Pontianak    

Kabut Asap Tak Hanya Picu Gangguan Pernapasan, Warga Diminta Waspadai Diare

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Wednesday, 16 September 2026
Kabut Asap Tak Hanya Picu Gangguan Pernapasan, Warga Diminta Waspadai Diare
Kabut asap bukan satu-satunya ancaman kesehatan. Warga Pontianak diminta menjaga PHBS untuk mencegah diare (Foto: PKRS-Humas/RSUD SSMA)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Kabut asap tak hanya meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat juga perlu tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan untuk mencegah penyakit lain, termasuk diare.

Apoteker RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Fikri Destari, mengatakan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah diare.

“Di tengah kondisi kabut asap, masyarakat tetap perlu memperhatikan PHBS. Pastikan tangan selalu dicuci dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah buang air besar. Selain itu, pastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi bersih serta air yang digunakan aman,” kata Fikri saat memberikan edukasi di RSUD SSMA Kota Pontianak, Rabu (16/9/2026).

Diare ditandai dengan buang air besar lebih sering dari biasanya dengan konsistensi tinja yang lebih cair. Kondisi ini dapat disebabkan berbagai faktor, termasuk infeksi yang berkaitan dengan kebersihan makanan, minuman, tangan, dan lingkungan.

Karena itu, pencegahan diare dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Masyarakat perlu menjaga kebersihan lingkungan, menghindari makanan yang diragukan kebersihannya, serta memastikan makanan dimasak hingga matang.

Selain menjaga kebersihan, Fikri mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi obat ketika mengalami diare. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah mencegah kekurangan cairan akibat kehilangan cairan dan elektrolit.

“Ketika mengalami diare, yang paling penting adalah menjaga kecukupan cairan. Oralit dapat digunakan untuk membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Penggunaan obat diare lainnya perlu disesuaikan dengan kondisi dan penyebabnya,” ujarnya.

Fikri juga mengingatkan agar antibiotik tidak digunakan secara sembarangan. Tidak semua kasus diare membutuhkan antibiotik karena penggunaannya harus berdasarkan indikasi medis.

Masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau apoteker sebelum menggunakan obat tertentu, terutama jika memiliki penyakit lain atau sedang mengonsumsi obat rutin.

Pertolongan medis juga tidak sebaiknya ditunda apabila diare disertai tanda bahaya, seperti lemas berat, sulit minum, muntah terus-menerus, terdapat darah dalam tinja, demam tinggi, atau tanda-tanda dehidrasi.

Risiko dehidrasi perlu mendapat perhatian lebih pada bayi, anak-anak, lanjut usia, dan kelompok rentan lainnya.

“Jangan hanya fokus pada kondisi kabut asap, tetapi tetap perhatikan kesehatan secara menyeluruh. Terapkan PHBS, jaga asupan cairan, dan gunakan obat secara tepat agar diare dapat ditangani dengan baik,” kata Fikri. (*)

Artikel Selanjutnya
1,1 Juta Liter Air Tawar dari Radak Tiba di IPA Nipah Kuning
Wednesday, 16 September 2026
Artikel Sebelumnya
Edi Kamtono Dorong Pemprov Kalbar Ikut Perkuat Solusi Air Baku Pontianak
Wednesday, 16 September 2026

Berita terkait