Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
karhutla ketapang
Peduli Kabut Asap, Jemaah Berkah Sudut Salurkan 4.000 Masker untuk Warga Ketapang
Peduli Kabut Asap, Jemaah Berkah Sudut Salurkan 4.000 Masker untuk Warga Ketapang
Thursday, 22/10/2026

KALBARONLINE.com – Di tengah kabut asap yang kembali menyelimuti Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jemaah Berkah Sudut membagikan ribuan masker gratis kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap dampak buruk kualitas udara.

Sebanyak 2.000 masker dibagikan kepada pengguna jalan di perempatan Bundaran Kauman, Jalan Wolter Monginsidi, Kecamatan Benua Kayong, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini bertujuan membantu warga melindungi diri saat beraktivitas di tengah kabut asap.

Koordinator aksi, Pendi, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kepedulian sosial dan kebersamaan para jemaah masjid di Kabupaten Ketapang.

Menurutnya, Jemaah Berkah Sudut bermula dari kebiasaan para jemaah berkumpul di warung kopi setelah menunaikan salat Subuh. Dari kebersamaan itu, mereka kemudian menggagas berbagai kegiatan sosial untuk membantu masyarakat.

“Ini kegiatan kemanusiaan. Kami hanya komunitas di warung kopi, berkumpul bersama para jemaah masjid setiap selesai salat Subuh. Dari situ, kami membuat program untuk berbuat kebaikan kepada masyarakat,” ujar Pendi seusai kegiatan.

Ia menjelaskan, pembagian masker dilakukan karena kondisi kabut asap di Ketapang dinilai semakin memprihatinkan dan telah berlangsung cukup lama.

“Kita melihat Kabupaten Ketapang ini semakin hari semakin gelap. Sudah berjalan kurang lebih empat bulan kalau tidak salah. Di mana-mana kita dikelilingi asap kabut,” katanya.

Dalam aksi tersebut, Jemaah Berkah Sudut mendapat dukungan dari Wana Aksara, lembaga yang bergerak di bidang lingkungan. Dukungan tersebut membantu kelancaran penyaluran masker kepada masyarakat.

Sebelumnya, komunitas ini juga telah membagikan sekitar 2.000 masker di Bundaran Tugu Ale-Ale. Dengan tambahan pembagian di Bundaran Kauman, total masker yang telah disalurkan mencapai sekitar 4.000 lembar.

Pendi menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang mendukung kegiatan kemanusiaan tersebut. Ia berharap semakin banyak elemen masyarakat yang tergerak untuk membantu warga menghadapi dampak kabut asap.

“Kami akan mengupayakan dan sedang berkoordinasi dengan pihak-pihak yang bisa berkontribusi membantu mengatasi persoalan kesehatan masyarakat akibat kabut asap yang sangat luar biasa ini,” tuturnya.

Saat ini, Jemaah Berkah Sudut memiliki sekitar 50 anggota aktif. Mereka berupaya menjadikan kebersamaan para jemaah dari berbagai masjid sebagai wadah untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Di tengah persoalan kabut asap yang masih membayangi Ketapang, pembagian masker ini menjadi salah satu bentuk solidaritas warga. Meski sederhana, kegiatan tersebut diharapkan membantu masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan sekaligus mendorong kepedulian bersama terhadap dampak kabut asap. (Adi LC)

Kabut Asap Ketapang Ganggu Pembelajaran, Siswa Akui Sulit Memahami Materi Saat BDR
Kabut Asap Ketapang Ganggu Pembelajaran, Siswa Akui Sulit Memahami Materi Saat BDR
Tuesday, 20/10/2026

KALBARONLINE.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Siswa terpaksa mengikuti pembelajaran dari rumah atau belajar dari rumah (BDR), meski metode tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif.

Alzena LaKeisha (15), siswi kelas X SMA Negeri 2 Ketapang, mengaku sedih karena tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara langsung di sekolah. Menurutnya, pembelajaran dari rumah membuat materi yang disampaikan guru lebih sulit dipahami dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka.

“Sedih sih, karena kalau BDR pembelajaran itu kan tidak secara langsung. Jadi kurang masuk ke otak, apalagi asap kayak gini,” ujar Alzena, Selasa (20/10/2026).

Selain menghadapi kendala dalam memahami pelajaran, Alzena juga mengeluhkan kondisi udara yang membuatnya merasa sesak ketika hendak beraktivitas di luar rumah.

“Untuk keluar rumah pun sesak rasanya, apalagi kalau sekolah,” keluhnya.

Ia mengatakan, pelaksanaan pembelajaran daring belum berjalan maksimal. Pertemuan melalui aplikasi Zoom hanya dilakukan untuk mata pelajaran tertentu dan tidak berlangsung secara rutin.

“Ada Zoom, tapi tidak semua mata pelajaran. Kadang-kadang cuma ada Zoom, kadang tidak,” katanya.

Menurut Alzena, kegiatan BDR terkadang lebih banyak diisi dengan pemberian tugas dan absensi. Kondisi tersebut membuat siswa merasa kurang mendapatkan penjelasan materi secara langsung seperti ketika belajar di ruang kelas.

Informasi mengenai pelaksanaan BDR, lanjutnya, biasanya disampaikan sehari sebelum pembelajaran berlangsung. Pemberitahuan tersebut terkadang diterima pada Sabtu atau Minggu.

Alzena berharap kabut asap di Ketapang segera menghilang agar para siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran secara normal di sekolah.

“Harapannya semoga kabut asapnya tidak ada lagi, kabutnya sudah hilang, biar bisa belajar seperti biasa,” harapnya.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang memperpanjang kebijakan BDR atau pembelajaran daring bagi peserta didik jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah pertama (SMP) sejak 12 Oktober 2026.

Kebijakan tersebut diambil berdasarkan hasil evaluasi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang masih menunjukkan kategori sangat tidak sehat.

Dalam pengumumannya, Dinas Pendidikan menyatakan perpanjangan BDR berlaku hingga ada pemberitahuan lebih lanjut dengan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara di Kabupaten Ketapang.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, Darma, membenarkan bahwa kebijakan tersebut masih diberlakukan hingga kondisi kabut asap membaik.

“Iya benar, sampai kondisinya membaik,” ungkap Darma.

Selama pelaksanaan BDR, peserta didik juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker, serta memperbanyak minum air putih untuk menjaga kesehatan di tengah kondisi udara yang kurang sehat.

Dampak kabut asap terhadap kegiatan belajar ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan hanya menyangkut persoalan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan keberlangsungan pendidikan anak-anak. (Adi LC)

Kabut Asap Ketapang Makin Mengkhawatirkan, PWI dan KAWAN Bagikan 10.000 Masker
Kabut Asap Ketapang Makin Mengkhawatirkan, PWI dan KAWAN Bagikan 10.000 Masker
Tuesday, 20/10/2026

KALBARONLINE.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Ketapang bersama Koalisi Wartawan (KAWAN) Ketapang, PT BGA, dan KNPI Ketapang menyalurkan 10.000 lembar masker kepada masyarakat di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti Kabupaten Ketapang, Selasa (20/10/2026).

Aksi sosial ini menjadi bentuk kepedulian insan pers bersama elemen masyarakat dan dunia usaha terhadap dampak kabut asap yang mengancam kesehatan warga. Pembagian masker dipusatkan di perempatan RSUD dr. Agoesdjam Ketapang dan Bundaran Kedondong. Masker juga dibagikan di lorong rumah sakit untuk membantu pasien serta keluarga yang mendampingi.

Ketua PWI Kabupaten Ketapang, Supriadi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian insan pers terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.

Menurut Supriadi, berdasarkan catatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, kualitas udara di Ketapang dalam sepekan terakhir berada pada kategori berbahaya berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

“Dengan kondisi kualitas udara yang masuk kategori berbahaya, masyarakat perlu lebih memperhatikan kesehatan dan perlindungan diri. Pembagian masker ini merupakan salah satu bentuk kepedulian agar masyarakat tetap terlindungi saat harus beraktivitas di luar rumah,” kata Supriadi.

Ia menegaskan, kolaborasi lintas organisasi dan dunia usaha dibutuhkan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak karhutla. PWI Ketapang berharap kabut asap segera mereda sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal tanpa terus dibayangi ancaman pencemaran udara.

Ketua KAWAN Ketapang, Agustiandi, mengatakan pembagian masker dilakukan karena masih ditemukan pengendara yang beraktivitas di jalan tanpa menggunakan pelindung pernapasan, meskipun kabut asap masih pekat.

“Kami mengajak masyarakat untuk mengutamakan kesehatan dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama di tengah kondisi kabut asap yang masih pekat. Kami melihat masih ada pengendara yang melintas tanpa menggunakan masker,” ujarnya.

Kabut Asap Ketapang Makin Mengkhawatirkann

Agustiandi menjelaskan, pembagian masker juga menyasar lorong RSUD dr. Agoesdjam karena terdapat pasien yang sedang menjalani pengobatan serta keluarga yang menunggu dan mendampingi mereka.

Ia berharap bantuan tersebut bermanfaat sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan selama kualitas udara belum membaik.

“Kolaborasi ini merupakan wujud kepedulian bersama. Kami ingin kehadiran organisasi dan pihak perusahaan benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang sedang menghadapi dampak kabut asap,” tambahnya.

Sementara itu, CA Specialist BGA Ketapang, Agus Suryadi, mengatakan keterlibatan PT BGA dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepedulian perusahaan terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap.

Agus menyebutkan, sebelumnya BGA bersama KAWAN dan PWI Ketapang juga telah berkolaborasi menyalurkan air bersih siap minum di Jalan Restu Ibu, Kelurahan Sampit, Kabupaten Ketapang.

“Kami berharap kolaborasi seperti ini bisa terus berjalan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Baik pembagian air bersih siap minum maupun masker, semuanya merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap kebutuhan masyarakat,” kata Agus.

Dukungan terhadap kegiatan sosial tersebut juga disampaikan Wakil Ketua I KNPI Kabupaten Ketapang, Fachrur Rizal. Ia mengaku senang karena KNPI dapat terlibat langsung dalam aksi kemanusiaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Kami senang dan bangga turut dilibatkan dalam pembagian masker ini. Kami berharap kegiatan ini bisa membantu masyarakat menjaga kesehatan di tengah kondisi kabut asap yang masih terjadi di Ketapang,” ujarnya.

Fachrur Rizal berharap sinergi antara organisasi kepemudaan, insan pers, dan dunia usaha dapat terus diperkuat melalui berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, PWI Ketapang bersama KAWAN, PT BGA, dan KNPI Ketapang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak kabut asap, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta mengurangi kegiatan di luar rumah apabila tidak mendesak, terutama ketika kualitas udara memburuk.

PWI Ketapang juga berharap penanganan karhutla dan pemulihan kualitas udara menjadi perhatian serius seluruh pihak agar masyarakat tidak terus-menerus menanggung dampak pencemaran udara. (Adi LC)

51 Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang dan Kayong Utara, 30 Ditemukan di Area PT KALE
51 Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang dan Kayong Utara, 30 Ditemukan di Area PT KALE
Monday, 19/10/2026

KALBARONLINE.com – Sebanyak 51 orangutan diselamatkan dari kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat, sejak 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, 30 individu ditemukan di dalam atau sekitar perkebunan kelapa sawit PT KALE.

Upaya penyelamatan masih berlanjut seiring kerusakan habitat akibat kebakaran. Dalam laporan terbaru, tim gabungan mengevakuasi empat orangutan, yakni dua individu remaja betina bernama Lusi dan Riri, serta induk dan anak bernama Mama Rian dan Rian.

Berdasarkan keterangan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Riri, Mama Rian, dan Rian diselamatkan pada 10 Oktober 2026. Sementara itu, Lusi dievakuasi pada 16 Oktober 2026 dari kawasan High Conservation Value (HCV) perkebunan PT KALE di Desa Laman Satong.

Kondisi orangutan yang ditemukan menunjukkan dampak kerusakan habitat akibat karhutla. Lusi, misalnya, ditemukan bertahan di sebuah pohon yang masih berdiri di tengah kawasan hutan yang hangus terbakar.

CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, mengatakan Lusi ditemukan dalam kondisi sangat kurus dan mengalami stres.

“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,” ujar Karmele, Minggu (18/10/2026).

Setelah dievakuasi menggunakan obat bius, Lusi menjalani pemeriksaan medis di lapangan. Tim menemukan luka gores dan luka terbuka cukup dalam pada bagian punggung, bibir, dan anus. Luka tersebut diduga akibat gigitan satwa lain, kemungkinan anjing.

Selain mengalami luka, Lusi juga mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Sementara itu, Riri ditemukan di pohon sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan.

“Orangutan betina berusia sekitar 4–6 tahun itu ditemukan tanpa tanda-tanda keberadaan induknya,” kata Karmele.

Tim juga menyelamatkan Mama Rian dan anaknya, Rian, dari kebun warga di Desa Riam Berasap. Lokasi tersebut berjarak sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan PT KALE dan berada di kawasan terdampak kebakaran. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan tubuh Mama Rian dan Rian juga sangat kurus.

Dari rangkaian penyelamatan sebelumnya, YIARI mencatat sebanyak 27 orangutan yang dievakuasi dari area PT KALE dan sekitarnya mendapatkan perawatan lanjutan di pusat rehabilitasi karena kondisi kesehatan yang kurang baik.

Tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI masih memantau orangutan yang diduga bertahan di kawasan HCV. Berdasarkan laporan masyarakat, beberapa individu bahkan telah memasuki permukiman dan merusak tanaman serta kebun warga.

Kondisi tersebut berpotensi memicu konflik antara manusia dan orangutan, terutama ketika satwa kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung akibat kebakaran.

“Penyelamatan lanjutan masih diperlukan karena sejumlah orangutan diduga masih berada di kawasan HCV yang terbakar. Di beberapa titik, asap masih tebal dan tanah masih mengeluarkan asap,” kata Karmele.

Berdasarkan analisis citra satelit pada 1 Agustus hingga 25 September 2026, lebih dari 90 persen kawasan HCV PT KALE dilaporkan telah hangus terbakar. Padahal, berdasarkan publikasi ilmiah pada 2016, kawasan tersebut diperkirakan menjadi habitat sekitar 150 individu orangutan Kalimantan. Penelitian itu mencatat kepadatan rata-rata sekitar 5,49 individu per kilometer persegi.

Kekhawatiran terhadap keselamatan orangutan meningkat setelah tim gabungan mengevakuasi temuan yang diduga merupakan tengkorak orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari kawasan HCV PT KALE pada 8 Oktober 2026. Temuan tersebut masih menjalani pemeriksaan forensik untuk memastikan identitas spesies, penyebab, dan perkiraan waktu kematian.

“Kami berharap perusahaan berkomitmen melakukan restorasi kawasan yang terbakar,” harap Karmele.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, juga menegaskan pentingnya menjaga kawasan HCV sebagai habitat dan perlindungan keanekaragaman hayati.

“Area HCV yang terdampak karhutla sepatutnya segera direstorasi untuk mengembalikan fungsi ekologis dan melindungi habitat satwa liar,” ujar Murlan.

Empat Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang, Dua Ditemukan Sendirian
Empat Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang, Dua Ditemukan Sendirian
Monday, 19/10/2026

KALBARONLINE.com – Empat orangutan berhasil diselamatkan dari kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dua orangutan remaja ditemukan sendirian di area perkebunan kelapa sawit, sedangkan seekor induk dan anaknya dievakuasi dari kebun warga.

Penyelamatan dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Keempat orangutan tersebut terdiri atas dua individu remaja betina bernama Lusi dan Riri, serta induk dan anak bernama Mama Rian dan Rian.

Lusi ditemukan pada 16 Oktober 2026 di kawasan High Conservation Value (HCV) milik PT KALE, perusahaan perkebunan kelapa sawit di Desa Laman Satong. Sementara itu, Riri diselamatkan pada 10 Oktober 2026 dari lokasi yang sama.

Kedua orangutan remaja berusia sekitar 4–6 tahun itu ditemukan tanpa tanda-tanda keberadaan induknya. Kondisi Lusi bahkan memprihatinkan karena hanya bertahan di satu pohon yang masih berdiri di tengah kawasan hutan yang telah terbakar.

CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, yang turun langsung ke lokasi mengatakan, Lusi terlihat sangat stres dan kurus.

“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,” ujar Karmele, Minggu (18/10/2026).

Sementara itu, Riri ditemukan di pohon sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan. Tim penyelamat khawatir induknya tidak lagi berada di sekitar lokasi, bahkan diduga telah mati.

“Kami merasa kasihan melihat anak orangutan sendirian tanpa induknya. Kami pun bertanya-tanya, ke mana induknya, sebab, induk orangutan biasanya tidak meninggalkan anaknya,” tuturnya.

Setelah dievakuasi menggunakan obat bius, Lusi diperiksa oleh tim dokter hewan di lapangan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya luka gores di sekujur tubuhnya, termasuk luka terbuka cukup dalam di bagian punggung, bibir, dan anus.

Karmele menduga luka-luka tersebut disebabkan gigitan satwa lain, kemungkinan anjing. Selain mengalami luka, Lusi juga ditemukan dalam kondisi sangat kurus dan dehidrasi.

“Kami menduga luka-luka ini didapat dari gigitan hewan, kemungkinan anjing. Kondisi Lusi juga sangat kurus dan mengalami dehidrasi. Kami sungguh sedih melihat kondisi orangutan ini, mungkin sudah lama tidak dapat makanan apa pun,” jelasnya.

Selain Lusi dan Riri, tim gabungan juga menyelamatkan Mama Rian dan anaknya, Rian, pada 10 Oktober 2026. Keduanya ditemukan di kebun warga di Desa Riam Berasap, sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan kelapa sawit PT KALE.

Lokasi penyelamatan induk dan anak orangutan tersebut juga berada di kawasan terdampak kebakaran. Berdasarkan pemeriksaan medis, tubuh Mama Rian dan Rian sama-sama ditemukan dalam kondisi sangat kurus.

Saat ini, keempat orangutan tersebut menjalani perawatan lebih lanjut di pusat rehabilitasi YIARI karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.

Meski empat orangutan telah dievakuasi, upaya penyelamatan masih berlanjut. Tim gabungan terus memantau sejumlah orangutan yang diduga masih berada di kawasan HCV PT KALE dan area sekitarnya.

Berdasarkan laporan masyarakat, beberapa orangutan bahkan telah memasuki kawasan permukiman dan merusak tanaman serta kebun warga. Kondisi tersebut berpotensi memicu konflik antara manusia dan orangutan.

Karmele menegaskan, penyelamatan lanjutan diperlukan karena masih ada orangutan yang terjebak di kawasan hutan yang terbakar.

“Kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan. Di beberapa bagian, asap masih tebal, bahkan masih ditemukan titik-titik dengan tanah yang mengeluarkan asap,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kebakaran menyebabkan orangutan kehilangan tempat berlindung dan sumber pakan. Mereka juga masih harus bergerak di kawasan berisiko akibat panas dan sisa bara api.

“Artinya, proses penyelamatan masih harus dilanjutkan. Di kawasan HCV PT KALE, masih terdapat sejumlah orangutan yang terdampak dan membutuhkan evakuasi dan penanganan medis segera,” tutupnya.

Karhutla di Pelang Ketapang Bikin Jalan Retak dan Amblas, Asap Masih Keluar dari Tanah
Karhutla di Pelang Ketapang Bikin Jalan Retak dan Amblas, Asap Masih Keluar dari Tanah
Thursday, 15/10/2026

KALBARONLINE.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berdampak pada kondisi jalan yang dilaporkan retak dan sedikit amblas.

Kerusakan tersebut diduga terjadi akibat api yang merambat di bawah permukaan tanah. Bahkan, bagian tanah yang retak masih terlihat mengeluarkan asap, menandakan kondisi kebakaran bawah permukaan masih perlu diwaspadai.

Wilayah Pelang diketahui memiliki hamparan lahan gambut yang luas dengan kedalaman cukup besar. Ketebalan gambut di kawasan tersebut disebut dapat mencapai lebih dari 20 meter.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kebakaran di lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan secara tuntas. (Adi LC)

Tempuh 9 Jam Perjalanan, 8 Orangutan Korban Karhutla di Kalbar Dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu
Tempuh 9 Jam Perjalanan, 8 Orangutan Korban Karhutla di Kalbar Dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu
Monday, 12/10/2026

KALBARONLINE.com – Delapan orangutan Kalimantan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat akhirnya dipindahkan ke habitat alami di Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, pada 9 Oktober 2026. Sebelum dilepasliarkan, seluruh orangutan menjalani pemeriksaan kesehatan dan perawatan di fasilitas rehabilitasi.

Translokasi ini dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kalbar, KPH Ketapang Utara, serta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Delapan orangutan tersebut terdiri dari tiga induk beserta anaknya dan dua orangutan jantan remaja. Mereka sebelumnya diselamatkan dari sejumlah lokasi terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara sepanjang Agustus hingga September 2026.

Kebakaran menyebabkan habitat mereka rusak, tutupan hutan berkurang, dan jalur penghubung antarkawasan terputus. Kondisi tersebut membuat sejumlah orangutan terjebak di area perkebunan dengan sumber makanan dan ruang hidup yang semakin terbatas.

Salah satu orangutan yang ditranslokasikan adalah Mama Man bersama anaknya, Man. Keduanya ditemukan di perkebunan milik warga Desa Tempurukan, Kabupaten Ketapang, yang berbatasan dengan kawasan hutan.

Mama Man dan Man telah terpantau sejak pertengahan Juni 2026. Namun, kebakaran yang meluas hingga mendekati lokasi membuat habitat mereka semakin sempit. Keduanya akhirnya dievakuasi pada 3 September 2026 karena terancam api dan paparan asap.

Empat orangutan lainnya, yakni Mama Nopi dan anaknya, Nopi, serta dua jantan remaja bernama Naufal dan Nopan, diselamatkan dari Desa Pemangkat, Kabupaten Kayong Utara. Mereka sebelumnya bertahan di perkebunan kelapa dan karet milik warga setelah hutan di sekitarnya terbakar.

Sementara itu, Mama Lifa dan anaknya, Lifa, ditemukan terisolasi di antara pohon-pohon akasia pada area seluas sekitar 400 meter persegi yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Keduanya diselamatkan pada 18 September 2026 karena kawasan tersebut tidak lagi menyediakan sumber makanan yang memadai.

Sebelum dipindahkan, kedelapan orangutan menjalani pemeriksaan kesehatan, perawatan medis sesuai kebutuhan, serta observasi di fasilitas YIARI. Mereka dinyatakan sehat dan masih menunjukkan perilaku alami sebagai satwa liar.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran dimulai sejak dini hari dari Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan, Kabupaten Ketapang. Tim menempuh perjalanan darat sekitar enam jam, dilanjutkan satu jam menggunakan perahu dan berjalan kaki sekitar dua jam menuju titik pelepasan di dalam Hutan Lindung Batu Nyambu.

Selama perjalanan, dokter hewan secara berkala memeriksa kondisi orangutan serta memastikan kebutuhan makanan dan air minum tetap terpenuhi. Kandang transportasi juga dilengkapi pelampung saat dibawa menggunakan perahu.

Proses pelepasan dimulai sekitar pukul 12.00 WIB di beberapa titik yang berjarak sekitar 80 meter satu sama lain. Setelah orangutan dilepas, tim melakukan pemantauan singkat dari jarak aman agar satwa tidak stres dan dapat kembali beraktivitas secara alami.

Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis. Kawasan seluas sekitar 23.000 hektare tersebut memiliki tutupan hutan primer dan sekunder, sumber air alami, tumbuhan pakan, serta pohon yang dapat digunakan orangutan untuk membangun sarang.

Berdasarkan survei pada 2023, kawasan itu juga diketahui merupakan habitat alami orangutan dengan daya dukung ekologis yang dinilai memadai.

Selain itu, Batu Nyambu terhubung dengan sejumlah kawasan hutan lindung lain dalam lanskap Arabella–Schwaner. Keterhubungan tersebut penting agar orangutan dapat menjelajahi wilayah yang lebih luas untuk mencari makanan, terutama ketika ketersediaan buah berubah mengikuti musim.

Direktur Operasional YIARI, Argitoeranting, mengatakan pemilihan lokasi translokasi harus mempertimbangkan ketersediaan makanan, sumber air, ruang jelajah, serta keamanan habitat.

“Di tengah kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung, kita dihadapkan pada situasi sulit. Banyak orangutan kehilangan habitatnya, sementara kawasan hutan yang aman untuk menampung mereka semakin terbatas,” ujarnya.

Ia mengatakan Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih karena dinilai memiliki kondisi yang mendukung kehidupan orangutan dan sejauh ini relatif aman dari kebakaran.

Namun, menurutnya, translokasi bukan solusi akhir selama kebakaran dan kerusakan habitat masih mengancam kehidupan orangutan. Argitoeranting menyebut masih ada orangutan terdampak karhutla yang menjalani perawatan intensif di pusat rehabilitasi YIARI.

Sebagian di antaranya mengalami luka bakar, malnutrisi, anemia berat, dan gangguan kesehatan lainnya sehingga belum memungkinkan untuk dipindahkan ke habitat alami.

CEO YIARI, Karmele Llano Sánchez, mengatakan translokasi tersebut menjadi momen membahagiakan karena orangutan yang telah diselamatkan akhirnya mendapat kesempatan kembali hidup bebas.

Meski demikian, ia menegaskan perlindungan habitat tetap menjadi prioritas agar orangutan tidak terus kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.

Kepala Balai KSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, mengatakan sejak 1 Agustus hingga 9 Oktober 2026, pihaknya bersama YIARI telah menyelamatkan 46 orangutan yang terdampak karhutla.

Ia menyebut pemindahan delapan orangutan ke Hutan Lindung Batu Nyambu menjadi langkah awal untuk menempatkan satwa terdampak karhutla di habitat yang dinilai sesuai dan relatif aman setelah kondisi kesehatannya dinyatakan baik.

Menurut Murlan, upaya penyelamatan tidak berhenti pada evakuasi dan translokasi. Perlindungan kawasan hutan yang tersisa juga diperlukan agar orangutan memiliki habitat yang layak untuk bertahan hidup.

Sementara itu, Kepala KPH Ketapang Utara, Ya’ Suharnoto, menilai translokasi ini penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem hutan. Orangutan merupakan spesies kunci yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.

Ia berharap pengamanan kawasan melalui patroli rutin dan sosialisasi kepada masyarakat terus dilakukan setelah translokasi. Penanaman pohon yang menghasilkan bunga dan buah sebagai sumber makanan orangutan juga perlu diperbanyak.

Kolaborasi pemerintah, pengelola kawasan, masyarakat, dan lembaga konservasi diharapkan dapat memastikan Hutan Lindung Batu Nyambu tetap menjadi habitat yang aman bagi orangutan, terutama di tengah ancaman karhutla yang masih terjadi di Kalimantan Barat. (Lid)

Asap Masih Kepung Ketapang, ISPU Bertahan di Level Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya
Asap Masih Kepung Ketapang, ISPU Bertahan di Level Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya
Sunday, 11/10/2026

KALBARONLINE.com – Penurunan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, belum diikuti perbaikan kualitas udara. Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah, sementara Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dalam sepekan terakhir berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ketapang, Eko Harfiyanto, mengatakan kabut asap pekat masih terjadi pada waktu-waktu tertentu, terutama pada pagi hingga menjelang siang.

“Dari hasil pemantauan dalam satu pekan terakhir, kabut asap pekat dan tebal, terutama sekitar pukul 06.00 hingga 12.00 atau menjelang sore hari,” kata Eko, Minggu (11/10/2026).

Menurut Eko, kondisi kualitas udara tersebut perlu diwaspadai karena konsentrasi partikel halus PM2,5 berada pada tingkat yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

Ia menjelaskan, partikel PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.

“Ini sangat mengganggu kesehatan karena partikel yang kecil, 2,5 mikron itu bisa langsung masuk ke paru-paru dan mengendap yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan, salah satunya ISPA,” ujarnya.

Eko menegaskan, kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya tidak mendukung aktivitas di luar ruangan. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan meskipun aktivitas kebakaran dilaporkan mulai menurun.

Terkait penanganan kabut asap, DLH Ketapang terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Hasil pemantauan kualitas udara akan menjadi bahan pembahasan dan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.

Eko menyebutkan, penanganan karhutla berada di bawah komando Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Evaluasi lanjutan, termasuk kemungkinan penyesuaian status kedaruratan, akan mengikuti hasil pembahasan bersama pihak terkait.

“Karena komando penanganan karhutla itu ada di BPBD, mungkin nanti ada pembahasan secara khusus. Apakah ada evaluasi di minggu ini, kita tunggu saja. Biasanya kalau sudah meningkat eskalasinya akan ada rapat pembahasan, nanti akan berpengaruh pada status kedaruratannya seperti apa,” jelasnya.

Di tengah kondisi udara yang belum membaik, Eko mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama saat kabut asap sedang pekat. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan masker sebagai langkah perlindungan.

Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap dampak paparan asap, khususnya partikel halus yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan. (Adi LC)

Diduga Tengkorak Orangutan Ditemukan di Areal Sawit PT KAL Ketapang, Tim Gabungan Turun Tangan
Diduga Tengkorak Orangutan Ditemukan di Areal Sawit PT KAL Ketapang, Tim Gabungan Turun Tangan
Saturday, 10/10/2026

KALBARONLINE.com – Temuan yang diduga tengkorak orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di areal perkebunan kelapa sawit milik PT KAL di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mulai ditindaklanjuti tim gabungan lintas instansi. Temuan tersebut berada di kawasan bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV) milik perusahaan.

Tim gabungan yang terdiri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Penegakan Hukum Kehutanan (Gakkumhut) Wilayah Kalimantan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kalimantan Barat, serta tim dokter hewan Yayasan YIARI, mengevakuasi temuan tersebut pada Kamis (8/10/2026). Proses evakuasi turut didampingi pihak manajemen PT KAL.

Sebagai langkah awal penegakan hukum, DLHK Provinsi Kalimantan Barat melakukan Pengumpulan Bahan dan Keterangan (Pulbaket) terhadap pihak-pihak terkait, termasuk pengurus yang bertanggung jawab atas perkebunan PT KAL.

Selanjutnya, BKSDA Kalimantan Barat bersama Balai Gakkumhut Wilayah Kalimantan dijadwalkan melakukan uji forensik untuk memastikan spesies satwa, memperkirakan waktu kematian, serta mengidentifikasi kemungkinan penyebab kematian.

Kepala DLHK Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani, mengapresiasi laporan cepat masyarakat Ketapang dan menegaskan komitmennya untuk mengawal penanganan kasus tersebut hingga tuntas.

“Areal HCV seharusnya menjadi zona aman mutlak bagi keanekaragaman hayati, dan kami akan memastikan investigasi ini berjalan transparan untuk mengungkap fakta di lapangan,” tegas Adi Yani.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan proses evakuasi melibatkan tim dokter hewan YIARI untuk memastikan barang bukti ditangani sesuai standar ilmiah.

“Kami perlu mengetahui secara pasti apakah tengkorak ini benar-benar Pongo pygmaeus, kapan estimasi waktu kematiannya, serta apakah ada indikasi unsur trauma atau kekerasan fisik sebelum satwa tersebut mati,” jelas Murlan.

Dari sisi penegakan hukum, Kepala Balai Gakkumhut Wilayah Kalimantan, Leonardo Gultom, menegaskan pihaknya tidak akan menoleransi kelalaian maupun kesengajaan yang mengancam keberadaan satwa dilindungi di area konsesi.

Menurutnya, hasil Pulbaket dan uji forensik akan menjadi landasan untuk menentukan langkah hukum selanjutnya. Kepastian mengenai identitas satwa dan penyebab kematiannya masih menunggu hasil pemeriksaan.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menyatakan Kementerian Kehutanan memberikan perhatian serius terhadap temuan tersebut. Ia menekankan bahwa pemegang konsesi yang memiliki kawasan HCV memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan koridor satwa liar.

“Kami menginstruksikan seluruh jajaran tim gabungan di daerah untuk mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar penyebabnya. Penegakan hukum yang tegas akan ditegakkan demi memberikan efek jera dan memastikan kepatuhan korporasi terhadap perlindungan satwa liar dilindungi di Indonesia,” ujar Dwi Januanto.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan menyerahkan proses penyelidikan kepada tim gabungan. Perkembangan hasil uji forensik dan Pulbaket akan disampaikan secara berkala kepada publik sebagai bentuk transparansi penegakan hukum.

Hingga hasil pemeriksaan keluar, identitas tengkorak, penyebab kematian, serta ada atau tidaknya unsur pelanggaran masih harus dipastikan melalui proses penyelidikan dan uji forensik.

BPBD Kalbar Klaim Operasi Sejak April, BPBD Ketapang Ungkap Kronologi Berbeda
BPBD Kalbar Klaim Operasi Sejak April, BPBD Ketapang Ungkap Kronologi Berbeda
Friday, 09/10/2026

KALBARONLINE.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang menjadi sorotan setelah muncul perbedaan keterangan antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat dan BPBD Kabupaten Ketapang mengenai kronologi kebakaran serta waktu pengarahan operasi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Ridwan, menyatakan bahwa pihaknya telah memfokuskan operasi penanganan karhutla ke Kabupaten Ketapang sejak awal April 2026. Namun, keterangan tersebut menjadi perhatian setelah Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwanto, mengungkapkan bahwa kebakaran di wilayahnya berlangsung dalam dua periode, dengan jeda antara akhir Maret dan awal Juli 2026.

“BPBD Provinsi bergerak itu dari awal April, itu sudah mengarahkan operasi, kami memfokuskan ke wilayah tersebut. Wilayah yang paling banyak titik apinya, ya memang sekarang ini yang masih banyak dan yang dari awal itu, paling banyak itu Kabupaten Ketapang,” kata Ridwan kepada awak media, Senin (5/10/2026).

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa BPBD Provinsi Kalbar telah mengarahkan fokus operasi ke Ketapang sejak April. Akan tetapi, keterangan BPBD Kabupaten Ketapang mengenai periode kebakaran menunjukkan adanya rentang waktu yang perlu diperjelas dalam kronologi penanganan di lapangan.

Yunifar menjelaskan, karhutla di Kabupaten Ketapang terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada 18 Januari hingga 29 Maret 2026, sedangkan tahap kedua dimulai pada 5 Juli 2026 dan masih berlangsung hingga saat keterangannya disampaikan.

“Karhutla di Ketapang itu terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama kebakaran dari 18 Januari sampai dengan 29 Maret 2026, tahap kedua kebakaran mulai 5 Juli sampai sekarang,” kata Yunifar, Jumat (9/10/2026).

Berdasarkan penjelasan tersebut, kebakaran pada tahap pertama berakhir pada akhir Maret, sementara kebakaran kembali terjadi pada awal Juli. Dengan demikian, terdapat jeda waktu antara kedua periode kebakaran yang dijelaskan BPBD Kabupaten Ketapang.

Perbedaan fokus keterangan kedua lembaga tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kronologi penanganan karhutla di Ketapang, terutama terkait waktu pengarahan operasi, periode kebakaran, serta dukungan yang dikerahkan untuk menghadapi kebakaran yang kembali terjadi pada Juli.

Catatan waktu dukungan operasi udara turut menjadi bagian dari gambaran penanganan karhutla di wilayah tersebut.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Bandara Rahadi Oesman Ketapang, Dwi Muji Raharjo, menyebut helikopter pendukung penanganan karhutla mulai bersiaga di bandara tersebut pada 18 Agustus 2026.

“Helikopter mulai standby di Bandar Udara Rahadi Oesman sejak 18 Agustus 2026, diawali oleh helikopter dari PT Smart Cakrawala Aviation (N61AA),” ujar Dwi.

Hingga 8 Oktober 2026, tercatat empat helikopter bersiaga untuk mendukung penanganan karhutla di Kabupaten Ketapang. Armada tersebut terdiri atas tiga helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yakni dua helikopter water bombing dan satu helikopter patroli kebakaran, serta satu helikopter swasta untuk operasi water bombing.

“Terdapat tiga helikopter BNPB, terdiri dari dua helikopter Water Bombing (WB) dan satu helikopter Fire Patrol, serta satu helikopter swasta untuk Water Bombing (WB),” jelasnya.

Menurut Dwi, helikopter tersebut bersiaga setiap hari untuk mendukung penanganan karhutla. Meski demikian, penerbangan tetap bergantung pada kondisi jarak pandang atau visibility. Jika jarak pandang tidak memenuhi ketentuan keselamatan penerbangan, operasional helikopter tidak dapat dilaksanakan.

Keterangan dari BPBD Provinsi Kalimantan Barat, BPBD Kabupaten Ketapang, dan pihak bandara tersebut memperlihatkan pentingnya kejelasan kronologi penanganan karhutla. Fokus operasi yang disebut telah diarahkan sejak April, periode kebakaran yang dijelaskan berlangsung dalam dua tahap, serta waktu dimulainya dukungan helikopter menjadi rangkaian informasi yang perlu dipastikan keterkaitannya.

Kejelasan tersebut penting untuk memberikan gambaran utuh kepada masyarakat mengenai langkah penanganan karhutla di Kabupaten Ketapang, termasuk kapan operasi difokuskan, bagaimana perkembangan kebakaran di lapangan, dan kapan dukungan udara mulai tersedia. (Adi LC)