas Kesehatan.

Meski terjadi peningkatan kasus, Saptiko mengatakan sejauh ini belum ditemukan ISPA berat yang berkaitan dengan kondisi tersebut.

Kasus pneumonia juga relatif rendah, yakni sekitar satu persen dari keseluruhan kasus ISPA.

Berdasarkan kelompok usia, kasus ISPA paling banyak ditemukan pada rentang usia 9 hingga 60 tahun. Anak-anak dan lansia juga menjadi kelompok yang cukup banyak mengalami ISPA.

“Untuk kasus yang parah, sejauh ini belum ada. Pasien yang membutuhkan perawatan juga tidak terlalu banyak dan terus kami pantau,” pungkasnya. (Lid)

Kasus ISPA di Kayong Utara Tembus 1.127, Dinkes Gencarkan Edukasi dan Bagi Masker
Kasus ISPA di Kayong Utara Tembus 1.127, Dinkes Gencarkan Edukasi dan Bagi Masker
Thursday, 27/08/2026

KALBARONLINE.com - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Kayong Utara mengalami peningkatan cukup signifikan sejak Juni 2026. Hingga Kamis (27/8/2026), Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kayong Utara mencatat akumulasi kasus ISPA telah mencapai 1.127 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan dan KB Kayong Utara, Fransiska Wardiani, mengatakan peningkatan kasus mulai terlihat sejak Juni dan terus mengalami kenaikan hingga Agustus.

“Kalau kita melihat kenaikan kasus dari bulan Juni, terdapat peningkatan yang cukup signifikan di bulan Agustus ini. Per hari ini data per bulan Agustus sudah mencapai 1.127 kasus,” ujar Fransiska kepada awak media di ruang kerjanya, Kamis (27/8/2026).

Menurut Fransiska, terdapat tiga kecamatan di Kayong Utara yang mencatat angka kasus ISPA tertinggi. Ketiganya yakni Kecamatan Sukadana, Teluk Batang dan Simpang Hilir.

Mengantisipasi peningkatan kasus, Dinas Kesehatan dan KB Kayong Utara telah meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) meningkatkan kewaspadaan dini.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi bertambahnya kasus sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan edukasi mengenai pencegahan ISPA.

“Untuk penanggulangan yang saat ini dilakukan, kami sudah meminta seluruh faskes melakukan kewaspadaan dini terhadap kasus kenaikan ISPA. Penanggulangan di tingkat faskes dilakukan melalui pembagian masker gratis serta edukasi pencegahan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Dengan meningkatnya kasus ISPA hingga pertengahan Agustus, masyarakat diimbau untuk tetap memperhatikan upaya pencegahan dan memanfaatkan edukasi kesehatan yang diberikan oleh fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah masing-masing. (Sans)

Kasus ISPA dan Diare Melonjak Saat Kemarau, Dinkes Ketapang Perkuat Penanganan di Puskesmas
Kasus ISPA dan Diare Melonjak Saat Kemarau, Dinkes Ketapang Perkuat Penanganan di Puskesmas
Thursday, 20/08/2026

KALBARONLINE.com — Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare di Kabupaten Ketapang mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi di tengah kemarau panjang yang turut memicu kabut asap dan keterbatasan air bersih di sejumlah wilayah.

Berdasarkan laporan dari 24 puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Ketapang, kasus ISPA pada minggu ke-29 tahun 2026 tercatat sebanyak 587 kasus. Jumlah tersebut meningkat menjadi 597 kasus pada minggu ke-30 dan kembali melonjak menjadi 673 kasus pada minggu ke-31.

Sementara itu, kasus diare juga menunjukkan tren peningkatan. Pada minggu ke-29 tercatat sebanyak 136 kasus, kemudian naik menjadi 141 kasus pada minggu ke-30 dan meningkat menjadi 164 kasus pada minggu ke-31.

Data kasus pada minggu ke-32 masih dalam proses pengolahan. Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang memperkirakan angka tersebut masih berpotensi mengalami peningkatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, dr. Feria Kowira, mengatakan peningkatan kasus ISPA menjadi perhatian serius, terutama dengan kondisi kabut asap yang terjadi akibat karhutla dan musim kemarau.

“Kasus ISPA memang mengalami peningkatan dalam beberapa minggu terakhir. Kami terus melakukan pemantauan melalui seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk memastikan masyarakat yang mengalami keluhan pernapasan mendapatkan penanganan,” kata Feria, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, peningkatan kasus diare juga perlu diwaspadai karena kondisi kemarau dapat berdampak terhadap ketersediaan dan kualitas air bersih yang digunakan masyarakat.

“Kami juga melihat adanya peningkatan kasus diare. Karena itu, masyarakat kami imbau untuk menjaga kebersihan, terutama memastikan air yang dikonsumsi benar-benar bersih dan aman,” ujarnya.

Feria menegaskan Dinas Kesehatan telah menginstruksikan seluruh puskesmas untuk meningkatkan kewaspadaan dan pelayanan terhadap masyarakat yang mengalami ISPA maupun diare.

Selain itu, pihaknya memastikan ketersediaan obat-obatan serta oksigen untuk mendukung penanganan pasien, khususnya bagi penderita ISPA yang membutuhkan terapi oksigen.

“Kami sudah menginstruksikan 24 puskesmas untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Obat-obatan dan oksigen juga kami pastikan tersedia sehingga apabila ada pasien yang membutuhkan penanganan, bisa segera dilayani,” jelasnya.

Meski terjadi peningkatan kasus, hingga saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang belum menemukan adanya pasien yang meninggal dunia akibat ISPA maupun diare dalam laporan periode tersebut.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala gangguan pernapasan, terutama ketika kondisi kabut asap semakin pekat.

Masyarakat juga diminta menjaga pola hidup bersih dan sehat, memperbanyak konsumsi air yang aman, serta mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. (Adi LC)