Ketapang    

Krisis Air Bersih Melanda Lima Desa di Pulau Maya, Warga Terpaksa Gunakan Air Parit

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Thursday, 20 August 2026
Krisis Air Bersih Melanda Lima Desa di Pulau Maya, Warga Terpaksa Gunakan Air Parit
Krisis air bersih melanda lima desa di Pulau Maya, Kayong Utara. Warga terpaksa memakai air parit untuk kebutuhan sehari-hari (Foto: Adi LC/KALBARONLINE.com)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Kondisi terparah dilaporkan terjadi di Kecamatan Pulau Maya Karimata, dengan sedikitnya lima desa mengalami kekeringan cukup parah.

Sumur-sumur warga mulai mengering. Persediaan air hujan yang selama ini menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari juga semakin menipis, bahkan habis.

Dalam kondisi tersebut, warga Desa Kamboje dan Desa Dusun Kecil terpaksa menggunakan air parit untuk mandi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air parit yang digunakan disebut bercampur lumpur serta terdampak jerebu atau kabut asap sisa kebakaran lahan.

Sementara untuk kebutuhan minum, warga selama ini mengandalkan air hujan yang ditampung. Namun, persediaan tersebut kini berada dalam kondisi kritis akibat kemarau panjang.

Salah seorang warga Desa Kamboje, Ujang, berharap Pemerintah Kabupaten Kayong Utara segera mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak. Ia juga meminta pemerintah membangun sumur bor sebagai solusi jangka panjang.

“Kalau sekarang ini, kami sangat perlu sekali air bersih. Keadaan saat ini sumur sudah kering. Air hujan yang dipakai selama musim panas ini sudah habis. Terpaksa air parit campur lumpur, debu asap bekas kebakaran dipakai buat sehari-hari,” katanya, Kamis (20/8/2026).

Selain meminta bantuan pemerintah, Ujang berharap pihak perusahaan yang ada di Kayong Utara turut membantu mengatasi kesulitan air bersih yang dialami masyarakat Pulau Maya.

Berdasarkan laporan masyarakat, terdapat sedikitnya lima desa di Kecamatan Pulau Maya yang mengalami kondisi kekeringan cukup parah, yakni Desa Dusun Besar, Desa Dusun Kecil, Desa Kamboje, Desa Satai Lestari, dan Desa Tanjung Satai.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kayong Utara, Alias Syahroni, mengatakan kekeringan sebenarnya dirasakan hampir merata di sejumlah wilayah Kayong Utara.

Namun, menurutnya, kondisi geografis membuat wilayah Kecamatan Pulau Maya menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah.

“Sumber air bersih warga yang berasal dari sumur sudah mengering, sedangkan tampungan air hujan sudah habis,” ujarnya.

Alias meminta Pemkab Kayong Utara bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama pasokan air bersih.

Menurutnya, sektor swasta, termasuk perusahaan yang berinvestasi di Kayong Utara, juga perlu mengambil bagian dalam penanganan krisis air tersebut.

“Pendistribusian air bersih sangat urgen buat masyarakat Pulau Maya saat ini. Saya juga berharap pihak swasta ambil bagian,” katanya.

Ia menilai bantuan dari pihak swasta yang selama ini disalurkan belum menjangkau masyarakat di Kecamatan Pulau Maya Karimata. Salah satu kendalanya adalah akses menuju wilayah tersebut yang relatif sulit.

“Memang Kecamatan Pulau Maya ini sulit akses jalur darat. Sehingga nanti dalam pendistribusian bantuan air bersih, Pemda berkolaborasi dengan pihak swasta terutama investor di Penebang,” kata Alias.

Ia berharap pemerintah daerah bersama pihak swasta dapat mencari skema distribusi yang tepat agar bantuan air bersih segera menjangkau masyarakat yang kini menghadapi kekeringan dan keterbatasan sumber air. (Adi LC)

Artikel Selanjutnya
Cegah Kelangkaan BBM, Empat SPBU di Kapuas Hulu Jadi Sasaran Penertiban Tim Operasi Terpadu
Thursday, 20 August 2026
Artikel Sebelumnya
Kemarau Panjang, IKKRAMAT Ajak Warga Gelar Shalat Istisqa di Keraton Matan Tanjungpura
Thursday, 20 August 2026

Berita terkait