Kubu Raya    

Ratusan Siswa dan Guru di Kubu Raya Tolak MBG

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Selasa, 24 Februari 2026
Ratusan Siswa dan Guru di Kubu Raya Tolak MBG
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com - Ratusan siswa dan puluhan guru di SMA Negeri 1 Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar) menolak paket MBG yang didistribusikan pada Selasa (24/02/2026).

Penolakan dilakukan karena menu yang diterima dinilai tidak sesuai dari segi pemenuhan gizi maupun kelayakan anggaran.

“Karena menurut kami menu yang diberikan tidak sesuai, baik dari segi budget maupun pemenuhan gizinya. Bukan hanya guru yang menolak, anak-anak juga menolak,” ujar salah satu Guru SMAN 1 Rasau Jaya, Vivi Awalia, Selasa (24/02/2026).

Berdasarkan informasi, total penerima manfaat di sekolah tersebut tercatat sebanyak 743 siswa dan 50 guru. Namun, seluruhnya memilih menolak menu yang dibagikan pada hari itu.

Adapun menu yang diterima untuk jatah dua hari tersebut terdiri dari setengah tongkol jagung, lima butir kurma, tiga buah kelengkeng, satu buah jeruk, satu kue pisang cokelat (piscok), serta satu bolu kukus.

“Itu untuk menu dua hari. Wajar jika kami menolak,” tegas Vivi.

Ia menambahkan, penolakan tersebut bukan bermaksud menolak program pemerintah, melainkan agar menjadi bahan evaluasi ke depan.

“Penolakan kami bermaksud agar jadi bahan evaluasi dan ada perubahan yang lebih baik,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola MBG di Kubu Raya terkait penolakan tersebut.

Kepala Program MBG Region Kalbar, Agus Kurniawi menjelaskan, bahwa menu MBG selama bulan Ramadan memang berbeda dengan hari biasa.

Menurutnya, sesuai SOP pelaksanaan MBG di bulan Ramadan, menu yang dibagikan berupa makanan kering seperti telur, buah, roti, kurma, atau makanan khas lokal lainnya.

“Menu Ramadan itu memang menu kering. Tidak dianjurkan menggunakan makanan yang cepat basi dan bercita rasa pedas,” kata Agus saat dikonfirmasi.

Ia menegaskan, menu tetap harus memenuhi kaidah gizi seimbang dan menerapkan SOP keamanan pangan, termasuk pengecekan masa kedaluwarsa serta izin produk seperti Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).

Agus juga menekankan bahwa makanan kemasan pabrikan ultra-processed food (UPF) tidak dijadikan menu utama di SPPG.

“Prinsipnya tetap gizi seimbang dan aman dikonsumsi saat berbuka,” kata dia.

Untuk mekanisme distribusi, makanan dibagikan pada pagi hari dan dibawa pulang oleh siswa untuk dikonsumsi saat berbuka puasa.

“Karena siswa berpuasa, maka pendistribusian dilakukan pagi hari agar bisa dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka,” pungkasnya. (Jau)

Artikel Selanjutnya
Ormas Dayak Mangkok Merah Puas Vonis Rizky Kabah 2 Tahun Penjara, Hukum Adat Masih Menunggu Keputusan DAD
Selasa, 24 Februari 2026
Artikel Sebelumnya
Feri Pontianak Mulai Beroperasi, Tapi Truk dan Kendaraan Besar Tidak Diperkenankan
Selasa, 24 Februari 2026

Berita terkait