Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 23 October 2026 |
KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai Festival Melayu Khatulistiwa menjadi ruang penting untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Pontianak.
Festival Melayu Khatulistiwa II digelar dalam rangka Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak pada 22–25 Oktober 2026 di Alun-alun Kapuas. Beragam kegiatan meramaikan festival ini, mulai dari lomba tundang pelajar, senam jepin kreasi, tari Melayu, saprahan pelajar, lomba mewarnai anak, fashion show corak insang, ekspresi komunitas, pameran dan pencucian pusaka, hingga pertunjukan tari multietnis. Puluhan stan UMKM juga turut memeriahkan acara tersebut.
“Festival Melayu Khatulistiwa ini menjadi salah satu puncak kemeriahan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Pontianak,” ujar Edi saat membuka kegiatan tersebut, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, festival budaya memiliki nilai lebih dari sekadar pertunjukan seni. Kegiatan ini melibatkan seniman, budayawan, komunitas, penggiat seni hingga pelaku UMKM sehingga berpotensi memberikan dampak ekonomi secara langsung.
“Saya mengapresiasi panitia yang terus berkontribusi menjadikan kegiatan budaya sebagai bagian dari ekonomi kreatif, dengan melibatkan para seniman, penggiat seni dan tentunya memberikan dampak juga kepada pelaku UMKM,” katanya.
Edi berharap penyelenggaraan Festival Melayu Khatulistiwa terus dievaluasi dan dikembangkan agar semakin besar. Ke depan, ia ingin festival tersebut tidak hanya diikuti peserta dari Pontianak dan Kalimantan Barat, tetapi juga mampu menarik partisipasi dari daerah lain.
Menurutnya, Pontianak memiliki modal budaya yang kuat untuk mengembangkan festival berskala lebih luas. Sebagai kota yang tumbuh dari pertemuan berbagai etnis dan budaya, Pontianak memiliki kekayaan tradisi yang dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat luas.
“Sebagai kota yang beradab dan berbudaya, kegiatan-kegiatan budaya harus kita dukung, fasilitasi dan kita beri ruang supaya kehidupan masyarakat semakin kaya dengan budaya khas masing-masing suku, terutama Melayu dan budaya lainnya,” katanya.
Ia menegaskan, upaya memperkuat dan melestarikan khazanah budaya lokal merupakan tanggung jawab bersama. Warisan budaya harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.
“Tujuan mulianya adalah memperkuat dan melestarikan khazanah budaya lokal Pontianak, khususnya budaya Melayu. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama agar warisan luhur tersebut tidak pudar,” jelasnya.
Edi juga berharap festival ini menjadi ruang lahirnya talenta-talenta baru di bidang seni dan budaya. Pembinaan generasi muda dinilai penting agar regenerasi pelaku budaya terus berjalan. Berbagai kegiatan yang dihadirkan juga menunjukkan bahwa tradisi dapat dikemas secara inovatif dan kreatif, termasuk melalui pameran dan pencucian pusaka yang menjadi bagian dari Festival Melayu Khatulistiwa II.
Menurutnya, generasi muda perlu dilibatkan lebih aktif dalam kegiatan budaya agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi pelaku yang memahami nilai dan makna tradisi.
“Terutama bagi generasi muda, budaya harus menjadi jati diri bangsa dan bagian dari kota yang beradab,” katanya.
Ia berharap Festival Melayu Khatulistiwa terus berkembang menjadi agenda budaya yang memiliki daya tarik lebih luas sekaligus memperkuat citra Pontianak sebagai kota yang kaya tradisi, terbuka, dan kreatif.
“Budaya Melayu janganlah hilang, jadikan ia pedoman dan pegangan,” pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai Festival Melayu Khatulistiwa menjadi ruang penting untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Pontianak.
Festival Melayu Khatulistiwa II digelar dalam rangka Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak pada 22–25 Oktober 2026 di Alun-alun Kapuas. Beragam kegiatan meramaikan festival ini, mulai dari lomba tundang pelajar, senam jepin kreasi, tari Melayu, saprahan pelajar, lomba mewarnai anak, fashion show corak insang, ekspresi komunitas, pameran dan pencucian pusaka, hingga pertunjukan tari multietnis. Puluhan stan UMKM juga turut memeriahkan acara tersebut.
“Festival Melayu Khatulistiwa ini menjadi salah satu puncak kemeriahan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Pontianak,” ujar Edi saat membuka kegiatan tersebut, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, festival budaya memiliki nilai lebih dari sekadar pertunjukan seni. Kegiatan ini melibatkan seniman, budayawan, komunitas, penggiat seni hingga pelaku UMKM sehingga berpotensi memberikan dampak ekonomi secara langsung.
“Saya mengapresiasi panitia yang terus berkontribusi menjadikan kegiatan budaya sebagai bagian dari ekonomi kreatif, dengan melibatkan para seniman, penggiat seni dan tentunya memberikan dampak juga kepada pelaku UMKM,” katanya.
Edi berharap penyelenggaraan Festival Melayu Khatulistiwa terus dievaluasi dan dikembangkan agar semakin besar. Ke depan, ia ingin festival tersebut tidak hanya diikuti peserta dari Pontianak dan Kalimantan Barat, tetapi juga mampu menarik partisipasi dari daerah lain.
Menurutnya, Pontianak memiliki modal budaya yang kuat untuk mengembangkan festival berskala lebih luas. Sebagai kota yang tumbuh dari pertemuan berbagai etnis dan budaya, Pontianak memiliki kekayaan tradisi yang dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat luas.
“Sebagai kota yang beradab dan berbudaya, kegiatan-kegiatan budaya harus kita dukung, fasilitasi dan kita beri ruang supaya kehidupan masyarakat semakin kaya dengan budaya khas masing-masing suku, terutama Melayu dan budaya lainnya,” katanya.
Ia menegaskan, upaya memperkuat dan melestarikan khazanah budaya lokal merupakan tanggung jawab bersama. Warisan budaya harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.
“Tujuan mulianya adalah memperkuat dan melestarikan khazanah budaya lokal Pontianak, khususnya budaya Melayu. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama agar warisan luhur tersebut tidak pudar,” jelasnya.
Edi juga berharap festival ini menjadi ruang lahirnya talenta-talenta baru di bidang seni dan budaya. Pembinaan generasi muda dinilai penting agar regenerasi pelaku budaya terus berjalan. Berbagai kegiatan yang dihadirkan juga menunjukkan bahwa tradisi dapat dikemas secara inovatif dan kreatif, termasuk melalui pameran dan pencucian pusaka yang menjadi bagian dari Festival Melayu Khatulistiwa II.
Menurutnya, generasi muda perlu dilibatkan lebih aktif dalam kegiatan budaya agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi pelaku yang memahami nilai dan makna tradisi.
“Terutama bagi generasi muda, budaya harus menjadi jati diri bangsa dan bagian dari kota yang beradab,” katanya.
Ia berharap Festival Melayu Khatulistiwa terus berkembang menjadi agenda budaya yang memiliki daya tarik lebih luas sekaligus memperkuat citra Pontianak sebagai kota yang kaya tradisi, terbuka, dan kreatif.
“Budaya Melayu janganlah hilang, jadikan ia pedoman dan pegangan,” pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini