Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 23 October 2026 |
KALBARONLINE.com – Sebanyak tujuh mahasiswa dilaporkan mengalami luka-luka akibat dugaan pemukulan saat aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Kalimantan Barat dan Bundaran Tugu Digulis, Pontianak, Selasa (20/10/2026). Perwakilan mahasiswa kini resmi melaporkan dugaan kekerasan tersebut ke Polda Kalbar.
DEMA IAIN Pontianak, Fiki, mengatakan laporan itu disampaikan pada Rabu (21/10/2026). Ia mendesak aparat kepolisian segera mengusut dugaan pemukulan yang dialami para mahasiswa.
“Saya minta para pelaku pemukulan terhadap mahasiswa segera ditangkap dan diusut tuntas,” kata Fiki.
Ia menduga pemukulan tersebut dilakukan oleh oknum anggota organisasi kemasyarakatan (ormas). Fiki berharap pihak yang terbukti terlibat segera diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Saya berharap para pelaku ini segera diproses dan diadili,” lanjutnya.
Sebelumnya, aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Kalimantan Barat pada Selasa (20/10/2026) diwarnai kericuhan. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan dugaan kekerasan terhadap peserta aksi oleh sejumlah orang berpakaian preman yang diduga merupakan oknum anggota ormas.
Berdasarkan rekaman video yang beredar, dugaan pemukulan terlihat di tiga titik, yakni halaman dan depan Kantor Gubernur Kalbar serta kawasan Bundaran Digulis Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak.
Dalam salah satu video, keributan terlihat terjadi setelah mahasiswa membakar ban di halaman Kantor Gubernur Kalbar. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang berada di lokasi kemudian membawa alat pemadam untuk memadamkan ban tersebut.
Situasi kemudian memanas. Sejumlah orang berpakaian preman terlihat memukul mahasiswa di halaman kantor gubernur. Video lainnya memperlihatkan dugaan pemukulan terhadap peserta aksi di depan kantor tersebut.
Dugaan kekerasan juga terlihat dalam rekaman dari kawasan Bundaran Digulis Untan. Sejumlah orang berpakaian preman tampak menarik mahasiswa dan diduga melakukan pemukulan. Terdengar pula teriakan meminta pertolongan serta suara histeris seorang perempuan di antara peserta aksi.
Meski demikian, identitas dan afiliasi orang-orang yang terlihat dalam video tersebut belum terkonfirmasi secara independen. Dugaan keterlibatan oknum anggota ormas maupun pihak lain masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
Salah seorang mahasiswa peserta aksi, Muhammad Wafi, mengaku kecewa atas tindakan yang menurutnya dialami mahasiswa saat menyampaikan aspirasi. Ia juga menyinggung dugaan keterlibatan intel dalam kekerasan terhadap peserta demonstrasi.
“Saya sebagai mahasiswa biasa sekaligus rakyat biasa, kami hanya mau menyampaikan aspirasi rakyat, hanya menyuarakan keadilan yang tidak kami dapatkan. Tapi hari ini kawan-kawan dipukul mundur dan dipukul habis-habisan oleh intel, akan tetapi kami tidak melawan,” ujar Wafi.
Pernyataan tersebut merupakan keterangan Wafi. Identitas pihak yang dimaksud sebagai intel serta dugaan keterlibatannya dalam pemukulan masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.
Wafi berharap pihak-pihak yang terbukti melakukan kekerasan terhadap mahasiswa diproses sesuai ketentuan hukum. Ia juga menyoroti kehadiran peserta aksi perempuan yang menurutnya menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan intimidasi maupun pelecehan selama demonstrasi berlangsung.
“Apalagi kami hari ini membawa massa dari kaum perempuan yang kami khawatirkan ada aspek pelecehan dan intimidasi terhadap mereka,” katanya.
Menurut Wafi, mahasiswa datang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah provinsi. Namun, ia menilai respons yang diterima dalam aksi tersebut membuat peserta merasa aspirasi mereka tidak diterima dengan baik.
“Kami hadir di sini untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Tapi hari ini pemerintah menolak secara mentah rakyatnya menyampaikan aspirasi. Kami akan membawa massa yang lebih ramai,” ujarnya.
Ia menegaskan mahasiswa akan kembali mengkaji berbagai persoalan di Kalimantan Barat sebelum menentukan langkah dan tuntutan berikutnya.
“Kami tidak akan mundur. Dua puluh empat jam kami kaji masalah yang ada di Kalbar karena hari ini Kalbar belum sepenuhnya merdeka,” tegasnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa disebut menyampaikan 20 tuntutan yang mencakup sejumlah persoalan, di antaranya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), korupsi, pendidikan, serta ekonomi.
Sementara itu, Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto mengatakan akan mengecek terlebih dahulu informasi mengenai dugaan keterlibatan oknum anggota ormas dalam pemukulan terhadap mahasiswa.
“Nanti saya cek dulu ya,” kata Endang Tri Purwanto.
Hingga berita ini ditulis, kronologi lengkap kericuhan, identitas orang-orang yang diduga melakukan pemukulan, serta dugaan keterlibatan oknum anggota ormas dan intel masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Perkembangan laporan mahasiswa ke Polda Kalbar menjadi bagian penting dalam penelusuran kasus tersebut.
KALBARONLINE.com – Sebanyak tujuh mahasiswa dilaporkan mengalami luka-luka akibat dugaan pemukulan saat aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Kalimantan Barat dan Bundaran Tugu Digulis, Pontianak, Selasa (20/10/2026). Perwakilan mahasiswa kini resmi melaporkan dugaan kekerasan tersebut ke Polda Kalbar.
DEMA IAIN Pontianak, Fiki, mengatakan laporan itu disampaikan pada Rabu (21/10/2026). Ia mendesak aparat kepolisian segera mengusut dugaan pemukulan yang dialami para mahasiswa.
“Saya minta para pelaku pemukulan terhadap mahasiswa segera ditangkap dan diusut tuntas,” kata Fiki.
Ia menduga pemukulan tersebut dilakukan oleh oknum anggota organisasi kemasyarakatan (ormas). Fiki berharap pihak yang terbukti terlibat segera diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Saya berharap para pelaku ini segera diproses dan diadili,” lanjutnya.
Sebelumnya, aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Kalimantan Barat pada Selasa (20/10/2026) diwarnai kericuhan. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan dugaan kekerasan terhadap peserta aksi oleh sejumlah orang berpakaian preman yang diduga merupakan oknum anggota ormas.
Berdasarkan rekaman video yang beredar, dugaan pemukulan terlihat di tiga titik, yakni halaman dan depan Kantor Gubernur Kalbar serta kawasan Bundaran Digulis Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak.
Dalam salah satu video, keributan terlihat terjadi setelah mahasiswa membakar ban di halaman Kantor Gubernur Kalbar. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang berada di lokasi kemudian membawa alat pemadam untuk memadamkan ban tersebut.
Situasi kemudian memanas. Sejumlah orang berpakaian preman terlihat memukul mahasiswa di halaman kantor gubernur. Video lainnya memperlihatkan dugaan pemukulan terhadap peserta aksi di depan kantor tersebut.
Dugaan kekerasan juga terlihat dalam rekaman dari kawasan Bundaran Digulis Untan. Sejumlah orang berpakaian preman tampak menarik mahasiswa dan diduga melakukan pemukulan. Terdengar pula teriakan meminta pertolongan serta suara histeris seorang perempuan di antara peserta aksi.
Meski demikian, identitas dan afiliasi orang-orang yang terlihat dalam video tersebut belum terkonfirmasi secara independen. Dugaan keterlibatan oknum anggota ormas maupun pihak lain masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
Salah seorang mahasiswa peserta aksi, Muhammad Wafi, mengaku kecewa atas tindakan yang menurutnya dialami mahasiswa saat menyampaikan aspirasi. Ia juga menyinggung dugaan keterlibatan intel dalam kekerasan terhadap peserta demonstrasi.
“Saya sebagai mahasiswa biasa sekaligus rakyat biasa, kami hanya mau menyampaikan aspirasi rakyat, hanya menyuarakan keadilan yang tidak kami dapatkan. Tapi hari ini kawan-kawan dipukul mundur dan dipukul habis-habisan oleh intel, akan tetapi kami tidak melawan,” ujar Wafi.
Pernyataan tersebut merupakan keterangan Wafi. Identitas pihak yang dimaksud sebagai intel serta dugaan keterlibatannya dalam pemukulan masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.
Wafi berharap pihak-pihak yang terbukti melakukan kekerasan terhadap mahasiswa diproses sesuai ketentuan hukum. Ia juga menyoroti kehadiran peserta aksi perempuan yang menurutnya menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan intimidasi maupun pelecehan selama demonstrasi berlangsung.
“Apalagi kami hari ini membawa massa dari kaum perempuan yang kami khawatirkan ada aspek pelecehan dan intimidasi terhadap mereka,” katanya.
Menurut Wafi, mahasiswa datang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah provinsi. Namun, ia menilai respons yang diterima dalam aksi tersebut membuat peserta merasa aspirasi mereka tidak diterima dengan baik.
“Kami hadir di sini untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Tapi hari ini pemerintah menolak secara mentah rakyatnya menyampaikan aspirasi. Kami akan membawa massa yang lebih ramai,” ujarnya.
Ia menegaskan mahasiswa akan kembali mengkaji berbagai persoalan di Kalimantan Barat sebelum menentukan langkah dan tuntutan berikutnya.
“Kami tidak akan mundur. Dua puluh empat jam kami kaji masalah yang ada di Kalbar karena hari ini Kalbar belum sepenuhnya merdeka,” tegasnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa disebut menyampaikan 20 tuntutan yang mencakup sejumlah persoalan, di antaranya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), korupsi, pendidikan, serta ekonomi.
Sementara itu, Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto mengatakan akan mengecek terlebih dahulu informasi mengenai dugaan keterlibatan oknum anggota ormas dalam pemukulan terhadap mahasiswa.
“Nanti saya cek dulu ya,” kata Endang Tri Purwanto.
Hingga berita ini ditulis, kronologi lengkap kericuhan, identitas orang-orang yang diduga melakukan pemukulan, serta dugaan keterlibatan oknum anggota ormas dan intel masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Perkembangan laporan mahasiswa ke Polda Kalbar menjadi bagian penting dalam penelusuran kasus tersebut.
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini