Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Sunday, 11 October 2026 |
KALBARONLINE.com – Penurunan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, belum diikuti perbaikan kualitas udara. Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah, sementara Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dalam sepekan terakhir berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ketapang, Eko Harfiyanto, mengatakan kabut asap pekat masih terjadi pada waktu-waktu tertentu, terutama pada pagi hingga menjelang siang.
“Dari hasil pemantauan dalam satu pekan terakhir, kabut asap pekat dan tebal, terutama sekitar pukul 06.00 hingga 12.00 atau menjelang sore hari,” kata Eko, Minggu (11/10/2026).
Menurut Eko, kondisi kualitas udara tersebut perlu diwaspadai karena konsentrasi partikel halus PM2,5 berada pada tingkat yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan, partikel PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.
“Ini sangat mengganggu kesehatan karena partikel yang kecil, 2,5 mikron itu bisa langsung masuk ke paru-paru dan mengendap yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan, salah satunya ISPA,” ujarnya.
Eko menegaskan, kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya tidak mendukung aktivitas di luar ruangan. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan meskipun aktivitas kebakaran dilaporkan mulai menurun.
Terkait penanganan kabut asap, DLH Ketapang terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Hasil pemantauan kualitas udara akan menjadi bahan pembahasan dan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Eko menyebutkan, penanganan karhutla berada di bawah komando Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Evaluasi lanjutan, termasuk kemungkinan penyesuaian status kedaruratan, akan mengikuti hasil pembahasan bersama pihak terkait.
“Karena komando penanganan karhutla itu ada di BPBD, mungkin nanti ada pembahasan secara khusus. Apakah ada evaluasi di minggu ini, kita tunggu saja. Biasanya kalau sudah meningkat eskalasinya akan ada rapat pembahasan, nanti akan berpengaruh pada status kedaruratannya seperti apa,” jelasnya.
Di tengah kondisi udara yang belum membaik, Eko mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama saat kabut asap sedang pekat. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan masker sebagai langkah perlindungan.
Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap dampak paparan asap, khususnya partikel halus yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan. (Adi LC)
KALBARONLINE.com – Penurunan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, belum diikuti perbaikan kualitas udara. Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah, sementara Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dalam sepekan terakhir berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ketapang, Eko Harfiyanto, mengatakan kabut asap pekat masih terjadi pada waktu-waktu tertentu, terutama pada pagi hingga menjelang siang.
“Dari hasil pemantauan dalam satu pekan terakhir, kabut asap pekat dan tebal, terutama sekitar pukul 06.00 hingga 12.00 atau menjelang sore hari,” kata Eko, Minggu (11/10/2026).
Menurut Eko, kondisi kualitas udara tersebut perlu diwaspadai karena konsentrasi partikel halus PM2,5 berada pada tingkat yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan, partikel PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.
“Ini sangat mengganggu kesehatan karena partikel yang kecil, 2,5 mikron itu bisa langsung masuk ke paru-paru dan mengendap yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan, salah satunya ISPA,” ujarnya.
Eko menegaskan, kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya tidak mendukung aktivitas di luar ruangan. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan meskipun aktivitas kebakaran dilaporkan mulai menurun.
Terkait penanganan kabut asap, DLH Ketapang terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Hasil pemantauan kualitas udara akan menjadi bahan pembahasan dan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Eko menyebutkan, penanganan karhutla berada di bawah komando Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Evaluasi lanjutan, termasuk kemungkinan penyesuaian status kedaruratan, akan mengikuti hasil pembahasan bersama pihak terkait.
“Karena komando penanganan karhutla itu ada di BPBD, mungkin nanti ada pembahasan secara khusus. Apakah ada evaluasi di minggu ini, kita tunggu saja. Biasanya kalau sudah meningkat eskalasinya akan ada rapat pembahasan, nanti akan berpengaruh pada status kedaruratannya seperti apa,” jelasnya.
Di tengah kondisi udara yang belum membaik, Eko mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama saat kabut asap sedang pekat. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan masker sebagai langkah perlindungan.
Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap dampak paparan asap, khususnya partikel halus yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan. (Adi LC)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini