Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Saturday, 29 August 2026 |
KALBARONLINE.com - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Pontianak meningkat di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat, kasus ISPA kini mencapai lebih dari 300 kasus per hari. Angka tersebut meningkat dibanding kondisi normal yang berada di kisaran 100 hingga 200 kasus per hari.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, mengatakan lonjakan kasus ISPA mencapai sekitar 10 persen.
“Kalau untuk lonjakan ISPA sekitar 10 persen. Biasanya dalam kondisi normal sekitar 100 hingga 200 kasus, tetapi sekarang sudah mencapai lebih dari 300 kasus per hari,” kata Saptiko, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak Agustus 2026, ketika paparan asap di Kota Pontianak semakin tinggi.
Sementara secara keseluruhan, Dinkes mencatat sekitar 36 ribu kasus ISPA sejak Januari 2026.
“Kalau total kasus sejak Januari sekitar 36 ribu kasus. Namun, perlu dilihat bahwa asap mulai meningkat pada Agustus,” ujarnya.
Saptiko menjelaskan, sebelum Agustus, kasus ISPA lebih banyak disebabkan infeksi saluran pernapasan pada umumnya. Sedangkan peningkatan yang kemungkinan berkaitan dengan paparan asap mulai terlihat sejak Agustus.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Pontianak mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, warga diminta menggunakan masker.
“Kalau harus keluar rumah, masyarakat wajib menggunakan masker. Tidak harus masker khusus, masker kain pun bisa digunakan,” katanya.
Selain melakukan sosialisasi, Dinkes juga menyiapkan logistik untuk penanganan ISPA dan diare. Langkah tersebut dilakukan karena kondisi air mulai berkurang.
Dinkes juga telah menyiapkan ruang oksigen di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Warga yang mengalami sesak napas dapat memperoleh oksigen secara gratis di puskesmas, rumah sakit, maupun kantor Dinas Kesehatan.
Meski terjadi peningkatan kasus, Saptiko mengatakan sejauh ini belum ditemukan ISPA berat yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
Kasus pneumonia juga relatif rendah, yakni sekitar satu persen dari keseluruhan kasus ISPA.
Berdasarkan kelompok usia, kasus ISPA paling banyak ditemukan pada rentang usia 9 hingga 60 tahun. Anak-anak dan lansia juga menjadi kelompok yang cukup banyak mengalami ISPA.
“Untuk kasus yang parah, sejauh ini belum ada. Pasien yang membutuhkan perawatan juga tidak terlalu banyak dan terus kami pantau,” pungkasnya. (Lid)
KALBARONLINE.com - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Pontianak meningkat di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat, kasus ISPA kini mencapai lebih dari 300 kasus per hari. Angka tersebut meningkat dibanding kondisi normal yang berada di kisaran 100 hingga 200 kasus per hari.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, mengatakan lonjakan kasus ISPA mencapai sekitar 10 persen.
“Kalau untuk lonjakan ISPA sekitar 10 persen. Biasanya dalam kondisi normal sekitar 100 hingga 200 kasus, tetapi sekarang sudah mencapai lebih dari 300 kasus per hari,” kata Saptiko, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak Agustus 2026, ketika paparan asap di Kota Pontianak semakin tinggi.
Sementara secara keseluruhan, Dinkes mencatat sekitar 36 ribu kasus ISPA sejak Januari 2026.
“Kalau total kasus sejak Januari sekitar 36 ribu kasus. Namun, perlu dilihat bahwa asap mulai meningkat pada Agustus,” ujarnya.
Saptiko menjelaskan, sebelum Agustus, kasus ISPA lebih banyak disebabkan infeksi saluran pernapasan pada umumnya. Sedangkan peningkatan yang kemungkinan berkaitan dengan paparan asap mulai terlihat sejak Agustus.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Pontianak mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, warga diminta menggunakan masker.
“Kalau harus keluar rumah, masyarakat wajib menggunakan masker. Tidak harus masker khusus, masker kain pun bisa digunakan,” katanya.
Selain melakukan sosialisasi, Dinkes juga menyiapkan logistik untuk penanganan ISPA dan diare. Langkah tersebut dilakukan karena kondisi air mulai berkurang.
Dinkes juga telah menyiapkan ruang oksigen di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Warga yang mengalami sesak napas dapat memperoleh oksigen secara gratis di puskesmas, rumah sakit, maupun kantor Dinas Kesehatan.
Meski terjadi peningkatan kasus, Saptiko mengatakan sejauh ini belum ditemukan ISPA berat yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
Kasus pneumonia juga relatif rendah, yakni sekitar satu persen dari keseluruhan kasus ISPA.
Berdasarkan kelompok usia, kasus ISPA paling banyak ditemukan pada rentang usia 9 hingga 60 tahun. Anak-anak dan lansia juga menjadi kelompok yang cukup banyak mengalami ISPA.
“Untuk kasus yang parah, sejauh ini belum ada. Pasien yang membutuhkan perawatan juga tidak terlalu banyak dan terus kami pantau,” pungkasnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini