Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Rabu, 11 Februari 2026 |
KALBARONLINE.com - Perkembangan kasus dugaan keracunan makanan dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, mulai menunjukkan perbaikan.
Dari ratusan korban terdampak, kini hanya satu pasien yang masih menjalani perawatan medis.
Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi mengatakan, satu pasien tersebut masih dirawat di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang, sementara ratusan korban lainnya telah dipulangkan.
“Tersisa satu pasien yang dirawat di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. Selebihnya, baik yang dirujuk maupun yang ditangani di Puskesmas Marau sudah dipulangkan ke rumah masing-masing,” ujar Agus, Rabu (11/02/2026).
Agus menjelaskan, total terdapat 417 orang yang terdampak dalam peristiwa ini, terdiri dari siswa, guru, serta relawan MBG. Sebagian besar korban mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Marau, sedangkan tiga orang sempat dirujuk ke RSUD dr Agoesdjam Ketapang.
“Pasien yang masih dirawat atas nama Yeyen. Saat ini masih menjalani pengobatan dengan keluhan pada bagian perut,” ungkapnya.
Yeyen sebelumnya mengalami gejala serupa dengan korban lain, seperti mual, pusing, dan muntah. Namun kondisinya sempat memburuk dengan demam tinggi disertai badan kaku hingga kejang, sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Agus menegaskan, pihaknya terus melakukan pemantauan dan evaluasi menyeluruh guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
“Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Ketapang untuk pembaruan data dan kondisi korban, serta dengan Korwil MBG Ketapang terkait perkembangan di lapangan,” katanya.
Hingga kini, hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan serta muntahan korban masih belum keluar.
“Untuk hasil uji lab, belum keluar,” kata Agus.
Meski demikian, dugaan sementara mengarah pada menu perkedel tahu sebagai sumber keracunan, mengingat gejala dominan yang dialami korban berupa mual dan muntah.
“Dugaan awal berasal dari perkedel tahu yang dibuat pada Selasa malam 3 Februari 2026 sekitar pukul 19.00 WIB, lalu diolah kembali pada Rabu dini hari 4 Februari 2026,” jelasnya.
Agus juga meluruskan kronologi waktu kejadian. Menurutnya, menu MBG tersebut disajikan pada Rabu 4 Februari 2026, oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ketapang Marau Riam Batu Gading dari Yayasan Surya Gizi Lestari, dengan menu nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi dan wortel, serta puding.
“Gejala mulai dirasakan setelah konsumsi menu hari Rabu. Karena awalnya dianggap mual dan pusing biasa, banyak yang tidak langsung berobat. Laporan resmi baru kami terima dari pihak sekolah pada Kamis pagi, 5 Februari 2026,” beber Agus.
Dalam laporan tersebut, pihak sekolah menyampaikan banyak siswa tidak masuk kelas akibat mengalami mual dan muntah, yang kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis massal. (Adi LC)
KALBARONLINE.com - Perkembangan kasus dugaan keracunan makanan dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, mulai menunjukkan perbaikan.
Dari ratusan korban terdampak, kini hanya satu pasien yang masih menjalani perawatan medis.
Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi mengatakan, satu pasien tersebut masih dirawat di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang, sementara ratusan korban lainnya telah dipulangkan.
“Tersisa satu pasien yang dirawat di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. Selebihnya, baik yang dirujuk maupun yang ditangani di Puskesmas Marau sudah dipulangkan ke rumah masing-masing,” ujar Agus, Rabu (11/02/2026).
Agus menjelaskan, total terdapat 417 orang yang terdampak dalam peristiwa ini, terdiri dari siswa, guru, serta relawan MBG. Sebagian besar korban mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Marau, sedangkan tiga orang sempat dirujuk ke RSUD dr Agoesdjam Ketapang.
“Pasien yang masih dirawat atas nama Yeyen. Saat ini masih menjalani pengobatan dengan keluhan pada bagian perut,” ungkapnya.
Yeyen sebelumnya mengalami gejala serupa dengan korban lain, seperti mual, pusing, dan muntah. Namun kondisinya sempat memburuk dengan demam tinggi disertai badan kaku hingga kejang, sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Agus menegaskan, pihaknya terus melakukan pemantauan dan evaluasi menyeluruh guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
“Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Ketapang untuk pembaruan data dan kondisi korban, serta dengan Korwil MBG Ketapang terkait perkembangan di lapangan,” katanya.
Hingga kini, hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan serta muntahan korban masih belum keluar.
“Untuk hasil uji lab, belum keluar,” kata Agus.
Meski demikian, dugaan sementara mengarah pada menu perkedel tahu sebagai sumber keracunan, mengingat gejala dominan yang dialami korban berupa mual dan muntah.
“Dugaan awal berasal dari perkedel tahu yang dibuat pada Selasa malam 3 Februari 2026 sekitar pukul 19.00 WIB, lalu diolah kembali pada Rabu dini hari 4 Februari 2026,” jelasnya.
Agus juga meluruskan kronologi waktu kejadian. Menurutnya, menu MBG tersebut disajikan pada Rabu 4 Februari 2026, oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ketapang Marau Riam Batu Gading dari Yayasan Surya Gizi Lestari, dengan menu nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi dan wortel, serta puding.
“Gejala mulai dirasakan setelah konsumsi menu hari Rabu. Karena awalnya dianggap mual dan pusing biasa, banyak yang tidak langsung berobat. Laporan resmi baru kami terima dari pihak sekolah pada Kamis pagi, 5 Februari 2026,” beber Agus.
Dalam laporan tersebut, pihak sekolah menyampaikan banyak siswa tidak masuk kelas akibat mengalami mual dan muntah, yang kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis massal. (Adi LC)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini