Kayong Utara    

Rakyat Tetap "Puasa" Air Bersih Meski Rajin Bayar

Padahal Air Gunung Kayong Utara Melimpah

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Minggu, 29 Maret 2026
Rakyat Tetap "Puasa" Air Bersih Meski Rajin Bayar
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com - Kabupaten Kayong Utara tengah didera ironi besar. Meski dianugerahi sumber mata air pegunungan yang melimpah, bahkan menjadi bahan baku air kemasan komersial seperti HS 68, warga justru kesulitan mendapatkan air bersih.

Keluhan semakin memuncak karena meski retribusi rajin dibayarkan, distribusi air ke rumah-rumah seringkali macet total.

Seperti diketahui, pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran miliaran rupiah setiap tahun. Pada tahun 2025 misalnya, anggaran besar digelontorkan untuk pemasangan meteran air di sejumlah kecamatan, namun dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan utama, yakni kelancaran distribusi air ke rumah-rumah warga.

“Lucu kalau kita sering krisis air, padahal sumber air banyak. Apa bedanya pengelolaan swasta dan pemerintah? Secara anggaran pemerintah lebih besar, tapi persoalan air bersih tidak kunjung selesai. Sekarang sudah ada meteran, bayar tiap bulan, tapi air tidak ada,” keluh seorang warga, Adi.

Warga juga menilai kondisi ini semakin memprihatinkan saat musim kemarau. Dalam dua hingga tiga pekan terakhir dengan curah hujan minim, pasokan air di sejumlah wilayah mulai terganggu. Mereka membandingkan kondisi tersebut dengan daerah tetangga seperti Ketapang yang dinilai masih memiliki distribusi air normal meski mengalami kondisi cuaca serupa.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemimpin daerah,” tambahnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala UPT Pelayanan Air Bersih Dinas PUPR Kabupaten Kayong Utara, Hermawan, menjelaskan bahwa permasalahan utama saat ini adalah menurunnya debit air akibat musim kemarau.

“Permasalahan utamanya sebetulnya debit air sudah jauh menurun karena musim kemarau atau panas,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (27/03/2026).

IMG-20260329-WA0005
null

Ia mengakui, penurunan debit air berdampak langsung pada distribusi, sehingga suplai ke sejumlah wilayah tidak maksimal. Hal ini menyebabkan air tidak mengalir secara normal ke rumah warga.

Selain itu, Hermawan juga membenarkan adanya keluhan terkait meteran air yang tetap berputar meski air tidak mengalir. Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan oleh adanya angin di dalam pipa.

“Itu memang karena angin, dan saya sudah membuktikannya. Kami akui hal itu. Jika terjadi, masyarakat bisa mengajukan sesuai mekanisme dalam Perbup, ada keringanan, pengurangan, hingga pembebasan,” jelasnya.

Namun demikian, mekanisme tersebut hanya dapat diproses jika memenuhi kategori yang telah ditetapkan serta dilengkapi bukti pendukung.

Sebagai langkah penanganan jangka pendek, UPT Pelayanan Air Bersih menerapkan sistem buka-tutup aliran air atau penjadwalan distribusi. Meski begitu, kebijakan ini diakui belum sepenuhnya efektif menjangkau seluruh wilayah.

“Langkah jangka pendek kami adalah sistem jadwal, tapi memang masih ada wilayah yang airnya belum sampai,” katanya.

Untuk solusi jangka panjang, pemerintah daerah berencana meningkatkan kapasitas layanan melalui pembangunan reservoir serta penambahan sumber air baku, termasuk pembangunan broncaptering baru.

Di tengah kondisi krisis, masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijak dan memprioritaskan kebutuhan pokok rumah tangga.

“Kami minta masyarakat menggunakan air sesuai kebutuhan, jangan untuk hal yang tidak mendesak seperti menyiram kebun,” pungkas Hermawan. (Sans)

Artikel Selanjutnya
Warga Keluhkan Kondisi Jalan Poros Simpang Hilir
Minggu, 29 Maret 2026
Artikel Sebelumnya
Warga Keluhkan Kondisi Jalan Poros Simpang Hilir
Minggu, 29 Maret 2026

Berita terkait