Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Kamis, 08 Januari 2026 |
KALBARONLINE.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpengaruh terhadap pergerakan inflasi daerah, terutama pada komoditas kebutuhan pokok yang menjadi menu utama program tersebut.
Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin, menjelaskan bahwa bahan pangan dalam program MBG selama ini merupakan komponen penting pembentuk inflasi, salah satunya telur ayam ras.
“Kalau terkait inflasi tentu sangat berpengaruh. Karena menu-menunya adalah kebutuhan pokok. Utamanya yang kemarin kita soroti di lapangan itu terkait telur ayam ras,” ungkap Saichudin usai rilis Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Kalbar, Senin (05/01/2026).
Ia menyebut, hingga Desember 2025 harga telur ayam ras masih menunjukkan tren kenaikan. Selain telur, daging ayam ras juga menjadi komoditas yang terdampak.
“Telur ayam ras sekarang masih tergolong meningkat harganya di bulan Desember. Kemudian juga daging ayam ras,” ujarnya.
Karena itu, Saichudin meminta pemerintah melakukan langkah antisipasi. Apalagi ke depan Kalimantan Barat diproyeksikan melibatkan sekitar 500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG, yang tentu membutuhkan pasokan bahan pangan lebih besar.
“Sekarang kan baru sekitar 200, kemarin kami survei itu sekitar 230-an SPPG. Kalau menu telur itu dua kali seminggu, berarti harus ada pemasok-pemasok yang siap,” jelasnya.
Saichudin menambahkan, pemerintah pusat juga telah menyiapkan berbagai langkah pendukung, termasuk bantuan dan dukungan bagi peternak ayam guna menjaga ketersediaan pasokan.
“Kalau saya dengar dari pemberitaan di televisi, pemerintah juga menyiapkan bantuan terkait pengadaan atau dukungan untuk peternak ayam,” katanya.
Terkait dampak terhadap inflasi, Saichudin memaparkan telur ayam ras memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen secara tahunan. Sementara daging ayam ras tercatat dalam kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau.
“Untuk yang kami rilis, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,36 persen dengan andil 0,13 persen. Komoditas penyumbangnya antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras,” pungkasnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpengaruh terhadap pergerakan inflasi daerah, terutama pada komoditas kebutuhan pokok yang menjadi menu utama program tersebut.
Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin, menjelaskan bahwa bahan pangan dalam program MBG selama ini merupakan komponen penting pembentuk inflasi, salah satunya telur ayam ras.
“Kalau terkait inflasi tentu sangat berpengaruh. Karena menu-menunya adalah kebutuhan pokok. Utamanya yang kemarin kita soroti di lapangan itu terkait telur ayam ras,” ungkap Saichudin usai rilis Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Kalbar, Senin (05/01/2026).
Ia menyebut, hingga Desember 2025 harga telur ayam ras masih menunjukkan tren kenaikan. Selain telur, daging ayam ras juga menjadi komoditas yang terdampak.
“Telur ayam ras sekarang masih tergolong meningkat harganya di bulan Desember. Kemudian juga daging ayam ras,” ujarnya.
Karena itu, Saichudin meminta pemerintah melakukan langkah antisipasi. Apalagi ke depan Kalimantan Barat diproyeksikan melibatkan sekitar 500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG, yang tentu membutuhkan pasokan bahan pangan lebih besar.
“Sekarang kan baru sekitar 200, kemarin kami survei itu sekitar 230-an SPPG. Kalau menu telur itu dua kali seminggu, berarti harus ada pemasok-pemasok yang siap,” jelasnya.
Saichudin menambahkan, pemerintah pusat juga telah menyiapkan berbagai langkah pendukung, termasuk bantuan dan dukungan bagi peternak ayam guna menjaga ketersediaan pasokan.
“Kalau saya dengar dari pemberitaan di televisi, pemerintah juga menyiapkan bantuan terkait pengadaan atau dukungan untuk peternak ayam,” katanya.
Terkait dampak terhadap inflasi, Saichudin memaparkan telur ayam ras memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen secara tahunan. Sementara daging ayam ras tercatat dalam kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau.
“Untuk yang kami rilis, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,36 persen dengan andil 0,13 persen. Komoditas penyumbangnya antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras,” pungkasnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini