Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 24 July 2026 |
KALBARONLINE.com – Masih banyak penderita diabetes yang merasa cemas, takut, bahkan menolak saat dokter menyarankan terapi insulin. Padahal, sebagian besar ketakutan tersebut muncul akibat kurangnya pemahaman dan beredarnya berbagai mitos yang tidak sesuai dengan fakta medis.
Akibatnya, tidak sedikit pasien yang menunda penggunaan insulin meski kondisi kesehatannya sudah membutuhkan terapi tersebut. Padahal, penundaan dapat membuat kadar gula darah tetap tinggi dan meningkatkan risiko komplikasi serius.
Perawat RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Mardiana, S.Tr.Kep., menjelaskan salah satu anggapan yang paling sering ditemui adalah kekhawatiran bahwa insulin dapat menyebabkan ketergantungan.
"Hal ini merupakan mitos. Insulin bukanlah obat yang menimbulkan kecanduan. Insulin adalah hormon alami yang memang diproduksi oleh tubuh. Ketika tubuh tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup atau insulin tidak bekerja dengan baik, maka insulin dari luar diperlukan untuk membantu mengendalikan kadar gula darah," jelasnya saat memberikan edukasi kepada komunitas diabetes di RSUD SSMA, Jumat (24/07/2026).
Mardiana juga meluruskan anggapan bahwa penggunaan insulin menandakan diabetes sudah berada pada tahap yang sangat berat.
Menurutnya, keputusan pemberian insulin didasarkan pada kondisi medis masing-masing pasien, bukan semata-mata karena penyakit sudah parah.
"Anggapan ini tidak sepenuhnya benar," ujarnya.
Pada beberapa kondisi, terapi insulin justru diperlukan sejak awal agar kadar gula darah dapat segera terkendali dan mencegah kerusakan organ tubuh.
Selain itu, banyak pasien merasa takut karena harus menyuntikkan insulin setiap hari. Padahal, teknologi alat suntik insulin saat ini sudah jauh lebih nyaman digunakan.
"Jarum insulin saat ini sangat kecil dan tipis sehingga rasa nyeri umumnya minimal. Dengan teknik penyuntikan yang benar, penggunaan insulin dapat dilakukan dengan aman dan nyaman," tambahnya.
Mardiana juga membantah anggapan bahwa insulin dapat merusak ginjal atau organ tubuh lainnya.
Sebaliknya, kata dia, kerusakan ginjal, mata, jantung, maupun saraf justru lebih sering disebabkan oleh kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam waktu lama.
Insulin berperan menjaga kadar gula darah tetap stabil sehingga dapat membantu menurunkan risiko terjadinya komplikasi.
Ia mengingatkan bahwa menolak atau menunda terapi insulin tanpa alasan medis dapat berdampak serius terhadap kesehatan karena gula darah yang terus tinggi akan merusak pembuluh darah dan berbagai organ tubuh secara perlahan.
"Karena itu, apabila dokter menyarankan penggunaan insulin, sebaiknya pasien berdiskusi secara terbuka mengenai kekhawatiran yang dimiliki. Tenaga kesehatan akan memberikan penjelasan mengenai manfaat, cara penggunaan, serta langkah-langkah agar terapi insulin dapat dijalani dengan aman," pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Masih banyak penderita diabetes yang merasa cemas, takut, bahkan menolak saat dokter menyarankan terapi insulin. Padahal, sebagian besar ketakutan tersebut muncul akibat kurangnya pemahaman dan beredarnya berbagai mitos yang tidak sesuai dengan fakta medis.
Akibatnya, tidak sedikit pasien yang menunda penggunaan insulin meski kondisi kesehatannya sudah membutuhkan terapi tersebut. Padahal, penundaan dapat membuat kadar gula darah tetap tinggi dan meningkatkan risiko komplikasi serius.
Perawat RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Mardiana, S.Tr.Kep., menjelaskan salah satu anggapan yang paling sering ditemui adalah kekhawatiran bahwa insulin dapat menyebabkan ketergantungan.
"Hal ini merupakan mitos. Insulin bukanlah obat yang menimbulkan kecanduan. Insulin adalah hormon alami yang memang diproduksi oleh tubuh. Ketika tubuh tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup atau insulin tidak bekerja dengan baik, maka insulin dari luar diperlukan untuk membantu mengendalikan kadar gula darah," jelasnya saat memberikan edukasi kepada komunitas diabetes di RSUD SSMA, Jumat (24/07/2026).
Mardiana juga meluruskan anggapan bahwa penggunaan insulin menandakan diabetes sudah berada pada tahap yang sangat berat.
Menurutnya, keputusan pemberian insulin didasarkan pada kondisi medis masing-masing pasien, bukan semata-mata karena penyakit sudah parah.
"Anggapan ini tidak sepenuhnya benar," ujarnya.
Pada beberapa kondisi, terapi insulin justru diperlukan sejak awal agar kadar gula darah dapat segera terkendali dan mencegah kerusakan organ tubuh.
Selain itu, banyak pasien merasa takut karena harus menyuntikkan insulin setiap hari. Padahal, teknologi alat suntik insulin saat ini sudah jauh lebih nyaman digunakan.
"Jarum insulin saat ini sangat kecil dan tipis sehingga rasa nyeri umumnya minimal. Dengan teknik penyuntikan yang benar, penggunaan insulin dapat dilakukan dengan aman dan nyaman," tambahnya.
Mardiana juga membantah anggapan bahwa insulin dapat merusak ginjal atau organ tubuh lainnya.
Sebaliknya, kata dia, kerusakan ginjal, mata, jantung, maupun saraf justru lebih sering disebabkan oleh kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam waktu lama.
Insulin berperan menjaga kadar gula darah tetap stabil sehingga dapat membantu menurunkan risiko terjadinya komplikasi.
Ia mengingatkan bahwa menolak atau menunda terapi insulin tanpa alasan medis dapat berdampak serius terhadap kesehatan karena gula darah yang terus tinggi akan merusak pembuluh darah dan berbagai organ tubuh secara perlahan.
"Karena itu, apabila dokter menyarankan penggunaan insulin, sebaiknya pasien berdiskusi secara terbuka mengenai kekhawatiran yang dimiliki. Tenaga kesehatan akan memberikan penjelasan mengenai manfaat, cara penggunaan, serta langkah-langkah agar terapi insulin dapat dijalani dengan aman," pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini