Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Thursday, 01 October 2026 |
KALBARONLINE.com – Perjuangan tenaga kesehatan memberikan pelayanan kepada masyarakat di wilayah pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali menjadi sorotan.
Sebuah video yang memperlihatkan seorang bidan membawa pasien rujukan menggunakan perahu mesin menyusuri sungai viral di media sosial Threads.
Video tersebut ternyata bukan kejadian baru. Rekaman itu dibuat pada 2025 lalu saat Susanti masih bertugas sebagai tenaga kesehatan di Desa Sungai Bengaras, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang.
Susanti mengatakan, saat itu dirinya harus merujuk seorang ibu hamil dari Puskesmas Pembantu (Pustu) menuju Puskesmas Hulu Sungai yang merupakan fasilitas kesehatan induk.
Pasien tersebut memiliki usia kehamilan yang belum cukup bulan. Namun, karena keterbatasan fasilitas di Pustu, pasien harus segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Pada saat itu saya membawa pasien ibu hamil dengan usia kehamilan belum cukup bulan. Karena fasilitas di Pustu tidak lengkap, saya membawa pasien ke Puskesmas Hulu Sungai (Puskesmas Induk),” kata Susanti, Kamis (30/9/2026).
Perjalanan menuju fasilitas kesehatan tersebut dilakukan melalui jalur sungai menggunakan perahu. Namun, kondisi darurat terjadi di tengah perjalanan. Saat perahu berada di sekitar kawasan Riam Besar, pasien tiba-tiba melahirkan.
“Di tengah perjalanan pasien melahirkan di dekat Riam Besar. Alhamdulillah bayi dan ibu selamat dan sampai ke Puskesmas,” ujarnya.
Setelah proses persalinan berlangsung di perjalanan, Susanti bersama tim kemudian melanjutkan perjalanan membawa ibu dan bayinya hingga tiba di Puskesmas Hulu Sungai untuk mendapatkan penanganan medis.
Menurut Susanti, penggunaan jalur sungai saat itu menjadi pilihan karena akses darat dari lokasi tempatnya bertugas cukup sulit.
Jika menggunakan jalur darat, perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat jam. Selain itu, akses tersebut harus melewati jalan perusahaan dan pada saat kejadian tidak tersedia kendaraan yang dapat digunakan untuk membawa pasien.
“Untuk alternatif lain ada, kalau lewat jalan itu sekitar empat jam. Itu pun lewat jalan perusahaan dan waktu itu tidak ada mobil untuk lewat jalur darat,” jelasnya.
Pengalaman tersebut, kata Susanti, menjadi gambaran tantangan yang masih dihadapi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman.
Keterbatasan akses transportasi dan fasilitas kesehatan membuat tenaga kesehatan harus menyesuaikan kondisi di lapangan, termasuk ketika menghadapi situasi darurat.
Susanti berharap pemerintah dapat terus meningkatkan perhatian terhadap fasilitas kesehatan sekaligus memperkuat ketersediaan tenaga kesehatan di wilayah pedesaan dan pedalaman.
Menurutnya, jumlah tenaga kesehatan di sejumlah desa masih sangat terbatas. Bahkan, dalam satu desa terkadang hanya terdapat satu hingga dua tenaga kesehatan.
“Harapan saya untuk pemerintah lebih diperhatikan lagi fasilitas dan nakes perlu diperbanyak untuk setiap daerah pedesaan. Karena di sana untuk satu desa saja susah ada nakesnya, itu pun hanya beberapa nakes saja yang ada, paling hanya satu sampai dua orang saja,” pungkasnya. (Adi LC)
KALBARONLINE.com – Perjuangan tenaga kesehatan memberikan pelayanan kepada masyarakat di wilayah pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali menjadi sorotan.
Sebuah video yang memperlihatkan seorang bidan membawa pasien rujukan menggunakan perahu mesin menyusuri sungai viral di media sosial Threads.
Video tersebut ternyata bukan kejadian baru. Rekaman itu dibuat pada 2025 lalu saat Susanti masih bertugas sebagai tenaga kesehatan di Desa Sungai Bengaras, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang.
Susanti mengatakan, saat itu dirinya harus merujuk seorang ibu hamil dari Puskesmas Pembantu (Pustu) menuju Puskesmas Hulu Sungai yang merupakan fasilitas kesehatan induk.
Pasien tersebut memiliki usia kehamilan yang belum cukup bulan. Namun, karena keterbatasan fasilitas di Pustu, pasien harus segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Pada saat itu saya membawa pasien ibu hamil dengan usia kehamilan belum cukup bulan. Karena fasilitas di Pustu tidak lengkap, saya membawa pasien ke Puskesmas Hulu Sungai (Puskesmas Induk),” kata Susanti, Kamis (30/9/2026).
Perjalanan menuju fasilitas kesehatan tersebut dilakukan melalui jalur sungai menggunakan perahu. Namun, kondisi darurat terjadi di tengah perjalanan. Saat perahu berada di sekitar kawasan Riam Besar, pasien tiba-tiba melahirkan.
“Di tengah perjalanan pasien melahirkan di dekat Riam Besar. Alhamdulillah bayi dan ibu selamat dan sampai ke Puskesmas,” ujarnya.
Setelah proses persalinan berlangsung di perjalanan, Susanti bersama tim kemudian melanjutkan perjalanan membawa ibu dan bayinya hingga tiba di Puskesmas Hulu Sungai untuk mendapatkan penanganan medis.
Menurut Susanti, penggunaan jalur sungai saat itu menjadi pilihan karena akses darat dari lokasi tempatnya bertugas cukup sulit.
Jika menggunakan jalur darat, perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat jam. Selain itu, akses tersebut harus melewati jalan perusahaan dan pada saat kejadian tidak tersedia kendaraan yang dapat digunakan untuk membawa pasien.
“Untuk alternatif lain ada, kalau lewat jalan itu sekitar empat jam. Itu pun lewat jalan perusahaan dan waktu itu tidak ada mobil untuk lewat jalur darat,” jelasnya.
Pengalaman tersebut, kata Susanti, menjadi gambaran tantangan yang masih dihadapi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman.
Keterbatasan akses transportasi dan fasilitas kesehatan membuat tenaga kesehatan harus menyesuaikan kondisi di lapangan, termasuk ketika menghadapi situasi darurat.
Susanti berharap pemerintah dapat terus meningkatkan perhatian terhadap fasilitas kesehatan sekaligus memperkuat ketersediaan tenaga kesehatan di wilayah pedesaan dan pedalaman.
Menurutnya, jumlah tenaga kesehatan di sejumlah desa masih sangat terbatas. Bahkan, dalam satu desa terkadang hanya terdapat satu hingga dua tenaga kesehatan.
“Harapan saya untuk pemerintah lebih diperhatikan lagi fasilitas dan nakes perlu diperbanyak untuk setiap daerah pedesaan. Karena di sana untuk satu desa saja susah ada nakesnya, itu pun hanya beberapa nakes saja yang ada, paling hanya satu sampai dua orang saja,” pungkasnya. (Adi LC)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini