Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Kamis, 05 Februari 2026 |
KALBARONLINE.com - Menu perkedel tahu yang disajikan dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) diduga kuat menjadi penyebab keracunan massal ratusan siswa dan guru di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kamis (05/02/2026).
Dugaan tersebut disampaikan Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, menyusul laporan banyaknya siswa dan guru yang mengalami mual, muntah, dan lemas setelah menyantap menu MBG yang didistribusikan pada Rabu (04/02/2026).
“Iya benar, sejumlah siswa dan guru mengalami mual, muntah, dan lemas usai mengonsumsi menu MBG. Berdasarkan pemeriksaan awal, dugaan sementara mengarah pada menu perkedel tahu,” ujar Agus Kurniawi kepada wartawan, Kamis petang.
Menurut Agus, pada hari tersebut menu MBG yang dibagikan terdiri dari nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi putih dan wortel, serta puding.
Namun, perkedel tahu menjadi fokus evaluasi karena diduga tidak layak konsumsi. Ia menjelaskan, pihaknya baru menerima laporan resmi dari sekolah pada Kamis pagi, setelah banyak siswa tidak masuk sekolah akibat kondisi kesehatan yang menurun.
“Menu tersebut dibagikan hari Rabu. Untuk sementara, distribusi MBG kami hentikan agar penanganan medis terhadap siswa bisa difokuskan,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ketapang Marau Riam Batu Gading yang dikelola Yayasan Surya Gizi Lestari dihentikan sementara hingga hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan keluar.
“SPPG ini melayani 1.859 penerima manfaat dan mulai beroperasi sejak 29 September 2025. Kami hentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” jelas Agus.
Saat ini, pihak MBG bersama pengelola SPPG fokus melakukan pendataan serta menanggung seluruh biaya pengobatan siswa dan guru yang dirawat di Puskesmas Marau.
“Saya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak sekolah, siswa, dan orang tua yang terdampak. Kejadian ini akan menjadi evaluasi besar bagi kami,” ucapnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, total siswa dan guru yang terdampak keracunan mencapai 162 orang. Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab pasti keracunan. (Adi LC)
KALBARONLINE.com - Menu perkedel tahu yang disajikan dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) diduga kuat menjadi penyebab keracunan massal ratusan siswa dan guru di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kamis (05/02/2026).
Dugaan tersebut disampaikan Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, menyusul laporan banyaknya siswa dan guru yang mengalami mual, muntah, dan lemas setelah menyantap menu MBG yang didistribusikan pada Rabu (04/02/2026).
“Iya benar, sejumlah siswa dan guru mengalami mual, muntah, dan lemas usai mengonsumsi menu MBG. Berdasarkan pemeriksaan awal, dugaan sementara mengarah pada menu perkedel tahu,” ujar Agus Kurniawi kepada wartawan, Kamis petang.
Menurut Agus, pada hari tersebut menu MBG yang dibagikan terdiri dari nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi putih dan wortel, serta puding.
Namun, perkedel tahu menjadi fokus evaluasi karena diduga tidak layak konsumsi. Ia menjelaskan, pihaknya baru menerima laporan resmi dari sekolah pada Kamis pagi, setelah banyak siswa tidak masuk sekolah akibat kondisi kesehatan yang menurun.
“Menu tersebut dibagikan hari Rabu. Untuk sementara, distribusi MBG kami hentikan agar penanganan medis terhadap siswa bisa difokuskan,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ketapang Marau Riam Batu Gading yang dikelola Yayasan Surya Gizi Lestari dihentikan sementara hingga hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan keluar.
“SPPG ini melayani 1.859 penerima manfaat dan mulai beroperasi sejak 29 September 2025. Kami hentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” jelas Agus.
Saat ini, pihak MBG bersama pengelola SPPG fokus melakukan pendataan serta menanggung seluruh biaya pengobatan siswa dan guru yang dirawat di Puskesmas Marau.
“Saya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak sekolah, siswa, dan orang tua yang terdampak. Kejadian ini akan menjadi evaluasi besar bagi kami,” ucapnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, total siswa dan guru yang terdampak keracunan mencapai 162 orang. Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab pasti keracunan. (Adi LC)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini