Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Selasa, 17 Maret 2026 |
KALBARONLINE.com - Pada tahun 2026, sejumlah perayaan keagamaan seperti Tahun Baru Imlek, Hari Raya Nyepi, dan ibadah puasa Ramadan berlangsung dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, bahkan Hari Raya Idul Fitri juga jatuh tidak lama setelahnya.
Perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret 2026 tahun ini berdekatan dengan momentum Ramadan serta menjelang Hari Raya Idul Fitri, sehingga menghadirkan suasana kebersamaan di tengah keberagaman umat beragama di Indonesia.
Di Kabupaten Kayong Utara, perayaan Nyepi juga dirayakan oleh umat Hindu yang berada di Komplek atau Kampung Bali di Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana.
Kawasan ini menjadi tempat tinggal masyarakat Hindu keturunan Bali yang setiap tahunnya melaksanakan rangkaian ibadah Nyepi dengan penuh khidmat.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Kayong Utara, Komang Surapada (58 tahun) menyebutkan, bahwa perayaan Nyepi atau Tahun Saka 1948 yang akan dilaksanakan pada 19 Maret 2026 di Desa Sedahan Jaya memiliki sejumlah rangkaian kegiatan sebelum puncak perayaan.
"Untuk perayaan Nyepi atau Tahun Saka 1948 ini akan diawali dengan Melasti pada tanggal 17 Maret, kemudian pada tanggal 18 Maret dilaksanakan Tawur Kesanga," ujar Komang kepada awak media, pada Minggu 15 Maret 2026 sore di kediamannya.
Ia menjelaskan, bahwa Melasti merupakan prosesi penyucian sarana dan prasarana serta pembersihan alam semesta sebelum memasuki Hari Raya Nyepi. Melalui prosesi ini, umat Hindu diharapkan telah disucikan secara lahir dan batin sebelum menjalankan rangkaian ibadah Nyepi.
Selain Melasti, terdapat pula ritual Tawur Kesanga yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi.
Ritual ini merupakan upacara penyucian alam yang ditujukan kepada makhluk yang tingkatannya lebih rendah dari manusia.
Menurut Komang, ritual tersebut bertujuan agar saat perayaan Hari Raya Nyepi berlangsung, makhluk-makhluk tersebut tidak mengganggu umat manusia yang sedang menjalankan ibadah.
Selain itu, perayaan Hari Raya Nyepi yang diselenggarakan di Desa Sedahan Jaya tidak pernah menampilkan tradisi ogoh-ogoh seperti di daerah lain.
Sebagai gantinya, masyarakat setempat menggelar pawai obor sebagai bagian dari rangkaian perayaan.
"Kalau kami tidak pernah bikin Ogoh-ogoh cukup pakai obor saja," jelasnya.
Komang juga menyebutkan bahwa perayaan Hari Raya Nyepi berlangsung selama 24 jam penuh, dimulai pada 19 Maret pukul 06.00 WIB hingga 20 Maret pukul 06.00 WIB.
"Mulai dari Jam 06.00 WIB pagi sampai keesokan harinya jam 06.00 WIB lagi, yang mana artinya 24 Jam. Dalam perayaan Nyepi kita melaksanakan Catur Brata Penyepian, artinya ada empat hal yang tidak boleh kita laksanakan," katanya.
Ia menjelaskan, bahwa Catur Brata Penyepian meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api atau listrik), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan).
Setelah perayaan Nyepi selesai, umat Hindu akan melaksanakan tradisi Ngembak Geni, yaitu menyalakan kembali api atau listrik serta melakukan silaturahmi dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Menariknya, pada tahun ini perayaan Nyepi juga berlangsung berdekatan dengan momentum menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Menanggapi hal tersebut, Komang mengatakan, masyarakat Hindu di Kampung Bali Sedahan Jaya tetap menjaga toleransi dengan umat beragama lainnya.
"Kita di sini artinya berada di tempat orang lain, kita juga berbaur dengan umat lain. Misalnya saat Nyepi ada takbiran malam hari, itu tidak masalah karena mereka tidak masuk ke komplek, hanya di jalan besar," pungkasnya. (Sans)
KALBARONLINE.com - Pada tahun 2026, sejumlah perayaan keagamaan seperti Tahun Baru Imlek, Hari Raya Nyepi, dan ibadah puasa Ramadan berlangsung dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, bahkan Hari Raya Idul Fitri juga jatuh tidak lama setelahnya.
Perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret 2026 tahun ini berdekatan dengan momentum Ramadan serta menjelang Hari Raya Idul Fitri, sehingga menghadirkan suasana kebersamaan di tengah keberagaman umat beragama di Indonesia.
Di Kabupaten Kayong Utara, perayaan Nyepi juga dirayakan oleh umat Hindu yang berada di Komplek atau Kampung Bali di Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana.
Kawasan ini menjadi tempat tinggal masyarakat Hindu keturunan Bali yang setiap tahunnya melaksanakan rangkaian ibadah Nyepi dengan penuh khidmat.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Kayong Utara, Komang Surapada (58 tahun) menyebutkan, bahwa perayaan Nyepi atau Tahun Saka 1948 yang akan dilaksanakan pada 19 Maret 2026 di Desa Sedahan Jaya memiliki sejumlah rangkaian kegiatan sebelum puncak perayaan.
"Untuk perayaan Nyepi atau Tahun Saka 1948 ini akan diawali dengan Melasti pada tanggal 17 Maret, kemudian pada tanggal 18 Maret dilaksanakan Tawur Kesanga," ujar Komang kepada awak media, pada Minggu 15 Maret 2026 sore di kediamannya.
Ia menjelaskan, bahwa Melasti merupakan prosesi penyucian sarana dan prasarana serta pembersihan alam semesta sebelum memasuki Hari Raya Nyepi. Melalui prosesi ini, umat Hindu diharapkan telah disucikan secara lahir dan batin sebelum menjalankan rangkaian ibadah Nyepi.
Selain Melasti, terdapat pula ritual Tawur Kesanga yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi.
Ritual ini merupakan upacara penyucian alam yang ditujukan kepada makhluk yang tingkatannya lebih rendah dari manusia.
Menurut Komang, ritual tersebut bertujuan agar saat perayaan Hari Raya Nyepi berlangsung, makhluk-makhluk tersebut tidak mengganggu umat manusia yang sedang menjalankan ibadah.
Selain itu, perayaan Hari Raya Nyepi yang diselenggarakan di Desa Sedahan Jaya tidak pernah menampilkan tradisi ogoh-ogoh seperti di daerah lain.
Sebagai gantinya, masyarakat setempat menggelar pawai obor sebagai bagian dari rangkaian perayaan.
"Kalau kami tidak pernah bikin Ogoh-ogoh cukup pakai obor saja," jelasnya.
Komang juga menyebutkan bahwa perayaan Hari Raya Nyepi berlangsung selama 24 jam penuh, dimulai pada 19 Maret pukul 06.00 WIB hingga 20 Maret pukul 06.00 WIB.
"Mulai dari Jam 06.00 WIB pagi sampai keesokan harinya jam 06.00 WIB lagi, yang mana artinya 24 Jam. Dalam perayaan Nyepi kita melaksanakan Catur Brata Penyepian, artinya ada empat hal yang tidak boleh kita laksanakan," katanya.
Ia menjelaskan, bahwa Catur Brata Penyepian meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api atau listrik), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan).
Setelah perayaan Nyepi selesai, umat Hindu akan melaksanakan tradisi Ngembak Geni, yaitu menyalakan kembali api atau listrik serta melakukan silaturahmi dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Menariknya, pada tahun ini perayaan Nyepi juga berlangsung berdekatan dengan momentum menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Menanggapi hal tersebut, Komang mengatakan, masyarakat Hindu di Kampung Bali Sedahan Jaya tetap menjaga toleransi dengan umat beragama lainnya.
"Kita di sini artinya berada di tempat orang lain, kita juga berbaur dengan umat lain. Misalnya saat Nyepi ada takbiran malam hari, itu tidak masalah karena mereka tidak masuk ke komplek, hanya di jalan besar," pungkasnya. (Sans)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini