Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Tuesday, 11 August 2026 |
KALBARONLINE.com – Di tengah kualitas udara yang mulai memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Barat mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kota Pontianak tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Kalimantan Barat sepanjang Januari hingga Juli 2026, dengan total mencapai 31.228 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, dr. Erna Yulianti, mengatakan kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat berpotensi meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, terutama pada balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
“Kalau kondisi kualitas udara memasuki kategori tidak sehat, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama apabila tidak diperlukan. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker yang sesuai dan upayakan mengurangi paparan langsung terhadap udara yang tidak sehat,” ujar Erna, Senin (10/8/2026).
Berdasarkan data Dinkes Kalbar, sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat rata-rata sekitar 5.015 kasus ISPA setiap pekan. Puncaknya terjadi pada minggu keempat Januari dengan 5.378 kasus.
Setelah sempat menurun, jumlah kasus kembali meningkat pada awal Juli hingga mencapai 5.261 kasus.
Secara kewilayahan, peningkatan kasus tercatat di Kabupaten Bengkayang, Sambas, Landak, dan Kota Pontianak, meski kenaikannya dinilai belum signifikan.
Namun jika dilihat dari total akumulasi kasus, Kota Pontianak menjadi wilayah dengan angka ISPA tertinggi, yakni mencapai 31.228 kasus. Disusul Kabupaten Ketapang sebanyak 15.985 kasus dan Kabupaten Kubu Raya sebanyak 14.371 kasus.
Erna menjelaskan, memburuknya kualitas udara memang dapat memperbesar risiko munculnya keluhan pada saluran pernapasan maupun memperparah kondisi penderita penyakit pernapasan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua kasus ISPA dapat dikaitkan langsung dengan kabut asap karhutla karena penyakit tersebut memiliki banyak faktor risiko.
“Yang perlu dipahami, kondisi udara yang tidak sehat memang dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan dan memperberat keluhan pada orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan. Namun, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seluruh kasus ISPA yang terjadi saat ini disebabkan oleh karhutla atau kabut asap, karena ISPA memiliki banyak faktor risiko,” jelasnya.
Selain menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, masyarakat juga diminta menjaga kualitas udara di dalam rumah, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta menghindari paparan asap rokok.
Berdasarkan kelompok usia, orang dewasa menjadi kelompok yang paling banyak mengalami ISPA dengan proporsi 39,8 persen. Selanjutnya balita 24,1 persen, anak-anak 13,8 persen, remaja 11,7 persen, dan lansia 10,6 persen.
Menurut Erna, data tersebut menunjukkan bahwa ISPA dapat menyerang seluruh kelompok usia. Namun, balita dan lansia tetap menjadi kelompok yang lebih rentan ketika kualitas udara menurun.
Ia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak napas, atau keluhan pernapasan lainnya, terutama jika kondisi semakin berat.
“Jangan menunggu sampai muncul keluhan yang berat. Apabila mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak atau keluhan pernapasan lainnya, terutama jika keluhan semakin berat, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” tutupnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Di tengah kualitas udara yang mulai memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Barat mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kota Pontianak tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Kalimantan Barat sepanjang Januari hingga Juli 2026, dengan total mencapai 31.228 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, dr. Erna Yulianti, mengatakan kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat berpotensi meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, terutama pada balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
“Kalau kondisi kualitas udara memasuki kategori tidak sehat, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama apabila tidak diperlukan. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker yang sesuai dan upayakan mengurangi paparan langsung terhadap udara yang tidak sehat,” ujar Erna, Senin (10/8/2026).
Berdasarkan data Dinkes Kalbar, sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat rata-rata sekitar 5.015 kasus ISPA setiap pekan. Puncaknya terjadi pada minggu keempat Januari dengan 5.378 kasus.
Setelah sempat menurun, jumlah kasus kembali meningkat pada awal Juli hingga mencapai 5.261 kasus.
Secara kewilayahan, peningkatan kasus tercatat di Kabupaten Bengkayang, Sambas, Landak, dan Kota Pontianak, meski kenaikannya dinilai belum signifikan.
Namun jika dilihat dari total akumulasi kasus, Kota Pontianak menjadi wilayah dengan angka ISPA tertinggi, yakni mencapai 31.228 kasus. Disusul Kabupaten Ketapang sebanyak 15.985 kasus dan Kabupaten Kubu Raya sebanyak 14.371 kasus.
Erna menjelaskan, memburuknya kualitas udara memang dapat memperbesar risiko munculnya keluhan pada saluran pernapasan maupun memperparah kondisi penderita penyakit pernapasan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua kasus ISPA dapat dikaitkan langsung dengan kabut asap karhutla karena penyakit tersebut memiliki banyak faktor risiko.
“Yang perlu dipahami, kondisi udara yang tidak sehat memang dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan dan memperberat keluhan pada orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan. Namun, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seluruh kasus ISPA yang terjadi saat ini disebabkan oleh karhutla atau kabut asap, karena ISPA memiliki banyak faktor risiko,” jelasnya.
Selain menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, masyarakat juga diminta menjaga kualitas udara di dalam rumah, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta menghindari paparan asap rokok.
Berdasarkan kelompok usia, orang dewasa menjadi kelompok yang paling banyak mengalami ISPA dengan proporsi 39,8 persen. Selanjutnya balita 24,1 persen, anak-anak 13,8 persen, remaja 11,7 persen, dan lansia 10,6 persen.
Menurut Erna, data tersebut menunjukkan bahwa ISPA dapat menyerang seluruh kelompok usia. Namun, balita dan lansia tetap menjadi kelompok yang lebih rentan ketika kualitas udara menurun.
Ia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak napas, atau keluhan pernapasan lainnya, terutama jika kondisi semakin berat.
“Jangan menunggu sampai muncul keluhan yang berat. Apabila mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak atau keluhan pernapasan lainnya, terutama jika keluhan semakin berat, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” tutupnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini