Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Minggu, 08 Februari 2026 |
KALBARONLINE.com - Jumlah korban dugaan keracunan makanan dari Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali bertambah. Hingga Minggu 8 Februari 2026, total warga yang terdampak mencapai 417 orang.
Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi mengatakan, dari ratusan korban tersebut, delapan orang masih menjalani perawatan medis, sementara lainnya telah dipulangkan dalam kondisi membaik.
“Update hari ini, Minggu 8 Februari 2026, jumlah total terdampak sebanyak 417 orang. Saat ini tersisa delapan orang yang masih dirawat,” ujar Agus.
Ia merinci, lima pasien dirawat di Puskesmas Marau dan tiga lainnya dirujuk ke RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. Salah satu pasien rujukan, Andre, siswa SMP, telah dinyatakan pulih. Sementara dua pasien lainnya, Selvia Lestari yang merupakan guru SMP dan Yeyen, masih mendapatkan penanganan lanjutan.
Agus menyebutkan, pihaknya terus melakukan pemantauan kondisi korban secara berkelanjutan serta evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami rutin berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Ketapang untuk perkembangan data, serta dengan Koordinator Wilayah MBG Ketapang untuk update kondisi terkini,” katanya.
Terkait penyebab keracunan, Agus menambahkan hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dan muntahan korban hingga kini belum keluar. Namun demikian, dugaan sementara mengarah pada menu perkedel tahu.
“Dugaan awal berasal dari perkedel tahu yang dibuat Selasa malam, 3 Februari 2026, sekitar pukul 19.00 WIB, lalu diolah kembali pada Rabu dini hari, 4 Februari 2026,” jelasnya.
Ia menerangkan, dugaan keracunan terjadi setelah menu MBG yang disajikan pada Rabu, 4 Februari 2026, yang terdiri dari nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi dan wortel, serta puding. Para penerima manfaat mulai merasakan gejala pusing, mual, dan muntah pada hari berikutnya.
“Banyak yang mengira hanya mual biasa sehingga tidak langsung berobat. Kami menyimpulkan kejadian yang muncul Kamis pagi kemungkinan besar berasal dari menu hari Rabu,” ujar Agus.
Laporan dugaan keracunan baru diterima pihak MBG dari sekolah pada Kamis pagi, 5 Februari 2026, setelah banyak siswa tidak masuk sekolah karena mengalami mual dan muntah. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim pengawas gizi, pengawas keuangan, dan asisten lapangan langsung turun ke lokasi dan berkoordinasi dengan pihak sekolah serta Puskesmas Marau.
Sebagai langkah penanganan, distribusi menu MBG pada Kamis dihentikan sementara guna memfokuskan perawatan terhadap siswa dan warga yang terdampak. (Adi LC)
KALBARONLINE.com - Jumlah korban dugaan keracunan makanan dari Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali bertambah. Hingga Minggu 8 Februari 2026, total warga yang terdampak mencapai 417 orang.
Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi mengatakan, dari ratusan korban tersebut, delapan orang masih menjalani perawatan medis, sementara lainnya telah dipulangkan dalam kondisi membaik.
“Update hari ini, Minggu 8 Februari 2026, jumlah total terdampak sebanyak 417 orang. Saat ini tersisa delapan orang yang masih dirawat,” ujar Agus.
Ia merinci, lima pasien dirawat di Puskesmas Marau dan tiga lainnya dirujuk ke RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. Salah satu pasien rujukan, Andre, siswa SMP, telah dinyatakan pulih. Sementara dua pasien lainnya, Selvia Lestari yang merupakan guru SMP dan Yeyen, masih mendapatkan penanganan lanjutan.
Agus menyebutkan, pihaknya terus melakukan pemantauan kondisi korban secara berkelanjutan serta evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami rutin berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Ketapang untuk perkembangan data, serta dengan Koordinator Wilayah MBG Ketapang untuk update kondisi terkini,” katanya.
Terkait penyebab keracunan, Agus menambahkan hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dan muntahan korban hingga kini belum keluar. Namun demikian, dugaan sementara mengarah pada menu perkedel tahu.
“Dugaan awal berasal dari perkedel tahu yang dibuat Selasa malam, 3 Februari 2026, sekitar pukul 19.00 WIB, lalu diolah kembali pada Rabu dini hari, 4 Februari 2026,” jelasnya.
Ia menerangkan, dugaan keracunan terjadi setelah menu MBG yang disajikan pada Rabu, 4 Februari 2026, yang terdiri dari nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi dan wortel, serta puding. Para penerima manfaat mulai merasakan gejala pusing, mual, dan muntah pada hari berikutnya.
“Banyak yang mengira hanya mual biasa sehingga tidak langsung berobat. Kami menyimpulkan kejadian yang muncul Kamis pagi kemungkinan besar berasal dari menu hari Rabu,” ujar Agus.
Laporan dugaan keracunan baru diterima pihak MBG dari sekolah pada Kamis pagi, 5 Februari 2026, setelah banyak siswa tidak masuk sekolah karena mengalami mual dan muntah. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim pengawas gizi, pengawas keuangan, dan asisten lapangan langsung turun ke lokasi dan berkoordinasi dengan pihak sekolah serta Puskesmas Marau.
Sebagai langkah penanganan, distribusi menu MBG pada Kamis dihentikan sementara guna memfokuskan perawatan terhadap siswa dan warga yang terdampak. (Adi LC)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini