Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 24 August 2026 |
KALBARONLINE.com - Upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Tuberkulosis (TBC) terus dilakukan melalui kegiatan edukasi kesehatan. Salah satunya dilakukan kepada pengunjung rawat jalan RSUD SSMA, Senin (24/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Ns. Rifda Angelina Wulandari, S.Kep. memberikan edukasi mengenai TBC secara menyeluruh, mulai dari pengertian, jenis, gejala, pemeriksaan, pencegahan hingga pentingnya menjalani pengobatan secara tuntas.
Ns. Rifda menjelaskan, Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lainnya. TBC menjadi salah satu penyakit menular yang perlu mendapat perhatian karena dapat menyebar melalui udara ketika penderita TBC paru mengeluarkan kuman, terutama saat batuk, bersin, berbicara atau meludah.
Menurutnya, beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, berat badan menurun, nafsu makan berkurang, tubuh mudah lelah, serta batuk berdahak yang dapat disertai darah.
“Jangan menganggap batuk berkepanjangan sebagai hal biasa. Jika terdapat gejala yang mencurigakan, segera lakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan,” jelas Ns. Rifda dalam edukasinya.
Untuk memastikan seseorang menderita TBC, Rifda menjelaskan perlunya pemeriksaan penunjang, meliputi pemeriksaan dahak, rontgen dada maupun pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien.
Pemeriksaan sejak dini sangat penting agar penderita segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan kepada keluarga maupun orang di sekitarnya dapat dikurangi.
Ns. Rifda juga mengingatkan bahwa pencegahan TBC perlu dilakukan bersama. Masyarakat dianjurkan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga ventilasi serta sirkulasi udara, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika diperlukan, serta melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala yang mengarah ke TBC.
“Vaksinasi BCG pada bayi juga merupakan salah satu upaya pencegahan yang penting, terutama untuk membantu melindungi anak dari bentuk TBC yang berat,” ungkapnya.
Selain pencegahan, kepatuhan menjalani pengobatan juga menjadi hal penting. Rifda mengingatkan pasien TBC untuk tidak menghentikan pengobatan secara sepihak meski sudah merasa lebih baik.
“Walaupun sudah merasa lebih baik, obat TBC tetap harus diminum sampai selesai sesuai petunjuk. Jangan menghentikan pengobatan sendiri,” tegas Ns. Rifda.
Pasalnya, pengobatan yang tidak tuntas dapat meningkatkan risiko penyakit kambuh dan munculnya kuman TBC yang resistan terhadap obat.
“Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa TBC dapat dicegah, dapat didiagnosis, dan dapat disembuhkan apabila ditangani dengan tepat serta pengobatannya dijalani sampai tuntas,” pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com - Upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Tuberkulosis (TBC) terus dilakukan melalui kegiatan edukasi kesehatan. Salah satunya dilakukan kepada pengunjung rawat jalan RSUD SSMA, Senin (24/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Ns. Rifda Angelina Wulandari, S.Kep. memberikan edukasi mengenai TBC secara menyeluruh, mulai dari pengertian, jenis, gejala, pemeriksaan, pencegahan hingga pentingnya menjalani pengobatan secara tuntas.
Ns. Rifda menjelaskan, Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lainnya. TBC menjadi salah satu penyakit menular yang perlu mendapat perhatian karena dapat menyebar melalui udara ketika penderita TBC paru mengeluarkan kuman, terutama saat batuk, bersin, berbicara atau meludah.
Menurutnya, beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, berat badan menurun, nafsu makan berkurang, tubuh mudah lelah, serta batuk berdahak yang dapat disertai darah.
“Jangan menganggap batuk berkepanjangan sebagai hal biasa. Jika terdapat gejala yang mencurigakan, segera lakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan,” jelas Ns. Rifda dalam edukasinya.
Untuk memastikan seseorang menderita TBC, Rifda menjelaskan perlunya pemeriksaan penunjang, meliputi pemeriksaan dahak, rontgen dada maupun pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien.
Pemeriksaan sejak dini sangat penting agar penderita segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan kepada keluarga maupun orang di sekitarnya dapat dikurangi.
Ns. Rifda juga mengingatkan bahwa pencegahan TBC perlu dilakukan bersama. Masyarakat dianjurkan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga ventilasi serta sirkulasi udara, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika diperlukan, serta melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala yang mengarah ke TBC.
“Vaksinasi BCG pada bayi juga merupakan salah satu upaya pencegahan yang penting, terutama untuk membantu melindungi anak dari bentuk TBC yang berat,” ungkapnya.
Selain pencegahan, kepatuhan menjalani pengobatan juga menjadi hal penting. Rifda mengingatkan pasien TBC untuk tidak menghentikan pengobatan secara sepihak meski sudah merasa lebih baik.
“Walaupun sudah merasa lebih baik, obat TBC tetap harus diminum sampai selesai sesuai petunjuk. Jangan menghentikan pengobatan sendiri,” tegas Ns. Rifda.
Pasalnya, pengobatan yang tidak tuntas dapat meningkatkan risiko penyakit kambuh dan munculnya kuman TBC yang resistan terhadap obat.
“Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa TBC dapat dicegah, dapat didiagnosis, dan dapat disembuhkan apabila ditangani dengan tepat serta pengobatannya dijalani sampai tuntas,” pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini