Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 23 October 2026 |
KALBARONLINE.com – “Tahun satu tujuh tujuh satu, Pontianak lahir penuh sejarah. Di tepian Sungai Kapuas, di garis Khatulistiwa.”
Penggalan lirik Mars Kota Pontianak itu membawa pendengarnya kembali pada identitas paling mendasar kota ini. Pontianak lahir pada 1771, tumbuh di tepian Sungai Kapuas, dan dikenal karena dilintasi garis Khatulistiwa. Namun, mars tersebut tidak hanya berkisah tentang masa lalu. Bait-baitnya juga menggambarkan Pontianak hari ini sekaligus menyimpan harapan tentang kota yang ingin diwariskan kepada generasi mendatang.
Pontianak disebut sebagai “kota kebanggaan”, “kota bersahabat penuh harapan”, hingga tempat warganya bertaut dalam kebersamaan dan membangun dengan pengabdian. Pesannya dipertegas melalui bagian refrain yang mengajak masyarakat bersatu melangkah dan terus berkarya untuk Indonesia.
Bagi Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, mars tersebut lebih dari sekadar lagu seremonial. Liriknya memuat nilai-nilai yang diharapkan tumbuh dalam kehidupan masyarakat dan menjadi bagian dari arah pembangunan kota.
“Di dalam Mars Kota Pontianak ada sejarah, ada identitas, tetapi juga ada cita-cita kita bersama. Pontianak ingin terus tumbuh sebagai kota yang nyaman, humanis dan memberikan ruang bagi masyarakatnya untuk maju dan berprestasi,” ujarnya usai peringatan Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak, Jumat (23/10/2026).
Identitas Pontianak juga tergambar dalam bait kedua yang menggambarkan kota berbudaya, tempat beragam tradisi bertemu dalam harmoni. Di tengah perkembangan kota, kelestarian alam turut mendapat tempat melalui kalimat “hijau kota, lestari alamnya”.
Menurut Edi, kemajuan kota tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik. Pontianak juga harus memiliki karakter, menjaga lingkungan, merawat kebudayaan, serta memastikan masyarakat tetap menjadi pusat pembangunan.
“Pembangunan pada akhirnya harus kembali kepada manusianya. Kotanya boleh semakin maju, infrastrukturnya semakin baik, tetapi nilai kebersamaan, budaya, kepedulian terhadap lingkungan dan rasa memiliki terhadap Pontianak juga harus terus kita jaga,” katanya.
Semangat itu bertemu dengan gambaran Pontianak sebagai sebuah rumah, sebagaimana tergambar dalam penggalan lirik, “Menjadi rumah tempat bernaung, tempat tumbuh generasi gemilang.”
Kalimat tersebut menyimpan pesan sederhana tetapi mendalam. Kota bukan sekadar kumpulan jalan, bangunan, dan fasilitas publik. Kota adalah ruang hidup, tempat anak-anak tumbuh, keluarga membangun masa depan, masyarakat bekerja dan berkreasi, serta generasi demi generasi meninggalkan jejaknya.
Karena itu, menurut Edi, pembangunan Pontianak bukan hanya menyangkut kebutuhan masyarakat saat ini, melainkan juga tentang kota seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Kita ingin anak-anak Pontianak tumbuh dengan rasa bangga terhadap kotanya. Mereka mengenal sejarahnya, mencintai budayanya, menjaga lingkungannya dan pada saat yang sama memiliki kesempatan yang luas untuk berprestasi. Mereka inilah yang nantinya meneruskan perjalanan Pontianak,” tuturnya.
Mars Kota Pontianak merangkum semangat tersebut dalam empat kalimat sederhana:
Pontianak, Kota Tercinta.
Berbakti untuk Indonesia.
Bersatu melangkah, terus berkarya.
Pontianak jaya selamanya.
Di balik irama mars yang membangkitkan semangat, tersimpan ajakan bagi setiap warga untuk mengambil bagian dalam perjalanan kota. Mencintai Pontianak tidak berhenti pada kebanggaan menyebut Sungai Kapuas, garis Khatulistiwa, maupun sejarah panjangnya. Kecintaan itu menemukan makna ketika diwujudkan melalui kebersamaan, pengabdian, kepedulian terhadap lingkungan, pelestarian budaya, serta karya yang membawa kota terus bergerak maju.
Dari kota yang lahir di tepian Kapuas lebih dari dua setengah abad lalu, Mars Kota Pontianak seakan mengingatkan bahwa perjalanan kota ini masih panjang. Masa depannya akan ditulis bersama oleh orang-orang yang menyebutnya rumah. (*)
KALBARONLINE.com – “Tahun satu tujuh tujuh satu, Pontianak lahir penuh sejarah. Di tepian Sungai Kapuas, di garis Khatulistiwa.”
Penggalan lirik Mars Kota Pontianak itu membawa pendengarnya kembali pada identitas paling mendasar kota ini. Pontianak lahir pada 1771, tumbuh di tepian Sungai Kapuas, dan dikenal karena dilintasi garis Khatulistiwa. Namun, mars tersebut tidak hanya berkisah tentang masa lalu. Bait-baitnya juga menggambarkan Pontianak hari ini sekaligus menyimpan harapan tentang kota yang ingin diwariskan kepada generasi mendatang.
Pontianak disebut sebagai “kota kebanggaan”, “kota bersahabat penuh harapan”, hingga tempat warganya bertaut dalam kebersamaan dan membangun dengan pengabdian. Pesannya dipertegas melalui bagian refrain yang mengajak masyarakat bersatu melangkah dan terus berkarya untuk Indonesia.
Bagi Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, mars tersebut lebih dari sekadar lagu seremonial. Liriknya memuat nilai-nilai yang diharapkan tumbuh dalam kehidupan masyarakat dan menjadi bagian dari arah pembangunan kota.
“Di dalam Mars Kota Pontianak ada sejarah, ada identitas, tetapi juga ada cita-cita kita bersama. Pontianak ingin terus tumbuh sebagai kota yang nyaman, humanis dan memberikan ruang bagi masyarakatnya untuk maju dan berprestasi,” ujarnya usai peringatan Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak, Jumat (23/10/2026).
Identitas Pontianak juga tergambar dalam bait kedua yang menggambarkan kota berbudaya, tempat beragam tradisi bertemu dalam harmoni. Di tengah perkembangan kota, kelestarian alam turut mendapat tempat melalui kalimat “hijau kota, lestari alamnya”.
Menurut Edi, kemajuan kota tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik. Pontianak juga harus memiliki karakter, menjaga lingkungan, merawat kebudayaan, serta memastikan masyarakat tetap menjadi pusat pembangunan.
“Pembangunan pada akhirnya harus kembali kepada manusianya. Kotanya boleh semakin maju, infrastrukturnya semakin baik, tetapi nilai kebersamaan, budaya, kepedulian terhadap lingkungan dan rasa memiliki terhadap Pontianak juga harus terus kita jaga,” katanya.
Semangat itu bertemu dengan gambaran Pontianak sebagai sebuah rumah, sebagaimana tergambar dalam penggalan lirik, “Menjadi rumah tempat bernaung, tempat tumbuh generasi gemilang.”
Kalimat tersebut menyimpan pesan sederhana tetapi mendalam. Kota bukan sekadar kumpulan jalan, bangunan, dan fasilitas publik. Kota adalah ruang hidup, tempat anak-anak tumbuh, keluarga membangun masa depan, masyarakat bekerja dan berkreasi, serta generasi demi generasi meninggalkan jejaknya.
Karena itu, menurut Edi, pembangunan Pontianak bukan hanya menyangkut kebutuhan masyarakat saat ini, melainkan juga tentang kota seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Kita ingin anak-anak Pontianak tumbuh dengan rasa bangga terhadap kotanya. Mereka mengenal sejarahnya, mencintai budayanya, menjaga lingkungannya dan pada saat yang sama memiliki kesempatan yang luas untuk berprestasi. Mereka inilah yang nantinya meneruskan perjalanan Pontianak,” tuturnya.
Mars Kota Pontianak merangkum semangat tersebut dalam empat kalimat sederhana:
Pontianak, Kota Tercinta.
Berbakti untuk Indonesia.
Bersatu melangkah, terus berkarya.
Pontianak jaya selamanya.
Di balik irama mars yang membangkitkan semangat, tersimpan ajakan bagi setiap warga untuk mengambil bagian dalam perjalanan kota. Mencintai Pontianak tidak berhenti pada kebanggaan menyebut Sungai Kapuas, garis Khatulistiwa, maupun sejarah panjangnya. Kecintaan itu menemukan makna ketika diwujudkan melalui kebersamaan, pengabdian, kepedulian terhadap lingkungan, pelestarian budaya, serta karya yang membawa kota terus bergerak maju.
Dari kota yang lahir di tepian Kapuas lebih dari dua setengah abad lalu, Mars Kota Pontianak seakan mengingatkan bahwa perjalanan kota ini masih panjang. Masa depannya akan ditulis bersama oleh orang-orang yang menyebutnya rumah. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini