Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Minggu, 01 Maret 2026 |
KALBARONLINE.com - Borneo Journalist Hub menggelar talk show Budaya Dua Tradisi Satu Kota bertajuk “Harmoni Cap Go Meh dan Meriam Karbit di Bulan Ramadan di Kota Pontianak”, di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Sabtu (28/2/2026).
Forum ini menjadi ruang dialog lintas budaya untuk memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan di Kota Pontianak.
Wali Kota Pontianak yang diwakili Asisten I Sekretariat Daerah Kota Pontianak, Ismail, menegaskan bahwa Pontianak bukan sekadar ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, tetapi ruang hidup bersama yang dibangun oleh keberagaman sejak awal berdirinya.
“Sejak awal berdiri, kota ini menjadi titik temu berbagai etnis, agama, bahasa, dan tradisi,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, ia menyebut perayaan Cap Go Meh bukan lagi milik satu komunitas, melainkan telah menjelma menjadi agenda budaya yang dinantikan masyarakat luas. Cap Go Meh yang menandai hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek sarat dengan makna spiritual, kebersamaan, serta doa untuk keselamatan dan kesejahteraan.
Di sisi lain, tradisi Festival Meriam Karbit yang biasanya mengiringi datangnya bulan suci Ramadan merupakan warisan budaya masyarakat Melayu Pontianak. Dentuman meriam karbit di tepian Sungai Kapuas bukan sekadar bunyi yang menggelegar, melainkan simbol kegembiraan menyambut bulan penuh berkah, simbol syiar, sekaligus simbol persaudaraan antar warga yang bergotong royong mempersiapkannya.
Menurut Ismail, ketika dua momentum besar ini berada dalam waktu yang berdekatan bahkan bersinggungan dengan Ramadan, sebagian orang mungkin melihatnya sebagai tantangan. Namun bagi masyarakat Pontianak, kondisi tersebut justru menjadi kesempatan menunjukkan kedewasaan sosial dan kearifan budaya.
“Kita membuktikan bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari sikap saling menghormati. Inilah wajah Pontianak sesungguhnya, kota yang mempraktikkan toleransi secara nyata, bukan sekadar wacana,” tegasnya.
Ia menambahkan, talk show ini penting sebagai ruang dialog terbuka, bukan hanya membahas tradisi sebagai perayaan seremonial, tetapi juga bagaimana pengelolaan budaya di tengah masyarakat multikultur harus dilakukan secara bijaksana, partisipatif, dan berorientasi pada persatuan.
“Semoga forum ini menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola keberagaman secara arif dan bijaksana. Mari terus merawat Pontianak sebagai rumah bersama rumah yang aman, damai, religius, dan berbudaya di mana setiap warga merasa dihargai dan memiliki ruang merayakan keyakinan serta tradisinya tanpa khawatir,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Borneo Journalist Hub, Maulidi Murni mengatakan, kegiatan ini digelar dalam semangat kebersamaan untuk merayakan keindahan keberagaman Pontianak.
“Melalui talk show ini, kami ingin menghadirkan ruang dialog lintas budaya ruang untuk saling memahami, menghargai, dan merawat harmoni yang telah lama hidup di kota kita tercinta,” katanya.
Ia menyebut Cap Go Meh dan Meriam Karbit merupakan dua tradisi besar yang mencerminkan toleransi dan gotong royong masyarakat Pontianak. Pada 2026 ini, kedua perayaan berlangsung hampir bersamaan, menjadi momentum yang menegaskan bahwa keberagaman bukan sekat, melainkan jembatan pemersatu.
“Semoga kegiatan ini menjadi langkah kecil untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya kita sendiri, sekaligus menginspirasi jurnalisme yang menyuarakan narasi positif tentang Borneo—tanah yang kaya akan tradisi, harmoni, dan inovasi,” tuturnya.
Forum tersebut pun menjadi penegasan bahwa harmoni bukan sekadar slogan di Kota Pontianak, melainkan praktik sosial yang terus dirawat melalui dialog, kolaborasi, dan saling menghormati dalam keberagaman. (Lid)
KALBARONLINE.com - Borneo Journalist Hub menggelar talk show Budaya Dua Tradisi Satu Kota bertajuk “Harmoni Cap Go Meh dan Meriam Karbit di Bulan Ramadan di Kota Pontianak”, di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Sabtu (28/2/2026).
Forum ini menjadi ruang dialog lintas budaya untuk memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan di Kota Pontianak.
Wali Kota Pontianak yang diwakili Asisten I Sekretariat Daerah Kota Pontianak, Ismail, menegaskan bahwa Pontianak bukan sekadar ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, tetapi ruang hidup bersama yang dibangun oleh keberagaman sejak awal berdirinya.
“Sejak awal berdiri, kota ini menjadi titik temu berbagai etnis, agama, bahasa, dan tradisi,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, ia menyebut perayaan Cap Go Meh bukan lagi milik satu komunitas, melainkan telah menjelma menjadi agenda budaya yang dinantikan masyarakat luas. Cap Go Meh yang menandai hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek sarat dengan makna spiritual, kebersamaan, serta doa untuk keselamatan dan kesejahteraan.
Di sisi lain, tradisi Festival Meriam Karbit yang biasanya mengiringi datangnya bulan suci Ramadan merupakan warisan budaya masyarakat Melayu Pontianak. Dentuman meriam karbit di tepian Sungai Kapuas bukan sekadar bunyi yang menggelegar, melainkan simbol kegembiraan menyambut bulan penuh berkah, simbol syiar, sekaligus simbol persaudaraan antar warga yang bergotong royong mempersiapkannya.
Menurut Ismail, ketika dua momentum besar ini berada dalam waktu yang berdekatan bahkan bersinggungan dengan Ramadan, sebagian orang mungkin melihatnya sebagai tantangan. Namun bagi masyarakat Pontianak, kondisi tersebut justru menjadi kesempatan menunjukkan kedewasaan sosial dan kearifan budaya.
“Kita membuktikan bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari sikap saling menghormati. Inilah wajah Pontianak sesungguhnya, kota yang mempraktikkan toleransi secara nyata, bukan sekadar wacana,” tegasnya.
Ia menambahkan, talk show ini penting sebagai ruang dialog terbuka, bukan hanya membahas tradisi sebagai perayaan seremonial, tetapi juga bagaimana pengelolaan budaya di tengah masyarakat multikultur harus dilakukan secara bijaksana, partisipatif, dan berorientasi pada persatuan.
“Semoga forum ini menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola keberagaman secara arif dan bijaksana. Mari terus merawat Pontianak sebagai rumah bersama rumah yang aman, damai, religius, dan berbudaya di mana setiap warga merasa dihargai dan memiliki ruang merayakan keyakinan serta tradisinya tanpa khawatir,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Borneo Journalist Hub, Maulidi Murni mengatakan, kegiatan ini digelar dalam semangat kebersamaan untuk merayakan keindahan keberagaman Pontianak.
“Melalui talk show ini, kami ingin menghadirkan ruang dialog lintas budaya ruang untuk saling memahami, menghargai, dan merawat harmoni yang telah lama hidup di kota kita tercinta,” katanya.
Ia menyebut Cap Go Meh dan Meriam Karbit merupakan dua tradisi besar yang mencerminkan toleransi dan gotong royong masyarakat Pontianak. Pada 2026 ini, kedua perayaan berlangsung hampir bersamaan, menjadi momentum yang menegaskan bahwa keberagaman bukan sekat, melainkan jembatan pemersatu.
“Semoga kegiatan ini menjadi langkah kecil untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya kita sendiri, sekaligus menginspirasi jurnalisme yang menyuarakan narasi positif tentang Borneo—tanah yang kaya akan tradisi, harmoni, dan inovasi,” tuturnya.
Forum tersebut pun menjadi penegasan bahwa harmoni bukan sekadar slogan di Kota Pontianak, melainkan praktik sosial yang terus dirawat melalui dialog, kolaborasi, dan saling menghormati dalam keberagaman. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini