Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Saturday, 01 August 2026 |
KALBARONLINE.com – Penulis Rintik Sedu, Nadhifa Allya Tsana atau yang akrab disapa Paus, menyapa para pembacanya dalam acara meet and greet di Gramedia Gaia Bumi Raya City, Pontianak, Sabtu (1/8/2026).
Pontianak menjadi salah satu kota dalam rangkaian tur peluncuran novel terbarunya berjudul “Musim yang Tak Sempat Kita Miliki”.
Sebelum hadir di Pontianak, Tsana telah menyambangi sejumlah kota seperti Bandung, Yogyakarta, Pekanbaru, dan Makassar dalam rangkaian promosi karya terbarunya.
Dalam sesi tanya jawab, Tsana menceritakan alasan di balik penggunaan nama pena Rintik Sedu yang selama ini dikenal oleh para pembacanya.
Menurutnya, sejak awal ia ingin pembaca lebih mengenal karya yang ditulis dibandingkan sosok penulisnya.
“Awalnya saya ingin orang fokus pada apa yang saya tulis, bukan siapa yang menulisnya. Saya ingin membuat ruang baru tanpa orang melihat siapa penulisnya,” ujar Tsana.
Ia menjelaskan, kata Rintik dipilih karena memiliki kesan menenangkan, sementara Sedu menggambarkan tema kesedihan yang sering hadir dalam karya-karyanya.
Selain membahas nama pena, Tsana juga membagikan perjalanan panjangnya hingga dikenal sebagai penulis.
Ia mengaku tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang penulis karena sejak kecil justru diarahkan untuk menempuh profesi sebagai dokter.
Namun, kebiasaan menulis sejak remaja perlahan membawanya dikenal luas melalui blog dan platform Wattpad hingga akhirnya mendapatkan kesempatan menerbitkan buku.
Kepada para penulis muda, Tsana berpesan agar tidak takut menghadapi kritik ketika mulai berkarya.
“Kalau kita berkarya, pasti akan ada yang tidak suka, ada yang mengkritik. Justru dari situ kita belajar menjadi lebih baik,” katanya.
Menurutnya, sebuah tulisan tidak harus menunggu sempurna untuk dibagikan kepada pembaca.
“Selama tulisan itu hanya disimpan di laptop atau buku catatan, tulisan itu belum hidup. Tulisan harus disampaikan supaya mendapat respons dan masukan,” ujarnya.
Tsana juga mengungkapkan bahwa saat ini dirinya banyak mencari inspirasi dari berbagai isu yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Baginya, seorang penulis harus memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan pembaca.
Selain sesi diskusi, acara yang digelar Gramedia tersebut juga menghadirkan sesi foto bersama dan penandatanganan buku.
Kesempatan tersebut diberikan kepada 100 pembaca pertama yang membeli novel “Musim yang Tak Sempat Kita Miliki”.
Kegiatan meet and greet yang berlangsung gratis dan terbuka untuk umum tersebut mendapat sambutan antusias dari ratusan penggemar yang memadati lokasi acara. (Lid)
KALBARONLINE.com – Penulis Rintik Sedu, Nadhifa Allya Tsana atau yang akrab disapa Paus, menyapa para pembacanya dalam acara meet and greet di Gramedia Gaia Bumi Raya City, Pontianak, Sabtu (1/8/2026).
Pontianak menjadi salah satu kota dalam rangkaian tur peluncuran novel terbarunya berjudul “Musim yang Tak Sempat Kita Miliki”.
Sebelum hadir di Pontianak, Tsana telah menyambangi sejumlah kota seperti Bandung, Yogyakarta, Pekanbaru, dan Makassar dalam rangkaian promosi karya terbarunya.
Dalam sesi tanya jawab, Tsana menceritakan alasan di balik penggunaan nama pena Rintik Sedu yang selama ini dikenal oleh para pembacanya.
Menurutnya, sejak awal ia ingin pembaca lebih mengenal karya yang ditulis dibandingkan sosok penulisnya.
“Awalnya saya ingin orang fokus pada apa yang saya tulis, bukan siapa yang menulisnya. Saya ingin membuat ruang baru tanpa orang melihat siapa penulisnya,” ujar Tsana.
Ia menjelaskan, kata Rintik dipilih karena memiliki kesan menenangkan, sementara Sedu menggambarkan tema kesedihan yang sering hadir dalam karya-karyanya.
Selain membahas nama pena, Tsana juga membagikan perjalanan panjangnya hingga dikenal sebagai penulis.
Ia mengaku tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang penulis karena sejak kecil justru diarahkan untuk menempuh profesi sebagai dokter.
Namun, kebiasaan menulis sejak remaja perlahan membawanya dikenal luas melalui blog dan platform Wattpad hingga akhirnya mendapatkan kesempatan menerbitkan buku.
Kepada para penulis muda, Tsana berpesan agar tidak takut menghadapi kritik ketika mulai berkarya.
“Kalau kita berkarya, pasti akan ada yang tidak suka, ada yang mengkritik. Justru dari situ kita belajar menjadi lebih baik,” katanya.
Menurutnya, sebuah tulisan tidak harus menunggu sempurna untuk dibagikan kepada pembaca.
“Selama tulisan itu hanya disimpan di laptop atau buku catatan, tulisan itu belum hidup. Tulisan harus disampaikan supaya mendapat respons dan masukan,” ujarnya.
Tsana juga mengungkapkan bahwa saat ini dirinya banyak mencari inspirasi dari berbagai isu yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Baginya, seorang penulis harus memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan pembaca.
Selain sesi diskusi, acara yang digelar Gramedia tersebut juga menghadirkan sesi foto bersama dan penandatanganan buku.
Kesempatan tersebut diberikan kepada 100 pembaca pertama yang membeli novel “Musim yang Tak Sempat Kita Miliki”.
Kegiatan meet and greet yang berlangsung gratis dan terbuka untuk umum tersebut mendapat sambutan antusias dari ratusan penggemar yang memadati lokasi acara. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini