Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 14 August 2026 |
KALBARONLINE.com – Direktur RSUD Dr. Soedarso, Harry Agung Tjahyadi, mengungkapkan jumlah pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih relatif stabil. Namun, kasus pneumonia di rumah sakit tersebut menunjukkan kecenderungan meningkat.
Harry mengatakan kualitas udara yang tidak sehat memang berpotensi meningkatkan kasus gangguan pernapasan, termasuk ISPA. Namun, sebagian besar kasus ISPA masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik.
“Kalau infeksinya berlanjut menjadi akut atau kronis hingga pneumonia, baru dirujuk ke rumah sakit tipe A seperti RSUD Soedarso,” kata Harry.
Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan selama lima minggu terakhir, belum terjadi lonjakan pasien ISPA yang dirawat di RSUD Soedarso. Namun, kasus pneumonia menunjukkan kecenderungan meningkat.
Menurutnya, peningkatan tersebut juga bergantung pada pola rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan.
Harry mengatakan seluruh fasilitas kesehatan harus memastikan kesiapan dalam menangani pasien gangguan pernapasan, mulai dari ketersediaan obat-obatan, oksigen hingga sarana penanganan kondisi darurat.
“Yang penting semuanya harus siap memberikan penanganan yang baik, termasuk kesiapan oksigen dan peralatan untuk kedaruratan pernapasan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pneumonia merupakan infeksi lanjutan yang dapat berkembang dari ISPA, terutama pada kelompok yang memiliki penyakit penyerta atau gangguan saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh paparan kualitas udara yang buruk, termasuk kabut asap.
Karena itu, masyarakat yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit pernapasan diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
“Biasanya pasien yang memang rentan sudah mempersiapkan diri dengan menghindari keluar rumah pada saat kualitas udara sedang tidak baik,” katanya.
Harry memastikan RSUD Soedarso memiliki ruang rawat inap infeksius untuk menangani pasien pneumonia. Hingga saat ini, kapasitas tempat tidur masih mencukupi dan belum diperlukan penambahan.
“Kalau pasien hanya membutuhkan bantuan oksigen dan kondisinya membaik, bisa dipulangkan. Jadi sejauh ini masih aman dan terkendali,” ujarnya.
Ia juga memastikan stok oksigen di RSUD Soedarso dalam kondisi aman. Menurutnya, rumah sakit telah menyiapkan layanan oksigen selama 24 jam sebagai bagian dari pelayanan kegawatdaruratan dan siap menghadapi kemungkinan lonjakan pasien akibat dampak kabut asap. (Lid)
KALBARONLINE.com – Direktur RSUD Dr. Soedarso, Harry Agung Tjahyadi, mengungkapkan jumlah pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih relatif stabil. Namun, kasus pneumonia di rumah sakit tersebut menunjukkan kecenderungan meningkat.
Harry mengatakan kualitas udara yang tidak sehat memang berpotensi meningkatkan kasus gangguan pernapasan, termasuk ISPA. Namun, sebagian besar kasus ISPA masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik.
“Kalau infeksinya berlanjut menjadi akut atau kronis hingga pneumonia, baru dirujuk ke rumah sakit tipe A seperti RSUD Soedarso,” kata Harry.
Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan selama lima minggu terakhir, belum terjadi lonjakan pasien ISPA yang dirawat di RSUD Soedarso. Namun, kasus pneumonia menunjukkan kecenderungan meningkat.
Menurutnya, peningkatan tersebut juga bergantung pada pola rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan.
Harry mengatakan seluruh fasilitas kesehatan harus memastikan kesiapan dalam menangani pasien gangguan pernapasan, mulai dari ketersediaan obat-obatan, oksigen hingga sarana penanganan kondisi darurat.
“Yang penting semuanya harus siap memberikan penanganan yang baik, termasuk kesiapan oksigen dan peralatan untuk kedaruratan pernapasan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pneumonia merupakan infeksi lanjutan yang dapat berkembang dari ISPA, terutama pada kelompok yang memiliki penyakit penyerta atau gangguan saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh paparan kualitas udara yang buruk, termasuk kabut asap.
Karena itu, masyarakat yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit pernapasan diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
“Biasanya pasien yang memang rentan sudah mempersiapkan diri dengan menghindari keluar rumah pada saat kualitas udara sedang tidak baik,” katanya.
Harry memastikan RSUD Soedarso memiliki ruang rawat inap infeksius untuk menangani pasien pneumonia. Hingga saat ini, kapasitas tempat tidur masih mencukupi dan belum diperlukan penambahan.
“Kalau pasien hanya membutuhkan bantuan oksigen dan kondisinya membaik, bisa dipulangkan. Jadi sejauh ini masih aman dan terkendali,” ujarnya.
Ia juga memastikan stok oksigen di RSUD Soedarso dalam kondisi aman. Menurutnya, rumah sakit telah menyiapkan layanan oksigen selama 24 jam sebagai bagian dari pelayanan kegawatdaruratan dan siap menghadapi kemungkinan lonjakan pasien akibat dampak kabut asap. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini