Pontianak    

Robo-Robo Pontianak 2026: Ketupat Colet, Doa Tolak Bala dan Tradisi yang Merekatkan Warga

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Wednesday, 12 August 2026
Robo-Robo Pontianak 2026: Ketupat Colet, Doa Tolak Bala dan Tradisi yang Merekatkan Warga
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono memberikan sambutannya saat membuka Pesta Rakyat Robo-Robo Kota Pontianak 2026 di Gedung Serbaguna Kelurahan Banjar Serasan (Foto: Prokopim For KALBARONLINE.com)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com - Semua duduk bersila, bersisian tanpa sekat. Tokoh masyarakat, pejabat, ulama, aparat, ibu-ibu hingga warga biasa membaur di sepanjang seprah. Tangan-tangan terulur bergantian mengambil hidangan, sementara percakapan dan sapaan akrab mengisi suasana.

Di atas kain kuning keemasan, tersaji botol air minum, piring saji dan aneka hidangan. Ketupat colet menjadi salah satu sajian utama, ditemani nasi putih, lauk berkuah, paceri, dalca, rendang serta berbagai pelengkap lainnya.

Pemandangan tersebut menjadi bagian dari Pesta Rakyat Robo-Robo Kota Pontianak 2026. Tradisi yang setiap tahun digelar itu tidak hanya menghadirkan jamuan makan bersama, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memanjatkan doa, bersyukur dan mempererat silaturahmi.

Ketupat colet yang disantap bersama menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut. Hidangan yang dinikmati bersama seolah menghapus sekat sosial dan mempertemukan warga dalam suasana yang setara.

Bagi masyarakat Pontianak, Robo-Robo juga memiliki dimensi spiritual. Tradisi ini menjadi momentum untuk memanjatkan doa tolak bala, memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah SWT agar masyarakat dijauhkan dari berbagai marabahaya.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan Robo-Robo bukan sekadar agenda tahunan atau perayaan budaya. Menurutnya, tradisi tersebut memiliki makna religius sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan masyarakat.

“Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, ancaman kebakaran lahan, hingga penurunan kualitas air Sungai Kapuas akibat intrusi air laut, Robo-Robo terasa makin relevan sebagai ikhtiar batin masyarakat untuk mengetuk langit bersama,” ujarnya ketika membuka Pesta Rakyat Robo-Robo Kota Pontianak 2026 di Gedung Serbaguna Kelurahan Banjar Serasan, Jalan Tanjung Raya II, Rabu (12/8/2026).

Menurut Edi, Robo-Robo juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Tradisi makan bersama yang berlangsung di ruang publik maupun lingkungan permukiman mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Ia mengingatkan, sebagai kota yang heterogen, Pontianak membutuhkan persatuan dan kepedulian antarwarga agar pembangunan dapat terus berjalan.

Peringatan Robo-Robo tahun ini juga berlangsung beriringan dengan semangat menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Kita tidak cuma melestarikan tradisi, tetapi juga mengisinya dengan ketertiban, kepedulian sosial, ketaatan pada aturan, serta komitmen menjaga kebersihan dan kedamaian kota,” katanya.

Tradisi Robo-Robo turut berlangsung di Taman Teras Parit Nanas, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara.

Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menyebut Robo-Robo sebagai warisan budaya yang tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga dimaknai lebih dalam.

Menurutnya, Robo-Robo menjadi momentum bagi masyarakat untuk bermunajat bersama, memanjatkan doa keselamatan dunia dan akhirat sekaligus mensyukuri nikmat kehidupan yang diberikan Allah SWT.

Bahasan menilai salah satu nilai penting dari Robo-Robo adalah kemampuannya menjaga kerukunan masyarakat Pontianak yang majemuk. Kota ini dihuni masyarakat dari berbagai suku, agama dan latar belakang.

“Perbedaan kita jadikan kekuatan untuk saling menghormati,” katanya.

Menurut Bahasan, kondusivitas kota tidak cukup hanya dijaga pemerintah dan aparat. Peran masyarakat melalui kesadaran kolektif juga menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan dan kerukunan.

Ia juga mengaitkan semangat Robo-Robo dengan kepedulian terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Dari Pontianak Utara, Bahasan menyoroti pentingnya perhatian terhadap ruang publik, penerangan lingkungan, pendidikan hingga penanganan rumah tidak layak huni.

“Ini harus jadi pengingat kita untuk saling membantu, saling menjaga, dan memastikan tak ada warga yang tertinggal,” sebutnya.

Robo-Robo pada akhirnya tidak hanya menjadi tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalamnya terdapat doa, rasa syukur, kebersamaan dan semangat menjaga kerukunan.

Melalui seprah dan ketupat colet yang disantap bersama, masyarakat Pontianak kembali diingatkan bahwa tradisi akan tetap hidup ketika tidak sekadar dikenang, tetapi terus dijalankan bersama. (*)

Artikel Selanjutnya
Supriadi Terpilih Aklamasi Pimpin PWI Ketapang 2026-2029
Wednesday, 12 August 2026
Artikel Sebelumnya
Pontianak Raih Nilai 98,2 Indeks Reformasi Hukum, Masuk Kategori Istimewa
Wednesday, 12 August 2026

Berita terkait