Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Senin, 02 Maret 2026 |
KALBARONLINE.com - Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dalam kasus dugaan keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, telah diterima. Namun, Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Ketapang belum dapat mengumumkan isi hasil pemeriksaan tersebut kepada publik.
Sebelumnya, ratusan siswa, guru, hingga petugas MBG dilaporkan mengalami gejala mual, muntah dan lemas, setelah mengonsumsi menu MBG. Dugaan sementara mengarah pada makanan yang dibagikan pada Rabu, 4 Februari 2026. Meski demikian, gejala baru dirasakan para penerima manfaat pada Kamis, 5 Februari 2026.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, jumlah pasien terus bertambah hingga Jumat, 6 Februari 2026, dengan total mencapai 340 orang.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, sampel makanan yang diduga menjadi penyebab langsung diamankan dan dikirim ke Balai Pengawas Obat dan Makanan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pengujian dilakukan guna mengetahui kandungan dalam makanan serta memastikan ada tidaknya unsur yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan.
Kepala Satgas MBG Kabupaten Ketapang yang juga menjabat sebagai Kepala Bappeda Ketapang, Harto, membenarkan bahwa hasil uji dari BPOM telah diterima. Namun, ia menegaskan belum bisa membeberkan secara rinci hasil tersebut.
“Informasi memang dari dinas kesehatan hasilnya sudah keluar, betul. Hanya saja saya belum bisa mengungkapkan apa hasilnya, belum tahu hasilnya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (02/03/2026).
Harto menjelaskan, hasil uji laboratorium tersebut akan dibahas dalam rapat internal bersama tim satgas MBG, dinas kesehatan, serta pihak pelaksana program.
“Nanti dari dinas kesehatan yang lebih tahu di rapat satgas itu. Termasuk kita akan mengundang koordinator wilayah, kemudian Kepala SPPG, kemudian mitra Badan Gizi Nasional,” jelasnya.
Ia menegaskan, hingga kini belum dapat dipastikan menu mana yang diduga menjadi penyebab gangguan kesehatan tersebut.
“Belum tahu hasilnya, maksudnya di makanan yang mana, itu yang belum kita ketahui,” tegasnya.
Menurutnya, setelah rapat internal digelar dan diperoleh kesimpulan resmi, hasil pemeriksaan sampel makanan akan disampaikan kepada Badan Gizi Nasional sebagai bahan evaluasi pelaksanaan program MBG ke depan.
Untuk sementara, Satgas MBG Kabupaten Ketapang belum dapat memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.
“Jadi sementara saya belum bisa memberikan jawaban. Saya pun juga belum bisa menyampaikan karena kami belum ada rapat. Jadi kami rapat dulu bari diumumkan” pungkasnya. (Adi LC)
KALBARONLINE.com - Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dalam kasus dugaan keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, telah diterima. Namun, Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Ketapang belum dapat mengumumkan isi hasil pemeriksaan tersebut kepada publik.
Sebelumnya, ratusan siswa, guru, hingga petugas MBG dilaporkan mengalami gejala mual, muntah dan lemas, setelah mengonsumsi menu MBG. Dugaan sementara mengarah pada makanan yang dibagikan pada Rabu, 4 Februari 2026. Meski demikian, gejala baru dirasakan para penerima manfaat pada Kamis, 5 Februari 2026.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, jumlah pasien terus bertambah hingga Jumat, 6 Februari 2026, dengan total mencapai 340 orang.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, sampel makanan yang diduga menjadi penyebab langsung diamankan dan dikirim ke Balai Pengawas Obat dan Makanan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pengujian dilakukan guna mengetahui kandungan dalam makanan serta memastikan ada tidaknya unsur yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan.
Kepala Satgas MBG Kabupaten Ketapang yang juga menjabat sebagai Kepala Bappeda Ketapang, Harto, membenarkan bahwa hasil uji dari BPOM telah diterima. Namun, ia menegaskan belum bisa membeberkan secara rinci hasil tersebut.
“Informasi memang dari dinas kesehatan hasilnya sudah keluar, betul. Hanya saja saya belum bisa mengungkapkan apa hasilnya, belum tahu hasilnya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (02/03/2026).
Harto menjelaskan, hasil uji laboratorium tersebut akan dibahas dalam rapat internal bersama tim satgas MBG, dinas kesehatan, serta pihak pelaksana program.
“Nanti dari dinas kesehatan yang lebih tahu di rapat satgas itu. Termasuk kita akan mengundang koordinator wilayah, kemudian Kepala SPPG, kemudian mitra Badan Gizi Nasional,” jelasnya.
Ia menegaskan, hingga kini belum dapat dipastikan menu mana yang diduga menjadi penyebab gangguan kesehatan tersebut.
“Belum tahu hasilnya, maksudnya di makanan yang mana, itu yang belum kita ketahui,” tegasnya.
Menurutnya, setelah rapat internal digelar dan diperoleh kesimpulan resmi, hasil pemeriksaan sampel makanan akan disampaikan kepada Badan Gizi Nasional sebagai bahan evaluasi pelaksanaan program MBG ke depan.
Untuk sementara, Satgas MBG Kabupaten Ketapang belum dapat memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.
“Jadi sementara saya belum bisa memberikan jawaban. Saya pun juga belum bisa menyampaikan karena kami belum ada rapat. Jadi kami rapat dulu bari diumumkan” pungkasnya. (Adi LC)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini