Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 24 August 2026 |
KALBARONLINE.com – Sutarmidji kembali menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Kali ini, mantan Gubernur Kalbar periode 2018–2023 tersebut mempertanyakan perbedaan informasi mengenai lokasi titik api yang beredar di tengah penanganan karhutla.
Sorotan Sutarmidji muncul setelah Menteri Lingkungan Hidup menyampaikan bahwa titik api karhutla tidak berada di wilayah konsesi perkebunan.
Pernyataan itu kemudian dibandingkan Sutarmidji dengan data satelit NOAA-NASA yang menurutnya menunjukkan temuan berbeda.
Melalui akun Instagram pribadinya @bang.midji, Sutarmidji menyebut lebih dari 70 persen titik api berada di wilayah konsesi perkebunan.
“Berdasarkan data satelit NOAA-NASA, titik api lebih 70 persen berada di konsesi perkebunan. Kementerian Kehutanan pasti tahu karena ada aplikasi SIPongi,” kata Midji.
Sutarmidji juga menyinggung keberadaan aplikasi SIPongi yang digunakan Kementerian Kehutanan sebagai salah satu sistem pemantauan karhutla.
Dari situ, ia mempertanyakan mengapa data mengenai lokasi titik api yang disebutnya berasal dari satelit NOAA-NASA berbeda dengan informasi yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup.
“Tapi kenapa Menteri LH bilang bukan di konsesi perkebunan, tak tahu siapa yang ngerampot, MenLH, Menhut atau satelit NOAA-NASA, yang pasti bukan saye,” katanya.
Kritik tersebut disampaikan Sutarmidji dengan gaya satir. Ia kemudian kembali mengingatkan agar setiap informasi yang disampaikan kepada publik terlebih dahulu didasarkan pada data yang jelas.
“Yang komen kalau belum ngopi jangan komen, ape lagi kalau masih belum gosok gigi,” ujarnya sambil Guyon.
Pernyataan Sutarmidji itu pada akhirnya menyoroti satu persoalan penting dalam penanganan karhutla di Kalbar, yakni perbedaan informasi mengenai lokasi titik api dan sumber data yang digunakan sebagai dasar pernyataan.
KALBARONLINE.com – Sutarmidji kembali menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Kali ini, mantan Gubernur Kalbar periode 2018–2023 tersebut mempertanyakan perbedaan informasi mengenai lokasi titik api yang beredar di tengah penanganan karhutla.
Sorotan Sutarmidji muncul setelah Menteri Lingkungan Hidup menyampaikan bahwa titik api karhutla tidak berada di wilayah konsesi perkebunan.
Pernyataan itu kemudian dibandingkan Sutarmidji dengan data satelit NOAA-NASA yang menurutnya menunjukkan temuan berbeda.
Melalui akun Instagram pribadinya @bang.midji, Sutarmidji menyebut lebih dari 70 persen titik api berada di wilayah konsesi perkebunan.
“Berdasarkan data satelit NOAA-NASA, titik api lebih 70 persen berada di konsesi perkebunan. Kementerian Kehutanan pasti tahu karena ada aplikasi SIPongi,” kata Midji.
Sutarmidji juga menyinggung keberadaan aplikasi SIPongi yang digunakan Kementerian Kehutanan sebagai salah satu sistem pemantauan karhutla.
Dari situ, ia mempertanyakan mengapa data mengenai lokasi titik api yang disebutnya berasal dari satelit NOAA-NASA berbeda dengan informasi yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup.
“Tapi kenapa Menteri LH bilang bukan di konsesi perkebunan, tak tahu siapa yang ngerampot, MenLH, Menhut atau satelit NOAA-NASA, yang pasti bukan saye,” katanya.
Kritik tersebut disampaikan Sutarmidji dengan gaya satir. Ia kemudian kembali mengingatkan agar setiap informasi yang disampaikan kepada publik terlebih dahulu didasarkan pada data yang jelas.
“Yang komen kalau belum ngopi jangan komen, ape lagi kalau masih belum gosok gigi,” ujarnya sambil Guyon.
Pernyataan Sutarmidji itu pada akhirnya menyoroti satu persoalan penting dalam penanganan karhutla di Kalbar, yakni perbedaan informasi mengenai lokasi titik api dan sumber data yang digunakan sebagai dasar pernyataan.
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini