Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Senin, 23 Februari 2026 |
KALBARONLINE.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi pemenuhan gizi siswa justru menuai berbagai polemik di Sukadana. Pasalnya, seorang guru mengungkapkan kekecewaan setelah menerima paket makanan rapel untuk tiga hari yang dinilai sangat tidak layak dan jauh dari nilai anggaran yang dijanjikan.
Diketahui, keluhan tersebut bukan hanya pada jenis menunya, melainkan dugaan pemotongan anggaran yang drastis. Berdasarkan keterangan narasumber, dengan anggaran yang seharusnya cukup tapi tidak sesuai dengan realita.
"Miris sih, tidak sesuai sekali. Rapel tiga hari tapi dapatnya cuma itu. Bukan tidak bersyukur, tapi bagaimana ya," ujar guru tersebut kepada awak media, Sukadana pada Senin (23/02/2026).
Menurutnya, pemotongan tersebut digunakan untuk biaya operasional atau "bayar ini itu". Jika dihitung secara matematis, jatah tiga hari dengan anggaran Rp 8.000/hari, totalnya adalah Rp 24.000. Namun, penampakan fisik makanan yang diberikan ditaksir harganya jauh di bawah nilai tersebut.
Kekecewaan ini pun berujung pada sindiran pedas dari tenaga pendidik. Melihat ketimpangan antara anggaran negara dengan realita di piring siswa, muncul dugaan adanya oknum yang mengambil keuntungan pribadi.
"Untungnya mungkin untuk beli baju lebaran kali ya," ungkap guru yang tak mau disebutkan namanya itu.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat mendesak pihak terkait untuk melakukan transparansi anggaran MBG agar tujuan utama program tersebut, yakni mencerdaskan dan menyehatkan anak bangsa, tidak kalah oleh kepentingan oknum tertentu. (Sans)
KALBARONLINE.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi pemenuhan gizi siswa justru menuai berbagai polemik di Sukadana. Pasalnya, seorang guru mengungkapkan kekecewaan setelah menerima paket makanan rapel untuk tiga hari yang dinilai sangat tidak layak dan jauh dari nilai anggaran yang dijanjikan.
Diketahui, keluhan tersebut bukan hanya pada jenis menunya, melainkan dugaan pemotongan anggaran yang drastis. Berdasarkan keterangan narasumber, dengan anggaran yang seharusnya cukup tapi tidak sesuai dengan realita.
"Miris sih, tidak sesuai sekali. Rapel tiga hari tapi dapatnya cuma itu. Bukan tidak bersyukur, tapi bagaimana ya," ujar guru tersebut kepada awak media, Sukadana pada Senin (23/02/2026).
Menurutnya, pemotongan tersebut digunakan untuk biaya operasional atau "bayar ini itu". Jika dihitung secara matematis, jatah tiga hari dengan anggaran Rp 8.000/hari, totalnya adalah Rp 24.000. Namun, penampakan fisik makanan yang diberikan ditaksir harganya jauh di bawah nilai tersebut.
Kekecewaan ini pun berujung pada sindiran pedas dari tenaga pendidik. Melihat ketimpangan antara anggaran negara dengan realita di piring siswa, muncul dugaan adanya oknum yang mengambil keuntungan pribadi.
"Untungnya mungkin untuk beli baju lebaran kali ya," ungkap guru yang tak mau disebutkan namanya itu.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat mendesak pihak terkait untuk melakukan transparansi anggaran MBG agar tujuan utama program tersebut, yakni mencerdaskan dan menyehatkan anak bangsa, tidak kalah oleh kepentingan oknum tertentu. (Sans)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini